Senin, 30 Juni 2014

CERMIN II

"hey, hey, hey, mau kemana kau?"
"ada sedikit keperluan yang harus ku selesaikan"
"bukan bersamanya kan?"
"hmm entahlah?"
"bukankah kalian telah berjanji untuk tidak lagi saling mengenal?"
"iya itu benar, dan rasanya kamu mulai lebih tau daripada aku"

Stefany, wanita cantik bermata tipis dengan bibir merekah itu, tengah sibuk berdandan. Gerak-gerik tangannya begitu lincah. Sesekali dia diam, tubuhnya kemudian diputar ke kanan dan ke kiri untuk kemudian memuji dirinya sendiri.

"kalau diliat-liat aku cantik juga ya"
"iya, semua yang diciptakan Tuhan memang selalu sempurna, laki-laki itu tampan dan wanita itu cantik"
"terseralah, aku sedang malas mendengar kata-katamu yang sok bijak itu"

Seperti seekor kucing dan anjing, seperti itu pulalah Stefany dan cerminnya. Mereka tidak pernah saling menyetujui satu dengan lainya. Hmmm tidak juga sih, kadang-kadang malah Stefany harus kalah dan kembali mengamini apa yang dikatakan oleh cerminnya.

Matahari Russia pada saat itu sudah lama terbenam. Cahayanya kini digantikan oleh lampion-lampion kecil dan gemerlap bulan yang begitu terang kala purnama.

"selain ke perpustakaan nasional, memangnya ada tempat yang indah lagi di Leningard ini?"
"hey, pertama aku harus koreksi dulu kata-katamu, Kota ini sudah melupakan Lenin dan sekarang berganti nama menjadi Sankt-Peterburg, lalu yang kedua malam ini aku ingin pergi ke Istana Petrodvorets"
"oh Stefany, kau mau mengunjungi istana yang penuh air mancur itu"
"iya, musim panas ini air mancurnya begitu romantis"

Stefany kemudian tiba-tiba saja memilih duduk. Badanya yang semula lincah dan gemulai kini menjadi lesu tak bertenaga. Dia seperti dipatuki sejuta kenangan ketika harus menyebutkan air mancur dan istana Petrodvorets.

"ah ini salahmu"
"mengapa?"
"menyebutkan tempat itu sama seperti menyebutkan kembali namanya dalam ingatanku"
"bukankah memang pada awalnya kau hendak kesana? bahkan sebelum aku bertanya tentang tujuanmu"
"iya memang benar sih"
"berangkat saja lah, nikmati pemandangan-pemandangan indah itu"

Tangan kangan Stefany mengankat tinggi. Telunjuknya dia gunakan untuk menyeka mulut.

"sst, jangan berisik"
"kenapa?"
"aku jadi merindukannya malam ini, aku kangen dengan dia"
"ah kau ini, kupikir ada apa"
"aku ingin berjalan bersamanya menyusuri Arbat, melihat para seniman-seniman yang asik dan menghibur. Atau mungkin melihat hamparan hijau di Suzdal. Menyenangkan ya"
"ya, memang menyenangkan"

Stefany mengangkat wajahnya tinggi, dia tersenyum-senyum kecil berimajinasi tentang kisah-kasihnya.

"tapi lagi-lagi kau harus menerima kenyataan"
"ya"
"kau dengan dia sudah sama-sama berjanji untuk saling melupakan dan kembali ke masa-masa dimana kalian belum saling mengenal"
"apa yang harus kulakukan?"
"belajarlah untuk menerima kenyataan itu, berusahalah untuk menghargai masa depanmu yang sebentar lagi, cepat atau lambat akan menghampirimu"
"aku selalu tidak pernah menangkap ucapanmu dengan baik"
"ya, dia yang hidup dimasa lalumu mungkin suatu saat akan kembali, mungkin pula akan pergi untuk selama-lamanya. Tetapi, yang pasti harus kau lakukan adalah memulai hidupmu yang baru, hidupmu yang lepas dari bayang-bayang kerinduanmu tentangnya"

Stefany rasanya mulai tidak setuju, cerminan wajahnya membuatnya bingung tujuh keliling.

"tetapi apakah kenangan itu harus semuanya dilupakan?"
"bukan begitu stefany, kenangan adalah sesuatu yang menjadi bagian hidupmu. Seberapa keraspun kamu mencoba melupakannya, kenangan itu akan hadir dan menghantui kembali sewaktu-waktu"
"maksudnya?"
"mkasudnya, akan sia-sia hidupmu jika kehidupanmu itu kau gunakan hanya untuk mengurusi dan memikirkan bagaimana caranya membuat kenangan itu sesuai dengan keinginanmu, karena hal itu tidak mungkin"

Cermin itu sejenak terdiam, dia kemudian melanjutkan kata-katanya.

"kenangan itu alangkah baiknya kau jadikan sebagai pelajaran, sebagai suatu panduan sikap agar kau bisa berhati-hati dan bertingkah laku lebih baik lagi"
"tujuannya untuk apa wahai cermin?"
"tujuannya agar kau kelak bisa tersenyum dan bahagia, karena kau telah memiliki kenangan yang sempurna, kenangan yang sesuai dengan harapanmu"
"semuanya kembali menjadi kenangan?"
"ya, memang itulah kehidupan, kita diciptakan dari sisa-sisa kerinduan yang berawal dari sebuah kenangan"

Stefany pun tersenyum lebar. Dia mengambil satu buah bolpoin dan kertas berwarna cokelat buram dari laci meja riasnya. Dengan perasaan gembira dia tuliskan "kita diciptakan dari sisa-sisa kerinduan yang berawal dari sebuah kenangan". Setelah selesai menulis, Stefany kembali berdiri dan bersiap untuk pergi menikmati air mancur di Istana Petrodvorats.

"baiklah, selamat tinggal cermin, aku jalan dulu"

ESENSI HUKUM


[KOLOM WACANA RADAR CIREBON, 25 Juni 2014]

Tulisan ini berangkat dari adigium klasik “dimana ada manusia, maka disitu ada hukum”. Tidak seperti pendapat awam pada umumnya, Cicero seolah ingin menjelaskan bahwa hukum dilahirkan bukan sesuatu yang lahir terlebih dahulu. Atas dasar itu pula kemudian muncul pendapat tentang apa yang dilahirkan oleh manusia, apabila tidak untuk kebaikan manusia, maka tinggalkan.

*

Hukum adalah seperangkat aturan yang apabila dilanggar akan mendapatkan suatu sanksi. John Austin kemudian dalam bukunya The Province of Jurispudence Determined mendefinisikan kalimat itu secara lebih luas. Hukum tidak cukup sebagai aturan, tetapi hukum juga dilegitimasi oleh kekuasaan atau ada suatu kesepakatan (commands and sovereign). Tidak selesai sampai disitu, hukum juga bisa berlaku apabila ada suatu komunitas atau minimalnya dua orang yang menaatinya (habit of obedience). Barulah setelah ditemukan subjek dan objeknya, hukum bisa memutuskan dan memberikan sanksi yang jelas (sanctions).

Mengapa kemudian kalimat itu harus dijabarkan lebih luas? Tujuannya adalah agar kita dapat menemukan perbedaan antara hukum dan ancaman. Sebagai contoh, seorang penodong membuat aturan kepada yang ditodong untuk memberikan sejumlah uang. Penodong pun dengan siap memberikan sanksi kepada yang ditodong. Ancaman itu berupa sanksi dia akan membunuh mangsanya apabila tidak memberikan keinginannya. Fakta tentang penodong tadi tidak bisa disebut hukum sekalipun memenuhi rumusan kalimat hukum.

**

CERMIN I

https://www.plaidforwomen.com/wp-content/uploads/2014/01/Sad-Woman-in-Mirror.jpg

"tik tok tik tok"

Hujan datang tanpa diundang. Rintiknya begitu kecil, jatuh membasahi genting dan dedaunan. Bau tanah yang khas tersiram air pun semerbak memanjakan hidung. Suasana sejuk dan syahdu tersaji malam hari itu.

"Tapi, mungkin lebih tepatnya ini hanya perasaanku saja"
"iya, aku pikir juga begitu"
"apakah aku harus menyesal?"
"tidak perlu, karena kamu telah sungguh-sungguh berusaha yang terbaik. Dan hasil dari usahamu tidak pantas kau nikmati dengan hati yang bersedih, cukuplah kau yakin bahwa akan ada yang lebih baik di depan sana yang sedang menunggumu"
"haha kamu memang selalu bisa membuatku tersenyum"

Seorang wanita muda bergaun putih terlihat sedang asik menatap kaca. Mulutnya yang tipis naik turun tanpa henti. Matanya begitu sipit, namun cukup sigap untuk memandangi wajahnya di hadapan cermin.

Malam itu, di tengah guyuran gerimis, Dia berlagak bak orang gila. Mungkin dia kesepian, mungkin juga dia tidak punya teman yang mendengarkan keluh kesahnya, yang pasti dia berbicara sendiri dengan gambar wajahnya yang muncul dari cermin.

"lalu setelah ini aku harus bagaimana?"
"ambilah hikmah dan pelajaran dari setiap hal yang telah kau lalui, karena hanya itu tugasmu"
"Aku sudah bosan dengan hikmah-hikmah itu, nyatanya sampai saat ini kumpulan hikmah-hikmah yang kau maksud itu tidak bisa membuatku berubah"
"iya, memang kumpulan hikmah itu hanyalah barang usang yang kau bahkan perlu memungutnya dengan susah payah. Percayalah, suatu saat nanti, kamu akan tau seberapa besar hikmah itu bisa merubah kehidupanmu"
"jadi aku harus kembali bersabar dan kembali pula aku harus menyalahkan diriku sendiri?"
"hikmah datang bukan dari hati yang terpaksa, tetapi dari kelapangan dan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu"
"maksudmu?"

Dahi wanita itu dikerutkan sedikit, alisnya mengangkat naik.

"apakah kamu tega menyalahkan dirinya yang katanya kamu cintai?"
"hmmm"

Pertanyaan itu seketika membuatnya kebingungan. Rambutnya yang pirang dan tipis dielusnya-elusnya dengan keras.

"kamu menjebaku"
"tidak, aku tidak menjebakmu"

Bayangan wajah di cermin dengan tegas merontokan tulang-tulang cetakan asli di hadapannya. Senyum dari bibirnya yang kecil muncul begitu congkak.

"lalu?"
"kamu mencintainya berbeda dengan kamu mencintaimu. Kamu mencintainya adalah kamu mencintai dia dengan segala kekurangannya, dengan segala penolakannya, dengan segala sikap yang kau tak mau lihat darinya"
"hah!"
"terkadang kamu mengatakan kamu mencintainya padahal kamu mencintai dirimu yang dia digunakan sebagai pemuas kebahagiaanmu. Kamu menyuruhnya untuk menyenangkan hatimu, kamu menyuruhnya menjadi seperti yang kau mau agar dirimu gembira, kau menyuruhnya ini itu karena hal itu adalah yang mampu membuatmu terpesona"
"berarti kamu menyuruhku untuk tidak memaksannya? lalu bagaimana kesadarannya muncul agar kita bisa saling melengkapi?"
"itu hanya perkara waktu, perkara bagaimana keberhasilanmu meluluhkan sikap angkuh dan egoisnya"
"jika memang begitu lalu aku harus bagaimana?"
"senangkanlah saja dia, berusahalah untuk menjadi dirimu yang baik dan berteguh hati untuk menjaganya. Bukankah cinta yang datang dengan sendirinya itu lebih indah daripada cinta yang datang karena dipaksa?"
"iya benar, jadi selama ini aku salah?"
"aku tidak tahu, tapi itulah hikmah yang kau perlu pelajari untuk saat ini"

Bersambung..................

Selasa, 27 Mei 2014

Terima Kasih Air Mata



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDZpKeFvrB6yFNgIsk7j7_Bqd5zMZvnQzsfc2urPXWK6lOoG-YAZp_1qjt2MMEm2q28EmKeiw3n3otD1EU2KV-r8GIyR7LNuuD8KGJEa4fYG9Htt1Z9a7F4D9jZDjtpPA72pBCV2pBGjDO/s1600/578068_445397818868794_540260240_n.jpg

Seorang kakek tua tiba-tiba saja datang dan menglemparkan sajadah di hadapan lelaki muda yang sedang asik berdoa. Tubuhnya yang ringkih tertutup halus oleh sarung dan koko yang nampak kebesaran. Sesaat, setelah dia memperbaiki posisi kopeahnya yang lusuh, dia memulai sholat.

Anak muda itu menghentikan doanya. Dia memperhatikan kakek tua itu, dari ujung kaki hingga kepala. Tak beranjak, tak gusar dan tak ingin rasanya dia pergi menghindar. Dia tetap saja menerawang dan mencermati kakek itu secara serius dari belakang.

Sepuluh menit berlalu.

Senin, 05 Mei 2014

Hasil Pemilu Dalam Takaran Effect


OPINI RADAR CIREBON (5 Mei 2014)

Oleh : Bakhrul Amal

Ibarat pohon besar yang melupakan akarnya, pemilu tahun ini begitu dipenuhi oleh analisa effect. Otomatis, nama-nama  yang sering lalu lalang ditelevisi, seolah menjadi penentu hasil daripada perolehan suara partai saat ini. Bagi yang berhasil mengangkat suara partai, mereka diagungkan secepat kilat, diangkat setinggi bintang-bintang yang berkelap-kelip ditengah malam dan dimahkotai julukan-julukan yang melegenda. Sementara mereka yang menjungkalkan harapan suara partai, dianggap tidak pantas lagi untuk sekedar menjadi juru kampanye.
Memang, untuk sebagian kasus, tokoh-tokoh yang wajahnya familiar di tengah-tengah masyarakat, mungkin bisa menjadi penentu kenaikan atau penurunan suara partai. Akan tetapi, seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif, bahwasanya pertarungan suara partai yang sesungguhnya adalah pertarungan diakar rumput. Caleg-caleg yang notabene lebih sering bertemu dan bertukar pikir dengan pemilih, menurut Yudi Latif adalah effect utama dari segala effect yang mempengaruhi suara partai. Merekalah kunci dari bagaimana suara-suara itu pada akhirnya menjadi perhitungan yang final.
Bertebarannya effect ini kemudian menjadi opini tersendiri yang mengaburkan akar-akar yang justru menegakan pohon. Oleh karena itu, tidak jarang, politisipun kemudian menjadi terganggu dan bahkan terpengaruh oleh konten yang disediakan oleh media. Salah dua contohnya adalah, ada partai yang secara mengejutkan menghakimi kaum lain sebagai dalang konspirasi korupsi ketua umum partainya. Yang tentu, kasus itu membuat suara partai tersebut merosot. Adapula partai yang bingung memilih calon presiden atau wakilnya karena juru kampanye partai tersebut dinilai sama-sama memiliki effect di bidangnya masing-masing. Jurkam yang pertama bergerak di bidang musik, lalu selanjutnya di bidang hukum dan yang terakhir dari bidang politik.
Kedua hal itu, bisa menjadi suatu indikasi akibat dari sulitnya menakar effect yang begitu abstrak, sehingga keputusan yang dibuatpun tidak mampu memberikan kebahagiaan bersama dalam lingkup internal. Apabila dalam lingkup internal saja sudah mengalami kesulitan dalam hal kesepakatan, bagaimana mungkin bisa serius menghidupi yang sifatnya eksternal.
Pertarungan pemilu legislatif pada dasarnya bukanlah pertarungan calon presiden dan wakilnya. Pemilu yang dilaksanakan bulan April kemarin pun bukan pertarungan nama besar melawan nama besar melalui konvensi. Secara kasat mata, dari nama yang menjadi pemilihan, sudah jelas, legislatiflah yang menjadi penentu seseorang untuk memilih partai mana yang akan beri amanah. Argument ini pun sudah cukup menegasikan opini effect yang terlanjur lahir di masyarakat.
Oleh karenanya, fallacy of dramatic instance analisa media ini harus segera diperbaiki. Apabila kemudian tetap dilanjutkan, maka yang ada hanyalah kesan bahwa partai berupaya menjual kredibilitas pada perorangan. Artinya, kerja partai saat ini tidak lebih seperti orang yang memohon wangsit di bawah pohon besar dengan sesajen. Meskipun secara sadar mereka bekerja, mereka lebih meyakini dan percaya bahwa effect lah yang mendongkrak mereka. Sehingga tidak salah juga apabila kerja mereka tidak lagi fokus pada pengkaderan politik yang membangun manusia politik, tetapi pengkaderan rasa ketergantungan pada satu yang ‘mistik’.
Selain daripada itu, masyarakatpun kemudian tidak lagi diberikan kecerdasan politik, utamanya dalam analisa dan memandang suatu masalah. Fenomena effect ini secara jelas, telah membawa kesimpulan mereka bahwa “sebelum ada tokoh ini partai ini biasa saja, semenjak hadirnya tokoh ini partai itu naik suaranya, tokoh ini artinya membawa keberuntungan”. Jangan heran, apabila kemudian post hoc ergo propter hoc ini terus dipelihara, maka wajah dan rezim presiden dalam stiker “isih penak jamanku” itu menjadi suatu yang memang benar-benar dirindukan dan begitulah adanya.
Pemilu memang telah berlalu, tetapi, selama effect masih dijadikan patokan murah sebagai konsumsi publik, maka kekakuan logika ini akan tetap berlanjut, tetap bergerak, menyemai dan mengotori pikiran.

*Penulis adalah tukang sapu di Satjipto Rahadrjo

Sabtu, 12 April 2014

Ketika

Ketika
Kau jungkarbalikan gumpalan merah maroon
Kau terjunkan daging remeh dalam kegelapan
Kau jadikan serpihan yang semula besar
Kau sebarkan abjad dalam pintu-pintu rumah besar

Hanya ada sepi
Sekilas suara kenari yang riang
Pepohonan yang mendesir menerbangkan plastik
Dan ludah-ludah menjadi arak yang menggiurkan

Haruskah ada air yang terjun
Lalu, kemudian lampu-lampu itu datang
Atau bila mungkin hanya memancing kunang-kunang
Sama saja, butuh terang, butuh yang jelas benderang

Semuanya terserah dan kembali pada pemiliknya
Semuanya menjadi remeh dalam goresan pena
Yang merubah
Yang menggetarkan meja, memecehkan gelas

Senin, 07 April 2014

Menerapkan Nilai Pesantren Dalam Kehidupan Bermasyarakat (Pesan Politik Untuk Calon Legislatif)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga1i1_-reO-fjInRMqBKe4piCow05jBdt15NRAJFyo9FgRFaY8vhnE0is_lMXy0rm4FDj_sMR0SueFDY2j32_pSOvniNhiefbJ34BomojHH-rCZYBJUAKdgc3hqmglE-Kb9ECY3oEVDZtW/s1600/IMG_0121.JPG

Sejarah panjang kemerdekaan bangsa Indonesia tidak dapat lepas dari pengaruh dan perjuangan Pesantren. Dari mulai kesabaran melakukan edukasi yang sifatnya menggerakan kemampuan intelektual, sampai pergolakan berdarah melawan penjajah. Adalah tragedi 10 November di Surabaya sebagai magnum opus dari pembuktian bagaimana intelektualitas dan jiwa-jiwa ke Indonesia-an pesantren itu amatlah tinggi. Dengan keyakinan yang besar, pesantren bukan hanya berhasil mengusir secara fisik, pesantren melalui perjuangan intelektual santri dan kyainya juga berhasil membuat Belanda mengucapkan “kata menyerah”. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila kita menyebut pesantren adalah bagian terbesar dari Indonesia. 

Namun, life style pesantren yang amat melegenda itu belakang ini mulai sedikit ditinggalkan oleh masyarakat. Ciri dari ditinggalkanya spirit pesantren dalam kehidupan masyarakat dapat kita lihat melalui beberapa hal, yang salah satunya, masyarakat saat ini mulai pragmatis. Masyarakat masa kini mulai mencari dan melakukan hal yang sifatnya cepat dirasakan. Masyarakat mulai tidak lagi secara istiqomah mendirikan bangunanya, bahkan yang lebih parah adalah, masyarakat meminta untuk dibangunkan bangunanya (bangunan kehidupan). Strata yang terakhir disebutkan adalah strata terburuk yang artinya, masyarakat sudah mulai tidak percaya pada kemampuanya.

Minggu, 06 April 2014

MANUSIA TANPA IDENTITAS (IMPACT OF GLOBALIZATION)



 
Bung Hatta, sekitar 60 tahun yang lalu, pernah mengatakan kepada kita, bahwasanya negara ini bisa hancur apabila dikelola oleh sindikat-sindikat yang memikirkan dirinya sendiri. Bung Hatta mungkin, sedang memikirkan suatu keadaan yang memilukan, penuh kelaparan dan perbudakan. Bagaiamana tidak, apabila sudah ada satu kekuatan berkuasa di atas dan menjarah, artinya harus ada satu yang lainya lapar dan berada di bawah. Menurut Duncan Kennedy, seorang professor hukum di Harvard Law School, keadaan itu adalah hukum pasti dimana ada penguasa maka secara tidak langsung ada yang dikuasai.

Pada era ini, era dimana semua memiliki segala kebebasan melakukan apapun, sindikat-sindikat besar itu mulai muncul. Mereka tidak hanya nampak berupa kekuatan modal, tetapi mereka juga hadir sebagai prototipe. Mereka yang menggunakan kekuatan modal mungkin masih bisa terditeksi, yaitu dengan bentuk gedung dan kekayaan. Akan tetapi, sindikalisme yang menguasai melalui prototipe sangat sulit atau tidak bisa sama sekali dicirikan. Mereka lebih rapih, menghancurkan dan menindas ruang-ruang kebebasan itu sendiri.

Minggu, 26 Januari 2014

Sepotong Kisah KH Wahid Hasyim dan Kesejatian Manusia


Suatu ketika, dalam sebuah sidang konstituante, KH Wahid Hasyim dihakimi dan gagasan pemikiranya dibantai habis-habisan oleh lawan politiknya. Seperti seorang manusia lainya, Dia tentu emosi, kesal dan kecewa. Tidak hanya dirinya pada saat itu, Istrinya yang ikut menyaksikan kejadian itu pun merasa terluka. Bila bisa digambarkan oleh kata-kata mungkin umpatan dan sumpah serapah terhadap lawan musuhnya ada didalam hati kedua pasangan tersebut.

Sidang pun berakhir, KH Wahid Hasyim dan Istrinya pulang dengan membawa sesak dan emosi di dada. Ketika hendak menjalankan mobilnya, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Orang itu adalah orang yang saat sidang konstitusi menghakimi suaminya. Orang itu gelisah dan terburu-buru, kegelisahanya membuatnya terpaksa meminta tumpangan dari lawan politiknya. Tidak perlu dijelaskan, tentu kita sudah tau jawabanya, Isti KH Wahid Hasyim yang terlihat masih kesal dengan acuh menolak memberikan tumpangan.




Rabu, 15 Januari 2014

Mang Mung Menyaksikan Cirebon



Sore itu langit begitu cerah, tidak menunjukan hujan dan tidak pula matahari menyengat. Mang Mung semakin mantap melangkahkan kakinya untuk membuka warung. Setelah sampai di depan Cirebon Superblock Mall, Dia segera menggelar daganganya di pinggir jalan. Aneka makanan disajikan, adapula sambal goreng khas Cirebonan, Dia saat itu menjajakan sarapan yang orang Cirebon mengenalnya dengan Sega Jamblang. Dengan kondisi Cirebon yang bersahabat, Dia berharap dagangannya laku. Itulah cerita Mang Mung 8 (delapan) tahun yang lalu.

Kondisi Mang Mung saat itu tidaklah sama dengan kondisi Mang Mung saat ini. Cirebon telah berubah, aromanya tak lagi ramah dengan masyarakat kecil seperti Mang Mung. Hanya butuh waktu 3 (tiga) tahun (dari 2010 sampai 2013), Cirebon berhasil menciptakan perubahan besar. Mall-mall, restoran siap saji dan hotel telah berdiri tegak di Kota dimana Mang Mung mempertaruhkan nasibnya. Hal itupun kemudian mulai mengganggu Mang Mung, jajanya tak seramai dulu, masakanya menjadi basi karena tak laku dan keluarga terbengkalai tak tentu arah.

Minggu, 05 Januari 2014

Soekarno dan Logika Timur





Soekarno, bukan hanya hidupnya, gerak politiknya bahkan filmnya pun mengandung pro dan kontra. Pria yang lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 adalah Presiden sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjalanan politiknya, Dia begitu dikenal sebagai sosok sosialis yang dulu begitu familiar dikalangan rakyat Indonesia, sehingga label komunis melekat padanya. Dari sisi kehidupanya, Dia memiliki begitu banyak pendamping hidup, sehingga orang yang belum paham betul akan menilainya sebagai pria hidung belang. Sementara filmnya, yang menunjukan bagaimana seolah Dia hidup kembali pun menjadi obrolan hangat antara setuju dan tak setuju. Tetapi terlepas dari itu semua, Soekarno adalah pemikir besar yang memang perlu pengkhayatan untuk memahaminya.

Mungkin banyak yang belum tahu atau bahkan tidak terpikir sedikit pun tentang hal ini. Soekarno besar bukan karena penjara, bukan pula wanita tetapi Soekarno menjadi tumbuh dan memiliki semangat kemanusiaan karena air mata. Jiwanya Soekarno kata Im Yang Tjo “telah menjadi semakin matang karena kedukaan”. Kemudian Im Yang Tjoe melanjutkan “kedukaan telah membuka pikiranya buat mencari ketenangan dari Tuhan”. Masa pergerakan yang sulit dan ditambah penangkapan Tjokroaminoto, adalah masa dimana Soekarno pertama kali dibentuk oleh keadaan untuk menjadi pemikir yang besar.[i]

Jumat, 27 Desember 2013

Geger Menjemput Satu Hal Yaitu Percakapan Tentang Waktu

 http://25.media.tumblr.com/tumblr_mawpacokkY1r7zi49o1_500.jpg

Diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Paris van Java.

Terlalu sedikit dan curang untuk dianggap sebagai suatu catatan penghujung tahun.

Geger, dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan riuh, ramai bahkan heboh. Sementara Kalong, Kalong adalah kekelawar, sejenis burung yang hidupnya dimalam hari sementara ketika siang binatang itu memilih tidur.


Kamis, 26 Desember 2013

Memahami Derrida Tentang Mungkin dan Yang Tak Mungkin


 http://www.yourbest100.com/pic/people/philosophers/jaques-derrida.jpg


Di suatu malam di tengah kebisingan perayaan.


I do everything I think possible or acceptable to escape from this trap.


Derrida mungkin sedang tertawa ketika menuliskan ini. Dia membayangkan kata-katanya terditeksi dan kemudian didekontruksi menjadi sebuah lelucon. Mungkin juga, Dia secara mengalir menuliskanya. Dia membayangkan begitu banyak hal di dunia ini kemudian ter-inspirasi. Hal ini kemudian kontradiksi dengan kata-katanya di buku yang di tuliskan oleh Muhammad Al Fayyadl Commenfons par l'impossible atau "marilah kita mulai dengan yang tak mungkin". Aku kemudian menjadi bingung, seperti berada disebuah jembatan diantara yang mungkin dan tidak mungkin.

Begitulah manusia, manusia selalu memiliki jalan-jalan dimana mereka harus memilih dan pilihan itu kadang-kadang harus melukai dirinya sendiri. Seorang Derrida pun, yang orang mengenalnya dengan bapak dekontruksi bisa berada dalam situasi ini. Dia seolah mungkin dari mungkin tapi mungkin pula dari yang tidak mungkin. Tujuanya satu, Dia sebagai manusia merasa jujur bahwa tidak bisa lepas dari keadaan yang kemungkinan.


Selasa, 24 Desember 2013

PERDA MIRAS : ANTARA EKSISTENSI DAN KRITIK (REFLEKSI AKHIR TAHUN)



Sebuah Kota, kata Aristoteles, layaknya bergerak dengan menampung dan menjalankan aspirasi masyarakatnya. Kemudian dirumuskanlah gagasan liar, dia berbeda jalan dengan Plato yang memilih filsuf sebagai sosok pemimpin yang cocok, Dia lebih memilih kesatria sebagai representasi kepemimpinan yang pas. Digemblengleh seorang Alexander Agung hingga menjadi pemimpin yang masyhur di Athena. Rasanya rasional, karena menurutnya, kesatria yang berada di antara rakyat dan filsuf nantinya mampu bijaksana, menampung aspirasi masyarakat dan menggali pendapat sang bijaksana (filosof).

Lanjutan bisa dibaca di Radar Cirebon edisi 31 Desember 2013. tks

Rabu, 18 Desember 2013

Jawaban GM dan Upaya Melabeli Kaum Kiri





Selain tampan, salah satu ciri khas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah ucapan nada mengeluh “saya prihatin”. Saya prihatin seolah menjadi sebuah kalimat yang mewakili segala hal. Terkejut, berduka dan mungkin meminta belas kasihan atas apa yang dialaminya. Sebagai seorang manusia hal itu bukanlah suatu yang mengherankan, justuru sangat wajar, mengingat manusia memiliki segala kekurangan yang niscaya. Tidak salah pula, apabila kemudian ucapan yang dimulai oleh SBY ini menjadi tren dalam kehidupan masyarakat Indonesia.


Baru-baru ini, dunia pengetahuan sedang menemukan titik ejakulasinya. Secara tiba-tiba rombongan kiri (atau lebih tepatnya secara pribadi) yang diwakili Martin Suryajaya dengan gagah berani menelanjangi Goenawan Mohamad yang (dituduhnya) liberal. Bukti-bukti pun disuguhkan oleh Martin, dari mulai transkrip hingga acuan teks yang mengambang menjadi sebuah justifikasi. Goenawan pun meradang, tidak menunggu waktu lama, segala hal yang menyudutkan dirinya dijawab dengan sebuah cerita pendek. Cerita itu menggambarkan secara jelas mengenai kehidupan yang menjadi alasan mengapa itu (hal yang dituduhkan Martin) terjadi.
 

Sabtu, 14 Desember 2013

Mencari Sosok Ideal (Dalam Kaitanya dengan Demokrasi Deliberatif)

SOSOK PEMIMPIN MASA LAMPAU

Leviathan, sekilas adalah sosok remeh yang hanya bisa kita lihat dalam gambar kenangan masa kecil. Dulu, kita seringkali melihatnya di antara tumpukan buku-buku komik dan terkesan usang. Tinggi besar diantara kecilnya perkotaan, sama sekali tidak menarik. Ya, Leviathan, tetapi begitulah Dia, tetap tegar meskipun remeh, tetap gagah meskipun lusuh. Pedang ditangan kanannya menunjukan kekuatan, sementara tongkat dengan (sekilas) gambar obor api menunjukan kekuatan. Akan tetapi, tahukah kita, bahwa itulah sosok pemimpin masa lalu, kuat disatu sisi dan memiliki nuansa gaib disisi lainya.

Dulu hingga kini, sosok layaknya Leviathan memang selalu diagungkan, entah itu darimana datangnya, yang pasti manusia kemudian berbondong-bondong merepresentasikan harapan padanya. Tidak tahu, apakah karena budaya atau karena memang sosok seperti itulah yang dinilai cocok, yang pasti sosok Leviathan masih berjaya kharismanya. Sebut saja Eyang Subur, yang dengan sesekali kasar kemudian menunjukan kegaibanya, orang kemudian lemah dan menuruti inginnya. Lambat laun, hal ini dimanfaatkan untuk mensejahterakan diri, meskipun pada akhirnya dia menerima boomerang dan digulingkan anak buahnya di masa lalu (Adi bing Slamet).

Rabu, 11 Desember 2013

NU dan Pengembangan Diri




Ada dua hal yang menjadi konsistensi dan ciri khas warga nahdliyin, yang pertama moderat dan kedua adalah percaya pada hal yang tidak mungkin. Di lihat dari dua sisi di atas tentunya kita sepakat bahwa Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya berdiri di depan akan tetapi melampaui zamanya. Ketika semua berbicara tentang demokrasi dan kebebasan, NU telah lebih dulu menerapkanya secara eklusif di dunia pesantren. Dan pada saat dunia sibuk menghadapi era ekonomi global, sikap NU ini kemudian menjadi acuan dari banyak motivator namun dengan cara yang berbeda.

Tentu kita pernah mendengar bahwasanya hal yang utama yang perlu kita lakukan dalam menghadapi sebuah perubahan adalah memperbaharui sikap. Sikap-sikap itu kemudian di susun secara rapih Oleh John C Maxwell dalam bukunya 360 leaders, yang pada intinya mengutamakan pemikiran progresif. Menurut Maxwell, untuk melakukan suatu perubahan tidak melulu harus berada diatas tetapi secara equalpun asal kita memiliki komitmen kita mampu menjadipemimpin. Secara tidak langsung, pemikiran Maxwell ini ternyata telah didahului bahkan di transformasi oleh organisasi Islam terbesar di dunia yaitu NU dengan sikap moderatnya.



Senin, 09 Desember 2013

Tampilan Baru

Semoga tampilan baru ini dapat menambah kenyamanan dalam membaca dan menikmati segala fitur baru yang tersedia di blog ini. Mengerjakan dan mendekorasi segala hal yang ada di blog ini memang bukanlah suatu proses yang mudah, tetapi niat untuk memberikan yang terbaik kepada pembaca ternyata mampu mengalahkan kesulitan-kesulitan itu. Adapun mungkin hasilnya masih tetap jauh dari harapan, kritik dan saranya bisa disampaikan kepada saya. Tks.

Jumat, 06 Desember 2013

FILSAFAT dan POTRET KRITIK MODERN





Stanley  J. Grenz suatu ketika pernah diberi satu pertanyaan oleh Tom Hawkes dari lembaga Leighton Ford Ministres, “Maukah Anda datang dan menjadi salah seorang dari belasan peserta dalam suatu think tank (kelompok penasihat, penyumbang gagasan, dan lainya) bagi pelayanan kepada “baby busters” (generasi post modernisme)?”.  Dengan lugas dan tanpa basa-basi Grenz menjawab “anda menemui orang yang salah, saya seorang akademisi bukan praktisi”. Namun Hawkes bersikukuh “justu itu, alasan Anda berada disana adalah untuk membantu kami memahami apa sesungguhnya postmodernisme”. Dialog itu tanpa kelanjutan, tetapi berakhir pada menyerahnya Granz yang akhirnya memilih ikut dengan keingan Hawkes, untuk menemui dimensi yang baru yang Dia namakan pendekatan.

Ada suasana fleksibel, ada kesan terbuka, namun tetap tidak menghilangkan suatu kehormatan pada pendirian yang mungkin bagi sebagian orang terkesan angkuh. Cerita Granz adalah sedikit dari banyak cerita lainya yang mungkin bergerak sama. Maksudnya adalah, idealisme yang lunak, yang tidak terlalu memaksa dan ora iya ora mbuh. Keputusan Granz pun mengingatkan saya tentang banyak hal yang (mungkin) saya amati. Dimana biasanya, setiap individu yang sudah “berbenteng” cenderung menutup diri dan memilih beradu ide dengan cara satu arah.