Kamis, 14 Mei 2015

Ita Itu Ina Ini

Hanya kau, iya benar, hanya kau, yang maha tahu yang maha paham apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun aku sadar, bahwa sebenarnya kau itu tidak lebih dari 'seolah'.

Lalu kau merangkai kata untuk membuat persepsimu terlihat mungkin, terlihat benar seperti inginmu. Tetapi sayang, dari rimbunnya kata, dari banyaknya paragraf, aku hanya menemukan satu hal; kau tidak lebih dari igauan yang keliru yang sama seperti apa yang kau tulis. Kau mencoba menghibur dirimu sendiri yang telah jatuh bahkan tidak lagi bangun sampai hitungan ke sepuluh.

Semua sajak recehmu itu sebenarnya bukanlah masalah. Namun, aku hanya miris manakala aku tahu bahwa kau tidak lebih daripada orang yang mengharapkan sesamanya mendapatkan keburukan.  Kau suka bila persepsimu itu menjadi nyata dan orang lain kemudian terluka. Kau suka bila yang kau pikir itu terjadi dan orang lain bersedih setelahnya. Sebenarnya kau ini apa, pejuang kemanusiaan atau pejuang ke-manuSIALAN?

Mirisku bertambah, dan artinya menjadi dua. Sebelum terpejam, aku baca sebuah buku yang entah itu judulnya apa, aku lupa. Yang jelas, disitu ditulis bahwa "betapa sedihnya dia, yang bahagianya itu diciptakan dari penderitaan orang lain".

Terimasaja :)



Fakta di Balik 'Pemenjaraan'

http://i.huffpost.com/gen/476001/thumbs/a-MAZE-PRISON-640x468.jpg
diterbitkan di Harian Umum Radar Cirebon edisi 13/05/15


I should like to be able to love my country and still love justice
(Abraham Lincoln)

Negara, bagi Lincoln, tidak memiliki tempat yang lebih tinggi daripada keadilan. Jikalau manusia memiliki benda bernama hukum, kata Victor Hugo yang seperti menyambung Lincoln, Tuhan memiliki benda yang lebih besar yang kita kenal dengan keadilan. Jikalau begitu, artinya, drajat  keadilan di atas negara itu, adalah benar.

Negara memiliki kuasa. Hukum meligitimasi. Hati nurani mencerna keadilan. Namun, kadangkala, negara berhenti sampai pada hukum dan tidak terlampau jauh untuk menakar keadilan. Dan negara, dengan kuasanya, memaksa hukum memenjarakan orang tanpa mencermati secara dalam sisi keadilan.

Hal-hal seperti tersebut seringkali kita saksikan di layar kaca, di media cetak dan bahkan di ruang-ruang tanpa berita.

Nenek yang mencuri sebilah kayu, di penjara. Ibu yang memotong bambu, di penjara. Pejabat yang karena politik dipaksa dipersalahkan, di penjara. Lalu kemudian, stigma penjara sebagai tempat orang ‘jahat’, muncul. Stigma tersebut, parahnya, mendahului naluri akan keadilan.

Apakah memang benarnya begitu? Mari kita cermati fenomena tersebut melalui tiga film berbeda dengan latar dan tragedi berbeda. Diantara pebedaan tersebut, tema ketiga film itu tetap sama, yaitu dipenjarakan.

DI PENJARA KARENA FITNAH
Sudah kepalang takdir, siapa yang menaruh benci maka tidak ada kebaikan terlihat sedikitpun dalam pandangan yang dibencinya itu. Begitulah kiranya.

Adalah Five Minarets in New York, sebuah film hasil garapan kerjasama antara Turki dan Amerika Serikat, yang menceritakan hal tersebut. Meskipun adegan yang dimaksud amatlah secuil, film yang disutradarai Mahsun Kirmizigul ini cukup berhasil membawa emosi perihal ke-penjara-an.

Firat, seorang polisi senior, meminta izin pergi ke New York untuk menangkap teroris bernama Hadji Gumus. Bersama Acar, Firat lantas berhasil membawa Gumus ke Turki untuk selanjutnya memenjarakan Gumus. Gumus pun, atas dasar hukum, dibawa ke sel selama beberapa hari.
Film berlanjut, aneka macam kejadian pun di pertontonkan. Hingga akhirnya, kepala polisi Turki tahu bahwa Gumus hanyalah korban. Dia dipenjara karena fitnah.

Dicarilah fakta selanjutnya menyoal mengapa Gumus diperlakukan tidak adil. Di akhir cerita, semua mata terbelalak, lelaki tua itu sempat mendekam di sel karena fitnah Firat. Firat tidak terima atas kematian ayahnya dan merasa Gumus perlu bertanggung jawab atas itu. Meskipun akhirnya Firat tahu bahwa dia keliru,  apalah daya, lagi-lagi karena kurang hati-hati orang yang tidak bersalah di penjara.

Gumus, karena perlakuan itu, dia tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya. Gumus, akibat dipenjara, dia kehilangan waktu untuk menemui dan bersalam sapa dengan jama’ahnya. Miris.

DI PENJARA KARENA DIPAKSA MENGAKU SALAH
Menyakitkan memang, ketika tahu bahwa kita benar tetapi posisinya kita tidak lagi ada di dunia ini. Sebut saja, telah mati.

Cerita tersebut memang sekedar film, namun bukan berarti tidak hadir atas inspirasi kejadian nyata. Seorang ayah, Lee Yong Go namanya, ingin sekali membelikan anaknya tas Sailor Moon. Tidak peduli, meskipun profesinya tukang parkir, Lee Yong Go akan berusaha demi membahagiakan Ye Sung anaknya.

Selepas mendapat gaji. Lee Yong Go langsung terngiang anaknya. Dia sisihkan sebagian uang hasil keringatnya untuk sebuah tas Sailor Moon.
Beruntunglah Lee Yong Go, seorang anak kecil bermurah hati ingin mengantarkan dia menuju toko yang menjual tas pesanan anaknya. Namun nahas, di tengah jalan, anak yang mengantarnya itu justru jatuh dan mati dijalan.

Lee Yong Go bingung. Sebagai seorang yang tidak terlalu pandai, dia berusaha membuat nafas buatan agar anak yang mengantarnya itu dapat hidup kembali. Bukan kehidupan yang di dapat, Lee Yong Go justeru dituduh dan dipaksa mengaku telah memperkosa untuk lalu di penjara. Itulah, singkat cerita dari film Miracle In Cell No. 7 garapan sutradara Lee Hwan-kyung.

Film yang berdurasi 127 menit itu belum selesai dan masih terus menampilkan peristiwa. Tibalah pada putusan hakim yang menyatakan bahwa “..Lee Yong Go, bersalah dan di hukum mati!!..”. Ye Sung, selaku anak Lee Yong Go yang masih TK, belum paham. Dia hanya tahu dari ayahnya bahwa “..ayah masih hidup tapi di dunia yang berbeda..”.

Ye Sung pun beranjak dewasa. Sedikit-demi-sedikit dia mulai paham. Dia berjanji akan mengembalikan nama ayahnya. Lagi-lagi, sekalipun Ye Sung berhasil mengungkap fakta bahwa ayahnya tidak bersalah, tetapi Ye Sung tidak berhasil menghidupkan ayahnya lagi. Hanya tangis dan haru, atau mungkin juga kebanggan, bahwa “.ayah, meskipun engkau telah tiada, aku telah membuktikan bahwa kau bukan orang jahat..”.

DI PENJARA KARENA POLITIK
Penjarakan orang benar agar dia tidak mengganggu orang jahat. Keberanian orang benar menyakitkan hati orang jahat. Kiranya, itu terdengar layaiknya ungkapan klasik para penyamun-penyamun di padang pasir.

Keluar dari gaya biasanya, Hanung Bramantyo membuat sebuah film bertema menguak ‘Siapa di atas Presiden?’. Film tersebut bercerita mengenai fenomena kekotoran politik yang menghalalkan segala cara untuk; mendzhalimi, menghancurkan dan membunuh kemerdekaan orang (lawan politik).

Bagas Notolegowo, yang diperankan Roy Sahetapi, adalah kandidat kuat calon presiden. Entah karena apa, dia diundang ke sebuah apartemen oleh menteri keuangan. Kaget bukan kepalang, ketika dia sampai, menteri keuangan tersebut telah mati tak bernyawa.

Polisi lalu hadir lebih cepat dari biasanya. Tanpa pikir panjang, melihat Bagas satu-satunya orang yang berada disitu, Bagas pun diseret ke penjara. Awalnya saksi, kemudian dicari bukti, Bagas yang tidak tahu menahu ditetapkan jua menjadi tersangka. Kejahatan politik pada saat itu menuai hasil. Sebabnya, otomatis, pencalonan Bagas pun berhasil di jegal.

Lagi-lagi, meskipun kemudian Bagas dapat dibuktikan bahwa dia benar, tapi penjara telah menguras sanksi sosial terhadapnya.

PENUTUP
Percaya pada kekuasaan memang diwajibkan. Menaati hukum, pun rasanya perlu sebagai representasi kepercayaan cinta tersebut. Namun, yang tidak kalah penting, menggunakan hati dan nurani untuk sebuah keadilan lebih penting di atas segalanya.

Dari tiga cerita tersebut, setidaknya kita mengetahui satu hal, penjara bukanlah selalu tempat orang-orang jahat. Penjara, terkadang, menjadi tempat orang-orang baik yang di-jahati. Sebut saja, Para Wali, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Vaclav Havel, Ghandi, dan lain sebagainya. Mereka adalah contohnya. Disitu bukti bahwa ada fitnah, ada kedzhaliman dan ada banyak kebohongan di balik kerasnya bilik penjara.

http://i.huffpost.com/gen/476001/thumbs/a-MAZE-PRISON-640x468.jpg

Selasa, 28 April 2015

MENAKAR EFEKTIVITAS HUKUMAN MATI

http://stories-of-london.org/wp-content/uploads/2013/images/edith-cavell/edith-cavell-1.jpg


Diterbitkan oleh harian Radar Cirebon 28/04/2015

Hukuman mati. Sebuah selogan baru yang (mungkin) sedang menjadi buah bibir. Kehebohannya tidak kalah dengan batu akik. Di koran, di televisi hingga bahkan di bawah lampu remang warung-warung pantura, semua berbincang lebar menyoal bagaimana hukum menyelesaikan kisah hidup seseorang (Death Penalty).

Dari cuap-cuap yang terserak itu, didapati dua hal yang bisa disimpulkan sebagai dasar penerimaan, dan dua hal sebagai dasar penolakan.

Yang menerima, memiliki dua pandangan pokok. Satu, hukuman mati adalah hukuman paling pantas bagi teroris, pengedar narkoba dan pembunuh. Rasio Logisnya (secara akal sehat) bahwa yang menghilangkan nyawa harus dibalas nyawa. Kedua, hukuman mati adalah tindakan yang lebih manusiawi dibandingkan membiarkan orang hidup sebatang kara di penjara. Mereka menguras kesedihan korban, juga menguras duit negara membiayai hidup mereka.

Intinya, bagi yang menerima, mereka menggunakan prinsip retribusi. Prinsip tersebut berkutat pada pemahaman sederhana; mata ganti mata, bunuh dibayar dengan bunuh, hidup dilunasi oleh hidup (do ut des). Seperti  itu.

Yang menolak, pun, memiliki dua keyakinan pokok mengapa hukuman mati haruslah di tolak. Satu, hukuman mati adalah tindakan penghentian harapan dari orang yang jahat untuk menjadi orang yang lebih baik. Mereka yang bersalah sejatinya mempunyai kesempatan untuk bertobat, dan kesempatan itu bisa dilakukan hanya apabila diberikan kehidupan. Dua, hukuman mati, apapun alasannya, adalah sebuah perbuatan yang menciderai prinsip hak manusia untuk hidup. Prinsip tersebut tidaklah luntur sekalipun terhadap pribadi yang melakukan kejahatan dengan menghilangkan nyawa yang lainnya.

Mereka yang menolak tentunya mempunyai suatu pedoman, yakni kemanusiaan. Dalam sebuah risalah diceritakan bahwa, Nabi Isa suatu ketika ditanyai atau dipaksai soal “sebaiknya pelaku zinah ini kita rajam saja sampai mati!!! ????”. Isa diam dan setelah itu menjawab “dia yang tanpa dosa di antara kamu, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu..”. Lalu semua diam, mendadak hening dan pengampunan terjadi.

HUKUMAN MATI INDONESIA
Jikalau kita ingat, mengenai hukuman mati, Tiongkok tentunya adalah negara yang seringkali diagung-agungkan sebagai contoh yang masyhur. Dengan ketegasannya, negara tersebut berhasil menyapu bersih anggaran pendapatan dari korupsi. Dan, ancaman hukuman mati terhadap koruptor itu, telah membuat negara tersebut merangsek menjadi adidaya menyaingi Amerika Serikat. Hal itu pun katanya, karena tidak diketahui secara pasti datanya.

Singkatnya, semenjak itu, hukuman mati mulai tidak lagi dikenal sebagai prosedur hukum tetapi juga telah menjadi tolak ukur menyoal efek jera. Hukuman mati dijadikan indikasi atau alat untuk menurunkan tindakan yang buruk.

Ada sebuah kebiasaan, yaitu negara berkembang selalu mengikuti negara maju. Indonesia yang tidak melakukan eksekusi mati pada 2014, secara mengejutkan pada 2015 melaksanakan enam eksekusi mati terkait kasus narkotika hingga bulan Maret. Hal itu bertujuan, tentu, untuk mengurangi peredaran narkoba yang dinilai merusak generasi penerus.

EFEKTIVITAS
Setiap persoalan, apalagi itu menyangkut etika, selalu melibatkan apa yang disebut dengan hak prima facie atau hak pada pandangan pertama. Artinya, hak negara terhadap hukuman mati itu berlaku sampai dikalahkan oleh hak lain yang lebih kuat. Dan, hak negara itu, bisa runtuh apabila tujuan efek jera tersebut nyatanya tidak menunjukan hasil bahkan nihil.

Efektivitas mengenai penurunan tindak pidana dengan sarana hukuman mati tersebut belum secara gamblang dibeberkan. Hendardi, ketua Setara Institute, menilai bahwa malah sejauh ini tidak ada statistik yang menyebutkan adanya penurunan.

Di sisi lain, masih menurut Hendardi, hukuman mati seringkali dibisniskan dan riskan kesalahan apabila dilaksanakan dengan tidak hati-hati. Hukuman mati bisa dilakukan apabila penegak hukum secara terang bisa memahami antara motif (motive) dan penyebab (causa). Jika tidak, hukuman mati hanyalah sebuah kegiatan yang menabrak moral karena memperalat nyawa manusia untuk percobaan.

PENUTUP
Dalam setiap tindakan selalu memiliki konsekuensi. Jikalau relevansi antara hukuman mati dan penurunan tingkat penggunaan narkotik tidak berjalan, artinya, hukuman mati hanyalah menjadi seperti; kejutan budaya (cultural shock).

Seyogyianya, jika hidup dan menghirup nafas adalah suatu bentuk kebebasan, Sartre benar bahwa “we are condemned to be free” atau kita ditakdirkan untuk bebas. Namun, yang perlu menjadi catatan, hukuman mati seolah “menggunakan kebebasan untuk menyangkal adanya kebebasan itu sendiri”.

Rabu, 15 April 2015

HIKAYAT LINCOLN


 http://randomcelebs.com/wp-content/uploads/2015/04/Abraham-Lincoln-3.jpg



“dooor”.. Abraham Lincoln mati terkapar tak bernyawa. Satu keping peluru yang pecah menghunus tepat di kepalanya yang cemerlang. Selang beberapa saat kemudian, tubuh yang penuh inspirasi itu terbungkus kaffan. Innalillah....

Lincoln mati bukan tanpa firasat, bukan pula tanpa isyarat, tapi Lincoln meninggal dengan tanda-tanda. Konon, dua minggu sebelum kejadian tragis tersebut, Lincoln bermimpi. Dia –dalam hanyut nada-nada malam –berjalan sendiri tidak berkawan. Tiba-tiba saja, seorang wanita menangis pertanda layat tengah datang. Dia kemudian menatap mendapati tubuhnya menjadi seonggak jenazah.

Tersebutlah, 15 April 1865, tanggal dimana sehari sebelumnya Lincoln dihujani peluru di Teater Ford, Lincoln meninggal. Dan, John Wilkes Booth dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian itu.

Namun mati, ya mati, tidak bisa menghentikan laju sejarah yang bergerak cepat menampakan kebenaran. Seperti kata Lincoln sendiri “..anda tidak bisa lepas dari tanggung jawab besok dengan menghindari hari ini..”. Oleh karenanya, sopan rasanya apabila mari kita ulas kembali spirit maupun gagasan apik presiden berkulit hitam pertama Amerika ini.

PANTANG MENYERAH
Jelas, kata inspiratif adalah kata yang melekat di tubuh sang pemilik nama bapak segala agama, Abraham (Ibrahim). Pantang menyerah adalah sikap yang menjadi teladan dari seorang Lincoln.

Dari tahun ke tahun, sebelum tahun 1860, Lincoln selalu lekat dengan julukan ‘gagal’. Dimulai dari 1831, usahanya bangkrut. Istrinya meninggal pun pernah dirasakan. Soal pemilihan, jangan ditanya, dari pemilihan lokal, senat sampai wakil presiden, Lincoln gagal secara beruntun. Barulah, di tahun 1860, Lincoln berhasil mencapai posisi tertinggi di negara Adidaya.

John Speed, kawan Lincoln, bercerita bahwa awalnya Lincoln adalah seorang yang skeptis. Skep-tis sendiri secara etimologi berarti ragu-ragu, orang yang ragu-ragu. Mungkin, seperti yang diceritakan dalam buku kecil A Legacy of Freedom, Lincoln hanya tegas pada satu hal yaitu wanita !. Selebihnya, entahlah.

Seperti sebuah narasi motivasi, kesuksesan Lincoln tidak bisa lepas dari mantra. Meskipun sempat disangksi skeptis dan keras pada diri sendiri terhadap wanita, Lincoln nyatanya, toh sukses juga. Seperti memoar NLP (Neuro Linguistic Program), kesuksesan itu kadang tumbuh hanya dari hal remeh berupa kata-kata, dan kata-kata itu, ucap Lincoln “..siapapun anda jadilah yang terbaik, yang paling baik dari yang lain..”.

Setalah bibir mengecap dan mengunci rapat dengan tindakan, Lincoln melesat jauh terbang ke puncak kesuksesan.

MENCINTAI KEBERAGAMAN
Chautauqua (/ʃəˈtɔːkwə/ shə-TAW-kwə), sebuah gerakan pendidikan rakyat di Amerika Serikat yang amat populer di abad kesembilan belas. Di sela-sela bincang-berbincang, sempat pula institusi ini menyentil perihal Abraham Lincoln. Sederhananya, dikatakan, Lincoln adalah subyek yang mengingatkan kita apa yang perlu kita tahu yang mungkin kita lupa. Hal itu, tentu merujuk pada satu keteguhan mental Lincoln yang selalu tak lupa mengingatkan “..kebersatuan itu tidaklah cukup pada kehidupan bersama saja, lebih jauh kebersatuan (Uni) harus merujuk pada proposisi; bahwa kita diciptakan sama..” (Abraham Lincoln:A Legacy of Freedom, hlm 3).

Kata yang baik adalah, menurut Sabda Nabi Muhammad, kata yang keluar bersamaan dengan kesesuaian tindakan. Lincoln, sebagai pengagum Nabi terakhir menurut Umat Islam, mengamini serta taklid pada ucapan sakral itu.

Catatan langkah Lincoln, bisalah kita ringkas dalam satu ungkapan berupa pembebasan. Seperti yang Paulo Freire nilai, bahwa kesadaran kritis adalah keterarahan bersama (co-intensiona-litas). Agaknya, seperti itu pula, Lincoln menghayati lika dan liku perjuangannya.

Lincoln bertakdir sebagai seorang, sebut saja, negro. Waktu itu ras nya adalah yang terbelakang. Dijadikan budak, dimanfaatkan barang tenaganya kemudian dilecehkan. Darisitulah, Lincoln kemudian berujar bilamana “pembebasan budak kulit hitam” adalah harus. Politik emansipasi menjadi senjatanya yang menjulang tinggi menembus langit feodalisme. Lincoln, pun menginisiatifkan pengembalian tujuan konstitusi “..milik rakyat, diatur rakyat dan dinikmati oleh rakyat...”.

Kejahatan, bagi Lincoln akan segera tampak dan digantikan oleh kebaikan. Lincoln percaya “..Anda bisa menipu semua orang beberapa waktu, dan beberapa orang sepanjang waktu, tetapi Anda tidak bisa menipu semua orang sepanjang waktu...”.

PENUTUP
Dua sub judul di atas adalah rantai yang satu dengan lainnya harus ‘kreeek’ atau menyatu. Pantang menyerah yang minus cinta keberagaman hanya akan menimbulkan mental ingin menang sendiri. 
Cinta keberagaman yang tidak dibarengi pantang menyerah, output nya hanyalah mimpi yang tak kunjung terealisasi. Oleh sebab itu, satu dan dua itu adalah manunggal.

Sebenarnya, berbicara Lincoln, tidak akan habis hanya membaca perkara satu kolom tulisan ini. Lincoln teramat panjang dan sukar dideskripsikan secara singkat. Namun, jikalau hendak dikorelasikan dengan kondisi kekinian, yang paling tepat diteladani adalah kedua hal ini.

Haul mengenang kematian Lincoln tuntas dalam celotehan irit ini. Patungnya di Washington pun duduk tersenyum meski sudah ratusan tahun jazad badaninya terkubur. Jadilah, inti daripada ini semua sebagai social capital (modal sosial) menapaki roda politik ke depan.

Dari atas kuburnya, Lincoln bersua “...hal terbaik dari masa depan adalah ia datang suatu hari pada satu waktu..”. Terima Kasih, Abraham Lincoln.

*http://randomcelebs.com/wp-content/uploads/2015/04/Abraham-Lincoln-3.jpg

Sabtu, 21 Maret 2015

Novel 'Selamat Pagi' Itu


SELAMAT PAGI (NOVEL)
HARGA: Rp47.000
PEMESANAN: SMS 085659314144

(sertakan nama, kode buku, jumlah buku, alamat lengkap, dan kode pos)


Penulis
Bakhrul Amal

Penyunting
Tim Ellunar Publisher

Penata Letak dan Perancang Sampul
Hanung Norenza Putra

Bandung; Ellunar, 2015
xiv + 266hlm., 14.8 x 21 cm
ISBN: 978-602-0805-01-6

"...Di dalamnya berisi pesan moral yang mengajak remaja keluar dari lorong gelap menuju terang kehidupan..." (Yudi Latief - Ketua Pelaksana Harian Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila)

"..Novel ini "merawat" tokohnya dengan sejumlah refleksi filosofis. Suatu upaya pedagogis dari si penulis untuk mendekatkan pikiran-pikiran dunia kepada kalangan remaja...." (Rocky Gerung - Pengajar Filsafat UI)

"..Untaian tulisan yang menyapa jujur, membuyarkan sekat yang memisahkan pembaca dari karsa dan karya Samudra nan belia itu...." (Prof Erlyn Indarti - Guru Besar FH UNDIP)

Sinopsis

Hay, siapapun kamu yang membuka surat ini.
Sebelumnya aku minta maaf ya, aku tidak pandai menulis surat.
Kamu mulai sekarang bisa panggil aku Engel. Dan bila tidak marah, aku ingin memanggilmu Held, ya, Heldy dari planet Linke.
Terima kasih telah datang untuk bicara.
Engel.

Dari semua cara yang dapat digunakan untuk mengenal gadis itu, Samudra atau yang biasa dipanggil Sam memilih untuk menggunakan surat. Entah apa yang ada di pikiran seorang siswa SMA N 1 Cirebon yang dikenal sebagai tukang bolos, pembuat onar, bahkan disebut preman ini sampai berani menaruh hati pada seorang gadis pintar, anggun, dan sholehah itu. Namun, siapa yang tahu pasti akhir dari sebuah perjalanan? Apalagi Sam nyatanya mampu perlahan-lahan mengenal gadis itu, meskipun hanya melalui sehelai kertas surat setiap harinya, meskipun hanya dapat memperkenalkan dirinya sebagai Heldy.

“Jika cinta itu berdasar alasan, maka cinta akan hilang seketika bersamaan dengan hilangnya alasan-alasan akan cinta itu.”

Novel ini berisi tentang kisah pergolakan remaja bernama Samudra. Dikemas menarik, inspiratif, sekaligus sarat filosofi. Tidak hanya mengupas tentang masa SMA di tahun 2006, novel ini menggambarkan dengan baik budaya sosial yang tercermin dari latar belakang, karakter, dan diskusi tokoh-tokohnya.

Kamis, 05 Maret 2015

Terjerembab

Dan hari ini, waktu langit tidak lagi ber-jam
Gusar dan nampak tidak berposisi
Begitupun tangan, yang meliuk menadahkan sukma
Seketika itu juga, jatuh

Semenjak itu, goresan-goresan lahir
Bukan lagi hanyut, cuma bergerigi
Mungkinkah mentari menoleh
Seekor kanguru melonjak girang

Ah, masa begitu saja rindu
Jangan-jangan hanya menyapa tipis

Matamu, mengkilap dan berkaca
Dekap, pun hadir menyingsing

Inilah yang ditunggu
Akhir yang menyurati jalan awal
Pena nya menulis bergelombang
Tetapi itulah harapan, embun akan berteduh pada yang tenang

Percaya !

Rabu, 04 Maret 2015

Ya Inilah

Apakah ada yang lebih indah daripada rerumputan yang tumbuh menghijau, lalu diterpa desir-desir angin sore? Itulah cinta, katanya.

Ketika kesempatan itu tiba, maka, memulai untuk kemudian melanjutkan ke petualangan yang lebih besar bukanlah hal yang muskil. Terlalu lelah kaki melangkah, terlalu capek mata membelalak. Tidak lain, cara mengkhari untuk mengawalinya adalah dengan mengikat. Dan kamu, ya, kupilih sebagai catatan nama yang menggores dalam relung hati.

Jika aku mencari 'karena', niscaya tidak urung ku dapat ke-karena-an itu. Oleh sebab itu, 'meskipun' adalah ketepatan yang agung. "Ketika sebuah tunas besar kau pilih, janganlah meragu" kata Socrates. "jangan pula mengisak", lanjutnya "siramilah tunas itu yang mana kekurangannya kau lengkapi dan kekuranganmu dilengkapinya".

Kamu datang dengan kepolosanmu. Kamu mengigau sampai kau terperosok di tempat nun jauh dan gelap. Tapi itu bukan masalah, itu bukan pula alasan, itu hanyalah sebuah bagian dari hidup.

Menanggapi itu, aku hanya mengangguk, lalu tak kuasa untuk tak memeluk. Indahnya.



Minggu, 08 Februari 2015

AVAST ! (sambungan VI)

9

Seperti sebuah kerumunan asap hitam yang menggunung, seperti itu pulalah malam yang tengah dilewati oleh Revo dan Fairuz. Gelap dan sangat kabur. 

Selepas isya, Fairuz baru keluar kembali dari dalam kamarnya. Dia melangkah maju ke teras depan yang selalu dia sukai itu. Hentakan kakinya terpacu dan kesannya terburu-buru. Dia seperti meninggalkan dosa karena telah membiarkan Revo menantinya cukup lama.

Sementara itu, di tempat yang hendak dituju oleh Fairuz; Revo masih setia menunggu. Hampir dua bungkus rokok dia habiskan sendiri. Revo termangu oleh hujan, oleh kopi dan oleh semua hal yang sedang ada dipikirannya. Tak ada lagi peduli yang menggusarkan hatinya karena Fairuz yang teramat lama.

"hey, sorry ya Vo, lama"
"santai lah Fay, biasanya juga begitu"

Fairuz menepuk punggung Revo. Keduanya kini telah duduk berdampingan, kembali. 

Memang begitulah Fairuz, dia cukup tega kepada para kawan-kawannya. Dia selalu mementingkan hajatnya sendiri. Selama apa yang menjadi ritualnya belumlah selesai, dia tidak akan pernah memikirkan dengan siapa dia sedang ditunggu. Itulah yang mungkin bagi sebagian kita disebut dengan egois. Dan untuk malam ini, entahlah, edisi keberapa kalinya dia mengulangi hal yang tidak baik itu.

Percakapan mereka sedari tadi sore, belum menjurus ke arah yang matang. Keduanya masih sibuk mengentaskan kegelauan yang ada pada lingkaran hidup Fairuz. 

"kamu ini, sudah membasuh tubuhmu tetapi masih saja galau"
"memangnya galau bisa hilang bersama kotoran yang melekat di badanku ini?"
"seharusnya sih begitu, tetapi mungkin juga tidak"
"bagaimana mungkin aku bisa percaya pada pernyataan seseorang, yang dia sendiri saja meragu?" Fairuz tertawa menang. "coba Vo, bagaimana kira-kira aku bisa percaya?"
"ya bisa saja sih percaya, mungkin karena yang menyampaikan pernyataan itu adalah sahabat dekatmu"
"hahaha, kamu sudah kalah"

Revo sejatinya tidaklah kalah, dia hanya sudah bosan saja berbicara soal cinta. Dia juga malas beradu cakap, atau debat. Kisahnya saja sudah pelik, pakai bergaya menasehati orang. Begitu kata Revo.

"tema malam ini kita rubah ya. Kita lencengkan jauh ke arah yang lebih serius"
"loh, ini juga kan serius Vo. Serius sekali"
"ya, serius untuk hidupmu tetapi bukan untuk hidup orang banyak"
"...baiklah.." Fairuz hanya sanggup menunduk. Wajahnya kini berubah menjadi tegang. Matanya melotot, jidatnya penuh lipatan.

 




Rabu, 28 Januari 2015

Appreciation from pathIndonesia


Berdasarkan email yang masuk kepada saya, kalimat ini katanya menjadi kalimat yang mendapatkan LOVE terbanyak di account pathIndonesia.

AVAST ! (sambungan V)



8

http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2013/01/10/187142_anak-anak-bermain-air-hujan_663_382.jpg

1 Februari 2026

Langit Kota Cirebon sedang tidak biru. Awan hitam menggumpal menjadi satu selimut besar, yang menutupi hampir seluruh wilayah kota. Tak lama berselang, halilintar penuh kilat-kilat mencetar keras memekikan telinga. “Subhanallah” itulah kalimat suci yang secara latah terucapkan setelahnya. Kemudian hujan turun dan orang-orang berlarian berebut tempat per-teduhan.

Sudah tiga hari memang, Kota Cirebon bertahan pada cuaca seperti ini. Aktivitas pun tidak dapat berjalan normal sebagaimana mestinya. Lalu lalang kendaraan kota nampak tak seramai biasanya. Hiburan-hiburan kafe ruang terbuka juga tak menggelar lapaknya. Supir angkutan yang sehari-hari saja sudah sulit, musim hujan semakin menambah paceklik.

"ya syukurilah saja lah Vo”
“iya Pak. Hujan itu dari Tuhan ya Pak, memaki hujan artinya memaki pemberian Tuhan”
“kurang lebih begitulah. Semua ada waktu dan pembagiannya masing-masing. Tenang saja”
“Revo sepakat sama Bapak, bener Pak”
“ayo diminum lagi Vo kopinya, bentar lagi juga si Fairuz datang”
enggih Pak” Revo mengangkat gelasnya pelan, dan cukup hati-hati karena gagangnya panas.

Gambaran situasinya adalah, Revo sedang duduk mesra di teras rumah kawannya, Fairuz. Pak Dirman menemaninya. Mereka duduk berjejer tapi tak berhimpit. Kursi keduanya hanya dipisahkan satu meja di tengah. Ada kopi dan gorengan capu di atas meja tersebut. Tumbuhan-tumbuhan kamboja dan juga mawar mengelilingi setiap sapuan mata. Dalam haru hening percakapan itu, keduanya seolah dihanyutkan dalam suguhan dentingan romantis tetesan hujan. “tik, tok, tik, tok”

Pemandanganan nampak begini ini, bukanlah kali yang pertama. Mendung yang menggumuruh ini sudah sering bahkan tidak lagi sempat dijumlahkan, lagian siapa pula yang hendak rela membuat hitung. Agar tidak menjadi jemu, Revo biasanya inisiatif untuk nyelimur soal-soal politik hingga sampai kepada tata kelola pembangunan yang kacau balau. Pak Dirman orangnya mudah tersulut. Dia pasti akan meladeni dan membuka secara lebih gamblang akar pokok permasalahannya.

“iya Pak, RTRW Kota ini seringkali berubah mengikuti regulasi pemerintahan yang baru. Penyesuaian bahasanya mah”
“itulah yang kemudian membikin kacau Vo”
“terus kan, jadinya pembangunan itu berubah-ubah tata letaknya. Semula di jalan A diprioritaskan pendidikan kemudian di periode berikutnya berubah”
“tepat itu” Pak Dirman menyelesaikan sruputan kopinya. Dia melanjutkan “jadinya ada tumpang tindih yang mengakibatkan ketidakmerataan. Masa sekolah di sampingnya keramaian, tidak kondusif”
“selain itu juga Pak, ini catatan yang penting. Tidak ada kesamaan desain yang jelas, semua investor bisa melakukan sesukanya tanpa melihat apa yang boleh dan tak boleh, apa yang jadi ciri khas dan bukan. Meskipun ada regulasinya, faktanya kan tidak begitu”
“kalau itu terlalu pada teknis ya Vo dan rumit juga membicarakan soal itu. Bapak mah cuma mau ada sebuah ketegasan. Ketegasan itu penting agar tidak ada yang dirugikan. Tuh baca saja koran, banjir ada dimana-mana”
“sebentar Pak” Revo menelikungkan wajahnya ke bawah. Diambilnya salah satu koran lokal. “oh iya ya Pak, menyeramkan ini. Sampai satu meter”
“nah itulah Vo”

Turunnya air dari ujung langit hingga sampai menyentuh dasar bumi nyatanya juga dapat menimbulkan kegeraman. Bukan soal genangan-genangan yang ditimbulkan kemudian menjadi minum pepohonan, tetapi soal, genangan yang menggunung karena tertahan aspal. Sebut sajalah itu air bah. Banjir ! Yang jelas, semua itu bukan salah TUHAN.

Bila sudah seperti itu, pengungsian memang sebuah tingkah laku yang manusiawi. Setiap keluarga yang rumahnya diberangus oleh luapan air diberikan semacam asuransi. Donasi yang berubah menjadi mie, makanan ringan dan juga susu nampak begitu baik. Tapi, jernihlah untuk mencerna bahwa bukan itu tujuan dari sebuah Pemerintah yang dipilih langsung oleh rakyat. Bukan memberi sembako ataupun mengungkapkan keprihatinan berulang-ulang kayak radio bodol. Pemerintah justeru diberikan mandat untuk menanggulangi kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Untuk mengurai macet, memfasilitasi laju air dan menyediakan sarana ruang publik yang ramah serta menyehatkan. Ya, setidaknya kita sama-sama paham, bahwa Pemerintah yang baik itu ya yang membuat kita jadi nyaman. Bukan Pemerintah yang memasok segala macam untuk menutup mulut penderitaan. Namun terkadang, masyarakat, sudah terlanjur gembira dengan aksi-aksi yang terkesan heroik padahal sesungguhnya adalah penistaan akan suatu kewajiban.

“ada semacam pemahaman yang keliru Vo”
“soal?”
“ya soal itu, soal tindakan malaikatisasi penderitaan yang diakibatkan oleh kebijakannya sendiri”
“kadangkala pepatah uang membuat buta itu ada benarnya juga ya Pak. Buta dari kebenaran yang akibatnya sepi kritik dan kosong argumentasi”
“iya, benar, dan akan selamanya menjadi seperti itu bila mental hidupnya hanya diolah oleh pikiran soal perut”
“semacam ada kelemahan yang dimanfaatkan untuk menebus dosa-dosa secara individu”
“tepat sekali. Ya berdoa sajalah semoga akan cepat datang kebaikan”
“senjata terakhir orang muslim kadang bisa menjadi pelarian untuk mencari ketenangan ya Pak, hehe”
“iya, meskipun tidak merubah apapun apabila tidak dibarengi dengan sebuah tindakan”

Pembacaan siang hari kadangkala membuat Revo tidak kuasa tidur tepat waktu. Dia selalu berpikir panjang untuk merumuskan naskah-naskah pribadi yang berisi kumpulan gagasannya. Buku-buku Slavoj Zizek, analisa sejarah Hegel dan sejenisnya dia buka-buka untuk dikorelasikan dengan kenyataan kekinian. Korbannya jelas, matanya menjadi menghitam karena tidak sempat diistirahatkan oleh sebab nanggung.

“kamu masih mau menunggu Fairuz atau gimana? Mumpung hujan mulai reda”
“nunggu aja deh Pak, penting masalahnya”
“loh ada apa lagi emang?”
“aksi yang jum’atan kemarin ternyata mendapat reaksi yang cukup baik. Banyak anggota baru merapat dan tokoh-tokoh akademisi mulai mendukung kita Pak”
“perlu hati-hati Vo”
“kenapa Pak?”
“jangan gampang terlena, kadangkala diantara yang datang-datang itu ada intilejen yang menyamar yang justru memotorng gerakan”
“ini pengalaman pribadi Pak?” Revo penasaran. Wajahnya nampak begitu serius.
“iya lah, Bapak ini empat puluh tahun dalam dunia kemiliteran. Sudah tidak aneh”

Untuk sekedar diketahui. Pada tanggal 30 Januari 2026, Jum'at, kelompok Revo dan Fairuz (minus Lusi) turun ke jalan bersama dengan beberapa masyarakat desa. Pemilih yang loyal kepada Herwandi pun tak terkecuali bergabung dalam barisan. Jumlah keseluruhan yang turun kemarin mencapai 900 jiwa. Mereka semuanya berjalan kaki dari alun-alun Kasepuhan hingga balaikota Kota Cirebon. Empat jam lebih jalan yang mereka lewati menjadi macet total. Polisi pun tunggang langgang tidak tahu mesti bagaimana. Akhirnya, karena tak  kunjung ditemui, mereka membubarkan diri dengan dua catatan; pertama meminta isu yang mereka bawa itu diperhatikan serius dan kedua mereka akan datang lagi dengan jumlah yang lebih besar. Karenanya, hari ini, Revo merasa sangat butuh bertemu Fairuz untuk menindak lanjuti hal itu.

“oh iya, ada baiknya yang kita bicarakan tadi pun dimasukan dalam agenda aksi selanjutnya ya Vo”
“iya Pak, Revo baru mau bilang begitu”
“hehe”

*

Tak lama berselang, Fairuz datang. Binar-binar di wajahnya menampakan tumpukan masalah. Matanya sayu dengan kelopak hitam mengatung ke bawah. Sekitaran pipinya kusut seperti kemeja executive yang tidak sempat dilicin. Rambutnya masih tertutup helm. Dia tidak membukanya secara terburu-buru.

“Fay, darimana kamu?”

“sebentar, aku buka helm dulu”

“oke”


Fairuz kemudian beranjak. Kaosnya ditaruh di lantai dimana Revo dan Ayahnya duduk. Sempat diperas-peras terlebih dahulu sih memang. Dia juga secara kuat melempar tas yang berisi buku-bukunya. Sama seperti kaosnya yang semula, tas itu pun basah penuh dengan timbunan air. Entah ikatan batin ataupun apalah itu namanya, Fairuz duduk di kursi samping Revo menggantikan Ayahnya yang telah masuk ke dalam.


“kopi siapa ini?”

“Bapakmu !! minum aja”

“bener?” Fairuz membelalakan matanya. Dia mencoba mencari kepastian. “ga ada racunnya kan”
“ngapain aku ngasih racun?, untungnya apa?”
“siapa tahu, kamu kan iri dengan ketampananku”
“sejak kapan, hahaha, semua juga tahu kalau aku itu lebih tampan dibandingkan dirimu”
“siapa yang bilang?”
“Lusi”
“gila !!” Fairuz menjangkau ke­pedean Revo dengan tepukan kecil di kepala sahabatnya itu. Dia belum selesai “ya jelas, si Lusi itu pacarmu”
"oh iya Fay, habis darimana, kok lama"
"eee, itu dari kampus sama habis main dengan Dinda"
"hujan-hujanan kalian?"
"iya"
 
Revo belum bertanya secara gamblang. Dia sepertinya tidak enakan. Namun Revo tahu, Revo paham betul siapa Fairuz, sama seperti sebaliknya.

Sekarang kita cermati, orang macam apa yang sampai rela menabrak hujan bilamana memang tidak ada apa-apa. Jalanan licin, pandangan kabur tidak jelas dan segala macam yang dibawanya mestilah basah kuyup. Itulah yang sedari tadi dilakukan oleh Fairuz sebelum akhirnya sampai ke rumah. Dan itu, pasti dilakukannya atas dasar suatu pertimbangan yang amat teramat darurat. Ya, hanya saja, yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang dilakukannya? itu yang perlu dicari tahu.

"aku merindukan pemilik mata itu Vo"

Fairuz akhirnya membuka mulutnya sendiri. Dia tahu, bahwa tepat rasanya berbicara sekarang. Dia juga mungkin tidak ingin mengganggu perlawanan yang sedang berlangsung.

"mata siapa?"
"mata milik Yulia. Yang berair, yang teduh dan yang seolah hendak mengatakan bahwa dia ingin selalu bersamaku"
"nyatanya kalian sudah tidak bersama lagi Fay, kamu sudah dengan Dina sekarang"
"iya, justeru itu. Justeru karena aku sudah tidak dengan dia lagi makanya aku menjadi rindu. Hanya dia Vo..." 
"hanya dia apa?"
"iya, hanya dia yang tahu bagaimana menyenangkannya menjadi kekasih seorang patriot. Dina tidak bisa seperti itu, dia malu terhadap ayah dan ibunya ketika tahu aku masuk koran karena demonstrasi"
"ah masa, Dina masa seperti itu Fay?"

Fairuz adalah lelaki biasa, sama dengan lelaki-lelaki lain pada umumnya. Di luar stigma kegarangan dan keangkuhan, Fairuz adalah orang yang melankolis. Dia bisa seketika mendayu-dayu dan meledak-ledak sesuai dengan bagaimana inginnya.

Satu tahun yang lalu, Fairuz memutuskan suatu hubungan yang digadang-gadang akan bertahan sampai kakek nenek. Dia terpukul, tetapi persepsinya mengatakan bahwa; dia akan jauh lebih terpukul, seandainya membiarkan seorang wanita bermadu kasih dengan pria yang tak jelas seperti dirinya. Setidaknya itu pengakuan Fairuz. Mereka kemudian berpisah dan tak lagi saling menampakan wajah. 

Dia kemudian mencoba melupakan. Dia berusaha lari dan menjauhi masa lalunya. Dalam sebuah persimpangan, tepatnya di ujung sebuah jalan di deretan Jalan Siliwangi Cirebon, Fairuz dipertemukan dengan wanita lain. Wanita itu bernama Dina. Waktu itu, Fairuz begitu terpukau dengan gerak lincah wanita yang meniupkan balon bagi anak-anak TK. "sini, sini ibu guru tiupkan balonnya ya anak-anak" begitulah seru wanita itu. Dialah Dina itu, wanita dari jurusan Pendidikan Keguruan yang memang anggun. Tidak mau menyesal, Fairuz akhirnya berkenalan dengan wanita itu. Dia berpura-pura sebagai seorang wartawan. Dia tanyai satu persatu hal yang mendetail dari Dina. Alamat rumah, Tempat kuliah, tanggal kelahiran dan bahkan hingga hobi serta cita-cita pun menjadi materi yang ingin Fairuz tahu. Esoknya mereka bertemu, esoknya lagi bertemu, terus dan terus. Sampai tibalah pada hari ini, hari dimana wanita yang dulu iya dekati dengan segala cara itu telah menjadi kekasihya. Fairuz pun sejenak mampu menutup luka kegetiran akibat kepergian Yulia.

"awalnya aku tak menyangka Vo. Sumpah, benar-benar tak menyangka dia akan mengatakan itu"
"mengatakan apa?"
"mengatakan kalau aku ini berandalan tidak jelas. Dia katanya tidak ingin diberi makan oleh orasi-orasi dan menggoreng dengan api dari bakaran ban"

Fairuz menunduk. Kepalanya mengeleng-geleng risau. Revo mengelus punggungnya. Mungkin dia ingin mengisyaratkan, "sabar kawanku"

"ku kira Fay, ini hanya soal waktu saja. Kalau nanti dia sudah paham, dia juga pasti menerima dan wajar jugalah wanita itu ingin kepastian. Hanya pria yang lemah yang merasa wanita ingin senang terus menyebut wanita itu matre"
"iya Vo, aku juga selalu berpikir begitu. Tapi selama enam bulan kita jadian ini, dia selalu mempermasalahkan itu. Bagaimana aku tidak berpikir yang aneh-aneh"
"alah, biasa, wanita kan hanya takut kita tidak bisa memberi mereka dan anak-anak mereka makan saja. Kalau kamu bisa buktikan ini menghasilkan, maka kamu akan selamat. Atau, kamu beritahu bahwa ini adalah kehormatan tertinggi"
"begitu Vo, apa benar begitu?"
"hey, kamu tahu kan Lusi itu kayanya seperti apa? cantiknya seperti apa? tapi kenapa dia mau denganku yang begajulan begini"
"kenapa Vo"
"karena dia tahu, aku pasti akan bertanggung jawab kepadanya. Sesederhana itu"

Fairuz bukan tidak paham, bukan pula tidak mampu melakukan perintah Revo. Dia hanya tidak mengerti harus bagaimana memulainya.

"gimana caranya?"
"gampang Fay, tunjukan saja kamu itu pria yang selalu membuatnya tenang tanpa uang dan membuatnya nyaman bila selalu bersamamu"
"ajari aku Vo"
"iya, nanti aku ajari. Yang penting, sudahlah, buang wajah murammu itu. Kita harus fokus pada perjuangan esok!!!"
"siap panglima !!!"
"bersulang!!"

Revo berhasil menggaet kegelisahan Fairuz menjadi semangat yang baru. Mereka bersulang bahagia.

 BERSAMBUNG

*http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2013/01/10/187142_anak-anak-bermain-air-hujan_663_382.jpg