Waktu itu aku masih kecil. Masih belum paham betul setiap kali ibuku berdoa memohon kepada Tuhan selepas mengajariku mengaji.
"Semoga anakku jadi anak yang sehat, adil, dan bijaksana" begitu katanya. Lalu mencium keningku dan mengemasi sajadah, Al-Qur'an, lalu membuka mukenah yang dipakainya sedari habis maghrib.
"Amin" aku selalu mengharap, doa itu dikabul. Meskipun, pada waktu itu, aku belum terlalu mengerti.
Belakangan aku baru tahu arti doa itu. Doa yang hanya berisi tiga kata dan diucapkan tidak lebih dari lima detik.
Aku kebetulan sering mengunjungi perpustakaan daerah di Semarang. Sekedar numpang ngadem dan sesekali membaca beberapa buku yang menurutku judulnya menarik.
Di perpustakaan daerah itulah aku bertemu seseorang. Seseorang yang menjelaskan makna doa ibu itu. Sayang, dia enggan disebutkan namanya di sini, di tulisanku.
"Sehat itu, dek" dia memulai pembicaraannya setelah aku menjelaskan sedikit kisah tentang ibu dan betapa bangganya aku memiliki ibu seperti ibuku.
"iya pak" sanggahku penasaran.
"Sehat itu maknanya luas. Sehat itu bukan cuma soal cukup uang untuk makan saja. Sehat itu soal cukup uang untukmu menenangkan pikiranmu. Mau jalan-jalan bisa, mau beli ini dan itu sanggup, agar pikiranmu tenang dan dengan itu kamu menjadi sehat. Tidak pusing atau bahkan stres"
Aku cuma termenung. Aku masih sukar percaya. Aku ragu antara harus menyimak secara serius atau kuanggap sebagai angin lalu saja. Toh, dia kenal saja tidak.
"selanjutnya adil" katanya sambil menepuk pundakku. Tepukannya berisi dan menampilkan kesan penuh optimisme.
"Adil itu artinya ibu mendoakanmu menjadi orang yang besar. Bukan besar secara fisik tetapi besar secara pengaruh. Hanya orang yang mempunyai kuasa, mempunyai pengaruh, dan bisa membuat suatu kebijakanlah yang bisa dikatakan berbuat adil. Dalam posisimu itu kamu dipertaruhkan sikap adilnya"
"Maksudnya, Pak?" kataku bingung.
"Ya maksudnya ibumu memberimu doa supaya kamu sukses kariernya."
Aku terhenyak. Benar juga apa yang diungkapkan bapak itu. Tajam juga analisanya.
"Yang terakhir adalah bijaksana" dia melanjukan untuk kata yang terakhir.
"Ini soal filosofis. Seseorang bisa bijak kalau dia bisa dekat dengan Sang Pencipta. Caranya adalah dengan ibadah."
"Iya pak, terus" aku mengejar lanjutan jawabannya.
"Ibumu sangat berharap kamu menjadi ahli ibadah. Menjadi seorang yang cerdas dan bisa menghaluskan hati dan jiwanya. Yang dari situlah timbul kebijaksaan"
Jumat, 09 November 2018
Selasa, 25 September 2018
Bahwa Kemudian
Aku sudah lama tidak menulis. Barang sepatah, dua patah kata. Yang panjang maupun yang pendek.
Tulisanku yang ada di media itu bukan aku. Itu keresahan orang lain yang di atas namakan aku. Soekarno mengistilahkan narasi-narasi itu dengan sebutan "penyambung lidah". Ya, sekedar menyambung lidah. Tidak lebih.
Dalam anggapan Habermas, aku mungkin seorang penerjemah. Penerjemah kalimat-kalimat "warung kopi" pada ruang publik. Ruang publik dalam kategorisasi rasio-komunikatif bukan rasio-kognitif. Hanya sebatas mengilmiahkan yang semula tidak ilmiah, lebih tepatnya. Agar bisa dimengerti khalayak maupun akademisi.
Tulisanku, yang memang benar-benar aku, itu disini tempatnya. Di ruang sempit yang gratisan. Di ruang dimana semua bisa mengakses dan memperolehnya dengan tanpa sepeserpun perlu membayar. Dan aku pun tidak memperoleh bayaran atas itu.
Cerita dan kisahnya mungkin tidak sama seperti yang biasa dibaca. Tidak ideologis dan bahkan tidak seheroik yang biasa ditampilkan. Tetapi itulah kenyataannya.
Dan malam ini aku sedang berpikir tentang banyak keadaan yang meresahkan diriku sendiri. Keadaan dimana setiap orang, baik dengan sengaja atau pun tidak, sangat suka dan bangga apabila telah menampilkan kejelakan orang lain. Seolah tidak sadar bahwa setiap insan pasti memilikinya. Termasuk juga aku.
Entah bagaimana awalnya hal tersebut bisa terjadi. Yang pasti, semua melakukannya untuk menunjukan bahwa dirinya (atau dalam politik : orang yang didukungnya) lebih baik dari orang lain. Tidak lebih. Bagiku, itu mengenaskan.
Konsep fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan disalah artikan menjadi berlomba-lomba dalam menunjukan kejelekan orang lain. Semakin berhasil menunjukan kejelekan, maka semakin dinilai lebih baik.
Data Masyarakat Telekomunikasi (Mastel) menyebutkan bahwa dari total 1.116 responden ada sekitar 92,40% responden yang menikmati kebohongan itu dari media sosial. Lebih tinggi dari situs web, televisi, maupun media cetak. Sumber yang disebarkan tentunya dari sekitar 800.000 situs yang terindikasi menyebarkan hoax oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi.
Itu yang pertama. Selanjutnya, lebih dalam lagi, soal orang-orang yang mencorat-coret dindingnya dengan warna-warna yang dalam dirinya yang asali itu tidak ada.
Bagi Zizek, filsuf kenamaan asa Slovenia, itu adalah resiko dunia virtual. Resiko komunikasi dua arah. Komunikasi yang aku dengan orang lain tidak saling mengetahui dan memandang. Sehingga tanpa pandang memandang itulah setiap orang berupaya menampilkan dirinya yang lain.
Masing-masing orang menjadi amoeba. Membelah dirinya dengan banyak wajah. Yang lebih parahnya, seringkali yang 'baru ingin' itu merasa lebih baik dari yang 'sudah sedang'. Mengomentari banyak hal yang dia sendiri belum tahu dan belum pernah terlibat.
Satu orang bisa memiliki ratusan akun tanpa perlu takut dihukum atas hal itu. Masing-masing akunnya, dengan identitas dan karakteristik yang lain-lain, dia gunakan untuk saling menimpali dan menumpangi setiap hal yang ingin dia sebarkan agar orang lain tahu.
Tidak jarang itu berhasil menarik minat publik. Dipercaya. Kemudian fitnah-fitnah itu dinilai seakan-akan sebuah fakta.
Mereka melakukannya tanpa kesatria. Tanpa memberikan kesempatan orang yang dijatuhkan itu untuk menjawab sedikit pun.
Tetapi lagi-lagi itu menjadi pilihan. Bagi yang tetap begitu tidak masalah. Yang menghentikan pun bukan berarti baik tetapi lebih kepada kembali pada dirinya yang sebenarnya. Sebab, bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan hari akhir pilihannya hanya dua, bicara yang baik atau diam.
Tulisanku yang ada di media itu bukan aku. Itu keresahan orang lain yang di atas namakan aku. Soekarno mengistilahkan narasi-narasi itu dengan sebutan "penyambung lidah". Ya, sekedar menyambung lidah. Tidak lebih.
Dalam anggapan Habermas, aku mungkin seorang penerjemah. Penerjemah kalimat-kalimat "warung kopi" pada ruang publik. Ruang publik dalam kategorisasi rasio-komunikatif bukan rasio-kognitif. Hanya sebatas mengilmiahkan yang semula tidak ilmiah, lebih tepatnya. Agar bisa dimengerti khalayak maupun akademisi.
Tulisanku, yang memang benar-benar aku, itu disini tempatnya. Di ruang sempit yang gratisan. Di ruang dimana semua bisa mengakses dan memperolehnya dengan tanpa sepeserpun perlu membayar. Dan aku pun tidak memperoleh bayaran atas itu.
Cerita dan kisahnya mungkin tidak sama seperti yang biasa dibaca. Tidak ideologis dan bahkan tidak seheroik yang biasa ditampilkan. Tetapi itulah kenyataannya.
Dan malam ini aku sedang berpikir tentang banyak keadaan yang meresahkan diriku sendiri. Keadaan dimana setiap orang, baik dengan sengaja atau pun tidak, sangat suka dan bangga apabila telah menampilkan kejelakan orang lain. Seolah tidak sadar bahwa setiap insan pasti memilikinya. Termasuk juga aku.
Entah bagaimana awalnya hal tersebut bisa terjadi. Yang pasti, semua melakukannya untuk menunjukan bahwa dirinya (atau dalam politik : orang yang didukungnya) lebih baik dari orang lain. Tidak lebih. Bagiku, itu mengenaskan.
Konsep fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan disalah artikan menjadi berlomba-lomba dalam menunjukan kejelekan orang lain. Semakin berhasil menunjukan kejelekan, maka semakin dinilai lebih baik.
Data Masyarakat Telekomunikasi (Mastel) menyebutkan bahwa dari total 1.116 responden ada sekitar 92,40% responden yang menikmati kebohongan itu dari media sosial. Lebih tinggi dari situs web, televisi, maupun media cetak. Sumber yang disebarkan tentunya dari sekitar 800.000 situs yang terindikasi menyebarkan hoax oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi.
Itu yang pertama. Selanjutnya, lebih dalam lagi, soal orang-orang yang mencorat-coret dindingnya dengan warna-warna yang dalam dirinya yang asali itu tidak ada.
Bagi Zizek, filsuf kenamaan asa Slovenia, itu adalah resiko dunia virtual. Resiko komunikasi dua arah. Komunikasi yang aku dengan orang lain tidak saling mengetahui dan memandang. Sehingga tanpa pandang memandang itulah setiap orang berupaya menampilkan dirinya yang lain.
Masing-masing orang menjadi amoeba. Membelah dirinya dengan banyak wajah. Yang lebih parahnya, seringkali yang 'baru ingin' itu merasa lebih baik dari yang 'sudah sedang'. Mengomentari banyak hal yang dia sendiri belum tahu dan belum pernah terlibat.
Satu orang bisa memiliki ratusan akun tanpa perlu takut dihukum atas hal itu. Masing-masing akunnya, dengan identitas dan karakteristik yang lain-lain, dia gunakan untuk saling menimpali dan menumpangi setiap hal yang ingin dia sebarkan agar orang lain tahu.
Tidak jarang itu berhasil menarik minat publik. Dipercaya. Kemudian fitnah-fitnah itu dinilai seakan-akan sebuah fakta.
Mereka melakukannya tanpa kesatria. Tanpa memberikan kesempatan orang yang dijatuhkan itu untuk menjawab sedikit pun.
Tetapi lagi-lagi itu menjadi pilihan. Bagi yang tetap begitu tidak masalah. Yang menghentikan pun bukan berarti baik tetapi lebih kepada kembali pada dirinya yang sebenarnya. Sebab, bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan hari akhir pilihannya hanya dua, bicara yang baik atau diam.
Minggu, 21 Juni 2015
JEWE
Dia pria paruh baya. Tubuhnya kurus dan matanya melotot. Sepintas, dia mirip dengan seorang yang tinggal di pelataran pengungsian, kumal dan tidak terurus.
Soal
berpakaian, dia tidak pernah muluk-muluk. Cukup kaos oblong dan sarung. Serapih-rapihnya,
dia punya satu celana pendek yang menutupi ujung lutut dan jaket hijau
bertuliskan ‘wali’. Ya Wali, nama band terkenal di Indonesia. Sederhana bukan?
Bila
kita hendak mengenalnya lebih jauh, maka kenali sajalah para musafir yang biasa
berlalu lalang dengan satu tas disilangkan ke punggung. Begitulah dia. Tidak
punya rumah, tidak juga punya keluarga. Hidupnya dia dedikasikan untuk mencari Tuhan.
Katanya.
Untuk beberapa saat, marilah kita persilahkan si
Jewe ini untuk tidur. Selamat malam!
***
Pagi
menyambut begitu cepat. Matahari bersinar terang tak terhalang barang satu awan
pun. Dalam suasana secerah itu, Jewe masih mendengkur dengan sedikit iler yang melumeri bibirnya.
“anak
siapa ini?”
“tidak tahu pak?
sedari malam dia ada disini”
“bangunkan!!!”
“tapi pak, dia
kan sedang tidur?”
“ini
masjid, tempat shalat bukan tempat tidur. Sudah cepat bangunkan!!”
Diantara
seonggok tubuh yang terkulai lemas, dua pria berkoko putih lengkap dengan
sarung dan kopeahnya, berdiri tegak mengadu kata. Satunya berumur dan satunya
lagi masih muda. Ada nuansa senioritas pada sang tua dan muda itu.
“nak
bangun, nak bangun” dengan hati-hati pria yang lebih muda menendangkan kakinya
ke tubuh Jewe. Sedikit tidak sopan sih, tetapi rata-rata memang begitu.
Terhadap orang yang tidak dikenal, dalam dunia manusia seperti ada budaya
curiga dan mencurigai.
Malang
bukan kepayang, Jewe pulas. Tendangan yang melambat namun sering itu tidak
dihiraukan. Mungkin, mimpi telah menghanyutkan hidupnya ke dunia yang lain.
Dunia yang menihilkan yang nyata.
“kau
ini bodoh, cepat ambil air”
“baik pak, baik.
Sebentar”
Pak
tua yang belum jelas namanya itu, kembali marah dan menyuruh pria muda di
sampingnya. Air, oh tentu, sudah jelas, pastilah itu digunakan untuk menyiram
Jewe. Tanpa pikir panjang, pria muda lantas kembali dengan se-ember air yang
dipesan Pak Tua tadi.
“ini pak”
“eh,
kamu itu, ya siram langsung ke anak kurang ajar yang meniduri masjid ini”
“tapi pak?”
“sudah,
cepat siram. Disuruh sama orang tua itu harus nurut!!!”
Dan
kemudian tanpa butuh waktu lama, “byaaaar”.
Jewe
terkaget-kaget. Jantungnya, meskipun cuma hampir, sedikit putus. Matanya
terbuka namun ke arah yang salah, arah yang tidak langsung menatap dua pria
yang sudah jengkel dengan tingkahnya. Jewe malah menatap ke langit-langit yang
penuh dengan ukiran-ukiran kayu jati.
“bangun juga
pak”
“sekarang
kamu urus dia, dan persilahkan pergi”
Bapak
tua, merasa tugasnya dengan memerintah telah selesai, berlalu pergi. Pria muda
diberi intruksi gagap yang sangat disadari membingungkan batinnya. Pria muda
itu belum terbiasa berbuat kejam terhadap manusia, meskipun sekedar mengusir.
Sejenak,
Jewe palingkan wajahnya. Didapatinya pria muda yang sudah sendiri.
“mengapa
anda menyiram saya?”
“mengapa anda
tertidur disaat orang lain sibuk shalat shubuh, di masjid pula?”
“saya
ke masjid bukan untuk shalat, tapi untuk tidur”
“jawaban anda
itu, sekiranya cukup menjadi alasan mengapa saya menyiram anda tadi”
“oh,
baiklah”
Jewe
mengemasi tasnya yang semula menjadi bantal. Dia bangun dan berdiri
berhadap-hadapan dengan pria muda yang mendadak berani. Cukup lama juga
keduanya memandangi satu dengan lainnya.
“sebelum
aku pergi, aku ingin bertanya. Boleh?”
“soal?”
“ini
masjid milik siapa?”
Cukup
menguras juga pertanyaan Jewe. Pria muda merasa harus membuka berkas-berkas
yang tersimpan di dalam otaknya. Tidak lama, jawaban yang sekenanya keluar.
“milik Allah”
“Allah
itu siapa?”
“Allah adalah Tuhanku”
“percayakah
anda bahwa segala tindakan yang terjadi di dunia ini adalah izin daripada
Allah?”
“saya percaya
karena saya meyakininya”
“termasuk
ketika aku tidur di masjid, kan?”
“hmm, bagaimana
ya, hmm, mungkin?”
“baiklah,
setidaknya aku tahu, bahwa aku tidur itu atas izinnya tetapi anda justeru tidak
mengizinkan itu terjadi. Aku tidur dengan sebelumnya membaca bissmika memohon lindungannya dan
kemudian Allah memulaskan tidurku. Shalat ataupun tidur, aku karena Allah,
tetapi anda menolaknya. Anda sekarang menjadi Tuhan. Selamat!”
“tapi kata Pak Hambali
tadi, masjid itu tempat shalat bukan tempat tidur, itu yang bikin anda keliru.
Pak Hambali punya dalil agama yang jelas. Saya tidak meragukan itu dan saya
juga tidak mengaku menjadi Tuhan”
“oh
begitu, sampaikan pada Pak Hambali, saya menitip maaf pada Tuhan”
Nampak
kesal, Jewe pergi dengan menyisakan pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri
sudah tahu jawabannya. Jewe hanya menguji pria muda itu, tetapi pria muda itu
tidak sadar.
Kejadian
macam itu bukanlah yang pertama dan bukan pula yang terakhir yang akan dialami
oleh Jewe. Juga oleh para musafir, tentunya. Sebagian ada yang didebat namun
sebagian lagi dibiarkan menjadi angin lalu. Untuk yang satu ini, Jewe merasa
enggan untuk menanggapi.
Jewe
pergi bukan sebab dia tidak berani, bukan pula alasan menaruh hormat, hanya dia
kebetulan lapar. Jadi, langkahnya meninggalkan masjid itu bukan murni karena
disuruh, tetapi lebih tepatnya karena dia merasa perlu untuk makan.
“besok-besok,
akan aku temui sendiri si Hambali itu” gumam Jewe sembari meninggalkan masjid.
***
Menurut
penuturan Jewe, dia dahulu punya rumah. Dia juga, melanjutkan ceritanya, pernah
punya keluarga. Tetapi karena entah situasi apa, Jewe kini sebatang kara.
Dari kehidupannya yang pilu itu, dia pergi diawali oleh sebuah tempat singgah ke tempat singgah lainnya. Masjid, gardu listrik, halte dan bahkan pos ronda adalah kontrakkan berjalannya. Pengusiran dengan cara disiram mah, baginya amat biasa, tidak akan membuatnya jera.
Keputusannya
untuk berjalan, kesana kemari tanpa kejelasan, tidak sekonyong-konyong datang tanpa dilalui dengan peristiwa. Dia,
melakukan perantauannya itu, karena dinasehati oleh kakek-kakek di dekat rumah
sakit dimana dia ditinggalkan. Kakek itu berkata, “jangan sedih, kamu masih
punya Tuhan”.
Itulah,
titik pangkal keyakinan tekad bahwa dia ingin berterima kasih kepada Tuhan,
harus secara langsung.
Tuhan,
bagi Jewe, adalah teman. Tuhan, masih untuk Jewe, adalah ayah dan bahkan
keluarganya yang hilang. Meskipun masih hanya sekedar hal yang fana dan
mendebar di hati, Jewe hormat pada Tuhan. Oleh karenanya, dia selalu benci
apabila ada yang mengaku merujuk pada Tuhan namun tidak sesuai dengan Tuhan
pada imajinasinya.
“brengsek,
basuh dulu mulutmu sebelum kau menyebut Tuhan” itulah kata-kata kasar yang
biasa dia keluarkan untuk menggambarkan emosinya pada orang yang berlaku layiaknya
Sang Pemilik Semesta.
***
Adalah
pedagang nasi rames yang kemudian disinggahi Jewe.
“hahaha, diusir,
nak?”
Wajahnya
yang muda, tak urung mengakibatkan Jewe dipanggil ‘nak’. Termasuk oleh ibu-ibu
yang berjualan aneka macam masakan khas Sunda.
“iya
bu, sialan memang!”
“makanya, kalau
mau tidur di warung ibu saja sini, sekalian jagain dagangan ibu”
“memangnya
boleh bu?”
Jewe
terperangah. Benaknya mulai berisi angan-angan akan suatu kehidupan yang baru,
yang lebih baik. Kerja, tempat tinggal dan kawan baru !
“boleh, tapi
selama sebulan ini gajinya gratis makan saja. Hitung-hitung percobaan. Mau?”
“baik
bu, saya mau”
Setelah
sekian lama dia beranjak dari satu lokasi ke lokasi lainnya, barulah sekarang
Jewe temukan hal yang teramat menyenangkannya. Sontak, dengan kepolosan dan
kemurnian pikirannya, Jewe berkata...
“ibu
itu Tuhan ya?”
“hah, bukan,
saya Poinah istri dari tukang becak bernama Lamsijan” ibu warung
menggelengkan kepala sambil menunjukan penolakan melalui tangan. Dia cukup serem juga dikata seperti itu.
“oh, maaf bu, saya kira ibu itu adalah Tuhan”
“memangnya
kenapa?”
“karena
Tuhan itu baik sama seperti ibu”
“olalala, tidak
begitu juga anak muda. Kamu harus banyak belajar lagi ya”
Wanita
tua berumur sekitar 45 (empat puluh lima) tahun menjawab dengan mondar-mandir.
Tangannya terampil memasukan satu persatu bawaannya ke dalam tas. Rambutnya
diikat dan dasternya dipakai secara kacau tidak teratur. Dia bergegas.
“yasuda, ini
tugas pertamamu. Jaga warung ini. Kamu jangan merasa bisa berbuat jahat karena
semua yang ada disekitaran lapangan masjid ini kenal dengan aku. Poinah,
paham!”
“paham
bu!”
Mimpi
apa si Jewe ini, meskipun diperlukakan tidak apik karena dianggap menodai masjid, toh nyatanya nasib mujur tidak
pergi jauh darinya. Kini, Jewe, berani berkata bahwa dia sudah tidak terlalu
sedih lagi. Dan ini juga artinya, gumamnya menyoal bertemu kembali dengan Pak
Hambali bisa dia lakukan sesering mungkin.
***
Lain Jewe lain pula Ami. Jelas, kelamin
mereka saja sudah berbeda apalagi kompleksitas masalahnya. Satu maskulin dan
satunya lagi feminim. Singkatnya itu.
Ami adalah wanita yang dilahirkan dari keluarga yang taat agama. Mengaji, shalat wajib dan sunnah, menghapa hadisth adalah perkara kecil yang sudah mendarah daging.
Nilai Ami dalam bidang eksak tidaklah dianggap lebih tinggi
dibandingkan pengetahuan agama. Ami, bisa dikatakan, hidup di dalam keadaan
dimana tidak tahu membaca huruf hijaiyah
itu lebih hina daripada planga-plongo ketika
ditanya soal rumus menghitung gaya.
Cukup
timpang bukan. Ibarat sebuah timbangan mungkin beratnya berlawanan jauh.
“ini ibu
warungnya kemana ya?”
Ami,
yang rumahnya tidak begitu jauh dari masjid, bertanya. Laju langkahnya percuma
manakala dia temukan kondisi warung yang sepi. Dia hanya mendapati pria kurus
memakai sarung dan kaos sedang tertidur sambil menonton televisi.
“mas”
“hoy mas”
Dua
kali sudah Ami memanggil tetapi tidak ada jawaban. Pria itu, seperti semua
tahu, adalah Jewe.
“eh,
maaf mba saya tidak mendengar. Ada yang bisa saya bantu?”
“ibu Poinah
mana?”
“dia
sedang pergi, katanya mah sampai habis dzuhur. Emang dzuhur itu apa ya mba? Saya
juga ga mengerti”
“oh, dzuhur itu
waktu shalat dan biasanya dimulai jam dua belas siang”
Jewe
hanya tahu tempat ibadah tetapi tidak tahu waktu shalat. Hidupnya dia habiskan
hanya fokus pada ingin menemui Tuhan dan lalu mengucapkan terima kasih, bukan
pada peragaan sembahyang. Wajar kiranya dia tidak paham.
“ya,
berarti sekitar jam dua belas”
“terima kasih
kalau begitu, nanti sampaikan saja tadi Ami kesini”
“baik
mba, nama saya Jewe”
“oke, terima
kasih”
Pertemuan
itu singkat dan terkesan sudah begitu saja. Namun tidak bagi Jewe, penasarannya
muncul pada sosok wanita muda berhijab cokelat dengan menggunakan mukena lengkap.
***
Jumat, 12 Juni 2015
TERIMA (KASIH)
Kasih, percayalah, bahwa dalam setiap cerita yang nantinya
indah itu, pastilah dilalui dahulu oleh suka dan duka. Seperti kisah Fatmawati
dan Soekarno yang saling bahu membahu dan mengantarkan Indonesia pada
kemerdekaan. Seperti Abigail dan John Adams yang rela menyisihkan tenaga untuk
tetap surat menyurat berisi kasih serta sayang.
Dan juga, seperti cinta kita, yang melewati aneka macam perseteruan
hebat, darimu, dariku dan dari berbagai kejadian lainnya.
Kasih, malam ini, sebelum engkau larut terlelap begitu
dalam, aku ingin mengucapkan terima kasihku padamu. Meskipun, sepertinya, hal itu tidak pernah
cukup untuk membayar semua pengorbananmu.
Kasih, terima kasih karena engkau telah rela memberikan
segenap waktumu untukku. Yang mungkin, apabila waktumu itu kau gunakan hanya
untuk kebahagiaanmu, kau bisa memperoleh segalanya.
Terima kasih karena engkau telah membuat aku mengerti bahwa
sesungguhnya semua itu butuh kesabaran. Yang mungkin, apabila seandainya saja
kau tidak marah-marah kepadaku, aku tidak akan pernah menyadari kesalahanku.
Terima kasih karena engkau telah sebegitu ikhlasnya
menerimaku tanpa pengharapan. Yang mungkin, apabila hendak kau cari dan kau
pilih yang lebih baik, di luar sana lebih telah banyak yang menadahkan
tangannya disepertiga malam untukmu.
Terima kasih karena engkau telah mengeluarkan banyak canda
dan tawamu yang mengobati kesedihanku. Yang mungkin, apabila seandainya kau
selalu memaksakan egomu untuk marah, aku tidak akan bisa menyapu kepedihanku.
Terima kasih karena engkau telah membuat aku mengerti akan
arti mencintai dan dicintai. Yang mungkin, apabila kau berikan pada pria yang
lain, pria itu akan bisa membalasnya jauh melebihi balasan cintaku padamu.
Yang terakhir, terima kasih karena engkau telah hadir dan
merangkum semua kenangan yang sebelumnya telah kulalui.
Kasih, kini pejamkanlah matamu dengan kuat.
Aku akan menjadi orang yang mengelus dan mengusap peluh di
dahimu.
Aku akan mengikiskan semua hal yang membuatmu pilu. Iya, hal
yang seringkali kau ceritakan padaku itu.
Aku akan menungguimu dengan terjaga sampai nanti kau membuka
matamu kembali.
Selasa, 09 Juni 2015
Sinar 2
2
Nomor dua adalah setelah nomor satu dan sebelum nomor tiga. Nomor dua itu bentuknya bila diingat-ingat maka mudah menghafalnya jika dimiripkan dengan seekor bebek. Atau juga, nomor dua sepintas sama dengan huruf abjad yaitu huruf Z. Tony Buzan mengatakan begitu, khusus untuk nomor dua.
Bagi sang pria, nomor dua adalah nomor yang mengingatkannya pada malam di setiap saat dia terbangun. Maksudnya, jam dua malam. Atau jam, dimana detik-detik turunnya Sang Hyang Teragung, Gusti Allah SWT melongok menengok bumi melalui celah langit.
Pada waktu-waktu itu, sang pria pasti keluar dari dalam tendanya. Dia berjalan kecil melawan aliran air yang turun dari perbukitan. Dengan begitu, artinya, sang pria berjalan menuju puncak. Dia menjauh dan semakin tidak terlihat lagi. Semakin kecil dan semakin menunjukan bahwa dia tidak sebesar yang dia pikir, setidaknya dibandingkan dengan gunung.
Adalah majelis Embun Pagi yang menjadi tujuan daripada langkahnya. Sang pria memang telah menjadi anggota tetap dalam majelis yang beraktifitas di atas lekukan gunung itu. Ya, meskipun baru setidaknya sebulanan ini.
Dalam majelis itu, sang pria berkumpul dengan sekitaran lima belas cantrik. Cantrik-cantrik itu tidak saling mengenal satu sama lainnya. Mereka juga, datang dari tempat yang tidak pernah diketahui.
Majelis itu memiliki beberapa peraturan, diantaranya adalah semua cantrik diwajibkan untuk diam manakala guru berbicara. Semua cantrik pun, tidak boleh mengeluh walaupun itu hanya di dalam hati. Dalam belajar, kata Ki Petopo atau maha guru di majelis tersebut, kita harus ikhlas dan sabar.
Hari esok adalah kemarin yang sempat kita rindukan. Semua bergantung pada saat ini. Dan hari ini, adalah hari-hari sulit bagi sang pria dan belasan peserta majelis lainnya. Mengapa? karena hari macam ini (goro-goro) menurut Frank Furedi telah menghasilkan istilah "the cult of philistinism". Istilah yang berarti bahwa, orang yang membaca kesusastraan dan menggelorakan gairah intelektual beresiko di cap 'elitis', 'tak membumi' dan 'marjinal'. Mereka harus bersabar.
"aku meminta kau membalas kejahatan mereka padaku Ya Tuhan"
"untuk apa engkau mengharapkan itu, selagi nyatanya kau tahu bahwa aku adalah maha pemaaf"
"jika begitu, aku pasrah dan ampuni mereka"
"untuk apa juga kau pasrah dan memohonkan pengampunan, selagi nyatanya kau tahu bahwa aku adalah maha pendendam"
"lalu aku harus bagaimana, aku menyerahkan semuanya kepadamu"
"untuk apa juga kau berlaku seperti itu, selagi nyatanya kau tahu bahwa aku akan memberikan apa yang kau usahakan. Berusahalah menurut keyakinanmu"
Sang pria menyaksikan adegan pemula dalam majelis Embun Pagi itu. Dalam sorot matanya tertampilkan dengan jelas Ki Petopo berputar mengelilingi api sembari menyemburkan kalimat-kalimat di atas. Ki Petopo bertanya, Ki Petopo menjawab. Seperti orang gila.
Namun perlu diketahui, apa yang dikatakan Ki Petopo tersebut, meskipun terkesan remeh, tetapi membuat sang pria menjadi termehek-mehek menangisi permintaannya. Semenjak mengikuti majelis itu, sang pria hampir selalu merasa malu dan sukar mengucap permintaannya kepada Tuhan. Tuhan, baginya saat ini, lebih tahu daripada apa yang dia ketahui. Meminta doa adalah tindakan yang teramat berdosa karena melecehkan kemahatahuan Tuhan, tuturnya.
"lepaskan, lepaskaaaaan semuanya. Jangan engkau pedulikan manusia !"
Ki Petopo lantas terdiam. Ki Petopo lalu mengambil posisi dan bersila dengan kepala yang menunduk.
Seperti kebiasaannya, Ki Petopo tidak menggunakan satu pakaian pun. Tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Polos dan benar-benar telanjang bulat.
"jikalau engkau berbuat baik karena ingin dilihat manusia, maka engkau telah syirik. Jikalau engkau tidak berbuat baik karena enggan dinilai oleh manusia, maka engkau berbuat riya. Minahussaniyah menuliskan itu wahai murid-muridku. Puluhan tahun yang lalu, lalu sekali sampai-sampai rasanya kitab itu sudah tidak bagus lagi untuk dibaca"
Suasana menjadi hening dan sepi. Seperti yang dikatakan oleh banyak orang disekitaran situ, seluruhnya yang berada di hutan belajar kepada Ki Petopo. Tumbuhan, binatang, bebatuan, air atau bahkan barang tai yang hanyut pun mencari pelajaran dari Ki Petopo.
"kalau seandainya kalian tahu bahwa ini semua adalah akarnya masalahnya karena kita mulai meninggalkan Tuhan, maka kalian akan sadar dan segera kembali. Kita tidak lagi berpayah-payah menghamba dan bersedih pada apa yang kita ciptakan sendiri. Rumah, mobil, gadget semua adalah yang kita ciptakan. Atau juga pekerjaan, itu juga kita yang menciptakan. Tetapi mengapa, kita lalu kalah dengan apa yang kita ciptakan dan kemudian kita menjadi kehilangan iman. Kembalilah pada yang menciptakan kita"
"belajarlah kalian, belajarlah dulu, cermati dan lalu sampaikan serta kerjakan sesuai ilmu yang nantinya kalian dapatkan. Tuhan, Nabi, Kyai Hasyim Asy'ari menghendaki itu"
Ki Petopo lalu bercerita perkara Nabi dan Mbah Wahab. Seandainya Allah ingin nabi segera berperang, itu bisa sekali Allah lakukan, kun-faya-kun. Tetapi Allah menyuruh nabi untuk belajar terlebih dahulu. Lalu, Mbah Wahab yang ingin segera terjun ke masyarakat namun malah disarankan oleh Kyai Hasyim Asy'ari untuk belajar lagi ke Makah. Mbah Wahab pun menurut dan berguru pada Kyai Mahfudz Tarmisi, Kyai Mukhtarom, syaikh Ahmad Khatib dll selama kurang-lebih 4 tahun.
Nomor dua adalah setelah nomor satu dan sebelum nomor tiga. Nomor dua itu bentuknya bila diingat-ingat maka mudah menghafalnya jika dimiripkan dengan seekor bebek. Atau juga, nomor dua sepintas sama dengan huruf abjad yaitu huruf Z. Tony Buzan mengatakan begitu, khusus untuk nomor dua.
Bagi sang pria, nomor dua adalah nomor yang mengingatkannya pada malam di setiap saat dia terbangun. Maksudnya, jam dua malam. Atau jam, dimana detik-detik turunnya Sang Hyang Teragung, Gusti Allah SWT melongok menengok bumi melalui celah langit.
Pada waktu-waktu itu, sang pria pasti keluar dari dalam tendanya. Dia berjalan kecil melawan aliran air yang turun dari perbukitan. Dengan begitu, artinya, sang pria berjalan menuju puncak. Dia menjauh dan semakin tidak terlihat lagi. Semakin kecil dan semakin menunjukan bahwa dia tidak sebesar yang dia pikir, setidaknya dibandingkan dengan gunung.
Adalah majelis Embun Pagi yang menjadi tujuan daripada langkahnya. Sang pria memang telah menjadi anggota tetap dalam majelis yang beraktifitas di atas lekukan gunung itu. Ya, meskipun baru setidaknya sebulanan ini.
Dalam majelis itu, sang pria berkumpul dengan sekitaran lima belas cantrik. Cantrik-cantrik itu tidak saling mengenal satu sama lainnya. Mereka juga, datang dari tempat yang tidak pernah diketahui.
Majelis itu memiliki beberapa peraturan, diantaranya adalah semua cantrik diwajibkan untuk diam manakala guru berbicara. Semua cantrik pun, tidak boleh mengeluh walaupun itu hanya di dalam hati. Dalam belajar, kata Ki Petopo atau maha guru di majelis tersebut, kita harus ikhlas dan sabar.
Hari esok adalah kemarin yang sempat kita rindukan. Semua bergantung pada saat ini. Dan hari ini, adalah hari-hari sulit bagi sang pria dan belasan peserta majelis lainnya. Mengapa? karena hari macam ini (goro-goro) menurut Frank Furedi telah menghasilkan istilah "the cult of philistinism". Istilah yang berarti bahwa, orang yang membaca kesusastraan dan menggelorakan gairah intelektual beresiko di cap 'elitis', 'tak membumi' dan 'marjinal'. Mereka harus bersabar.
"aku meminta kau membalas kejahatan mereka padaku Ya Tuhan"
"untuk apa engkau mengharapkan itu, selagi nyatanya kau tahu bahwa aku adalah maha pemaaf"
"jika begitu, aku pasrah dan ampuni mereka"
"untuk apa juga kau pasrah dan memohonkan pengampunan, selagi nyatanya kau tahu bahwa aku adalah maha pendendam"
"lalu aku harus bagaimana, aku menyerahkan semuanya kepadamu"
"untuk apa juga kau berlaku seperti itu, selagi nyatanya kau tahu bahwa aku akan memberikan apa yang kau usahakan. Berusahalah menurut keyakinanmu"
Sang pria menyaksikan adegan pemula dalam majelis Embun Pagi itu. Dalam sorot matanya tertampilkan dengan jelas Ki Petopo berputar mengelilingi api sembari menyemburkan kalimat-kalimat di atas. Ki Petopo bertanya, Ki Petopo menjawab. Seperti orang gila.
Namun perlu diketahui, apa yang dikatakan Ki Petopo tersebut, meskipun terkesan remeh, tetapi membuat sang pria menjadi termehek-mehek menangisi permintaannya. Semenjak mengikuti majelis itu, sang pria hampir selalu merasa malu dan sukar mengucap permintaannya kepada Tuhan. Tuhan, baginya saat ini, lebih tahu daripada apa yang dia ketahui. Meminta doa adalah tindakan yang teramat berdosa karena melecehkan kemahatahuan Tuhan, tuturnya.
"lepaskan, lepaskaaaaan semuanya. Jangan engkau pedulikan manusia !"
Ki Petopo lantas terdiam. Ki Petopo lalu mengambil posisi dan bersila dengan kepala yang menunduk.
Seperti kebiasaannya, Ki Petopo tidak menggunakan satu pakaian pun. Tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Polos dan benar-benar telanjang bulat.
"jikalau engkau berbuat baik karena ingin dilihat manusia, maka engkau telah syirik. Jikalau engkau tidak berbuat baik karena enggan dinilai oleh manusia, maka engkau berbuat riya. Minahussaniyah menuliskan itu wahai murid-muridku. Puluhan tahun yang lalu, lalu sekali sampai-sampai rasanya kitab itu sudah tidak bagus lagi untuk dibaca"
Suasana menjadi hening dan sepi. Seperti yang dikatakan oleh banyak orang disekitaran situ, seluruhnya yang berada di hutan belajar kepada Ki Petopo. Tumbuhan, binatang, bebatuan, air atau bahkan barang tai yang hanyut pun mencari pelajaran dari Ki Petopo.
"kalau seandainya kalian tahu bahwa ini semua adalah akarnya masalahnya karena kita mulai meninggalkan Tuhan, maka kalian akan sadar dan segera kembali. Kita tidak lagi berpayah-payah menghamba dan bersedih pada apa yang kita ciptakan sendiri. Rumah, mobil, gadget semua adalah yang kita ciptakan. Atau juga pekerjaan, itu juga kita yang menciptakan. Tetapi mengapa, kita lalu kalah dengan apa yang kita ciptakan dan kemudian kita menjadi kehilangan iman. Kembalilah pada yang menciptakan kita"
"belajarlah kalian, belajarlah dulu, cermati dan lalu sampaikan serta kerjakan sesuai ilmu yang nantinya kalian dapatkan. Tuhan, Nabi, Kyai Hasyim Asy'ari menghendaki itu"
Ki Petopo lalu bercerita perkara Nabi dan Mbah Wahab. Seandainya Allah ingin nabi segera berperang, itu bisa sekali Allah lakukan, kun-faya-kun. Tetapi Allah menyuruh nabi untuk belajar terlebih dahulu. Lalu, Mbah Wahab yang ingin segera terjun ke masyarakat namun malah disarankan oleh Kyai Hasyim Asy'ari untuk belajar lagi ke Makah. Mbah Wahab pun menurut dan berguru pada Kyai Mahfudz Tarmisi, Kyai Mukhtarom, syaikh Ahmad Khatib dll selama kurang-lebih 4 tahun.
Sinar
Hari itu kemudian datang. Pelangi menjadi hilang. Rembulan meredup dan sinarnya menjauh ke tempat antah berantah. Itulah hari, yang kata beberapa musaffir, mendatangkan gelisah di hati dan lingkaran kebingungan di pikiran.
Cuaca begitu berakibat pada bermunculannya goro-goro. Yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Menangkap baru sedikit merasa sudah banyak sehingga selesailah sudah. Orang lain dianggap rendah karenanya memaki serta menyakiti adalah hal yang remeh. Berbeda jalan dianggap musuh, yang berlawanan diperangi. Semua buta, semua seperti hidup dalam bingkai-bingkai permusuhan. Seluruhnya nampak gelap dan tidak menjelaskan satu hal apapun.
Dalam suasana getir tersebut, pria tangkas nan rupawan itu tetap berjalan. Langkah kakinya tidak gentar meski angin kencang menyulitkan ayunan kedua kakinya. Hujan dan panas yang tidak jelas, pun nyatanya tidak membuat 'nafsu'nya surut. Ke arah barat adalah tujuannya yang sedari kecil sudah dia impikan. Prinsip yang dipegangnya cukup mashyur, fasih juga dia katakan bahwa "lebih baik tumbang tinggal nama daripada pulang sebagai seorang pengecut".
Menemani perjalanannya, pria itu membawa tas yang isinya pakain dan buku-buku. Pria itu juga, menjinjing aneka rupa perlengkapan inap seperti tenda, kayu bakar, pisau dan lainnya. Segalanya dipersiapkan betul agar tidak kering dan sulit nantinya. Tapi baginya, ada satu hal yang dia bawa, yang itu lebih penting daripada semuanya, yaitu "aku membawa semangat thalib al-'ilm atau semangat pencari ilmu".
Kawan-kawan di kampung menyesali kepergiannya yang begitu cepat. Mereka semua merasa bahwa kebutuhan untuk menapaki jalan menjauhi kemewahan itu bukanlah pilihan yang tepat. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Orang-orang tua yang mengenalnya menganggap bahwa tindakan yang dilakukannya itu percuma. Para sepuh itu menilai sudah terlambat upaya 'memperbaiki' karena zaman sudah terlanjur edan !!
Lagi-lagi dia tidak mengambil pusing. Dia sadar orang boleh saja berbeda pendapat, tetapi bila itu menjadikan alasan untuknya membalikan layar, itu tidak mungkin. Dia malah berkeyakinan, mungkin orang lain berkata ini terlambat, namun kadang orang lain itu salah, karena hatinya berkata bahwa ini justeru adalah awal dari segalanya.
Hembusan hawa dingin mulai menusuk ke dalam tulang. Malam-malam dengan penuh cahaya percikan bintang membuatnya hanyut. Sembari menghentikan langkah, mata pria itu melongok ke kanan dan ke kiri. Dicarinya penuh hati-hati tempat dimana dia harus mendirikan tenda. Menutup perjalanan itu, dia mengusap dahi dan menatap bulan. SELAMAT MALAM.
1
Adalah rindu, yang membuatnya bangun dan sesegera mungkin mencari warung kopi.
Sudah hampir sebulan ini, dia hanya menemui bebatuan dan tumbuh-tumbuhan yang nampak rimbun. Kota-kota ataupun sekedarnya permukiman, sama sekali tak dia dapati. Barulah sekarang, dia mendengar sayup-sayup kegaduhan.
"aku dimana ini? ada nafas, ada oksigen dan karbondioksida yang beradu cepat keluar dan masuk, apakah ada kehidupan disini"
Batinnya begejolak. Antara senang, sedih dan juga sedikit perasaan was-was. Semenjak dunia dinyatakan tidak aman lagi, dia, meskipun tidak mau menaruh curiga, tetaplah harus berjaga-jaga. Manusia baginya telah kembali ke zaman dahulu, zaman dimana Hobbes menakut-nakuti dengan homo homini lupus yakni manusia adalah serigala bagi lainnya.
Meskipun begitu, dia harus tetap berjalan. Dia tidak memperdulikan takutnya itu. Dia paham betul bilamana kopi adalah salah satu prasyarat untuk melanjutkan revolusi. Yang dengan keyakinan macam tersebut, maka jahatnya manusia setidaknya sama tenang dihadapan kopi. Semoga.
Sampailah dia pada tuntunan keingannya menyeduh dan menikmati kopi. Warung sekira berukuran 3x3 dia duduki dengan penuh percaya diri.
"sebut saja warung ini warung kenduri pak, jadinya selalu ramai" pedagang kopi menjawab pertanyaan sang pria ketika ditanya "mengapa warung anda begitu ramai?". Sang pria menggeleng kecil, tidak cepat dan tidak pula lambat, seperlunya saja.
Di warung tersebut, musik-musik oplosan adalah andalan yang karena seringnya sehingga menjadi sebuah kewajiban. Para pengunjung pun menikmati lantunan yang katanya Musik-Nusantara itu.
Ada sekitaran tiga kelompok dalam tiga meja besar. Kelompok satu jumlahnya lima, kelompok dua jumlahnya empat dan kelompok tiga jumlahnya tiga. Sedangkan sang pria, sang pria itu ada di meja yang terpisah dan dia duduk ditemani pemilik warung.
"bapak datang darimana?" Pemilik warung membuka obrolan.
"saya, hmm, saya datang dari sebuah tempat yang saya sendiri tidak tahu" Sang pria menjawab.
"bapak gila?"
"kalau saya merasa bahwa saya ingin disebut normal, maka saya marah. Tetapi mungkin anda benar, saya gila"
"oh, bapak gila. Sudah berapa lama bapak gila?"
"semenjak aku lahir, aku gila"
"hahaha, kadang-kadang enak ngobrol sama orang gila. Tapi dari cara berpakaian bapak, sepertinya bapak tidak nampak gila"
Sang pria memang cukup nyentrik pagi itu. Topi koboy dipakainya untuk menutupi rambut yang mulai panjang sebahu. Badannya dia bungkus dengan jaket hijau. Sementara bawahannya, dia selimuti dengan sarung dengan motif mega mendung khas pantura Cirebon.
"bapak coba lihat pelanggan saya pak"
"yang mana?" Sang pria menoleh ke belakang. Maklum, punggungnya tidak memiliki mata.
"ya itu semuanya" pemilik toko sedikit serius "saya jelaskan kepada bapak ya, yang berlima itu, mereka adalah sales. Yang berempat itu, mereka adalah kader partai. Yang bertiga itu, mereka adalah pamong desa"
"wah, mereka semua bekerja. Mereka semua sibuk dan beruntunglah mereka tidak menganggur"
"bapak benar. Mereka memang bekerja, sibuk dan tidak menanggur. Namun mereka, selalu saja berbincang membuang waktu membicarakan hidup. Padahal hidup itu kan bukan untuk diperbincangkan, tetapi untuk dijalani"
Sang pria sedikit tersentak. Dia mulai merasa kerasan karena dia mulai menemukan interaksi yang selama ini sudah tidak dia jalani. Puasa meneng kalau kata orang Jawa.
"coba pak pemilik toko beritahu saya lebih jelas, beritahu saya mengenai topik dari masing-masing orang itu. Yang sales, yang kader dan yang pamong"
"yang sales itu, mereka merasa hidup dan matinya ada pada barang yang mereka jual. Yang kader itu, mereka merasa hidup dan matinya ada pada kemenangan partainya atau juga caleg yang di dukung. Dan yang pamong, bagi mereka hidup dan mati itu terletak dari visi dan misinya yang nanti akan mempengaruhi proyek mereka. Ketika tidak ada proyek, putuslah mereka itu"
"begitu ya, sekarang salah mereka apa bila mereka kemudian bersenda gurau, bertukar pikir dan berkata-kata mengenai hal yang mereka jalani?"
"iya, memang tidak salah. Cuma saya risih saja. Salah saya berkata itu sama bapak. Bapak kan gila"
"lalu jikalau saya gila, menurut ucapan pak pemilik toko barusan, saya tidak berhak mendapat sapaan?"
"iya, karena berbicara dengan orang gila hanya akan membuat saya ikutan gila"
"hahaha, sekarang bapak resmi gila"
"hah!!??" pemilik toko terheran-heran, dia mulai roaming.
"iya, karena bapak sudah berbicara dengan saya tadi, jadi bapak sudah ikutan gila"
Para pengunjung lainnya kemudian satu persatu pergi. Mereka terburu-buru dalam membayar dan dalam berjalan. Suara adzan dzuhur seperti bukan panggilan shalat tapi panggilan hidup. Merenung bukanlah perkara yang penting bagi mereka, karena uang dan membeli susu jauh lebih utama. Setidaknya begitu, sang pria memberi pemahaman.
"begitu benar tidak pak pemilik toko?"
"iya, mungkin ada benarnya juga bapak punya pikiran"
"dan saya tahu, bapak risih kepada mereka itu bukan karena mereka berbincang-bincang tetapi karena mereka seperti sebuah robot. Mereka bahagia bukan dengan dan karena mereka sendiri tetapi karena di luar mereka" panjang juga sang pria menjelaskan, "bukan begitu?"
"coba bapak jelaskan dengan lebih jelas lagi, saya ini orang tidak sekolah jadi agak sulit memahami bahasa yang abstrak" keluh pemilik toko.
"begini pak, yang sales, dia itu bahagia karena barang yang dia bawa laku. Ya, tentu, barang itulah faktor yang membuatnya bahagia. Yang partai, dia itu bahagia karena partai dan calegnya. Ya, tentu, itupun di luar dia. Yang pamong, dia itu bahagia karena warga dan proyek. Ya, tentu, itu juga masih di luar dirinya. Ketika semuanya ternyata tidak sesuai, mereka bersedih"
"ya, tepat sekali. Mereka kan padahal bisa bahagia tanpa perlu berpangku pada hal-hal di luar mereka itu. Sudahlah, ngopi saja, kan enak"
Semendadak itu kemudian burung elang menjerit memecah langit. Kopi yang dihidangkan pun mulai tidak panas lagi. Inilah waktu yang pas bagi sang pria pergi dan kembali memasuki hutan. Terima Kasih.
"bapak mau kemana?"
"aku mau meneruskan perjalananku, semoga esok kelak kita bertemu lagi"
Cuaca begitu berakibat pada bermunculannya goro-goro. Yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Menangkap baru sedikit merasa sudah banyak sehingga selesailah sudah. Orang lain dianggap rendah karenanya memaki serta menyakiti adalah hal yang remeh. Berbeda jalan dianggap musuh, yang berlawanan diperangi. Semua buta, semua seperti hidup dalam bingkai-bingkai permusuhan. Seluruhnya nampak gelap dan tidak menjelaskan satu hal apapun.
Dalam suasana getir tersebut, pria tangkas nan rupawan itu tetap berjalan. Langkah kakinya tidak gentar meski angin kencang menyulitkan ayunan kedua kakinya. Hujan dan panas yang tidak jelas, pun nyatanya tidak membuat 'nafsu'nya surut. Ke arah barat adalah tujuannya yang sedari kecil sudah dia impikan. Prinsip yang dipegangnya cukup mashyur, fasih juga dia katakan bahwa "lebih baik tumbang tinggal nama daripada pulang sebagai seorang pengecut".
Menemani perjalanannya, pria itu membawa tas yang isinya pakain dan buku-buku. Pria itu juga, menjinjing aneka rupa perlengkapan inap seperti tenda, kayu bakar, pisau dan lainnya. Segalanya dipersiapkan betul agar tidak kering dan sulit nantinya. Tapi baginya, ada satu hal yang dia bawa, yang itu lebih penting daripada semuanya, yaitu "aku membawa semangat thalib al-'ilm atau semangat pencari ilmu".
Kawan-kawan di kampung menyesali kepergiannya yang begitu cepat. Mereka semua merasa bahwa kebutuhan untuk menapaki jalan menjauhi kemewahan itu bukanlah pilihan yang tepat. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Orang-orang tua yang mengenalnya menganggap bahwa tindakan yang dilakukannya itu percuma. Para sepuh itu menilai sudah terlambat upaya 'memperbaiki' karena zaman sudah terlanjur edan !!
Lagi-lagi dia tidak mengambil pusing. Dia sadar orang boleh saja berbeda pendapat, tetapi bila itu menjadikan alasan untuknya membalikan layar, itu tidak mungkin. Dia malah berkeyakinan, mungkin orang lain berkata ini terlambat, namun kadang orang lain itu salah, karena hatinya berkata bahwa ini justeru adalah awal dari segalanya.
Hembusan hawa dingin mulai menusuk ke dalam tulang. Malam-malam dengan penuh cahaya percikan bintang membuatnya hanyut. Sembari menghentikan langkah, mata pria itu melongok ke kanan dan ke kiri. Dicarinya penuh hati-hati tempat dimana dia harus mendirikan tenda. Menutup perjalanan itu, dia mengusap dahi dan menatap bulan. SELAMAT MALAM.
1
Adalah rindu, yang membuatnya bangun dan sesegera mungkin mencari warung kopi.
Sudah hampir sebulan ini, dia hanya menemui bebatuan dan tumbuh-tumbuhan yang nampak rimbun. Kota-kota ataupun sekedarnya permukiman, sama sekali tak dia dapati. Barulah sekarang, dia mendengar sayup-sayup kegaduhan.
"aku dimana ini? ada nafas, ada oksigen dan karbondioksida yang beradu cepat keluar dan masuk, apakah ada kehidupan disini"
Batinnya begejolak. Antara senang, sedih dan juga sedikit perasaan was-was. Semenjak dunia dinyatakan tidak aman lagi, dia, meskipun tidak mau menaruh curiga, tetaplah harus berjaga-jaga. Manusia baginya telah kembali ke zaman dahulu, zaman dimana Hobbes menakut-nakuti dengan homo homini lupus yakni manusia adalah serigala bagi lainnya.
Meskipun begitu, dia harus tetap berjalan. Dia tidak memperdulikan takutnya itu. Dia paham betul bilamana kopi adalah salah satu prasyarat untuk melanjutkan revolusi. Yang dengan keyakinan macam tersebut, maka jahatnya manusia setidaknya sama tenang dihadapan kopi. Semoga.
Sampailah dia pada tuntunan keingannya menyeduh dan menikmati kopi. Warung sekira berukuran 3x3 dia duduki dengan penuh percaya diri.
"sebut saja warung ini warung kenduri pak, jadinya selalu ramai" pedagang kopi menjawab pertanyaan sang pria ketika ditanya "mengapa warung anda begitu ramai?". Sang pria menggeleng kecil, tidak cepat dan tidak pula lambat, seperlunya saja.
Di warung tersebut, musik-musik oplosan adalah andalan yang karena seringnya sehingga menjadi sebuah kewajiban. Para pengunjung pun menikmati lantunan yang katanya Musik-Nusantara itu.
Ada sekitaran tiga kelompok dalam tiga meja besar. Kelompok satu jumlahnya lima, kelompok dua jumlahnya empat dan kelompok tiga jumlahnya tiga. Sedangkan sang pria, sang pria itu ada di meja yang terpisah dan dia duduk ditemani pemilik warung.
"bapak datang darimana?" Pemilik warung membuka obrolan.
"saya, hmm, saya datang dari sebuah tempat yang saya sendiri tidak tahu" Sang pria menjawab.
"bapak gila?"
"kalau saya merasa bahwa saya ingin disebut normal, maka saya marah. Tetapi mungkin anda benar, saya gila"
"oh, bapak gila. Sudah berapa lama bapak gila?"
"semenjak aku lahir, aku gila"
"hahaha, kadang-kadang enak ngobrol sama orang gila. Tapi dari cara berpakaian bapak, sepertinya bapak tidak nampak gila"
Sang pria memang cukup nyentrik pagi itu. Topi koboy dipakainya untuk menutupi rambut yang mulai panjang sebahu. Badannya dia bungkus dengan jaket hijau. Sementara bawahannya, dia selimuti dengan sarung dengan motif mega mendung khas pantura Cirebon.
"bapak coba lihat pelanggan saya pak"
"yang mana?" Sang pria menoleh ke belakang. Maklum, punggungnya tidak memiliki mata.
"ya itu semuanya" pemilik toko sedikit serius "saya jelaskan kepada bapak ya, yang berlima itu, mereka adalah sales. Yang berempat itu, mereka adalah kader partai. Yang bertiga itu, mereka adalah pamong desa"
"wah, mereka semua bekerja. Mereka semua sibuk dan beruntunglah mereka tidak menganggur"
"bapak benar. Mereka memang bekerja, sibuk dan tidak menanggur. Namun mereka, selalu saja berbincang membuang waktu membicarakan hidup. Padahal hidup itu kan bukan untuk diperbincangkan, tetapi untuk dijalani"
Sang pria sedikit tersentak. Dia mulai merasa kerasan karena dia mulai menemukan interaksi yang selama ini sudah tidak dia jalani. Puasa meneng kalau kata orang Jawa.
"coba pak pemilik toko beritahu saya lebih jelas, beritahu saya mengenai topik dari masing-masing orang itu. Yang sales, yang kader dan yang pamong"
"yang sales itu, mereka merasa hidup dan matinya ada pada barang yang mereka jual. Yang kader itu, mereka merasa hidup dan matinya ada pada kemenangan partainya atau juga caleg yang di dukung. Dan yang pamong, bagi mereka hidup dan mati itu terletak dari visi dan misinya yang nanti akan mempengaruhi proyek mereka. Ketika tidak ada proyek, putuslah mereka itu"
"begitu ya, sekarang salah mereka apa bila mereka kemudian bersenda gurau, bertukar pikir dan berkata-kata mengenai hal yang mereka jalani?"
"iya, memang tidak salah. Cuma saya risih saja. Salah saya berkata itu sama bapak. Bapak kan gila"
"lalu jikalau saya gila, menurut ucapan pak pemilik toko barusan, saya tidak berhak mendapat sapaan?"
"iya, karena berbicara dengan orang gila hanya akan membuat saya ikutan gila"
"hahaha, sekarang bapak resmi gila"
"hah!!??" pemilik toko terheran-heran, dia mulai roaming.
"iya, karena bapak sudah berbicara dengan saya tadi, jadi bapak sudah ikutan gila"
Para pengunjung lainnya kemudian satu persatu pergi. Mereka terburu-buru dalam membayar dan dalam berjalan. Suara adzan dzuhur seperti bukan panggilan shalat tapi panggilan hidup. Merenung bukanlah perkara yang penting bagi mereka, karena uang dan membeli susu jauh lebih utama. Setidaknya begitu, sang pria memberi pemahaman.
"begitu benar tidak pak pemilik toko?"
"iya, mungkin ada benarnya juga bapak punya pikiran"
"dan saya tahu, bapak risih kepada mereka itu bukan karena mereka berbincang-bincang tetapi karena mereka seperti sebuah robot. Mereka bahagia bukan dengan dan karena mereka sendiri tetapi karena di luar mereka" panjang juga sang pria menjelaskan, "bukan begitu?"
"coba bapak jelaskan dengan lebih jelas lagi, saya ini orang tidak sekolah jadi agak sulit memahami bahasa yang abstrak" keluh pemilik toko.
"begini pak, yang sales, dia itu bahagia karena barang yang dia bawa laku. Ya, tentu, barang itulah faktor yang membuatnya bahagia. Yang partai, dia itu bahagia karena partai dan calegnya. Ya, tentu, itupun di luar dia. Yang pamong, dia itu bahagia karena warga dan proyek. Ya, tentu, itu juga masih di luar dirinya. Ketika semuanya ternyata tidak sesuai, mereka bersedih"
"ya, tepat sekali. Mereka kan padahal bisa bahagia tanpa perlu berpangku pada hal-hal di luar mereka itu. Sudahlah, ngopi saja, kan enak"
Semendadak itu kemudian burung elang menjerit memecah langit. Kopi yang dihidangkan pun mulai tidak panas lagi. Inilah waktu yang pas bagi sang pria pergi dan kembali memasuki hutan. Terima Kasih.
"bapak mau kemana?"
"aku mau meneruskan perjalananku, semoga esok kelak kita bertemu lagi"
Rabu, 27 Mei 2015
Unsur Niat dalam Hukum
diterbitkan oleh harian umum Radar Cirebon edisi 27/05/2015
Oleh : Bakhrul Amal
CONTOH
KEBERKAITAN NIAT DENGAN HUKUMAN
Jika kita ingat,
ada suatu jargon menyebutkan bilamana “yang merugikan belum tentu jahat tetapi
yang jahat sudah pasti merugikan”. Kesemuanya, bergantung pada alasan (reasoning)
NIAT
dan KORUPSI
Unsur niat juga
mulai merasuk ke dalam ranah kasus extraordinary
crime atau kejahatan luar biasa. Salah satu daripadanya adalah korupsi.
PENUTUP
Menyeruaknya
konsep mempertautkan niat dengan tindakan mulai banyak dibicarakan akhir-akhir
ini. Bukan hanya karena penting, tetapi juga karena menjamurnya upaya
kriminalisasi. Artinya juga, dengan begitu, niat telah merubah paradigma hukum
yang begitu kaku dan tekstual menjadi hukum yang ditegakan berdasarkan pula
kontekstual. Pergeseran berkaitan dengan dilibatkannya niat ini, dapat
dijadikan indikasi bahwa positivisme hukum telah usang dan muncullah paradigma
baru bernama progresifitas hukum.*https://muliaok.files.wordpress.com/2010/07/intention.jpg
Langganan:
Postingan (Atom)