"hey, hey, hey, mau kemana kau?"
"ada sedikit keperluan yang harus ku selesaikan"
"bukan bersamanya kan?"
"hmm entahlah?"
"bukankah kalian telah berjanji untuk tidak lagi saling mengenal?"
"iya itu benar, dan rasanya kamu mulai lebih tau daripada aku"
Stefany, wanita cantik bermata tipis dengan bibir merekah itu, tengah sibuk berdandan. Gerak-gerik tangannya begitu lincah. Sesekali dia diam, tubuhnya kemudian diputar ke kanan dan ke kiri untuk kemudian memuji dirinya sendiri.
"kalau diliat-liat aku cantik juga ya"
"iya, semua yang diciptakan Tuhan memang selalu sempurna, laki-laki itu tampan dan wanita itu cantik"
"terseralah, aku sedang malas mendengar kata-katamu yang sok bijak itu"
Seperti seekor kucing dan anjing, seperti itu pulalah Stefany dan cerminnya. Mereka tidak pernah saling menyetujui satu dengan lainya. Hmmm tidak juga sih, kadang-kadang malah Stefany harus kalah dan kembali mengamini apa yang dikatakan oleh cerminnya.
Matahari Russia pada saat itu sudah lama terbenam. Cahayanya kini digantikan oleh lampion-lampion kecil dan gemerlap bulan yang begitu terang kala purnama.
"selain ke perpustakaan nasional, memangnya ada tempat yang indah lagi di Leningard ini?"
"hey, pertama aku harus koreksi dulu kata-katamu, Kota ini sudah melupakan Lenin dan sekarang berganti nama menjadi Sankt-Peterburg, lalu yang kedua malam ini aku ingin pergi ke Istana Petrodvorets"
"oh Stefany, kau mau mengunjungi istana yang penuh air mancur itu"
"iya, musim panas ini air mancurnya begitu romantis"
Stefany kemudian tiba-tiba saja memilih duduk. Badanya yang semula lincah dan gemulai kini menjadi lesu tak bertenaga. Dia seperti dipatuki sejuta kenangan ketika harus menyebutkan air mancur dan istana Petrodvorets.
"ah ini salahmu"
"mengapa?"
"menyebutkan tempat itu sama seperti menyebutkan kembali namanya dalam ingatanku"
"bukankah memang pada awalnya kau hendak kesana? bahkan sebelum aku bertanya tentang tujuanmu"
"iya memang benar sih"
"berangkat saja lah, nikmati pemandangan-pemandangan indah itu"
Tangan kangan Stefany mengankat tinggi. Telunjuknya dia gunakan untuk menyeka mulut.
"sst, jangan berisik"
"kenapa?"
"aku jadi merindukannya malam ini, aku kangen dengan dia"
"ah kau ini, kupikir ada apa"
"aku ingin berjalan bersamanya menyusuri Arbat, melihat para seniman-seniman yang asik dan menghibur. Atau mungkin melihat hamparan hijau di Suzdal. Menyenangkan ya"
"ya, memang menyenangkan"
Stefany mengangkat wajahnya tinggi, dia tersenyum-senyum kecil berimajinasi tentang kisah-kasihnya.
"tapi lagi-lagi kau harus menerima kenyataan"
"ya"
"kau dengan dia sudah sama-sama berjanji untuk saling melupakan dan kembali ke masa-masa dimana kalian belum saling mengenal"
"apa yang harus kulakukan?"
"belajarlah untuk menerima kenyataan itu, berusahalah untuk menghargai masa depanmu yang sebentar lagi, cepat atau lambat akan menghampirimu"
"aku selalu tidak pernah menangkap ucapanmu dengan baik"
"ya, dia yang hidup dimasa lalumu mungkin suatu saat akan kembali, mungkin pula akan pergi untuk selama-lamanya. Tetapi, yang pasti harus kau lakukan adalah memulai hidupmu yang baru, hidupmu yang lepas dari bayang-bayang kerinduanmu tentangnya"
Stefany rasanya mulai tidak setuju, cerminan wajahnya membuatnya bingung tujuh keliling.
"tetapi apakah kenangan itu harus semuanya dilupakan?"
"bukan begitu stefany, kenangan adalah sesuatu yang menjadi bagian hidupmu. Seberapa keraspun kamu mencoba melupakannya, kenangan itu akan hadir dan menghantui kembali sewaktu-waktu"
"maksudnya?"
"mkasudnya, akan sia-sia hidupmu jika kehidupanmu itu kau gunakan hanya untuk mengurusi dan memikirkan bagaimana caranya membuat kenangan itu sesuai dengan keinginanmu, karena hal itu tidak mungkin"
Cermin itu sejenak terdiam, dia kemudian melanjutkan kata-katanya.
"kenangan itu alangkah baiknya kau jadikan sebagai pelajaran, sebagai suatu panduan sikap agar kau bisa berhati-hati dan bertingkah laku lebih baik lagi"
"tujuannya untuk apa wahai cermin?"
"tujuannya agar kau kelak bisa tersenyum dan bahagia, karena kau telah memiliki kenangan yang sempurna, kenangan yang sesuai dengan harapanmu"
"semuanya kembali menjadi kenangan?"
"ya, memang itulah kehidupan, kita diciptakan dari sisa-sisa kerinduan yang berawal dari sebuah kenangan"
Stefany pun tersenyum lebar. Dia mengambil satu buah bolpoin dan kertas berwarna cokelat buram dari laci meja riasnya. Dengan perasaan gembira dia tuliskan "kita diciptakan dari sisa-sisa kerinduan yang berawal dari sebuah kenangan". Setelah selesai menulis, Stefany kembali berdiri dan bersiap untuk pergi menikmati air mancur di Istana Petrodvorats.
"baiklah, selamat tinggal cermin, aku jalan dulu"
Senin, 30 Juni 2014
ESENSI HUKUM
[KOLOM WACANA RADAR CIREBON, 25 Juni 2014]
Tulisan
ini berangkat dari adigium klasik “dimana ada manusia, maka disitu ada hukum”.
Tidak seperti pendapat awam pada umumnya, Cicero seolah ingin menjelaskan bahwa
hukum dilahirkan bukan sesuatu yang lahir terlebih dahulu. Atas dasar itu pula
kemudian muncul pendapat tentang apa yang dilahirkan oleh manusia, apabila tidak
untuk kebaikan manusia, maka tinggalkan.
*
Hukum
adalah seperangkat aturan yang apabila dilanggar akan mendapatkan suatu sanksi.
John Austin kemudian dalam bukunya The
Province of Jurispudence Determined mendefinisikan kalimat itu secara lebih
luas. Hukum tidak cukup sebagai aturan, tetapi hukum juga dilegitimasi oleh
kekuasaan atau ada suatu kesepakatan (commands
and sovereign). Tidak selesai sampai disitu, hukum juga bisa berlaku
apabila ada suatu komunitas atau minimalnya dua orang yang menaatinya (habit of obedience). Barulah setelah
ditemukan subjek dan objeknya, hukum bisa memutuskan dan memberikan sanksi yang
jelas (sanctions).
Mengapa
kemudian kalimat itu harus dijabarkan lebih luas? Tujuannya adalah agar kita
dapat menemukan perbedaan antara hukum dan ancaman. Sebagai contoh, seorang
penodong membuat aturan kepada yang ditodong untuk memberikan sejumlah uang.
Penodong pun dengan siap memberikan sanksi kepada yang ditodong. Ancaman itu
berupa sanksi dia akan membunuh mangsanya apabila tidak memberikan
keinginannya. Fakta tentang penodong tadi tidak bisa disebut hukum sekalipun
memenuhi rumusan kalimat hukum.
**
CERMIN I
"tik tok tik tok"
Hujan datang tanpa diundang. Rintiknya begitu kecil, jatuh membasahi genting dan dedaunan. Bau tanah yang khas tersiram air pun semerbak memanjakan hidung. Suasana sejuk dan syahdu tersaji malam hari itu.
"Tapi, mungkin lebih tepatnya ini hanya perasaanku saja"
"iya, aku pikir juga begitu"
"apakah aku harus menyesal?"
"tidak perlu, karena kamu telah sungguh-sungguh berusaha yang terbaik. Dan hasil dari usahamu tidak pantas kau nikmati dengan hati yang bersedih, cukuplah kau yakin bahwa akan ada yang lebih baik di depan sana yang sedang menunggumu"
"haha kamu memang selalu bisa membuatku tersenyum"
Seorang wanita muda bergaun putih terlihat sedang asik menatap kaca. Mulutnya yang tipis naik turun tanpa henti. Matanya begitu sipit, namun cukup sigap untuk memandangi wajahnya di hadapan cermin.
Malam itu, di tengah guyuran gerimis, Dia berlagak bak orang gila. Mungkin dia kesepian, mungkin juga dia tidak punya teman yang mendengarkan keluh kesahnya, yang pasti dia berbicara sendiri dengan gambar wajahnya yang muncul dari cermin.
"lalu setelah ini aku harus bagaimana?"
"ambilah hikmah dan pelajaran dari setiap hal yang telah kau lalui, karena hanya itu tugasmu"
"Aku sudah bosan dengan hikmah-hikmah itu, nyatanya sampai saat ini kumpulan hikmah-hikmah yang kau maksud itu tidak bisa membuatku berubah"
"iya, memang kumpulan hikmah itu hanyalah barang usang yang kau bahkan perlu memungutnya dengan susah payah. Percayalah, suatu saat nanti, kamu akan tau seberapa besar hikmah itu bisa merubah kehidupanmu"
"jadi aku harus kembali bersabar dan kembali pula aku harus menyalahkan diriku sendiri?"
"hikmah datang bukan dari hati yang terpaksa, tetapi dari kelapangan dan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu"
"maksudmu?"
Dahi wanita itu dikerutkan sedikit, alisnya mengangkat naik.
"apakah kamu tega menyalahkan dirinya yang katanya kamu cintai?"
"hmmm"
Pertanyaan itu seketika membuatnya kebingungan. Rambutnya yang pirang dan tipis dielusnya-elusnya dengan keras.
"kamu menjebaku"
"tidak, aku tidak menjebakmu"
Bayangan wajah di cermin dengan tegas merontokan tulang-tulang cetakan asli di hadapannya. Senyum dari bibirnya yang kecil muncul begitu congkak.
"lalu?"
"kamu mencintainya berbeda dengan kamu mencintaimu. Kamu mencintainya adalah kamu mencintai dia dengan segala kekurangannya, dengan segala penolakannya, dengan segala sikap yang kau tak mau lihat darinya"
"hah!"
"terkadang kamu mengatakan kamu mencintainya padahal kamu mencintai dirimu yang dia digunakan sebagai pemuas kebahagiaanmu. Kamu menyuruhnya untuk menyenangkan hatimu, kamu menyuruhnya menjadi seperti yang kau mau agar dirimu gembira, kau menyuruhnya ini itu karena hal itu adalah yang mampu membuatmu terpesona"
"berarti kamu menyuruhku untuk tidak memaksannya? lalu bagaimana kesadarannya muncul agar kita bisa saling melengkapi?"
"itu hanya perkara waktu, perkara bagaimana keberhasilanmu meluluhkan sikap angkuh dan egoisnya"
"jika memang begitu lalu aku harus bagaimana?"
"senangkanlah saja dia, berusahalah untuk menjadi dirimu yang baik dan berteguh hati untuk menjaganya. Bukankah cinta yang datang dengan sendirinya itu lebih indah daripada cinta yang datang karena dipaksa?"
"iya benar, jadi selama ini aku salah?"
"aku tidak tahu, tapi itulah hikmah yang kau perlu pelajari untuk saat ini"
Bersambung..................
Selasa, 27 Mei 2014
Terima Kasih Air Mata
Seorang kakek tua tiba-tiba saja datang dan
menglemparkan sajadah di hadapan lelaki muda yang sedang asik berdoa. Tubuhnya
yang ringkih tertutup halus oleh sarung dan koko yang nampak kebesaran. Sesaat,
setelah dia memperbaiki posisi kopeahnya yang lusuh, dia memulai sholat.
Anak muda itu menghentikan doanya. Dia memperhatikan
kakek tua itu, dari ujung kaki hingga kepala. Tak beranjak, tak gusar dan tak
ingin rasanya dia pergi menghindar. Dia tetap saja menerawang dan mencermati
kakek itu secara serius dari belakang.
Sepuluh menit berlalu.
Senin, 05 Mei 2014
Hasil Pemilu Dalam Takaran Effect
OPINI RADAR CIREBON (5 Mei 2014)
Oleh : Bakhrul Amal
Ibarat
pohon besar yang melupakan akarnya, pemilu tahun ini begitu dipenuhi oleh
analisa effect. Otomatis,
nama-nama yang sering lalu lalang
ditelevisi, seolah menjadi penentu hasil daripada perolehan suara partai saat
ini. Bagi yang berhasil mengangkat suara partai, mereka diagungkan secepat
kilat, diangkat setinggi bintang-bintang yang berkelap-kelip ditengah malam dan
dimahkotai julukan-julukan yang melegenda. Sementara mereka yang menjungkalkan
harapan suara partai, dianggap tidak pantas lagi untuk sekedar menjadi juru
kampanye.
Memang,
untuk sebagian kasus, tokoh-tokoh yang wajahnya familiar di tengah-tengah masyarakat, mungkin bisa menjadi penentu
kenaikan atau penurunan suara partai. Akan tetapi, seperti apa yang dikatakan
oleh Yudi Latif, bahwasanya pertarungan suara partai yang sesungguhnya adalah
pertarungan diakar rumput. Caleg-caleg yang notabene lebih sering bertemu dan
bertukar pikir dengan pemilih, menurut Yudi Latif adalah effect utama dari segala effect
yang mempengaruhi suara partai. Merekalah kunci dari bagaimana suara-suara
itu pada akhirnya menjadi perhitungan yang final.
Bertebarannya
effect ini kemudian menjadi opini
tersendiri yang mengaburkan akar-akar yang justru menegakan pohon. Oleh karena
itu, tidak jarang, politisipun kemudian menjadi terganggu dan bahkan
terpengaruh oleh konten yang disediakan oleh media. Salah dua contohnya adalah,
ada partai yang secara mengejutkan menghakimi kaum lain sebagai dalang
konspirasi korupsi ketua umum partainya. Yang tentu, kasus itu membuat suara
partai tersebut merosot. Adapula partai yang bingung memilih calon presiden
atau wakilnya karena juru kampanye partai tersebut dinilai sama-sama memiliki effect di bidangnya masing-masing. Jurkam
yang pertama bergerak di bidang musik, lalu selanjutnya di bidang hukum dan
yang terakhir dari bidang politik.
Kedua
hal itu, bisa menjadi suatu indikasi akibat dari sulitnya menakar effect yang begitu abstrak, sehingga
keputusan yang dibuatpun tidak mampu memberikan kebahagiaan bersama dalam
lingkup internal. Apabila dalam lingkup internal saja sudah mengalami kesulitan
dalam hal kesepakatan, bagaimana mungkin bisa serius menghidupi yang sifatnya
eksternal.
Pertarungan
pemilu legislatif pada dasarnya bukanlah pertarungan calon presiden dan
wakilnya. Pemilu yang dilaksanakan bulan April kemarin pun bukan pertarungan
nama besar melawan nama besar melalui konvensi. Secara kasat mata, dari nama
yang menjadi pemilihan, sudah jelas, legislatiflah yang menjadi penentu
seseorang untuk memilih partai mana yang akan beri amanah. Argument ini pun
sudah cukup menegasikan opini effect yang
terlanjur lahir di masyarakat.
Oleh
karenanya, fallacy of dramatic instance analisa media ini harus segera
diperbaiki. Apabila kemudian tetap dilanjutkan, maka yang ada hanyalah kesan
bahwa partai berupaya menjual kredibilitas pada perorangan. Artinya, kerja
partai saat ini tidak lebih seperti orang yang memohon wangsit di bawah pohon besar dengan sesajen. Meskipun secara sadar
mereka bekerja, mereka lebih meyakini dan percaya bahwa effect lah yang mendongkrak mereka. Sehingga tidak salah juga
apabila kerja mereka tidak lagi fokus pada pengkaderan politik yang membangun
manusia politik, tetapi pengkaderan rasa ketergantungan pada satu yang
‘mistik’.
Selain
daripada itu, masyarakatpun kemudian tidak lagi diberikan kecerdasan politik,
utamanya dalam analisa dan memandang suatu masalah. Fenomena effect ini secara jelas, telah membawa
kesimpulan mereka bahwa “sebelum ada tokoh ini partai ini biasa saja, semenjak
hadirnya tokoh ini partai itu naik suaranya, tokoh ini artinya membawa
keberuntungan”. Jangan heran, apabila kemudian post hoc ergo propter hoc ini terus dipelihara, maka wajah dan
rezim presiden dalam stiker “isih penak jamanku” itu menjadi suatu yang memang
benar-benar dirindukan dan begitulah adanya.
Pemilu
memang telah berlalu, tetapi, selama effect
masih dijadikan patokan murah sebagai konsumsi publik, maka kekakuan logika
ini akan tetap berlanjut, tetap bergerak, menyemai dan mengotori pikiran.
*Penulis adalah tukang sapu di Satjipto
Rahadrjo
Sabtu, 12 April 2014
Ketika
Ketika
Kau jungkarbalikan gumpalan merah maroon
Kau terjunkan daging remeh dalam kegelapan
Kau jadikan serpihan yang semula besar
Kau sebarkan abjad dalam pintu-pintu rumah besar
Hanya ada sepi
Sekilas suara kenari yang riang
Pepohonan yang mendesir menerbangkan plastik
Dan ludah-ludah menjadi arak yang menggiurkan
Haruskah ada air yang terjun
Lalu, kemudian lampu-lampu itu datang
Atau bila mungkin hanya memancing kunang-kunang
Sama saja, butuh terang, butuh yang jelas benderang
Semuanya terserah dan kembali pada pemiliknya
Semuanya menjadi remeh dalam goresan pena
Yang merubah
Yang menggetarkan meja, memecehkan gelas
Senin, 07 April 2014
Menerapkan Nilai Pesantren Dalam Kehidupan Bermasyarakat (Pesan Politik Untuk Calon Legislatif)
Sejarah panjang kemerdekaan bangsa Indonesia tidak dapat lepas dari pengaruh dan perjuangan Pesantren. Dari mulai kesabaran melakukan edukasi yang sifatnya menggerakan kemampuan intelektual, sampai pergolakan berdarah melawan penjajah. Adalah tragedi 10 November di Surabaya sebagai magnum opus dari pembuktian bagaimana intelektualitas dan jiwa-jiwa ke Indonesia-an pesantren itu amatlah tinggi. Dengan keyakinan yang besar, pesantren bukan hanya berhasil mengusir secara fisik, pesantren melalui perjuangan intelektual santri dan kyainya juga berhasil membuat Belanda mengucapkan “kata menyerah”. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila kita menyebut pesantren adalah bagian terbesar dari Indonesia.
Namun, life style pesantren yang amat melegenda itu belakang ini mulai sedikit ditinggalkan oleh masyarakat. Ciri dari ditinggalkanya spirit pesantren dalam kehidupan masyarakat dapat kita lihat melalui beberapa hal, yang salah satunya, masyarakat saat ini mulai pragmatis. Masyarakat masa kini mulai mencari dan melakukan hal yang sifatnya cepat dirasakan. Masyarakat mulai tidak lagi secara istiqomah mendirikan bangunanya, bahkan yang lebih parah adalah, masyarakat meminta untuk dibangunkan bangunanya (bangunan kehidupan). Strata yang terakhir disebutkan adalah strata terburuk yang artinya, masyarakat sudah mulai tidak percaya pada kemampuanya.
Minggu, 06 April 2014
MANUSIA TANPA IDENTITAS (IMPACT OF GLOBALIZATION)
Bung Hatta, sekitar 60
tahun yang lalu, pernah mengatakan kepada kita, bahwasanya negara ini bisa
hancur apabila dikelola oleh sindikat-sindikat yang memikirkan dirinya sendiri.
Bung Hatta mungkin, sedang memikirkan suatu keadaan yang memilukan, penuh
kelaparan dan perbudakan. Bagaiamana tidak, apabila sudah ada satu kekuatan
berkuasa di atas dan menjarah, artinya harus ada satu yang lainya lapar dan
berada di bawah. Menurut Duncan Kennedy, seorang professor hukum di Harvard Law
School, keadaan itu adalah hukum pasti dimana ada penguasa maka secara tidak
langsung ada yang dikuasai.
Pada era ini, era
dimana semua memiliki segala kebebasan melakukan apapun, sindikat-sindikat
besar itu mulai muncul. Mereka tidak hanya nampak berupa kekuatan modal, tetapi
mereka juga hadir sebagai prototipe. Mereka
yang menggunakan kekuatan modal mungkin masih bisa terditeksi, yaitu dengan
bentuk gedung dan kekayaan. Akan tetapi, sindikalisme yang menguasai melalui prototipe sangat sulit atau tidak bisa
sama sekali dicirikan. Mereka lebih rapih, menghancurkan dan menindas
ruang-ruang kebebasan itu sendiri.
Minggu, 26 Januari 2014
Sepotong Kisah KH Wahid Hasyim dan Kesejatian Manusia
Sidang pun berakhir, KH Wahid Hasyim dan Istrinya
pulang dengan membawa sesak dan emosi di dada. Ketika hendak menjalankan
mobilnya, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Orang itu adalah
orang yang saat sidang konstitusi menghakimi suaminya. Orang itu gelisah dan
terburu-buru, kegelisahanya membuatnya terpaksa meminta tumpangan dari lawan
politiknya. Tidak perlu dijelaskan, tentu kita sudah tau jawabanya, Isti KH
Wahid Hasyim yang terlihat masih kesal dengan acuh menolak memberikan
tumpangan.
Rabu, 15 Januari 2014
Mang Mung Menyaksikan Cirebon
Sore itu langit begitu cerah, tidak menunjukan hujan
dan tidak pula matahari menyengat. Mang Mung semakin mantap melangkahkan
kakinya untuk membuka warung. Setelah sampai di depan Cirebon Superblock Mall,
Dia segera menggelar daganganya di pinggir jalan. Aneka makanan disajikan,
adapula sambal goreng khas Cirebonan, Dia saat itu menjajakan sarapan yang
orang Cirebon mengenalnya dengan Sega
Jamblang. Dengan kondisi Cirebon yang bersahabat, Dia berharap dagangannya
laku. Itulah cerita Mang Mung 8 (delapan) tahun yang lalu.
Kondisi Mang Mung saat itu tidaklah sama dengan
kondisi Mang Mung saat ini. Cirebon telah berubah, aromanya tak lagi ramah
dengan masyarakat kecil seperti Mang Mung. Hanya butuh waktu 3 (tiga) tahun
(dari 2010 sampai 2013), Cirebon berhasil menciptakan perubahan besar.
Mall-mall, restoran siap saji dan hotel telah berdiri tegak di Kota dimana Mang
Mung mempertaruhkan nasibnya. Hal itupun kemudian mulai mengganggu Mang Mung,
jajanya tak seramai dulu, masakanya menjadi basi karena tak laku dan keluarga
terbengkalai tak tentu arah.
Minggu, 05 Januari 2014
Soekarno dan Logika Timur
Soekarno, bukan hanya hidupnya, gerak politiknya
bahkan filmnya pun mengandung pro dan kontra. Pria yang lahir di Surabaya pada
tanggal 6 Juni 1901 adalah Presiden sekaligus proklamator kemerdekaan Republik
Indonesia. Dalam perjalanan politiknya, Dia begitu dikenal sebagai sosok
sosialis yang dulu begitu familiar dikalangan rakyat Indonesia, sehingga label
komunis melekat padanya. Dari sisi kehidupanya, Dia memiliki begitu banyak
pendamping hidup, sehingga orang yang belum paham betul akan menilainya sebagai
pria hidung belang. Sementara filmnya, yang menunjukan bagaimana seolah Dia
hidup kembali pun menjadi obrolan hangat antara setuju dan tak setuju. Tetapi
terlepas dari itu semua, Soekarno adalah pemikir besar yang memang perlu
pengkhayatan untuk memahaminya.
Mungkin banyak yang belum tahu atau bahkan tidak
terpikir sedikit pun tentang hal ini. Soekarno besar bukan karena penjara,
bukan pula wanita tetapi Soekarno menjadi tumbuh dan memiliki semangat
kemanusiaan karena air mata. Jiwanya Soekarno kata Im Yang Tjo “telah menjadi
semakin matang karena kedukaan”. Kemudian Im Yang Tjoe melanjutkan “kedukaan
telah membuka pikiranya buat mencari ketenangan dari Tuhan”. Masa pergerakan
yang sulit dan ditambah penangkapan Tjokroaminoto, adalah masa dimana Soekarno
pertama kali dibentuk oleh keadaan untuk menjadi pemikir yang besar.[i]
Jumat, 27 Desember 2013
Geger Menjemput Satu Hal Yaitu Percakapan Tentang Waktu
Diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Paris van Java.
Terlalu sedikit dan curang untuk dianggap sebagai suatu catatan penghujung tahun.
Geger, dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan riuh, ramai bahkan heboh. Sementara Kalong, Kalong adalah kekelawar, sejenis burung yang hidupnya dimalam hari sementara ketika siang binatang itu memilih tidur.
Kamis, 26 Desember 2013
Memahami Derrida Tentang Mungkin dan Yang Tak Mungkin
Di suatu malam di tengah kebisingan perayaan.
I do everything I think possible or acceptable to escape from this trap.
Derrida mungkin sedang tertawa ketika menuliskan ini. Dia membayangkan kata-katanya terditeksi dan kemudian didekontruksi menjadi sebuah lelucon. Mungkin juga, Dia secara mengalir menuliskanya. Dia membayangkan begitu banyak hal di dunia ini kemudian ter-inspirasi. Hal ini kemudian kontradiksi dengan kata-katanya di buku yang di tuliskan oleh Muhammad Al Fayyadl Commenfons par l'impossible atau "marilah kita mulai dengan yang tak mungkin". Aku kemudian menjadi bingung, seperti berada disebuah jembatan diantara yang mungkin dan tidak mungkin.
Begitulah manusia, manusia selalu memiliki jalan-jalan dimana mereka harus memilih dan pilihan itu kadang-kadang harus melukai dirinya sendiri. Seorang Derrida pun, yang orang mengenalnya dengan bapak dekontruksi bisa berada dalam situasi ini. Dia seolah mungkin dari mungkin tapi mungkin pula dari yang tidak mungkin. Tujuanya satu, Dia sebagai manusia merasa jujur bahwa tidak bisa lepas dari keadaan yang kemungkinan.
Selasa, 24 Desember 2013
PERDA MIRAS : ANTARA EKSISTENSI DAN KRITIK (REFLEKSI AKHIR TAHUN)
Sebuah Kota, kata Aristoteles,
layaknya bergerak dengan menampung dan menjalankan aspirasi masyarakatnya.
Kemudian dirumuskanlah gagasan liar, dia berbeda jalan dengan Plato yang
memilih filsuf sebagai sosok pemimpin yang cocok, Dia lebih memilih kesatria
sebagai representasi kepemimpinan yang pas. Digemblengleh seorang Alexander
Agung hingga menjadi pemimpin yang masyhur di Athena. Rasanya rasional, karena
menurutnya, kesatria yang berada di antara rakyat dan filsuf nantinya mampu
bijaksana, menampung aspirasi masyarakat dan menggali pendapat sang bijaksana
(filosof).
Sabtu, 21 Desember 2013
Rabu, 18 Desember 2013
Jawaban GM dan Upaya Melabeli Kaum Kiri
Selain tampan, salah satu ciri khas Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) adalah ucapan nada mengeluh “saya prihatin”. Saya
prihatin seolah menjadi sebuah kalimat yang mewakili segala hal. Terkejut,
berduka dan mungkin meminta belas kasihan atas apa yang dialaminya. Sebagai
seorang manusia hal itu bukanlah suatu yang mengherankan, justuru sangat wajar,
mengingat manusia memiliki segala kekurangan yang niscaya. Tidak salah pula,
apabila kemudian ucapan yang dimulai oleh SBY ini menjadi tren dalam kehidupan
masyarakat Indonesia.
Baru-baru ini, dunia pengetahuan sedang menemukan
titik ejakulasinya. Secara tiba-tiba rombongan kiri (atau lebih tepatnya secara pribadi) yang diwakili Martin Suryajaya
dengan gagah berani menelanjangi Goenawan Mohamad yang (dituduhnya) liberal.
Bukti-bukti pun disuguhkan oleh Martin, dari mulai transkrip hingga acuan teks yang
mengambang menjadi sebuah justifikasi. Goenawan pun meradang, tidak menunggu
waktu lama, segala hal yang menyudutkan dirinya dijawab dengan sebuah cerita
pendek. Cerita itu menggambarkan secara jelas mengenai kehidupan yang menjadi
alasan mengapa itu (hal yang dituduhkan Martin) terjadi.
Sabtu, 14 Desember 2013
Mencari Sosok Ideal (Dalam Kaitanya dengan Demokrasi Deliberatif)
SOSOK PEMIMPIN MASA LAMPAU
Leviathan, sekilas adalah sosok remeh yang hanya bisa kita lihat dalam gambar
kenangan masa kecil. Dulu, kita seringkali melihatnya di antara tumpukan
buku-buku komik dan terkesan usang. Tinggi besar diantara kecilnya perkotaan, sama
sekali tidak menarik. Ya, Leviathan, tetapi begitulah Dia, tetap tegar meskipun
remeh, tetap gagah meskipun lusuh. Pedang ditangan kanannya menunjukan
kekuatan, sementara tongkat dengan (sekilas) gambar obor api menunjukan
kekuatan. Akan tetapi, tahukah kita, bahwa itulah sosok pemimpin masa lalu,
kuat disatu sisi dan memiliki nuansa gaib disisi lainya.
Dulu hingga kini, sosok layaknya Leviathan memang selalu diagungkan, entah itu
darimana datangnya, yang pasti manusia kemudian berbondong-bondong merepresentasikan
harapan padanya. Tidak tahu, apakah karena budaya atau karena memang sosok
seperti itulah yang dinilai cocok, yang pasti sosok Leviathan masih berjaya
kharismanya. Sebut saja Eyang Subur, yang dengan sesekali kasar kemudian
menunjukan kegaibanya, orang kemudian lemah dan menuruti inginnya. Lambat laun,
hal ini dimanfaatkan untuk mensejahterakan diri, meskipun pada akhirnya dia
menerima boomerang dan digulingkan anak buahnya di masa lalu (Adi bing Slamet).
Rabu, 11 Desember 2013
NU dan Pengembangan Diri
Ada dua hal yang menjadi konsistensi dan ciri
khas warga nahdliyin, yang pertama moderat dan kedua adalah percaya pada hal
yang tidak mungkin. Di lihat dari dua sisi di atas tentunya kita sepakat bahwa
Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya berdiri di depan akan tetapi melampaui zamanya. Ketika semua
berbicara tentang demokrasi dan kebebasan, NU telah lebih dulu menerapkanya
secara eklusif di dunia pesantren. Dan pada saat dunia sibuk menghadapi era
ekonomi global, sikap NU ini kemudian menjadi acuan dari banyak motivator namun
dengan cara yang berbeda.
Tentu kita pernah mendengar bahwasanya hal yang utama yang perlu kita lakukan dalam menghadapi sebuah perubahan adalah memperbaharui sikap. Sikap-sikap itu kemudian di susun secara rapih Oleh John C Maxwell dalam bukunya 360 leaders, yang pada intinya mengutamakan pemikiran progresif. Menurut Maxwell, untuk melakukan suatu perubahan tidak melulu harus berada diatas tetapi secara equalpun asal kita memiliki komitmen kita mampu menjadipemimpin. Secara tidak langsung, pemikiran Maxwell ini ternyata telah didahului bahkan di transformasi oleh organisasi Islam terbesar di dunia yaitu NU dengan sikap moderatnya.
Tentu kita pernah mendengar bahwasanya hal yang utama yang perlu kita lakukan dalam menghadapi sebuah perubahan adalah memperbaharui sikap. Sikap-sikap itu kemudian di susun secara rapih Oleh John C Maxwell dalam bukunya 360 leaders, yang pada intinya mengutamakan pemikiran progresif. Menurut Maxwell, untuk melakukan suatu perubahan tidak melulu harus berada diatas tetapi secara equalpun asal kita memiliki komitmen kita mampu menjadipemimpin. Secara tidak langsung, pemikiran Maxwell ini ternyata telah didahului bahkan di transformasi oleh organisasi Islam terbesar di dunia yaitu NU dengan sikap moderatnya.
Senin, 09 Desember 2013
Tampilan Baru
Semoga tampilan baru ini dapat menambah kenyamanan dalam membaca dan menikmati segala fitur baru yang tersedia di blog ini. Mengerjakan dan mendekorasi segala hal yang ada di blog ini memang bukanlah suatu proses yang mudah, tetapi niat untuk memberikan yang terbaik kepada pembaca ternyata mampu mengalahkan kesulitan-kesulitan itu. Adapun mungkin hasilnya masih tetap jauh dari harapan, kritik dan saranya bisa disampaikan kepada saya. Tks.
Jumat, 06 Desember 2013
FILSAFAT dan POTRET KRITIK MODERN
Stanley J.
Grenz suatu ketika pernah diberi satu pertanyaan oleh Tom Hawkes dari lembaga
Leighton Ford Ministres, “Maukah Anda datang dan menjadi salah seorang dari
belasan peserta dalam suatu think tank (kelompok penasihat, penyumbang gagasan,
dan lainya) bagi pelayanan kepada “baby busters” (generasi post modernisme)?”. Dengan lugas dan tanpa basa-basi Grenz
menjawab “anda menemui orang yang salah, saya seorang akademisi bukan praktisi”.
Namun Hawkes bersikukuh “justu itu, alasan Anda berada disana adalah untuk
membantu kami memahami apa sesungguhnya postmodernisme”. Dialog itu tanpa
kelanjutan, tetapi berakhir pada menyerahnya Granz yang akhirnya memilih ikut dengan keingan Hawkes,
untuk menemui dimensi yang baru yang Dia namakan pendekatan.
Ada suasana fleksibel, ada kesan terbuka, namun
tetap tidak menghilangkan suatu kehormatan pada pendirian yang mungkin bagi
sebagian orang terkesan angkuh. Cerita Granz adalah sedikit dari banyak cerita
lainya yang mungkin bergerak sama. Maksudnya adalah, idealisme yang lunak, yang
tidak terlalu memaksa dan ora iya ora
mbuh. Keputusan Granz pun mengingatkan saya tentang banyak hal yang
(mungkin) saya amati. Dimana biasanya, setiap individu yang sudah “berbenteng”
cenderung menutup diri dan memilih beradu ide dengan cara satu arah.
Langganan:
Postingan (Atom)




