Jumat, 24 Februari 2012

Dimana Tuhan

Ghazali seorang pemikir, Ghazali pria penyair, Ghazali seorang sufi. Abu Hamid al-Ghazali, nama penjang yang memgemparkan dunia pemikiran Islam. Dia hidup diantara tahun 1058-1111 M, tepat ketika dunia Islam sedang berkembang dan memiliki keragaman. Dia menempuh perjalanan panjang, mempelajari hampir seluruh sistem pemahaman keagamaan pada masanya, demi sebuah kebenaran yang diyakininya.

Kecerdasanya dan kerendahatianya membuatnya begitu cerdas dan cemerlang dalam bersikap. Dia menyerang filsafat tetapi dia sangat mengenal dekat seluk-beluk filsafat. Bahkan dia menghasilkan buku pemahaman dalam filsafat yang diberi judul Maqashid al-Falasifat. Dalam buku itu dia berpendapat, untuk mengenal tuhan pada hakikatnya kita harus mengenal diri kita sendiri.

Jauh sebelum itu, Imam Ali pun pernah berkata "kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal tuhanmu". Diri adalah kita yang tidak hanya bernafas, meraba, merasa, mendengar dll. Tetapi kita yang berfikir dan merasakan, karena perkenalan berawal dari berpikir lalu merasakan. Pikiran dan perasaan inilah yang menjadikan kita pada kata yang kita sebut Tuhan.

Mengutip pernyataan Ghazali "Tidak mungkin membuat sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sudah ada". Ungkapan itu menunjukan kita pada penerimaan bahwa Tuhan adalah satu dan Tuhan maha besar. Qodrat dan Iradatnya adalah yang terbaik dari yang terbaik. Mungkin pikiran saja tidak akan cukup menangkapnya, maka dari itulah diciptakan perasaan.

Macam-macam cara di lakukan untuk mencari Tuhan tak terkecuali di Jawa. Jawa konon memiliki ilmu yang di sebut dengan kebatinan. Bahkan eksistensinya sampai berani menuntut Soekarno untuk mengakuinya sebagai agama resmi di tahun 1957, yang tentu saja di tolak.

Niels Munder menjelaskan bahwa penganut kebatinan sangat jarang mencari kekurangan agama lain. Tetapi mereka agak muak dengan tingkah laku religius tertentu. Bagi mereka, "Tuhan" ada di dalam hati manusia dan hidup manusia haruslah terus menjadi doa bagi Sang Khalik. Mereka tidak mengerti dengan ritual keagamaan lain, seperti sholat lima kali sehari, ataupun di dalam gereja. Mereka juga mempertanyakan mengapa doa-doa haruslah di teriakan dengan pengeras suara masjid.

Menurut kaum "abangan" jawa, Tuhan bukanlah sesuatu hakim yang jauh dan tidak dapat di dekati. Tuhan begitu dekat dari apapun juga, bahkan manusia sendiri pada dasarnya adalah bagian Hakikat Ilahi. Mereka mengakui ibadah timur tengah sebagai langkah pertama menuju Tuhan, namun mereka tidak dapat menerima Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir ataupun Jesus sebagai juru selamat. Kebatinan tidak banyak menjanjikan surga, melainkan tertuju pada penafsiran duniawi dalam prespektif kosmologis.

Mungkin bila dikata kritik, Al-Ghazali pernah menyampaikan statmentnya untuk sejenis kaum abangan yang belum jelas Tuhanya itu, "Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian." (Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ)

Sementara Al Ghazali memiliki pendapat bahwa Tuhan adalah hakikat. Tanpa mengetahui hakikat yang lainya selain hakikat diri, manusia tidak akan pernah tahu Tuhan. Menurutnya ada lima pengahalang bagi jiwa dalam menangkap hakikat, yaitu: karena belum sempurnanya jiwa, dikotori maksiat, menurutkan keinginan badan, adanya penutup yang menghalangi hakikat masuk ke jiwa (Taqlid) dan tidak dapat berpikir logis.

Dalam edisi tassawufnya Al-Ghazali menjelaskan hubungan jiwa dan badan adalah seperti hubangan kuda dan penunggangnya. Jiwa adalah manusia interistik, sumber pengetahuan dan gerak bagi Al-jism (badan). Yang bergerak menuju Tuhan adalah Jiwa (Al-Nafs), bukan badan.

Bagaimanapun caranya, nyatanya Tuhan tak dapat bertemu dan menyapa kita dalam keadaan. Ghazali mampu berteori, Ghazali mampu menuhankan hatinya, begitupun kebatinan mampu menuhankan pikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar