Selasa, 27 Mei 2014

Terima Kasih Air Mata



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDZpKeFvrB6yFNgIsk7j7_Bqd5zMZvnQzsfc2urPXWK6lOoG-YAZp_1qjt2MMEm2q28EmKeiw3n3otD1EU2KV-r8GIyR7LNuuD8KGJEa4fYG9Htt1Z9a7F4D9jZDjtpPA72pBCV2pBGjDO/s1600/578068_445397818868794_540260240_n.jpg

Seorang kakek tua tiba-tiba saja datang dan menglemparkan sajadah di hadapan lelaki muda yang sedang asik berdoa. Tubuhnya yang ringkih tertutup halus oleh sarung dan koko yang nampak kebesaran. Sesaat, setelah dia memperbaiki posisi kopeahnya yang lusuh, dia memulai sholat.

Anak muda itu menghentikan doanya. Dia memperhatikan kakek tua itu, dari ujung kaki hingga kepala. Tak beranjak, tak gusar dan tak ingin rasanya dia pergi menghindar. Dia tetap saja menerawang dan mencermati kakek itu secara serius dari belakang.

Sepuluh menit berlalu.

Senin, 05 Mei 2014

Hasil Pemilu Dalam Takaran Effect


OPINI RADAR CIREBON (5 Mei 2014)

Oleh : Bakhrul Amal

Ibarat pohon besar yang melupakan akarnya, pemilu tahun ini begitu dipenuhi oleh analisa effect. Otomatis, nama-nama  yang sering lalu lalang ditelevisi, seolah menjadi penentu hasil daripada perolehan suara partai saat ini. Bagi yang berhasil mengangkat suara partai, mereka diagungkan secepat kilat, diangkat setinggi bintang-bintang yang berkelap-kelip ditengah malam dan dimahkotai julukan-julukan yang melegenda. Sementara mereka yang menjungkalkan harapan suara partai, dianggap tidak pantas lagi untuk sekedar menjadi juru kampanye.
Memang, untuk sebagian kasus, tokoh-tokoh yang wajahnya familiar di tengah-tengah masyarakat, mungkin bisa menjadi penentu kenaikan atau penurunan suara partai. Akan tetapi, seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif, bahwasanya pertarungan suara partai yang sesungguhnya adalah pertarungan diakar rumput. Caleg-caleg yang notabene lebih sering bertemu dan bertukar pikir dengan pemilih, menurut Yudi Latif adalah effect utama dari segala effect yang mempengaruhi suara partai. Merekalah kunci dari bagaimana suara-suara itu pada akhirnya menjadi perhitungan yang final.
Bertebarannya effect ini kemudian menjadi opini tersendiri yang mengaburkan akar-akar yang justru menegakan pohon. Oleh karena itu, tidak jarang, politisipun kemudian menjadi terganggu dan bahkan terpengaruh oleh konten yang disediakan oleh media. Salah dua contohnya adalah, ada partai yang secara mengejutkan menghakimi kaum lain sebagai dalang konspirasi korupsi ketua umum partainya. Yang tentu, kasus itu membuat suara partai tersebut merosot. Adapula partai yang bingung memilih calon presiden atau wakilnya karena juru kampanye partai tersebut dinilai sama-sama memiliki effect di bidangnya masing-masing. Jurkam yang pertama bergerak di bidang musik, lalu selanjutnya di bidang hukum dan yang terakhir dari bidang politik.
Kedua hal itu, bisa menjadi suatu indikasi akibat dari sulitnya menakar effect yang begitu abstrak, sehingga keputusan yang dibuatpun tidak mampu memberikan kebahagiaan bersama dalam lingkup internal. Apabila dalam lingkup internal saja sudah mengalami kesulitan dalam hal kesepakatan, bagaimana mungkin bisa serius menghidupi yang sifatnya eksternal.
Pertarungan pemilu legislatif pada dasarnya bukanlah pertarungan calon presiden dan wakilnya. Pemilu yang dilaksanakan bulan April kemarin pun bukan pertarungan nama besar melawan nama besar melalui konvensi. Secara kasat mata, dari nama yang menjadi pemilihan, sudah jelas, legislatiflah yang menjadi penentu seseorang untuk memilih partai mana yang akan beri amanah. Argument ini pun sudah cukup menegasikan opini effect yang terlanjur lahir di masyarakat.
Oleh karenanya, fallacy of dramatic instance analisa media ini harus segera diperbaiki. Apabila kemudian tetap dilanjutkan, maka yang ada hanyalah kesan bahwa partai berupaya menjual kredibilitas pada perorangan. Artinya, kerja partai saat ini tidak lebih seperti orang yang memohon wangsit di bawah pohon besar dengan sesajen. Meskipun secara sadar mereka bekerja, mereka lebih meyakini dan percaya bahwa effect lah yang mendongkrak mereka. Sehingga tidak salah juga apabila kerja mereka tidak lagi fokus pada pengkaderan politik yang membangun manusia politik, tetapi pengkaderan rasa ketergantungan pada satu yang ‘mistik’.
Selain daripada itu, masyarakatpun kemudian tidak lagi diberikan kecerdasan politik, utamanya dalam analisa dan memandang suatu masalah. Fenomena effect ini secara jelas, telah membawa kesimpulan mereka bahwa “sebelum ada tokoh ini partai ini biasa saja, semenjak hadirnya tokoh ini partai itu naik suaranya, tokoh ini artinya membawa keberuntungan”. Jangan heran, apabila kemudian post hoc ergo propter hoc ini terus dipelihara, maka wajah dan rezim presiden dalam stiker “isih penak jamanku” itu menjadi suatu yang memang benar-benar dirindukan dan begitulah adanya.
Pemilu memang telah berlalu, tetapi, selama effect masih dijadikan patokan murah sebagai konsumsi publik, maka kekakuan logika ini akan tetap berlanjut, tetap bergerak, menyemai dan mengotori pikiran.

*Penulis adalah tukang sapu di Satjipto Rahadrjo

Sabtu, 12 April 2014

Ketika

Ketika
Kau jungkarbalikan gumpalan merah maroon
Kau terjunkan daging remeh dalam kegelapan
Kau jadikan serpihan yang semula besar
Kau sebarkan abjad dalam pintu-pintu rumah besar

Hanya ada sepi
Sekilas suara kenari yang riang
Pepohonan yang mendesir menerbangkan plastik
Dan ludah-ludah menjadi arak yang menggiurkan

Haruskah ada air yang terjun
Lalu, kemudian lampu-lampu itu datang
Atau bila mungkin hanya memancing kunang-kunang
Sama saja, butuh terang, butuh yang jelas benderang

Semuanya terserah dan kembali pada pemiliknya
Semuanya menjadi remeh dalam goresan pena
Yang merubah
Yang menggetarkan meja, memecehkan gelas

Senin, 07 April 2014

Menerapkan Nilai Pesantren Dalam Kehidupan Bermasyarakat (Pesan Politik Untuk Calon Legislatif)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga1i1_-reO-fjInRMqBKe4piCow05jBdt15NRAJFyo9FgRFaY8vhnE0is_lMXy0rm4FDj_sMR0SueFDY2j32_pSOvniNhiefbJ34BomojHH-rCZYBJUAKdgc3hqmglE-Kb9ECY3oEVDZtW/s1600/IMG_0121.JPG

Sejarah panjang kemerdekaan bangsa Indonesia tidak dapat lepas dari pengaruh dan perjuangan Pesantren. Dari mulai kesabaran melakukan edukasi yang sifatnya menggerakan kemampuan intelektual, sampai pergolakan berdarah melawan penjajah. Adalah tragedi 10 November di Surabaya sebagai magnum opus dari pembuktian bagaimana intelektualitas dan jiwa-jiwa ke Indonesia-an pesantren itu amatlah tinggi. Dengan keyakinan yang besar, pesantren bukan hanya berhasil mengusir secara fisik, pesantren melalui perjuangan intelektual santri dan kyainya juga berhasil membuat Belanda mengucapkan “kata menyerah”. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila kita menyebut pesantren adalah bagian terbesar dari Indonesia. 

Namun, life style pesantren yang amat melegenda itu belakang ini mulai sedikit ditinggalkan oleh masyarakat. Ciri dari ditinggalkanya spirit pesantren dalam kehidupan masyarakat dapat kita lihat melalui beberapa hal, yang salah satunya, masyarakat saat ini mulai pragmatis. Masyarakat masa kini mulai mencari dan melakukan hal yang sifatnya cepat dirasakan. Masyarakat mulai tidak lagi secara istiqomah mendirikan bangunanya, bahkan yang lebih parah adalah, masyarakat meminta untuk dibangunkan bangunanya (bangunan kehidupan). Strata yang terakhir disebutkan adalah strata terburuk yang artinya, masyarakat sudah mulai tidak percaya pada kemampuanya.

Minggu, 06 April 2014

MANUSIA TANPA IDENTITAS (IMPACT OF GLOBALIZATION)



 
Bung Hatta, sekitar 60 tahun yang lalu, pernah mengatakan kepada kita, bahwasanya negara ini bisa hancur apabila dikelola oleh sindikat-sindikat yang memikirkan dirinya sendiri. Bung Hatta mungkin, sedang memikirkan suatu keadaan yang memilukan, penuh kelaparan dan perbudakan. Bagaiamana tidak, apabila sudah ada satu kekuatan berkuasa di atas dan menjarah, artinya harus ada satu yang lainya lapar dan berada di bawah. Menurut Duncan Kennedy, seorang professor hukum di Harvard Law School, keadaan itu adalah hukum pasti dimana ada penguasa maka secara tidak langsung ada yang dikuasai.

Pada era ini, era dimana semua memiliki segala kebebasan melakukan apapun, sindikat-sindikat besar itu mulai muncul. Mereka tidak hanya nampak berupa kekuatan modal, tetapi mereka juga hadir sebagai prototipe. Mereka yang menggunakan kekuatan modal mungkin masih bisa terditeksi, yaitu dengan bentuk gedung dan kekayaan. Akan tetapi, sindikalisme yang menguasai melalui prototipe sangat sulit atau tidak bisa sama sekali dicirikan. Mereka lebih rapih, menghancurkan dan menindas ruang-ruang kebebasan itu sendiri.

Minggu, 26 Januari 2014

Sepotong Kisah KH Wahid Hasyim dan Kesejatian Manusia


Suatu ketika, dalam sebuah sidang konstituante, KH Wahid Hasyim dihakimi dan gagasan pemikiranya dibantai habis-habisan oleh lawan politiknya. Seperti seorang manusia lainya, Dia tentu emosi, kesal dan kecewa. Tidak hanya dirinya pada saat itu, Istrinya yang ikut menyaksikan kejadian itu pun merasa terluka. Bila bisa digambarkan oleh kata-kata mungkin umpatan dan sumpah serapah terhadap lawan musuhnya ada didalam hati kedua pasangan tersebut.

Sidang pun berakhir, KH Wahid Hasyim dan Istrinya pulang dengan membawa sesak dan emosi di dada. Ketika hendak menjalankan mobilnya, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Orang itu adalah orang yang saat sidang konstitusi menghakimi suaminya. Orang itu gelisah dan terburu-buru, kegelisahanya membuatnya terpaksa meminta tumpangan dari lawan politiknya. Tidak perlu dijelaskan, tentu kita sudah tau jawabanya, Isti KH Wahid Hasyim yang terlihat masih kesal dengan acuh menolak memberikan tumpangan.




Rabu, 15 Januari 2014

Mang Mung Menyaksikan Cirebon



Sore itu langit begitu cerah, tidak menunjukan hujan dan tidak pula matahari menyengat. Mang Mung semakin mantap melangkahkan kakinya untuk membuka warung. Setelah sampai di depan Cirebon Superblock Mall, Dia segera menggelar daganganya di pinggir jalan. Aneka makanan disajikan, adapula sambal goreng khas Cirebonan, Dia saat itu menjajakan sarapan yang orang Cirebon mengenalnya dengan Sega Jamblang. Dengan kondisi Cirebon yang bersahabat, Dia berharap dagangannya laku. Itulah cerita Mang Mung 8 (delapan) tahun yang lalu.

Kondisi Mang Mung saat itu tidaklah sama dengan kondisi Mang Mung saat ini. Cirebon telah berubah, aromanya tak lagi ramah dengan masyarakat kecil seperti Mang Mung. Hanya butuh waktu 3 (tiga) tahun (dari 2010 sampai 2013), Cirebon berhasil menciptakan perubahan besar. Mall-mall, restoran siap saji dan hotel telah berdiri tegak di Kota dimana Mang Mung mempertaruhkan nasibnya. Hal itupun kemudian mulai mengganggu Mang Mung, jajanya tak seramai dulu, masakanya menjadi basi karena tak laku dan keluarga terbengkalai tak tentu arah.

Minggu, 05 Januari 2014

Soekarno dan Logika Timur





Soekarno, bukan hanya hidupnya, gerak politiknya bahkan filmnya pun mengandung pro dan kontra. Pria yang lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 adalah Presiden sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjalanan politiknya, Dia begitu dikenal sebagai sosok sosialis yang dulu begitu familiar dikalangan rakyat Indonesia, sehingga label komunis melekat padanya. Dari sisi kehidupanya, Dia memiliki begitu banyak pendamping hidup, sehingga orang yang belum paham betul akan menilainya sebagai pria hidung belang. Sementara filmnya, yang menunjukan bagaimana seolah Dia hidup kembali pun menjadi obrolan hangat antara setuju dan tak setuju. Tetapi terlepas dari itu semua, Soekarno adalah pemikir besar yang memang perlu pengkhayatan untuk memahaminya.

Mungkin banyak yang belum tahu atau bahkan tidak terpikir sedikit pun tentang hal ini. Soekarno besar bukan karena penjara, bukan pula wanita tetapi Soekarno menjadi tumbuh dan memiliki semangat kemanusiaan karena air mata. Jiwanya Soekarno kata Im Yang Tjo “telah menjadi semakin matang karena kedukaan”. Kemudian Im Yang Tjoe melanjutkan “kedukaan telah membuka pikiranya buat mencari ketenangan dari Tuhan”. Masa pergerakan yang sulit dan ditambah penangkapan Tjokroaminoto, adalah masa dimana Soekarno pertama kali dibentuk oleh keadaan untuk menjadi pemikir yang besar.[i]

Jumat, 27 Desember 2013

Geger Menjemput Satu Hal Yaitu Percakapan Tentang Waktu

 http://25.media.tumblr.com/tumblr_mawpacokkY1r7zi49o1_500.jpg

Diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Paris van Java.

Terlalu sedikit dan curang untuk dianggap sebagai suatu catatan penghujung tahun.

Geger, dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan riuh, ramai bahkan heboh. Sementara Kalong, Kalong adalah kekelawar, sejenis burung yang hidupnya dimalam hari sementara ketika siang binatang itu memilih tidur.


Kamis, 26 Desember 2013

Memahami Derrida Tentang Mungkin dan Yang Tak Mungkin


 http://www.yourbest100.com/pic/people/philosophers/jaques-derrida.jpg


Di suatu malam di tengah kebisingan perayaan.


I do everything I think possible or acceptable to escape from this trap.


Derrida mungkin sedang tertawa ketika menuliskan ini. Dia membayangkan kata-katanya terditeksi dan kemudian didekontruksi menjadi sebuah lelucon. Mungkin juga, Dia secara mengalir menuliskanya. Dia membayangkan begitu banyak hal di dunia ini kemudian ter-inspirasi. Hal ini kemudian kontradiksi dengan kata-katanya di buku yang di tuliskan oleh Muhammad Al Fayyadl Commenfons par l'impossible atau "marilah kita mulai dengan yang tak mungkin". Aku kemudian menjadi bingung, seperti berada disebuah jembatan diantara yang mungkin dan tidak mungkin.

Begitulah manusia, manusia selalu memiliki jalan-jalan dimana mereka harus memilih dan pilihan itu kadang-kadang harus melukai dirinya sendiri. Seorang Derrida pun, yang orang mengenalnya dengan bapak dekontruksi bisa berada dalam situasi ini. Dia seolah mungkin dari mungkin tapi mungkin pula dari yang tidak mungkin. Tujuanya satu, Dia sebagai manusia merasa jujur bahwa tidak bisa lepas dari keadaan yang kemungkinan.


Selasa, 24 Desember 2013

PERDA MIRAS : ANTARA EKSISTENSI DAN KRITIK (REFLEKSI AKHIR TAHUN)



Sebuah Kota, kata Aristoteles, layaknya bergerak dengan menampung dan menjalankan aspirasi masyarakatnya. Kemudian dirumuskanlah gagasan liar, dia berbeda jalan dengan Plato yang memilih filsuf sebagai sosok pemimpin yang cocok, Dia lebih memilih kesatria sebagai representasi kepemimpinan yang pas. Digemblengleh seorang Alexander Agung hingga menjadi pemimpin yang masyhur di Athena. Rasanya rasional, karena menurutnya, kesatria yang berada di antara rakyat dan filsuf nantinya mampu bijaksana, menampung aspirasi masyarakat dan menggali pendapat sang bijaksana (filosof).

Lanjutan bisa dibaca di Radar Cirebon edisi 31 Desember 2013. tks

Rabu, 18 Desember 2013

Jawaban GM dan Upaya Melabeli Kaum Kiri





Selain tampan, salah satu ciri khas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah ucapan nada mengeluh “saya prihatin”. Saya prihatin seolah menjadi sebuah kalimat yang mewakili segala hal. Terkejut, berduka dan mungkin meminta belas kasihan atas apa yang dialaminya. Sebagai seorang manusia hal itu bukanlah suatu yang mengherankan, justuru sangat wajar, mengingat manusia memiliki segala kekurangan yang niscaya. Tidak salah pula, apabila kemudian ucapan yang dimulai oleh SBY ini menjadi tren dalam kehidupan masyarakat Indonesia.


Baru-baru ini, dunia pengetahuan sedang menemukan titik ejakulasinya. Secara tiba-tiba rombongan kiri (atau lebih tepatnya secara pribadi) yang diwakili Martin Suryajaya dengan gagah berani menelanjangi Goenawan Mohamad yang (dituduhnya) liberal. Bukti-bukti pun disuguhkan oleh Martin, dari mulai transkrip hingga acuan teks yang mengambang menjadi sebuah justifikasi. Goenawan pun meradang, tidak menunggu waktu lama, segala hal yang menyudutkan dirinya dijawab dengan sebuah cerita pendek. Cerita itu menggambarkan secara jelas mengenai kehidupan yang menjadi alasan mengapa itu (hal yang dituduhkan Martin) terjadi.
 

Sabtu, 14 Desember 2013

Mencari Sosok Ideal (Dalam Kaitanya dengan Demokrasi Deliberatif)

SOSOK PEMIMPIN MASA LAMPAU

Leviathan, sekilas adalah sosok remeh yang hanya bisa kita lihat dalam gambar kenangan masa kecil. Dulu, kita seringkali melihatnya di antara tumpukan buku-buku komik dan terkesan usang. Tinggi besar diantara kecilnya perkotaan, sama sekali tidak menarik. Ya, Leviathan, tetapi begitulah Dia, tetap tegar meskipun remeh, tetap gagah meskipun lusuh. Pedang ditangan kanannya menunjukan kekuatan, sementara tongkat dengan (sekilas) gambar obor api menunjukan kekuatan. Akan tetapi, tahukah kita, bahwa itulah sosok pemimpin masa lalu, kuat disatu sisi dan memiliki nuansa gaib disisi lainya.

Dulu hingga kini, sosok layaknya Leviathan memang selalu diagungkan, entah itu darimana datangnya, yang pasti manusia kemudian berbondong-bondong merepresentasikan harapan padanya. Tidak tahu, apakah karena budaya atau karena memang sosok seperti itulah yang dinilai cocok, yang pasti sosok Leviathan masih berjaya kharismanya. Sebut saja Eyang Subur, yang dengan sesekali kasar kemudian menunjukan kegaibanya, orang kemudian lemah dan menuruti inginnya. Lambat laun, hal ini dimanfaatkan untuk mensejahterakan diri, meskipun pada akhirnya dia menerima boomerang dan digulingkan anak buahnya di masa lalu (Adi bing Slamet).

Rabu, 11 Desember 2013

NU dan Pengembangan Diri




Ada dua hal yang menjadi konsistensi dan ciri khas warga nahdliyin, yang pertama moderat dan kedua adalah percaya pada hal yang tidak mungkin. Di lihat dari dua sisi di atas tentunya kita sepakat bahwa Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya berdiri di depan akan tetapi melampaui zamanya. Ketika semua berbicara tentang demokrasi dan kebebasan, NU telah lebih dulu menerapkanya secara eklusif di dunia pesantren. Dan pada saat dunia sibuk menghadapi era ekonomi global, sikap NU ini kemudian menjadi acuan dari banyak motivator namun dengan cara yang berbeda.

Tentu kita pernah mendengar bahwasanya hal yang utama yang perlu kita lakukan dalam menghadapi sebuah perubahan adalah memperbaharui sikap. Sikap-sikap itu kemudian di susun secara rapih Oleh John C Maxwell dalam bukunya 360 leaders, yang pada intinya mengutamakan pemikiran progresif. Menurut Maxwell, untuk melakukan suatu perubahan tidak melulu harus berada diatas tetapi secara equalpun asal kita memiliki komitmen kita mampu menjadipemimpin. Secara tidak langsung, pemikiran Maxwell ini ternyata telah didahului bahkan di transformasi oleh organisasi Islam terbesar di dunia yaitu NU dengan sikap moderatnya.



Senin, 09 Desember 2013

Tampilan Baru

Semoga tampilan baru ini dapat menambah kenyamanan dalam membaca dan menikmati segala fitur baru yang tersedia di blog ini. Mengerjakan dan mendekorasi segala hal yang ada di blog ini memang bukanlah suatu proses yang mudah, tetapi niat untuk memberikan yang terbaik kepada pembaca ternyata mampu mengalahkan kesulitan-kesulitan itu. Adapun mungkin hasilnya masih tetap jauh dari harapan, kritik dan saranya bisa disampaikan kepada saya. Tks.

Jumat, 06 Desember 2013

FILSAFAT dan POTRET KRITIK MODERN





Stanley  J. Grenz suatu ketika pernah diberi satu pertanyaan oleh Tom Hawkes dari lembaga Leighton Ford Ministres, “Maukah Anda datang dan menjadi salah seorang dari belasan peserta dalam suatu think tank (kelompok penasihat, penyumbang gagasan, dan lainya) bagi pelayanan kepada “baby busters” (generasi post modernisme)?”.  Dengan lugas dan tanpa basa-basi Grenz menjawab “anda menemui orang yang salah, saya seorang akademisi bukan praktisi”. Namun Hawkes bersikukuh “justu itu, alasan Anda berada disana adalah untuk membantu kami memahami apa sesungguhnya postmodernisme”. Dialog itu tanpa kelanjutan, tetapi berakhir pada menyerahnya Granz yang akhirnya memilih ikut dengan keingan Hawkes, untuk menemui dimensi yang baru yang Dia namakan pendekatan.

Ada suasana fleksibel, ada kesan terbuka, namun tetap tidak menghilangkan suatu kehormatan pada pendirian yang mungkin bagi sebagian orang terkesan angkuh. Cerita Granz adalah sedikit dari banyak cerita lainya yang mungkin bergerak sama. Maksudnya adalah, idealisme yang lunak, yang tidak terlalu memaksa dan ora iya ora mbuh. Keputusan Granz pun mengingatkan saya tentang banyak hal yang (mungkin) saya amati. Dimana biasanya, setiap individu yang sudah “berbenteng” cenderung menutup diri dan memilih beradu ide dengan cara satu arah.

Selasa, 19 November 2013

Chavez, Chomsky dan Hegemoni Amerika

Saat itu, sidang PBB tiba-tiba bergemuruh, pria berbadan besar, berparas tampan dan berpenampilan parlente secara spontan mengeluarkan buku dipertengahan pidatonya. Pria itu adalah Hugo Chavez, Presiden dari Negara Sosialis Venezuela dan buku yang ia coba tunjukan adalah buku Chomsky yang bertema besar tentang Hegemoni or Survival.  Epilog dari pidatonya mungkin terlalu melankolis, lebih melankolis daripada keinginanya untuk membawa Pemimpin-pemimpin dunia membaca buku Chomsky. Di akhir pidatonya Dia katakan bahwa “bila ada satu hal yang harus saya sesali, maka saya menyesal karena selama ini saya belum pernah bertemu dengan Noam Chomsky”.

Chavez mungkin boleh saja menaruh sesal yang begitu dalam, akan tetapi kesadaranya tidak pernah menjangkau kemungkinan, bahwa pada saat dia berpidato mungkin saja Chomsky sedang menyaksikanya. Tetapi itu tidak begitu penting pula, karena pada akhirnya kedua tokoh penentang Amerika ini toh bertemu juga di kisaran tahun 2009 sebelum kematian menjemput Chavez.  Meskipun berasal dari rumpun dan suku yang berbeda, keduanya bertemu oleh karena satu kesamaan dasar, yaitu menentang Amerika sebagai representasi Kapitalisme. Pertemuan keduanya pun mengingatkan saya akan kata-kata Badiou, yang beranggapan bahwa keyakinan itu pada saatnya akan bertemu dengan peristiwa.

Senin, 18 November 2013

Tauhid dan Ke-ESA-an Allah (Telaah Surat Al-Ikhlas)





Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang duduk dan menikmati gersangnya padang pasir, tiba-tiba orang Quraisy, Yahudi dan Kristiani datang menemuinya. Dengan wajah gelisah, penuh tanda tanya dan menerka-nerka  mereka bergerombol membawa satu pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu cukup menyentil memberikan makna yang begitu besar, pertanyaan itu berisi tentang “Tuhan seperti apa yang disembah oleh Rasulullah?”. Posisi duduk Rasulullah SAW pun bergeser, sejenak menghela nafas kemudian dia mendengarkan kembali lanjutan pertanyaan para penggelisah, “Apakah Tuhanmu itu sebuah patung, terbuat dari emas, batu atau apa?”. Maka Rasulullah SAW menjawab melalui surat yang diturunkanya pada saat itu, yaitu Surat Al-Ikhlas.

Perlu kita ketahui, bahwasanya Surat Al-Ikhlas ini konon adalah surat ke 19 yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad diantara banyaknya surat-surat dalam Al-Qur’an. Surat yang terdiri dari empat ayat ini adalah surat pertama yang memberikan penjelasan tentang Tuhan, dimana surat-surat sebelumnya tidak pernah dijelaskan mengenai Tuhan, hanya sekedar rabbuka atau Tuhanmu. Penerimaan surat ini bisa dikatakan sebagai pledoi atau pembelaan Nabi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disebutkan di atas. Lalu mengapa disurat-surat sebelumnya tidak pernah dijelaskan mengenai Tuhan, bukankah kelahiran agama adalah membawa pesan Tuhan. Menurut Imam Al-Ghazali, jawabanya adalah, ketika pada saat itu kaum-kaum peragu itu pun juga telah menyembah Tuhan.

Bismillah hirokhman nirokhim (dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang), ya kami juga pun juga mengatakan itu, kata mereka. Lalu yang kau sebut  Rabbuka atau Tuhan-mu berkali kali itu sebenarnya siapa?. Mereka bertambah bingung dan semakin mencoba menkonfrontasi Muhammad dengan keraguan mereka untuk menjadi ragu. Tuhan yang dibawa Muhammad menurut mereka begitu abstrak, mereka tahu dan melihat Muhammad menyembah tetapi dihadapanya kosong, mereka tahu Muhammad berdoa tapi dihadapanya pun sunyi. Sedangkan Tuhan dalam pandangan mereka, atau menurut awang-awang kaum Quraisy, Yahudi dan Kristiani  adalah Tuhan yang mempunyai bentuk, ada patung, ada bebatuan kramat dan berbagai macam lainya.

Hadirnya Islam pada saat itu, selain bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat yang beradab adalah untuk meluruskan pemahaman tentang Tuhan. Oleh karena itu maka surat yang sering disebut surat aman, surat keindahan, suratun nisbah ini dinamakan dengan surat Al-Ikhlas.  Kata Ikhlas diambil untuk memberikan suatu definisi  menyingkirkan segala sesuatu (sesembahan, patung, batu, pohon) yang “tidak berhubungan” dengan Tuhan, sehingga yang tersisa hanyalah gambaran Tuhan. Lagi-lagi ini adalah bentuk suatu ke tawadhu an dimana Tuhan akan menjelaskan dirinya ketika pertanyaan muncul, ketika para kaum-kaum sebelum Islam itu mulai tertarik. Menunggu pertanyaan adalah suatu momen tepat, artinya umat-umat yang bertanya itu ingin tahu, sesuai prinsip dakwah maka disitulah waktu yang tepat menunjukan jalan yang lurus.

Ketika itu gambaran mengenai Tuhan bermacam-macam dan semua dinegasikan oleh Surat Al-Ikhlas. Sebagian kaum ada yang beranggapan bahwa Tuhan itu memiliki anak, segeralah disingkirkan dengan lam yalid walam yulad. Lalu meraka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak Esa maka dijawablah melalui ayat qul huwa Allahu ahad. Ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu memiliki sekutu dimana dia tidak tegak sendiri, dijelaskanlah kembali lewat walam yakul lahu kufuwan ahad. Dan perisai kepercayaan pada Tuhan mereka adalah Tuhan memiliki tempat dimana disitu dengan seserahan Tuhan akan datang mengambilnya, secara tegas Al-Qur’an kemudian menolak anggapan itu dan memberikan pencerahan dengan Allahu ‘s-samad. Inilah bentuk surat yang menyingkirkan segala sesuatu yang tidak ada hubungan sama sekali dengan Tuhan itu.

Bila dipahami pada ayat pertama dikatakan disana bahwa kul huwallah hu ahad artinya “katakanlah Dia”, Dia itu siapa? dan artinya Dia itu sudah ada sebelumnya. Inilah jawaban mengapa di surat-surat lain diawal tidak sebutkan kata Allah, antara lain disebabkan karena kaum lain pun percaya pada Allah, akan tetapi kepercayaan mereka berbeda dengan Islam. Bila kaum musyrik mengatakan bahwa Allah memiliki anak dalam Islam Allah itu Esa. Oleh karena itu disurat pertama digunakan rabbuka, Tuhanmu wahai Muhammad. Tuhan yang berbeda atau keTuhanan yang tauhid, Tuhan yang telah meningkirkan segala hal tentangnya.

Lalu kemudian huwa, huwa itu pun sungguh universal karena tidak pernah disebutkan siapa huwa (dia) itu?. Kemudian keliaran berpikir ini membawa pengkajian kita beranggapan bahwa huwa itu nama Tuhan.  Beberapa ahli tassawuf  seperti Al-Junaid Al-Baghdadi, Yazid Al-Bustami dan Al-Hallaj mengatakan bahwa nama Tuhan itu unik, karena kalaupun dihapus satu hurufnya akan selalu berujung padaNya.  Alif lam lam ha, coba kita hapus alif maka tetap lillah masih mengarahkan pada Allah. Hapus kemudian lam, maka lahu, sekarang persingkat hapus lagi lam maka hu dan hasil penyingkatan hu “ah”. Disini kita temukan suatu jawaban dari ungkapan keluhan ah, diseluruh dunia ini baik Eropa, Asia, Africa, America dan Australia apabila mengeluh pasti berkata ah. Siapa yang mereka panggil ah?Secara tidak sadar inilah keunikanya, tanpa disadari bahwa ketika mengeluh yang hadir dalam benak kita adalah Allah.

Pendapat kedua, adalah menurut Quraish Shibah, yang mengatakan huwa, bahwa hu dalam surat ini untuk menggambarkan kehadiran dan keagungan. Dia yang ada dibenak semua orang, yang sadar atau tidak sadar adalah Allah Ahad. Ahad berarti Esa dan pertanyaan yang kemudian datang adalah "Esa itu apa?". Ada dua kata yang sedikit memiliki arti sama yaitu Ahad dan Wahid. Bila dikatakan tidak seorang yang datang? Bisa tidak dalam kata ini kita beranggapan atau berpikir bahwa bisa dua, tiga yang bicara, tentu bisa. Namun apabila saya katakan bahwa “tidak ada seorang-pun yang bicara?” maka artinya tidak ada sama sekali. Wahid itu memberikan gambaran yang berkemungkinan ada yang lainya, sedangkan Ahad absolut hanya satu tidak ada yang lain. Dan satu-satunya kata Ahad yang dijadikan kata sifat hanya sekali disebutkan yaitu pada ayat ini saja.

Secara redaksi, surat Al-Ikhlas ini sudah menggenggam begitu jelas tentang makna Tuhan yang dipegang teguh oleh Umat Muhammad, Rasulullah. Tuhan yang tidak beranak pinak, Tuhan yang tidak membutuhkan segala hal diluar darinya, Tuhan yang tidak direpresentasikan oleh apapun bahkan Tuhan yang tidak perlu dibela. Oleh karena itu maka, meninggikan Tuhan adalah mencoba untuk tidak pernah mengambil alih tugas Tuhan dengan ucapan yang mendahului kehendaknya ataupun tindakan main hakim sendiri. Dalam surat Al-Kafirun diperkuatlah segala hal larangan menghakimi itu dengan lakum dinuqum waliyadin atau bagiku agamaku dan bagimu agamamu. wallahu a'lam bishawab