Selasa, 19 November 2013

Chavez, Chomsky dan Hegemoni Amerika

Saat itu, sidang PBB tiba-tiba bergemuruh, pria berbadan besar, berparas tampan dan berpenampilan parlente secara spontan mengeluarkan buku dipertengahan pidatonya. Pria itu adalah Hugo Chavez, Presiden dari Negara Sosialis Venezuela dan buku yang ia coba tunjukan adalah buku Chomsky yang bertema besar tentang Hegemoni or Survival.  Epilog dari pidatonya mungkin terlalu melankolis, lebih melankolis daripada keinginanya untuk membawa Pemimpin-pemimpin dunia membaca buku Chomsky. Di akhir pidatonya Dia katakan bahwa “bila ada satu hal yang harus saya sesali, maka saya menyesal karena selama ini saya belum pernah bertemu dengan Noam Chomsky”.

Chavez mungkin boleh saja menaruh sesal yang begitu dalam, akan tetapi kesadaranya tidak pernah menjangkau kemungkinan, bahwa pada saat dia berpidato mungkin saja Chomsky sedang menyaksikanya. Tetapi itu tidak begitu penting pula, karena pada akhirnya kedua tokoh penentang Amerika ini toh bertemu juga di kisaran tahun 2009 sebelum kematian menjemput Chavez.  Meskipun berasal dari rumpun dan suku yang berbeda, keduanya bertemu oleh karena satu kesamaan dasar, yaitu menentang Amerika sebagai representasi Kapitalisme. Pertemuan keduanya pun mengingatkan saya akan kata-kata Badiou, yang beranggapan bahwa keyakinan itu pada saatnya akan bertemu dengan peristiwa.

Senin, 18 November 2013

Tauhid dan Ke-ESA-an Allah (Telaah Surat Al-Ikhlas)





Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang duduk dan menikmati gersangnya padang pasir, tiba-tiba orang Quraisy, Yahudi dan Kristiani datang menemuinya. Dengan wajah gelisah, penuh tanda tanya dan menerka-nerka  mereka bergerombol membawa satu pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu cukup menyentil memberikan makna yang begitu besar, pertanyaan itu berisi tentang “Tuhan seperti apa yang disembah oleh Rasulullah?”. Posisi duduk Rasulullah SAW pun bergeser, sejenak menghela nafas kemudian dia mendengarkan kembali lanjutan pertanyaan para penggelisah, “Apakah Tuhanmu itu sebuah patung, terbuat dari emas, batu atau apa?”. Maka Rasulullah SAW menjawab melalui surat yang diturunkanya pada saat itu, yaitu Surat Al-Ikhlas.

Perlu kita ketahui, bahwasanya Surat Al-Ikhlas ini konon adalah surat ke 19 yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad diantara banyaknya surat-surat dalam Al-Qur’an. Surat yang terdiri dari empat ayat ini adalah surat pertama yang memberikan penjelasan tentang Tuhan, dimana surat-surat sebelumnya tidak pernah dijelaskan mengenai Tuhan, hanya sekedar rabbuka atau Tuhanmu. Penerimaan surat ini bisa dikatakan sebagai pledoi atau pembelaan Nabi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disebutkan di atas. Lalu mengapa disurat-surat sebelumnya tidak pernah dijelaskan mengenai Tuhan, bukankah kelahiran agama adalah membawa pesan Tuhan. Menurut Imam Al-Ghazali, jawabanya adalah, ketika pada saat itu kaum-kaum peragu itu pun juga telah menyembah Tuhan.

Bismillah hirokhman nirokhim (dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang), ya kami juga pun juga mengatakan itu, kata mereka. Lalu yang kau sebut  Rabbuka atau Tuhan-mu berkali kali itu sebenarnya siapa?. Mereka bertambah bingung dan semakin mencoba menkonfrontasi Muhammad dengan keraguan mereka untuk menjadi ragu. Tuhan yang dibawa Muhammad menurut mereka begitu abstrak, mereka tahu dan melihat Muhammad menyembah tetapi dihadapanya kosong, mereka tahu Muhammad berdoa tapi dihadapanya pun sunyi. Sedangkan Tuhan dalam pandangan mereka, atau menurut awang-awang kaum Quraisy, Yahudi dan Kristiani  adalah Tuhan yang mempunyai bentuk, ada patung, ada bebatuan kramat dan berbagai macam lainya.

Hadirnya Islam pada saat itu, selain bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat yang beradab adalah untuk meluruskan pemahaman tentang Tuhan. Oleh karena itu maka surat yang sering disebut surat aman, surat keindahan, suratun nisbah ini dinamakan dengan surat Al-Ikhlas.  Kata Ikhlas diambil untuk memberikan suatu definisi  menyingkirkan segala sesuatu (sesembahan, patung, batu, pohon) yang “tidak berhubungan” dengan Tuhan, sehingga yang tersisa hanyalah gambaran Tuhan. Lagi-lagi ini adalah bentuk suatu ke tawadhu an dimana Tuhan akan menjelaskan dirinya ketika pertanyaan muncul, ketika para kaum-kaum sebelum Islam itu mulai tertarik. Menunggu pertanyaan adalah suatu momen tepat, artinya umat-umat yang bertanya itu ingin tahu, sesuai prinsip dakwah maka disitulah waktu yang tepat menunjukan jalan yang lurus.

Ketika itu gambaran mengenai Tuhan bermacam-macam dan semua dinegasikan oleh Surat Al-Ikhlas. Sebagian kaum ada yang beranggapan bahwa Tuhan itu memiliki anak, segeralah disingkirkan dengan lam yalid walam yulad. Lalu meraka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak Esa maka dijawablah melalui ayat qul huwa Allahu ahad. Ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu memiliki sekutu dimana dia tidak tegak sendiri, dijelaskanlah kembali lewat walam yakul lahu kufuwan ahad. Dan perisai kepercayaan pada Tuhan mereka adalah Tuhan memiliki tempat dimana disitu dengan seserahan Tuhan akan datang mengambilnya, secara tegas Al-Qur’an kemudian menolak anggapan itu dan memberikan pencerahan dengan Allahu ‘s-samad. Inilah bentuk surat yang menyingkirkan segala sesuatu yang tidak ada hubungan sama sekali dengan Tuhan itu.

Bila dipahami pada ayat pertama dikatakan disana bahwa kul huwallah hu ahad artinya “katakanlah Dia”, Dia itu siapa? dan artinya Dia itu sudah ada sebelumnya. Inilah jawaban mengapa di surat-surat lain diawal tidak sebutkan kata Allah, antara lain disebabkan karena kaum lain pun percaya pada Allah, akan tetapi kepercayaan mereka berbeda dengan Islam. Bila kaum musyrik mengatakan bahwa Allah memiliki anak dalam Islam Allah itu Esa. Oleh karena itu disurat pertama digunakan rabbuka, Tuhanmu wahai Muhammad. Tuhan yang berbeda atau keTuhanan yang tauhid, Tuhan yang telah meningkirkan segala hal tentangnya.

Lalu kemudian huwa, huwa itu pun sungguh universal karena tidak pernah disebutkan siapa huwa (dia) itu?. Kemudian keliaran berpikir ini membawa pengkajian kita beranggapan bahwa huwa itu nama Tuhan.  Beberapa ahli tassawuf  seperti Al-Junaid Al-Baghdadi, Yazid Al-Bustami dan Al-Hallaj mengatakan bahwa nama Tuhan itu unik, karena kalaupun dihapus satu hurufnya akan selalu berujung padaNya.  Alif lam lam ha, coba kita hapus alif maka tetap lillah masih mengarahkan pada Allah. Hapus kemudian lam, maka lahu, sekarang persingkat hapus lagi lam maka hu dan hasil penyingkatan hu “ah”. Disini kita temukan suatu jawaban dari ungkapan keluhan ah, diseluruh dunia ini baik Eropa, Asia, Africa, America dan Australia apabila mengeluh pasti berkata ah. Siapa yang mereka panggil ah?Secara tidak sadar inilah keunikanya, tanpa disadari bahwa ketika mengeluh yang hadir dalam benak kita adalah Allah.

Pendapat kedua, adalah menurut Quraish Shibah, yang mengatakan huwa, bahwa hu dalam surat ini untuk menggambarkan kehadiran dan keagungan. Dia yang ada dibenak semua orang, yang sadar atau tidak sadar adalah Allah Ahad. Ahad berarti Esa dan pertanyaan yang kemudian datang adalah "Esa itu apa?". Ada dua kata yang sedikit memiliki arti sama yaitu Ahad dan Wahid. Bila dikatakan tidak seorang yang datang? Bisa tidak dalam kata ini kita beranggapan atau berpikir bahwa bisa dua, tiga yang bicara, tentu bisa. Namun apabila saya katakan bahwa “tidak ada seorang-pun yang bicara?” maka artinya tidak ada sama sekali. Wahid itu memberikan gambaran yang berkemungkinan ada yang lainya, sedangkan Ahad absolut hanya satu tidak ada yang lain. Dan satu-satunya kata Ahad yang dijadikan kata sifat hanya sekali disebutkan yaitu pada ayat ini saja.

Secara redaksi, surat Al-Ikhlas ini sudah menggenggam begitu jelas tentang makna Tuhan yang dipegang teguh oleh Umat Muhammad, Rasulullah. Tuhan yang tidak beranak pinak, Tuhan yang tidak membutuhkan segala hal diluar darinya, Tuhan yang tidak direpresentasikan oleh apapun bahkan Tuhan yang tidak perlu dibela. Oleh karena itu maka, meninggikan Tuhan adalah mencoba untuk tidak pernah mengambil alih tugas Tuhan dengan ucapan yang mendahului kehendaknya ataupun tindakan main hakim sendiri. Dalam surat Al-Kafirun diperkuatlah segala hal larangan menghakimi itu dengan lakum dinuqum waliyadin atau bagiku agamaku dan bagimu agamamu. wallahu a'lam bishawab


Minggu, 17 November 2013

Sekedar Minum





Urip iku mung numpang ngombe tok

Kalimat itu diucapkan oleh seorang kakek tua, disebuah warung sederhana di Kota Semarang.  Tidak bermaksud menyindir, menyakiti atau bahkan menyerang orang lain, hanya sebatas ucapan yang keluar secara spontan dalam obrolan warung kopi. Bila dilihat dari pilihan kata-kata yang digunakan, mungkin kalimat itu bisa kita persepsikan sebagai sebuah candaan. Atau bahkan kalimat itu hanya sekedar  ucapan remeh yang tak berdasar dan jelas maksudnya apa. Akan tetapi bila diresapi secara filosofis, maka akan begitu luas dan besar maknanya.

Dua kata awal yang dipilih kakek itu cukup dilematis, urip iku yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti hidup itu. Jelas ini bukan perkara remeh, ini ungkapan yang seharusnya bisa dipertanggung jawabkan karena mengartikan sebuah perjalanan. Perjalanan panjang umat manusia yang mungkin sudah sering lalu lalang melewati jembatan hitam dan putih. Bahkan dalam buku hantu-hantu Marx karya Jacques Derrida dikatakan bahwa hanya orang mati yang boleh mendefinisikan kata-kata itu.

Hidup itu, ya hidup itu, seolah-olah ada sebuah kesimpulan yang sudah ditarik, yang cukup jauh bahkan melewati suatu proses perenungan panjang. Ketika kata-kata awal itu terhenti, maka mengartikanya bisa secara serampangan dan kontruktivis mengikuti pengalaman masing-masing individu. Tetapi kemudian kakek tua berbaju koko, bersarung biru dan berpeci putih itu menambahkan mung numpang ngombe tok atau sekedar numpang minum saja. Belum selesai pada siapa pemilik hak paten pengucap makna hidup, kita sudah dipertemukan dengan kata “sekedar”.

Mungkin pembicaraan dan deskripsi ini hanya mewakili ketelatenan satu kepala saja tetapi cukup menarik untuk disimak lebih lanjut. Sekedar memiliki arti yang sepakat kita sebut dengan cuma main-main atau hanya sebatas, sebatas melongok, mencicipi, merasakan dsb. Sekedar tidak berarti hanya yang tanpa sebatas atau hanya yang berarti tidak ada yang lain selain liyane. Sekedar minum, begitu simple dan sederhana, tidak terlalu serius tidak terlalu ingin tetapi dilakukan. Dan pekerjaan yang disekedarkan itu adalah minum.

Dalam kesedaran minum itu lalu kita dibawanya semakin jauh pada pilihan yang individu. Minum apa? Air putih, teh, kopi atau apa?. Ada pertanyaan yang begitu keras yang dipilih, artinya apabila yang sekedar diminum itu racun tentu kita mati, apabila air putih sehat dan mungkin juga kopi yang membuat kita kemudian tidak bisa tidur. Atau minum yang memang sudah disediakan sendiri tanpa kita perlu untuk memesanya dan merasakan dengan ikhlas akibatnya. Dilematis dan penuh dengan tanda tanya besar untuk mengungkapkan suatu kalimat sederhana ini.

Lalu kita mencoba untuk mendefinisikan hidup dari minum yang diantara dua pilihan itu. Pilihan minuman yang kita pilih sendiri dan minuman yang kemungkinan sudah disediakan lalu kita secara bebas langsung meminumnya. Dua hal ini adalah tindak lanjut dari diaspora kesederhanaan kata-kata yang melambung jauh melewati batasnya. Tugas kita saat ini adalah mencoba menyatukan kembali kertas-kertas yang terlanjur berserakan itu.

Dalam konsep Islam dikenal dengan dua hal, yang mungkin kata-kata ini pernah kita dengar di surau-surau atau langgar ketika kecil dahulu. Dimana dikatakan bahwa ada hal yang tidak bisa kita rubah yang kita sebut dengan takdir. Namun ada hal yang kita bisa mengupayakanya untuk lari dari hal itu dengan jalan bekerja keras, yang kemudian dikenal bernama nasib. Antara takdir dan nasib pun seringkali orang masih salah mengartikanya, kadang-kadang nasib yang dibiarkan dan tidak diperjuangkan disebut juga takdir.

yang pertama yang dimana kita bisa memilih adalah kita meminum nasib. Meminum hal-hal yang kita racik atau mungkin kita pesankan untuk dibuatkan. Minuman itu bukan orang lain yang meminta tetapi kehendak kita yang menuntun sendiri untuk itu. Jika kita berusaha lebih, maka banyak varian rasa yang kita nikmati dengan uang yang lebih mahal pula. Bila kita berpangku tangan maka mungkin kita hanya meminum air pemberian yang bisa enak bisa juga tidak.

Dari yang pertama ini kita dituntut untuk menjadi ubermancsh bila kita mau yang terbaik. Dalam buku yang yang menyoal Nietzsche dengan bahasan yang sederhana, Sunardi mengartikan manusia super itu dengan manusia yang berusaha dan bersusah payah untuk dirinya tanpa mengandalkan orang lain, alam lain atau planet lain. Semua dilakukan dengan kemaksimalan kemampuan yang pantang menyerah, banting tulang untuk dirinya. Meminum nasib artinya memilih sendiri apa yang hendak kita hidangkan untuk diri kita.

Sementara dikenyataan yang kedua, kita dituntut untuk minum apa yang telah disediakan. Kita tidak berhak memilih minuman itu, tidak berhak pula marah karena seberapa kuatpun kita melawan tidak akan bisa diganti dengan sesuai keinginan kita. Dalam Islam, memahami hal yang kedua ini kita perlu istiqomah dan ikhlas, menjalani sepahit apapun itu karena pasti dilewati. Doa pun hanya akan menjadi pemanis atau obat penenang dari kegelisahan yang berkeringat itu. Air itu harus melewati tenggorokan kita tanpa kita pernah tau efek apa yang diakibatkan oleh air itu.

Begitu menggodanya kata-kata dari kakek tua itu sehingga membawa larut pada penilaian secara individu. Yang bahkan enak tidak enaknya kemudian ditentukan oleh perseprsi perkenalan pengalaman. Atau yang Foucalt sebut dengan the symbolic, segala hal yang telah ditentukan ini bagus tau buruknya oleh label. Jadi definisi filosofis dari urip mung numpang ngombe tok bertemu pada satu titik yang disebut dengan keihlasan. Kepasrahan kita ngombe yang kita sendiri satu keadaan memilihnya dan keadaan lain dipilihkan.

Lalu bagaimana dengan orang yang menolak untuk ngombe artinya dia tidak hidup? Atau dia melarikan diri dari hidup. Mungkin yang menolak ngombe adalah mereka yang kemudian memilih kehabisan cairan dan mati. Represtasi dari menolak ngombe adalah kematian yang mengenaskan, bunuh diri dan merebut gelas-gelas hak orang lain. Yang menolak ngombe adalah yang hanya melamuni gelas-gelas dan menu-menu yang disediakan. Yang menolak untuk beresiko dan menolak untuk berusaha ngombe, padahal kebutuhan dasar manusia adalah air. 

Yang perlu untuk tidak kita lupakan dari arti dan makna hidup yang minum itu adalah adanya kata numpang. Kita bisa menentukan segala halnya namun kita bukan pemilik, kita hanya orang yang diberikan kesempatan menempati. Bila dalam realita modern artinya kita hanya in de kost, hanya numpang. Dalam kesadaran orang numpang kita perlu siap-siap, bahwa kapan saja kita bisa diusir bahkan sebelum kita meminum-minuman yang telah disediakan dan kita buat sendiri. Itu semua resiko dari kenumpangan kita, yang menuntut kita untuk memegang teguh prinsip kesadardirian dan keikhlasan.

Namun lagi-lagi seperti yang dikemukakan diawal, bahwa yang boleh mengatakan hidup itu hanya mereka yang sudah pernah hidup dan bertemu dengan akhir hidup yaitu kematian. Selama belum bertemu dengan akhir hidup artinya mereka masih berproses, menjalani dan menikmati sepoi-sepoi udara. Masih hidup artinya masih bisa atau bahkan belum tahu memilih minuman apa untuk dijadikan efek pada hidupnya. Jadilah benar bahwa Jacques Derrida mengatakan itu tetapi tidak menjadi salah pula kakek tua itu bila sebatas kelakar untuk berkontemplasi. Wallahu A'lam Bishawab


Selasa, 24 September 2013

Kau

Kau yang meniupkan lara kemudian pergi.
Kau yang meniupkan cinta kemudian hilang
Kau yang datang membawa janji.
Dan kau yang pergi tanpa sempat ku bertanya.

Hey angin, kemana kau hempaskan dia pergi.
Hey setan, apa kau menutup mataku untuk tau dimana dia.
Semua makian tidak mengembalikanya.
Kau, menebarkan ancaman.

Aku lalu mengambil wudhu.
Dengan niatku, hadapkan seluruhku kepadanya.
Tanpa kusadari Kau, yang kukatakan Kau.
Adalah Kau, Allah Subhanahuwataala.

Kosong

Halaman itu kini seperti tak terurus, usang, berdebu bahkan tak lagi menampakan kehidupan. Penghuninya telah pergi, berkebun di halaman yang baru, di halaman yang tidak lebih besar namun penuh dengan tanggung jawab.
Saat ini, ketika pemiliknya pulang, ia heran, ia masih tidak habis pikir, halaman rumahnya yang besar mengapa ia biarkan terbengkalai.
Dia kemudian ingat, bagaimana halaman itu seringkali membuat tetangga iri, tetangga bahagia, kawanya bertukar cerita dan orang-orang yang menatapnya penuh dengan tanda-tanda.
Satu persatu dia tata kembali ke tempatnya yang rapi, dia mulai menghidupkan kembali tanaman-tanaman yang sempat layu, dia sepakat pada dirinya bahwa halaman ini adalah halaman yang akan membuka sejarah baru dalam hidupnya.

"orang-orang diluar jahat" pikirnya, ya pikirnya ketika dia tahu bahwa tidak ada yang lebih baik dari halaman rumahnya.
Tidak mewah, tidak besar tetapi bisa menampung seluruh mimpi-mimpi dan angan-angannya. Halaman yang ditinggalkan itu kini mulai rapih, mulai penuh dengan bunga-bunga, sebagian bunga yang telanjur ia bagikan, ia anggap sebagai penghias halaman lain.
Dalam imajinasinya, suatu saat nanti akan dia ceritakan, bagaimana halaman ini, yang dia jaga dan rawat, akan saling menghidupi.
Tentunya hal itu takan berlangsung cepat, dia kemudian terngiang pesan Soekarno.
Dalam sebuah majelis rakyat yang dihadiri ribuan masa Soekarno berujar, bermimpilah setinggi lagi, karena apabila engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.

Halaman itu bukan sekedar halaman tetapi halaman itu telah menjadi dedikasi.
Halaman itu sebenarnya sepucuk surat yang kita taruh dalam hati kita.
Sepucuk surat yang kita janjikan pada Tuhan, tentang baik dan buruk kita, tentang apa yang tidak akan kita ulangi dan mimpi kita apabila nanti kembali.
Surat itu berisi perjalanan hidup, apa yang kita lakukan, yang karena lalainya kita mengakibatkan kerugian, yang karena sombongnya membuat orang terluka.
Dan dalam doa setiap pengirim surat, selalu terselip maksud, agar pembaca mengerti dan memahami atau mungkin bahkan mewajari kesalahan-kesalahan kita dan membesarkan kebaikan kita walau sedikit.

SEMARANG 24 SEPTEMBER 2013.


Selasa, 02 April 2013

Untuk Ais

Malam ini malam Rabu, malam yang apabila bertepatan dengan tanggal kliwon maka akan menjadi baik apabila mengaji, setidaknya itu yang di tulis di dalam primbon jawa. Cuaca kali ini berbeda dari hari kemarin yang turun hujan semalaman. Hari ini lebih bersahabat dengan sinar bulan dan taburan bintang. Penuh keindahan dan memancarkan nuansa kasih sayang yang begitu dalam, itupun masih menurut primbon.
Di waktu dan suasana yang saya nilai tepat ini maka saya menanggapi tulisan sahabat saya Faris Pramadhani Wali. Tulisan yang sesungguhnya sudah saya terima sejak bulan Februari lalu. Secara singkat saya dapat menangkap dan memahami tulisan yang dia kirimkan memiliki makna kegelisahan. Berawal dari kinerja ilmuan yang terkesan tidak mencirikan ilmuan hingga kritiknya terhadap beberapa kebijakan pemerintah.
Saya tentunya tidak memiliki kapasitas untuk mengoreksi apalagi memperbaiki karena saya bukan dosen ataupun korektor. Selain itu saya menilai bahwa tulisan itu adalah bentuk pemikiran apapun isinya. Karena sebuah pemikiran maka kita harus menyikapinya dengan lapang yaitu kita harus menghargai satu sama lainya.
Is, membaca tulisanmu saya jadi teringat akan isi pidato pengukahan Prof. Iriyanto Widisuseno bulan Februari lalu. Diawal dia mengatakan bahwa, andai saja ilmu pengetahuan dan tekhnologi menepati janjinya maka tidak mungkin terjadi kritik yang tajam seperti saat ini. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang berkembang 200 tahun lalu sesungguhnya memiliki misi untuk kesejahteraan manusia.
Saat ini, jauh dari abad ke 18 M, ilmu pengetahuan semakin berkembang namun yang terjadi manusia justru semakin jauh dari kesejahteraan. Ilmu pengetahuan yang di komersilkan, ilmu pengatahuan yang di gunakan untuk menipu bahkan yang paling parah untuk membunuh. Hal ini jelas jauh dari komitmen dan cita-cita awal rencana di kembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Tetapi menanggapi suatu hal dengan menanamkan kesan negatif terlebih dahulu tentunya akan mampu mengurangi objektifitas. Yang pertama soal bab II pasal 2 Kepmen No 232/U/2000, dimana secara tekstual tidak ditemukanya kata “penciptaan”. Tetapi bila kita mau jeli maka ditemukan kata “mengembangkan”, pengembangan tidak bersifat statis melainkan dinamis. Tidak hanya sekedar memperbarui sesuatu yang sudah ada akan tetapi menciptakan apa dari yang sudah ada sebelumnya.
Ini mungkin menjadi persoalan, dimana setiap manusia memiliki persepsi dan cara reaksi sendiri dalam menanggapi sesuatu. Bisa jadi saya yang salah tetapi intinya hanya sebuah penawaran baru dalam memahami bahasa. Intinya tidak ada eigenrichting yang kemudian berujung siapa yang salah dan siapa yang benar. Tentunya itupun akan menyalahi etika ilmuan yang di banggakan oleh Ais.
Lalu kemudian dalam kaitanya oleh pemberdayaan budaya lokal yang secara perlahan mulai terkikis. Padahal banyak pelajaran yang bisa diambil dari budaya lokal yang apabila kita mau mengungkapnya. Seperti contoh-contoh tulisan yang di sebutkan Ais. Penilaian pun kemudian di jatuhkan pada keseriusan pemerintah dalam mempertahkan hal ini.
Pemerintah sesungguhnya telah memberikan kebebasan pada tiap-tiap daerah melalui UU No 32 tahun 2004 tentang otonomi darah. UU itu meliputi banyak hal yang bahkan memberikan kewenangan bagi daerah untuk menentukan kebijakanya sendiri. Intinya adalah hukum di tentukan oleh faktor penal dan non penal, mungkin yang menjadi tidak sesuainya harapan Ais adalah faktor pelaku hukumnya.
Untuk masalah database tanahpun begitu, tidak adanya sinkronisasi data antara satu instansi dan instansi lain. Saya sangat sepakat. Tentunya kita tahu, kepentinganya adalah satu yaitu komersialisi tanah. Dimana yang kecil di besar-besarkan agar mendapat masukan yang besar. Bagian pajak dan BPN tentunya harus bijak menyikapi hal ini.
Di akhir tulisan yang saya kira cukup singkat dan tidak mewakili semua hal, saya ingin memberikan tambahan. Bahwasanya kita terlalu asik berada di zona nyaman. Hal ini kemudian yang menyebabkan keinginan untuk mencipta dan mengembangkan kreatifitas menjadi berkurang. Kita terlalu asik menikmati diri sebagai konsumen dan lupa akan tanggung jawab kita sebagai khalifah tuhan, yang mempunyai tanggung jawab akan peradaban.
Tulisan Ais cukup menarik dan memiliki substansi yang baik. Menarik untuk ditindak lanjuti dan dijadikan koreksi bagi kita bersama. Seperti apa yang Al-Ghazali katakan bahwa manusia yang gelisah adalah manusia yang sedang mencoba mendapatkan ilmu. Tidak ada ilmu tanpa kegelisahan dan tidak ada hal yang lebih baik untuk memperbaharui ilmu selain diawali oleh kegelisahan.
Semoga malam ini indah, salam kopi dan tumpukan tugas. Intinya menciptakan masyarakat baru akan selalu di iringi oleh sikap-sikap yang mana menuntun kita untuk menyesuaikan diri, tujuanya satu, agar di terima oleh perubahan.

Sabtu, 29 Desember 2012

UMK dan Ancaman Eksistensi Middle Class


APINDO kembali memanaskan suasana, setidaknya itulah yang akan di tulis media sepakbola apabila APINDO adalah sebuah klub sepakbola. Akan tetapi ternyata tidak begitu karena APINDO bukanlah tim sepakbola, bahkan sekedar tim olahraga saja bukan. APINDO adalah kependekan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia. Baru-baru ini, APINDO mengeluarkan statement yang cukup menarik, yang mungkin ada kaitanya dengan kenaikan UMK di berbagai daerah, statementnya sederhana “akan ada satu juta pegawai di PHK”.

Ini bukan kali pertama, ini juga bukan sekedar gertakan tetapi mungkin ini adalah fakta. Kita tentunya tahu, Indonesia saat ini telah masuk kategori Efeciency Driven Ekonomi dengan penghasilan 3200 GDP. Dengan alasan itu maka masuklah Indonesia pada bagian Negara layak Investasi. Euphoria ini patut di apresiasi karena sebagian besar sumbangsih kenaikan GDP itu di akibatkan oleh majunya industry kelas menengah. Yang menjadi pertanyaan, siapkah kemudian UMP itu dinaikan?

Empat minggu kemarin, sepertinya, saya baru saja mendengar, barometer Negara Indonesia, Kota Jakarta secara resmi menaikan UMK sebesar 2,1 Juta perbulan. Tidak ayal, hal ini kemudian membuat iri sebagian pekerja di Kota-kota lain. Dimulailah aksi turun kejalan dari para buruh, mereka berbondong-bondong mogok kerja bahkan rela ‘memboikot’ perusahaan. Efeknya tidak tanggung-tanggung, sebagian perusahaan mengalami kerugian hingga bermilyar-milyar.

Kemudian dengan alasan itu munculah statement akan terjadi PHK hingga 1 juta pegawai di tahun 2013. Ini bukan tidak masuk akal, bayangkan saja usaha kecil yang memiliki profit tidak lebih dari 15 juta dengan 5 karyawan. Setidaknya mereka harus rela mengeluarkan uang 10 juta untuk sekedar membiyai pegawai, belum lagi di kurangi biaya produksi serta listrik dan tetek bengek lainya. Mungkin setelah di pangkas-pangkas apabila irit, perusahaan itu hanya akan mampu mendapatkan profit 1 juta atau bahkan defisit. Apabila telah kolaps, jalan satu-satunya mestilah PHK.

Kenaikan UMK apabila di kacamatakan perusahaan yang sudah besar dan mapan mungkin bukanlah menjadi suatu masalah besar. Yang perlu di catat dan di pertimbangkan kemudian adalah Middle Class, yang baru memulai usaha dan masih kebingungan kemudian di terapkan aturan yang sama. Analoginya sederhana, anak singa yang kecil tidak mungkin di berikan rusa besar sama seperti singa yang telah gagah bertarung. Dan di Indonesia, anak singa yang kecil itu lebih banyak dari singa besar.

Artinya kemudian, apabila pemerintah ingin tetap concern pada program pemberdayaan Middle class, janganlah membunuh kelas menengah tersebut. Pemerintah harus memiliki insting dan ‘zhe’ atau yang dalam ajaran Konficius diartikan sebagai kebijaksanaan. Tidak salah memang apabila maksudnya memacu semangat kelas menengah untuk meningkatkan produksi dan mampu bersaing, tetapi caranya tidak dengan UMK karena itu dinilai terlalu berat. Maka perlulah pembagian aturan UMK untuk kategori usaha kelas atas dan kelas menengah.

Saya termasuk yang setuju dengan UUD 45 pasal 28  tentang kesejahteraan rakyat, namun apakah cara UMK ini adalah jalan satu-satunya yang justru terkesan membuat pemerintah lepas tangan. Disaat semangat naik lalu pemerintah memanfaatkan kebangkitan role model entrepreneur ini sebagai solusi cepat peningkatan kesejahteraan. Yang di takutkan kemudian adalah PHK besar-besaran tadi tidak sekedar isapan jempol dan justru menjadi dilema yang baru.

Hal yang perlu di perhatikan lagi adalah teknik pelarian yang dilakukan perusahaan. Daripada mengambil pusing maka mereka konsentasi pada bidang kompetensinya. Contohnya Bank konsen dengan kompetensinya di bidang-bidang keuangan saja dan UMK untuk pegawai keungan saja. Tentunya kita tahu, sisanya mereka limpahkan pada pengadaan jasa outsourcing yang tentu biayanya tidak lebih mahal. Inilah yang nantinya menimbulkan urusan yang baru, outsorcing menuntut kesejahteraan, akhirnya terjadilah tumpang tindih aturan.

Ini menjadi PR kita bersama untuk mengatasi problem besar yang sedang menanti kita di depan, di penghujung 2012. Formulasi aturan yang tepat yang tidak memberatkan dan tidak juga terlalu lemah adalah sangat teramat penting. Intinya satu, agar middle class tetap bisa bersaing dan maju melangkahkan Indonesia ke jagat lima besar perekonomian dunia. APINDO pun harus mampu memberikan solusi pada pemerintah sebagai penyelesaian yang bijak. Apabila tidak segera di temukan solusinya, ya selamat jalan, mereka (investor asing) pergi ke Negara lain.

Senin, 17 Desember 2012

Ketenangan









Jika selama hidupmu berbuat jahat maka kematianmu tidak tenang begitupun tidurmu, jika keseharianmu tidak baik kaupun tidak akan nyenyak dalam tidurmu.

Dari rintik hujan dan angin yang sejuk semilir menghiasi malam. Dari situ juga muncul kedewasaan dan berbagai macam ketenangan. Hikmah, syahdu dan renungan mengikat erat dalam balutan suasana dinginya malam. Ada yang menganggap suasana seperti itu adalah suasana berkah Tuhan. Suasana dimana kita di berikan kebebasan untuk menghakimi diri sendiri, menertawakan kebodohan hingga menangisi kesalahan.

Ketenangan itu bukan soal mempertanyakan masalah dengan pertanyaan, mengapa tuhan tidak adil? Tetapi ketenangan adalah renungan, apa yang hendak Tuhan katakan melalui masalah?.

Yang kemudian menjadi persoalan adalah, untuk apa sebenarnya ketenangan? Bukankan kita lebih suka duduk sambil bergurau bersama teman di luar. Bukankah kita lebih senang menaikan urat emosi, mendewakan nafsu memakan sesama. Bukankah kita lebih nyaman bergairah, memacu waktu mengejar segala macam pernak-pernik dunia. Setidaknya sebagian di atas pengalamanku dan pengalaman kita bersama.

Kadang-kadang kita di buat lupa dan bertindak tanpa pikir panjang. Tak terkecuali ketika kita berlari, membahu dan memeras keringat guna memenuhi hasrat duniawi. Apapun, dari mulai hal yang menyulitkan bahkan hal-hal yang kotor kita lakukan, intinya satu hasrat ‘ingin di nilai lebih’. Hal-hal itu tentunya memiliki satu tujuan yaitu agar kita hidup dengan tenang. Tenang karena materi terpenuhi, tenang karena tidak merasa lapar, tapi apakah betul itu yang dinamakan ketenangan.

Amerika, sebuah negara yang besar, negara yang kita kenal dengan julukan adi daya. Amerika juga negara yang kaya, yang secara ekonomi meyakinkan walaupun saat ini terlihat sedang jatuh. Secara lahiriah seharusnya Amerika adalah negara yang tenang, yang karena segala halnya telah terpenuhi. Namun nyatanya kita tahu, pelbagai masalah justru merundung Amerika dan bisa di bilang Amerika adalah negara yang paling tidak tenang karena selalu menjadi ancaman pertama terorisme.

Ancaman yang membuat tidak tenang itu ternyata tidak hanya muncul di dalam negeri akan tetapi di luar negeripun begitu, dimana Amerika menempatkan kedutaan besarnya di situ ancaman mini itu di gencarkan. Seperti di tulis pada artikel federal times pada bulan April tahun 2005, bangunan kedutaan besar Amerika saat ini harus memiliki pelindung 30 meter dari gedung kedutaan, pos penjagaan di berbagai fasilitas, gerbang anti dobrak bahkan bangunan di wajibkan anti ledak. Ini sungguh berbanding terbalik dengan kedutaan besar negara yang justru baru masuk kategori berkembang, mereka sederhana dan nyaman, mencirikan suasana ketenangan.

Ternyata materi melimpah, segala macam hal terpenuhi belum mampu memberikan jawaban atas ketenangan. Kesibukan, bepergian tiap waktu dan seolah dinila kuat tidak mampu juga memunculkan ketenangan. Artinya, ketenangan lebih mahal bahkan dari sekedar materi. Ketenangan lebih di butuhkan dari apa-apa yang kita kejar yang dengan berbagai macam upaya kita lakukan. Bahkan dalam kitab suci Al-Qur’an di jelaskan bahwa sebaik-baik sikap adalah sikap yang tenang (16:106)8).

Di paragraf paling atas sudah aku jelaskan yang intinya adalah bahwa ketenangan itu tidak di ciptakan dari hal mahal. Ketenangan di ciptakatan dari suasana yang syahdu, nyanyian burung bahkan kesunyian. Ketenangan sejatinya di bagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama ketenangan bersikap dan yang kedua adalah ketenangan hati. Kedua ketenangan ini di capai melalui satu hati yang bersih yang masih positif thingking. Berikut ini akan coba saya bagi beberapa keadaan atau sikap yang akan membuat kita tenang, yaitu :

Bersyukur :

Tentunya kita pernah mendengar Firman Tuhan yang mengatakan bahwa “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat padamu..”. Firman ini tidak hanya menerangkan tentang pelipat gandaan rezeky tetapi juga jaminan. Dengan adanya jaminan tuhan ini kita tidak sepantasnya gelisah, takut atau bahkan mencoba mencari lebih dengan cara yang membuat kita bingung. Syukur mencerminkan kesabaran, keikhlasan dan keduanya adalah unsur dari ketenangan.

Berbuat Baik :

Memiliki satu musuh itu lebih banyak daripada memiliki seribu teman. Kata-kata ini begitu sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam. Apabila kita hendak mencari ketenangan hakiki, hal pertama yang harus di lakukan adalah berhenti berbuat jahat pada orang. Sekali saja kita dilabeli ‘musuh’ maka saat itu juga kita tidak ada pernah merasakan ketenangan. Gelisah, takut diserang dan cenderung mencari perlindungan.

Jujur :
                                 
Jika ada hal yang paling membuat kita gelisah tentu jawabanya adalah berbohong. Hal yang paling menghantui dan membuat hidup tidak nyaman adalah berbohong. Semua tentu setuju bukan. Kegelisahan dan ketidak nyamanan itu membuat hidup kita tidak tenang, alhasil kita pun menutupinya dengan berbohong dan berbohong lagi. Jadilah yang apa adanya, jujur dan tidak melakukan hal yang menjerumuskan kita untuk berbohong karena berbohong membawa kita jauh dari ketenangan.


Sabar :

Kita tidak bisa memprediksi tentang apa yang akan terjadi di depan. Bisa saja tiba-tiba yang kita pikirkan baik-baik itu lenyap begitu saja. Hal yang mampu mengurangi kekecewaan itu adalah satu, yaitu bersabar. Sabar membuat kita tidak terburu-buru dalam memutuskan, sabar membuat kita tahu mengapa hal buruk terjadi pada kita. Dengan sabar, hal-hal yang melemahkan mental itu bisa di diskualifikasi sedari dini.

Ada sedikit cerita tentang bagaimana seseorang menyelesaikan sebuah masalah tanpa ketenangan. Mencari jalan pintas, tidak sabar dan kemudian tindakanya terkesan tidak masuk akal.

Suatu hari di Desa Grubugan sedang kedatangan inspeksi mendadak dari Kepala Desa. Tiba-tiba langkah kaki Kepala Desa itu terhenti melihat tingkah aneh seorang pemuda yang di kenal bernama Anwar.

“sedang apa Pa Anwar, sepertinya anda kebingungan” Tanya Pa Kades
“iya pak, uang saya hilang” jawab Pa Anwar
Sambi mengusap wajah, Pa Kades kemudian kembali bertanya “loh, memang hilangnya dimana?”.
“di bawah kasur pak, di kamer” kata Pa Anwar santai
Dengan wajah bingung Pa Kades kembali bertanya “kenapa mencari di luar Pak?”
Pa Anwar dengan santai menjawab “karena di luar terang Pak”.

Cari dan ciptakanlah ketenangan dengan cara-cara yang benar-benar membuat tenang. Jangan membuat gelisah di dalam diri. Ketenangan bukan materi, tetapi ketenangan adalah cerminan sikap kita. Tentukan segala langkah dan pilihan dengan bijaksana. Bila sekiranya kita tidak mampu, lebih baik kita tidak lakukan. Tetap sederhana dan mendekatkan diri pada pemilik hidup karena hanya itulah cara untuk tenang yang hakiki.