Jumat, 23 November 2012

Menciptakan Kebahagiaan


"Commencons pa I’mpossible"
Marilah kita mulai dengan yang tak mungkin (Deridda)

Kata-kata itu terdengar rancu atau bahkan tidak sama sekali. Dunia begitu cepat berkembang, segala kabar berita dengan mudah di akses serta di nikmati oleh khalayak luas. Tidak hanya sesuatu yang sifatnya memang konsumsi publik, akan tetapi aib sekalipun di sebar luaskan. Inilah era yang kita sebut dengan era globalisasi, era demokrasi, era dimana setiap manusia di beri kesempatan untuk bebas berpendapat.

Indonesia adalah negara yang besar, kaya raya bahkan saat ini telah masuk kategori grade invesment. Grade invesment itu sendiri memiliki pengertian bahwa suatu negara atau perusahaan telah memasuki kategori negara yang mampu melunasi hutangnya. Dengan berada pada kategori ini, indonesia telah dikatakan aman dan layak untuk para investor menanamkan investasinya. Dengan keadaan ini, era globalisasi pun tentunya bukan menjadi masalah lagi bagi Indonesia. Indonesia siap bersaing dan menjadi negara yang maju.

Secara tidak langsung, suka atau tidak, mau tidak mau globalisasi telah merubah pola pikir atau pandangan masyarakat tentang arti dari sebuah kemajuan. Kemajuanan saat ini di artikan dengan kekayaan, kemewahan yang tentu ekonomi menjadi imamnya. Atas dasar itu maka pembangunan pun di lakukan, gedung-gedung tinggi, Hotel dan Mall di dirikan, yang tidak lain hal itu di lakukan untuk menunjukan bahwa sebuah negara telah maju dan modern. 

Yang menjadi pertanyaan, apakah kemudian dengan sistem demokrasi, ekonomi yang telah meningkat, serta merta mampu membuat masyarakatnya hidup layak dan bahagia?

Kehidupan dan sistem persahabatan di seluruh dunia, baik di Indonesia atau Amerika, baik dulu ataupun sekarang, tidak dapat di lepaskan suatu sistem kasta, yang terdiri dari kasta tinggi, rendah. dan tengah. Tentunya hal ini pula lah yang cenderung membuat era globalisi bisa di nilai negatif apabila tidak di maknai secara positif. Keinginan cepat kaya dan meningkat kasta membuat sebagian atau bahkan keseluruhan masyarakat menjadi buta.

Dengan menghambakan materi, masyarakat cenderung berbuat apapun untuk menjadi kaya dan bertindak tidak sesuai dengan etika. Keadaan ini kemudian menuntun masyarakat untuk berpikir negatif dan tidak lagi bahagia. Satu sama lain saling curiga, kepercayaan hilang kemudian kehidupan individual pun di kedepankan. Tidak ada lagi gotong royong dan satu sama lain berpikir untuk hidupnya masing-masing demi kepentinganya.

Perlu di ketahui, setiap tahun indeks kehidupan layak di Indonesia cenderung terus dan terus menurun. Dan ternyata saat ini sebuah kemajuan dan kehidupan yang layak tidak lagi di tentukan oleh materi. Kemajuan dan kehidupan yang layak di tentukan oleh kebahagian. Indonesia memang masih termasuk sebagai negara yang indeks kebahagiaanya tinggi tetapi kehidupan layaknya justru menurun seiring dengan pembangun.

Ini sebuah fenomena yang mengherankan, yang kemudian mengundang tanda tanya baru. Masyarakat sejujurnya mulai tidak lagi menyukai persaingan yang omong kosong dan membuat sakit hati. Kehidupan mewah yang berlebih pun ternyata justru menyimpan kegalauan tersendiri. Dengan pemaparan sederhana di atas maka saya mengajak kepada pembaca untuk mari membuat kebahagiaan secara sederhana dengan efek yang signifikan.

Jumat, 02 November 2012

Ibrahim

Ibrahim dalam kasusnya di Bukit Muria.....

Seorang ayah, bukan binatang bukan iblis tetapi manusia. Melewati beberapa kisah kehidupan dalam pencarianya mengenai Tuhan akhirnya dia taat. Taat pada wujud yang tak pernah dia lihat sebelumnya, taat bukan pada batu atau matahari yang pernah di sangkanya sebagai yang patut di taati. Taat pada dzat pemilik alam dan pencipta kehidupan baik dunia maupun setelahnya.

Selayaknya rumah tangga, membina kasih dengan penuh rasa sayang adalah hal yang indah. Namun keindahan itu tiada artinya tanpa kehadiran seorang penerus yang di harapkan dapat melanjutkan cita-citanya. Kehadiran itu adalah kehadiran seorang anak yang pada akhirnya menjadi titpan Tuhan untuk di didik dan di lindungi.

Begitupun Ibrahim.

Ketaatanya pada Tuhan adalah suatu hal yang absolut dan tidak ada yang dapat menandinginya selain itu. Banyak hal yang telah dia lalui sebelum akhirnya begitu percaya pada Tuhan. Tuhan yang menurutnya satu, Tuhan yang menurutnya maha besar dan Tuhan yang menciptakan malam dan siang.

Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika ketaatanya itu mengganggu ketenanganya. Ketataatan itu membuaatnya harus merelakan apa yang menjadi dambaan setiap madu kasih. Kala itu Tuhan menuntunya melalui mimpi buah hati, kurang lebih pesan itu menyiratkan untuk membunuh. Bukan setan ataupun musuh tetapi membunuh anaknya sendiri.

Tak dapat di  bayangkan, bagaimana begitu bercampurnya rasa menanggapi bisikan itu. Pertanyaan keyakinan pun muncul bersautan hingga pada akhirnya ‘iman’ menuntunya untuk tetap taat. Dengan penuh percaya diri dan yakin, dia membawa buah hatinya yang dia beri nama Ismail menuju Bukit Muria. Di tidurkan anaknya di atas batu panjang dan di ayunkan golok tajam menuju leher anaknya.

Belum sempat terjadi, Tuhan kembali membisikinya dengan penuh rasa haru “ibrahim. Ibrahim, jangan kau bunuh anak itu”. Seketika tanganya terhenti dan di tangguhkanlah niatnya. Tuhan ternyata mengujinya, tuhan memberinya makna dan pelajaran. Tidak sampai disitu, Tuhan memintanya berhenti dan menukar dengan seekor kambing.

.............

Disini, di dalam kisah yang secara singkat aku tuliskan setidaknya makna-makna itu terasa.
Mungkin ada yang menangkapnya tentang sebuah ketaatan, lainya menganggap ini sebuah pengorbanan tetapi di sisi lain ada yang lebih dalam yaitu kemanusiaan. Tuhan menitipkanya hati, buah hati dan bumi beserta isinya. Hati yang menuntun kehidupanya, buah hati yang menjadi bagaimana representasi keinginanya dan bumi yang menjadi tanggung jawabnya.

Tuhan menguji ketaatanya, untuk membuktikan bahwa Ibrahim begitu menjaga hatinya dan keyakinanya “laila ha ilallah” yaitu menjaga tiada Tuhan selain Allah. Dengan anaknya yang tidak lain tidak bukan adalah manusia, Ibrahim di ingatkan menjaga dan melindungi serta mengasihi. Lalu di sebuah Bukit nan damai, Ibrahim merasakan ketenangan alam dimana Tuhan hadir untuk mengingatkanya.

Seperti apa yang tersirat di dalam kita suci Al-Qur’an, bahwa semua kejadian yang kamu alami adalah tidak lain tidak bukan agar kamu berfikir. Afala tatafakkarun..... Afala tubsirun

Kamis, 18 Oktober 2012

Ruang di Antara Kebenaran

Dua puluh empat jam adalah waktu yang normal dimana bumi berputar menurut rotasi. Hari ini juga, adalah hari dimana saya mengingat begitu banyak hal untuk kedekatan-kedekatan yang akhirnya menjadi lelucon bagi diri sendiri. Dahulu sempat berfikir bahwa ketika melakukan sesuatu keharusan mendapatkanya adalah mutlak tetapi hal itu bergeser menurut kebutuhan. Bukan sesuatu yang naif tapi sesungguhnya di situlah kehidupan yaitu menerima hal-hal yang tidak bisa kita kontrol menjadi sesuatu yang indah.

Seorang ibu bercerita pada saya tentang pembantunya yang malas-malasan dan tidak sesuai dengan harapan. Dia susah payah mencari gaji, memberikan servis yang baik hanya agar pembantu itu bekerja sesuai keinginanya. Lalu saya bilang, dengan maksud bukan menuai tetapi bertukar ide. Seorang pembantu yang rajin hanya di dapatkan karena dia rajin. Seorang pembantu yang tidak rajin ya memang karena dia begitu, kalau dia rajin mungkin telah menjadi manager.

Yang kita nilai adalah yang menurut kita seharusnya seperti itu bukan melalui pendalaman yang bijak. Logika mengajarkan kita dua hal, yang pertama adalah istilah dan kedua adalah pernyataan. Istilah itu menjelaskan tentang sejauh mana pengetahuan seseorang itu memahami sesuatu hal. Sedangkan pernyataan adalah buah dari istilah yang telah di manifestasi oleh pengetahuan dan pengalaman.

Ada banyak orang menganggap tempat dan ruang yang di singgahi bahkan di tempati oleh seekor kecoa dalah tempat yang hina. Maka dari itu tidak jarang kecoa di jadikan lelucon untuk mengejek dan menghinakan seseorang yang bertindak bodoh. Coba untuk sedikit di pahami, kecoa berada di situh bukan karena dia hina, bukan pula karena dia tidak bisa mencari tempat yang layak. Kecoa berada di situh karena ya memang di situlah tempatnya.
 
Pergeseran pemikiran hanya mungkin terjadi bila kita mau untuk tetap positif dan bertindak dengan kontrol yang tenang. Bagi pemuda yang jatuh cinta dan merasa sulit untuk mengungkapkan perasaan susungguhnya hanya memiliki satu problem yaitu belum siapnya di tolak. Jika dia tenang dan tau segala resiko yang membuat pesimis padahal dia bisa lebih banyak kesempatan untuk positif. Kesempatan itu terjadi apabila dia tanamkan dalam hatinya keyakinan bahwa kemungkinan menyatakan cinta adalah di tolak.

Mungkin ini satu lagi atau menjadi titik lemah seseorang dimana dia merasa marah besar. Situasi ini adalah situasi menunggu, bagaimanapun keadaanya hal bahagia ataupun sedih bila konteksnya menunggu adalah sesuatu yang menjengkelkan. Kesalahanya adalah satu, yaitu menganggap sesuatu itu adalah hal yang harus di tunggu. Padahal yang di tunggu hanya punya dua kemungkinan yaitu hadir atau tidak hadir. Jangan pernah menganggap sesuatu yang sudah bisa di prediksi sebagai hal yang di tunggu maka kita akan tenang.

Tulisanya singkat dan memang sedikit ngawur. Percayalah bahwa hanya dengan memberikan ruang pada kebenaran dan kekeliruan maka hidup kita akan bahagia. Di antara kebenaran itu mungkin saja terdapat kekeliruan dan di sela-sela kekeliruan mungkin saja ada benarnya. Jangan pernah berhenti bertanya, jangan pernah berhenti menjawab karena yang bisa mejawab pertanyaanmu hanya dirimu sendiri jwaban orang lain hanyalah kunci yang membuka pintu pikiranmu.

Merubah Pola

Perubahan, sebuah kata yang memiliki makna begitu luas dengan bayangan-bayangan akan hal baik terjad di depanya. Bagi kaum reformis mereka lebih familiar dengan istilah revolusi. Sekarno menyebutnya dengan emne umgestaltung von groundauf atau perubahan dari dasar sekali. Islam pun memiliki istilahnya sendiri yaitu hijrah perubahan dari keadaan yang buruk menuju ke keadaan yang lebih baik.

Proses menuju perubahan ini memiliki beberapa tahap yang pertama mungkin adalah pemahaman materi, kedua perencanaan dan lalu di lanjutkan dengan tahap pelaksanaan. Tiga komponen itu menjadi hal-hal dasar yang umum, begitu mudah di pahami dan biasa di lakukan. Bila kesepakatan terjadi maka majulah bersama-sama menuju tahap pelaksanaan yang lebih mengedepankan konsistensi.

Tahap pelaksanaan menjadi yang paling krusial, karena selain perlu mendapatkan persetujuan dan knsistensi juga harus mampu di terima leh target. Satu saja tahapan tidak sesuai rencana maka rusaklah segala-galanya. Ini berarti menuntut kreatifitas, ketabahan hati dan kebesaran pemimpin untuk mampu mengarahkan anggota-anggotanya. Hal itu di sebabkan karena pemimpinlah yang nantinya maju di garda terdepan dan otomatis harus mengetahui kondisi.

Saat ini tidak jarang tata cara dan keinginan merespon di dahului dari menyalahkan kondisi bukan kenapa kondisi itu dapat terjadi. Pola ritme menyalahkan keadaan itu secara umum lalu melebar menuju dimensi yang di sebut logika dan mengutamakan emosi. Dimana hal-hal konservatif di lakukan dengan cara-cara yang sama persis dengan masa lalu yang mungkin sudah tidak relevan lagi saat ini.

Apabila sedikit saja pernah belajar ekonomi mungkin kita kenal dengan istilah sunk-cost atau di artikan dengan biaya tenggelam. Hammond, Keeney dan Raiffa, tiga orang psikolog ternama ini menstimulasikan istilah itu menjadi sunk-cost trap dalam istilahnya sebagai sebuah pengambilan keputusan. Dalam konteksnya yang berbeda, sunk-cost ini menjadi sebuah keputusan yang di keluarkan dan selau berputar-putar begitu saja padahal hal itu menjadi tak berguna dan bias.

Saat ini agen-agen perubahan di daerah bila di nilai dari kacamata sosilogis mungkin di simpulkan egois. Memiliki visi dan misi tetapi tahap pelaksanaanya lalu dengan cara yang kembali seperti itu dan seperti itu yang akhirnya di istilahkan sunk-cost. Ketika panadol tak kunjung membuat kita sembuh dari sakit kepala maka solusinya adalah ke dokter atau berganti obat bukan terus-terus meminum panadol.

Harus ada cara baru yang lebih efektif dan mengena ke tujuan perubahan. Sakit hati karena kita harus menemui apa yang seharusnya kita lawan bukan hal yang masalah karena dalam setiap perjuangan hal-hal seperti itu wajar. Pola pikir dan kecerdasan emosional saat ini harus lebih di utamakan ketimbang pemaksaan kehendak yang malah justru stagnan.

Tiga psikolog di atas tadi setidaknya memberikan kita pelajaran untuk kreatif dan mencoba alternatif lain. Kita harus berbesar hati untuk menerima segala konsekuensi yang mungkin hal itu terjadi karena masalah sepele perihal komunikasi. Perubahan adalah sebuah mimpi besar yang menjadi percuma ketika cara-cara lama yang tidak efektif di pegang teguh dengan ke egoisan membabi buta. Harus seperti itu harus seperti itu yang padahal sunk-cost !!

Kamis, 27 September 2012

Lagi-lagi (IBU)

Kesalahan atau mistakes adalah hal yang wajar, dimana saat itu manusia di ingatkan oleh tuhan bahwa dia adalah manusia. Banyak hal yang tidak kita sukai yang tentunya banyak hal pula yang orang lain tidak sukai. Bila di kumpulkan menjadi satu, maka ketidak sukaan itu akan menumpuk dan terpecah belahlah menjadi apa yang di sebut kepentingan. Akhirnya kita pun sepakat bila hidup selalu berputar dan karenanya semakin ke depan kita akan menyadari bahwa kebijaksaan hidup di atas segalanya di muka bumi ini.

Ibu, wanita yang melahirkan dan rela menyusahpayahkan hidupnya demi aku pernah berkata "yang terpenting adalah menyadari kamu itu siapa dan kamu adalah kamu". Kata-katanya singkat dan mengalir begitu saja sebelum akhirnya memiliki arti dan makna yang begitu merubah kehidupan pribadi saya. Ibu memang selalu begitu, menyempatkan waktu menaruh benih-benih kebaikan dengan cara yang halus. Mungkin perasaan melankolis dan ikatan batin saja pikirku saat itu.   







Dalam kesempatan lain, suasanya mungkin saat itu terlalu lelah, aku baru pulang sekolah dan mendapati pakaianku acak-akan. Sebagai manusia yang menurut Plato selain memiki akal dan keberanian juga memiliki nafsu, aku marah. "Bu, Bi Inem gimana sih, itu bajunya acak-acakan nyetrikanya ga bener !" marahku saat itu, oya waktu itu aku masih SMA kelas dua dan emosional sepertinya. Ibu diam dan menjawab "kalau dia sekolah dan mendapatkan pendidikan yang baik, dia tidak bekerja disini dan pasti disiplin".

Kata-kata ibu membangkitkan hati yang saat itu sedang di belenggu emosi. Ibu menambahkan "belajar memahami dan berpikir positif", dalam suasana yang panas ternyata ibu saat itu sedang menyiramkan air yang lebih dari banyak untuk memadamkan api. Aku tidak bisa marah, aku diam dan aku melamun, saat itu aku hanya bisa berpikir "oh ini yg dulu ibu maksud dengan 'harus sadar siapa diri kamu'". Dari kejadian itu pemikiranku terbuka dan dengan penuh rasa malu aku mencoba memaafkan kesalahanku sendiri.

Perubahan akan kesalahan nyatanya tidak bisa hanya di dapatkan dari pendidikan karena pendidik hanyalah sebatas saat kita di sekolah. Yang mempengaruhi perubahan adalah diri kita sendiri dan terutama adalah lingkungan. Kontruktivisme, sebuah paradigma yang intinya menjelaskan bahwa perubahan itu di dasari pengalaman itu memanglah benar. Manusia adalah makhluk pencontoh, setiap sikap dan perilakunya berdasarkan contoh yang akhirnya dikenal dengan pengalaman.

Pendidikan mengajarkan kita teori dan lingkungan adalah bentuk aplikasi. Ketika kita melihat teman kita menyelesaikan masalah dengan berkelahi suatu saat ketika masalah yang sama menimpa kita maka kitapun akan berkelahi. Setidaknya itulah yang saya alami sekalipun pendidikan mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Sebelum pada akhirnya berubah karena ternyata ada hal yang lebih baik selain berkelahi untuk menyelesaikan masalah dan tentu itu dengan mencontoh perilaku lainya.

Sedikit cerita fiktif tentang Bapak Umar, seorang guru PPKn di salah satu sekolah swasta. Hari masih gelap namun ia sudah terbangun karena harus menuju kota untuk mengambil uang pensiunan Ayahnya. Jarak rumahnya dengan kota mungkin sekitar 50 km, hal itu yang menuntutnya untuk bangun pagi agar tidak terlambat sampai di bang. Dia melaju motornya dengan kencang hingga tak sadar ban belakang motornya bocor. Dia kebingungan dan mencoba mencari tambal ban dengan menuntun motornya.

Beruntunglah dia karena tidak jauh dari itu dia mendapati tempat tambal ban. Tak di duga, ternyata kebetulan tukang tambal ban itu adalah muridnya ketika di sekolah dulu. Dengan lega akhirnya menitipkan motornya dan melanjutkan perjalan menuju kota menggunakan metro mini. Di atas metro mini pun dia dimudahkan, dengan membawa uang secukupnya dia di antar kke depan Bank dengan gratis. Kebaikan yang di dapatkan itu tidak lain tidak bukan karena supir dan kernetnya adalah juga muridnya ketika di SMA dulu.

Hari sudah semakin siang, dengan sedikit penyesalan dia terlambat sampai di Bank. Di dapati antrian yang begitu panjang dan memakan waktu. Secara perlahan seorang pria yang di ketahui sebagai manager Bank itu menepuk punggungnya. "Sini pak, bapak duluan saja" kata pemuda yang saat ini menjadi manager itu. Dia terkejut ternyata Manager Bank itu murid kesayanganya ketika di SMA dulu. Dengan bantuan muridnya dia dapat antrian lebih dulu dan bisa segera pulang mengambil motornya.

Namun naas, di tengah jalan dia di rampok, tas yang berisi uang sepuluh juta itu di bawa lari oleh pencuri. Dia bergegas melapor polisi yang kebetulan adalah muridnya. Karena bakti sebagai murid terhadap gurunya, polisi itu dengan cepat menangkap rampok tersebut. Ketika di kantor polisi, Pak Umar kaget bukan main ternyata rampok itu pun adalah muridnya ketika SMA di desa dulu. Akhirnya dia memohon untuk melepaskan muridnya ini dengan jaminan dirinya sendiri.

Cerita singkat ini membuat kita sadar bahwa tidak mudah membuat orang untuk menjadi sempurna. Murid Pak Umar yang di ajar dengan cara yang sama ternyata tercetak menjadi pribadi yang berbeda dari manager hingga perampok. Yang bisa kita pelajari adalah satu hal, kebaikan Pak Umar, ketulusan Pak Umar dan kasih sayang Pak Umar ketika menjadi guru mereka membuat mereka baik kepada Pak Umar bagaimanapun keadaanya. Pak Umar tetap sayang dengan muridnya yang seorang perampok maupun Manager.

Di lain kesempatan ibuku juga pernah mengatakan "kita tidak merubah seseorang sesuai keinginan kita tetapi kita bisa merubah pikiran kita tentang seseorang" di melanjutkan "jeleknya dia karena dalam pikiranmu dia jelek seandainya dalam pikiranmu dia baik maka dia baik". Ibu memang selalu melihat sesuatu dengan hatinya dan hatinya saat ini mulai masuk kedalam hatiku. "Apa salahnya berbuat baik dan terus berbuat baik karena orang lebih mudah melupakan kebaikan dan lebih gampang mengingat kejahatan, tumpuk ajah baiknya yang banyak" (IBU).

Minggu, 09 September 2012

Sore di Panti

"Entrepreneurs itu soal bagaimana membuat yang biasa menjadi luar biasa" (Rhenald Kasali)

Sore, kala itu cuaca sudah sedikit sejuk dan mataharipun mulai terbenam. Saya di bantu teman saya yang bernama Nanda sedang mempersiapkan 42 nasi bungkus. Nasi itu nantinya di bagikan ke Panti Asuhan yang terletak di Jl. Dr Wahidin., Cirebon Dengan terburu-buru akhirnya semua berhasil kami letakan dengan rapih dan mulai bergegas berangkat karena teman-teman yang lain sudah terlebih dahulu berada disana.

Sesampainya disana ternyata teman-teman yang lainpun masih menunggu di depan, alasanya satu, mereka ingin masuk bersama-sama. Akhirnya kamipun bersama-sama masuk menemui Ibu Nani selaku ketua panti yang memang sebelumnya telah kabari. Ibu Nani dengan ramah menyambut kami dan menunjukan jalan untuk bersama berleseh-lesehan dengan anak panti lainya. Tak disangka ternyata antusiasme yang begitu hangat terpancar dari wajah-wajah suci yang telah lama menanti kehadiran kami.

Acara ini kami buat memang tujuanya untuk merayakan ulang tahun organisasi kami yang kedua. Nama organisasi kami adalah SOLIDARITAS atau kependakan dari Konsolidasi, Kepedulian dan Kreatifitas Anak Bangsa. Sore itu hanya beberapa yang bisa hadir dan bertatap muka dengan anak Panti. Sebut saja, Saya, Nanda, Benny, Ridwan, Arif, Boim, Gibran dan Pengkuh. Target kami saat itu ingin sharing dan berbagi pengalaman untuk memotivasi adik-adik kami di Panti.

Adzan Maghribpun berkumandang, anak-anak panti yang tadi sedang bercanda tawa bergegas mengambil air Whudu. Di pimpin Pak Sholeh sebagai imam, kita semua berbaur dan sholat dengan khusyu. Suasana sore itu belum cukup serius atau mungkin memang tidak di konsep serius. Terlihat dari beberapa anak laki-laki panti asuhan yang bisa bebas tertawa dan bersenda gurau dengan kami. Yang menarik bahkan ketika Sholatpun sebagian banyak yang terlambat karena sibuk bercanda.

Setelah sholat berjamaah tibalah saat dimana kita sharing pengalaman dan berbagi rasa. Saya di situ berlaku sebagai Moderator memperkenalkan diri dan sudut pandang Solidaritas. Setelah selesai lalu mempersilahkan Benny selaku ketua untuk memberikan sambutanya dan pemikiranya tentang kondisi sosial. Sebelum akhirnya ibu yang kami sebut dengan Ibu gaul mewakili panti asuhan ikut memberikan wejang mewakili panti asuhan.

Acara mengalir dan sungguh suasanya mengandung unsur kekeluargaan yang erat. Beberapa anak berani untuk bertanya dan bahkan menertawakan tingkah kami yang belum profesional. Mereka termotivasi dan keinginanya terlihat besar. Sebagian anak bersuara lantang menunjukan bahwa dia ingin seperti kita. Menarik memang, karena kita sendiri masih terlihat lemah dan kaku. Acara mendadak seperti sebuah seminar yang memang suasanya berubah sedikit serius.

Tibalah pada kesimpulan. Saya mencoba untuk berbagi tips untuk tetap semangat dan kuat menghadapi hidup. Tips itu terdiri dari lima elemen yang memang selama ini menghiasi hidup saya secara pribadi. Yaitu, kemauan, lakukan, mainkan, tuntaskan dan serahkan. Dimulai dari yang pertama,

A. Kemauan

Untuk memulai sesuatu yang perlu kita miliki adalah kemauan. Dengan kemauan yang kuat insya Allah semua elemen dalam tubuh ikut bergerak sesuai dengan apa yang di perintahkan. Kemauan juga yang memotivasi kita untuk melakukan sesuatu. Sun Tzu pernah berkata bahwa dengan kemauan bakat akan bisa dikalahkan. Orang yang memiliki kemauan bisanya bekerja lebih keras dari yang berbakat karena mereka mau untuk mewujudkan mimpinya.

B. Lakukan

Kemauan saja belum cukup karena kita tau orang lainpun selalu memiliki kemauan tapi kadang lengah. Maka dari itu kemauan kita wujudkan dengan segera melakukan. Melakukan apa-apa saja yang mampu membantu kita mewujudkan kemauan kita. Kita ingin berwirausaha maka cari cara agar kita segera bisa berwirausaha. Lakukan proses menabung, mengumpulkan uang dan mencari modal. Bahkan saat ini beradu ide dengan di tuangkan proposal sudah bisa menjadi uang.

C. Mainkan

Punya kemauan dan melakukan, semua orang pun kadang begitu. Jadi kita belum cukup hanya dengan kemauan dan melakukan. Jika kita telat untuk start tentunya kita akan telat untuk finish. Maka dari itu mainkan. Mainkan bukan berarti main-main tapi mainkan berarti harus cerdas. Kita kreatif dan cepat melihat peluang. Kita mainkan apapun yang ada dalam diri kita dan kita kolaborasikan dengan apa yang sedang kita lakukan. Harus pandai mencari celah agar kita bisa diatas.

D. Tuntaskan

Dalam setiap pekerjaan yang sedang kita lakukan kita hampir selalu mengkomparasi dengan apa yang di lakukan orang lain. Di sinilah kadang-kadang konsistensi di pertaruhkan. "Ih kok dia bernyanyi cepet naik daun ya" lalu kita bernyanyi dan menulis yang menjadi niat awal kita, kita tinggalkan. Padahal di situlah tantanganya, bagaimana kita untuk tetap konsisten dengan sifat iri kita yang memang manusiawi. Finish whats you started.

E. Serahkan

Ini adalah titik terakhir dimana segala perjuangan kita di awali. Kita kadang berpikir "dia kok biasa-biasa ajah tapi lebih sukses dari kita yang kerja keras". Disinilah maka kita harus sabar dan ikhlas. Kita serahkan apa yang telah kita lakukan kepada Allah SWT. Dialah pemberi rezeky dan dialah maha kasih sayang. Terus ikhtiar karena kerja keras bagaimanapun pasti akan memberikan hasil yang istimewa dan setimpal bagi pelakunya.

Kiranya itulah kesimpulan dari pertemuan kami malam itu. Kami cukup bahagia karena sambutan mereka begitu baik. Insya Allah jika masih di beri waktu dan kesempatan kunjungan kami berikutnya akan lebih berbobot dengan tema-tema yang lebih memotivasi mereka. Kata Bruce Lee, kehidupan yang sesungguhnya adalah hidup untuk orang lain. Layaknya ini menjadi pecutan dan semangat kita untuk selalu ber aktifitas sosial dan membantu sesama.

Bakhrul Amal

Semarang

Senin, 06 Agustus 2012

PENGUMUMAN !!!


Buka bersamaaaaa Kerajaan Solidaritas di Rumah Raden Amal tanggal 10, yang puasa atau yang tidak puasa boleh datang yang penting di undang. Rencananya menu sepesial SOTO MADURA, acara ini juga akan membahas isu-isu seputar Pos Ronda, Pangkalan Becak dan Jamblang Pelabuhan.

Patungan 15.000 Untuk acara baksos di hari selanjutnya yang disepakati nanti.

Zahraa Masuk TK

Pagi sekali dengan tas kecilnya yang baru serta tempat tulis hadiah dari KFC dengan bangganya dia keluar rumah. Dengan riang dia menyapa supir yang sedang memanaskan mobil dan Ibu yang sedang mencabuti rumput di halaman. Keadaan mulai berubah, selang dua puluh menit dia kembali lagi kerumah.

Amal: Kenapa wahai Zahra kembali lagi

Zahra: Lupa om, sekolah Zahra dimana ya.

Gubraaaaaak, "Makanya nungguin Bunda". Zahra memang anak yang pandai dan penuh ide, inisiatif dan daya ingatnya luar biasa. Pernah suatu kesempatan dia masuk ke kamer Ibu (neneknya). Dengan berani dia mengambil buah jeruk di bawah meja, karena dia pikir tidak ada Ibu. Ternyata keliru, Ibu ada di kamar dan memergokinya. Tentu Ibu tidak akan marah karena Zahra memang ponakan yang disayang dan dicintai oleh seluruh keluarga. Disini awal kecerdasan Zahra terlihat, karena bingung harus bagaimana akhirnya dia pura-pura bodoh.

Zahra: Wahai ibu, buah apakah ini, sepertinya kalau di cium daari baunya sih jeruk ya bu. (sambil tanganya mendekatkan buah pada lubang hidungnya yang besar)

Ibu: Iya, kenapa?

Zahra: Ga (sambil senyum malu)

Ibu: Sok Ambil aja....

Akhirnya Zahra pun berhasil dengan trik cerdasnya yang benar-benar tidak di pikirkan sebelumnya.

Suatu malam kami berdua di teras rumah dengan suasana yang begitu khidmat sehabis sholat ashar dan mandi. Sewajarnya anak kecil Zahra suka bertanya yang tidak nyambung tetapi sebagai om yang baik saya mencoba menjawab dengan seadanya juga.

Zahra: Wahai om kenapa dunia itu bulat?

Amal: Karena kalau kotak kasian yang hidup di ujung

Zahra: Wahai om kenapa Cabai itu pedas?

Amal: Karena kalu manis itu coklat namanya.

Zahra: Wahai om kenapa ibu begitu cantik?

Amal: Karena ibu perempuan, kalau ibu laki-laki ganteng.

Zahra: Wahai om kenapa kita harus sekolah?

Amal: Supaya pintar.

Zahra; Pintar itu apa?

Amal: Bisa jawab semua pertanyaan.

Zahra: Berarti om pintar

Amal: Iya

Zahra: Wahai om apa yang membedakan orang pintar dengan orang bodo?

Amal: Orang pintar santun, baik dan sopan sedangkan orang bodo entahlah

Zahra: Kalau orang memberi itu termasuk orang pintar dan baik

Amal: Pasti dong

Zahra: Wahai om bolehkah zahra meminta uang

Amal: Ga ada

Zahra: Berarti Zahra telah salah menilai om itu Pintar.

Sambil berlalu dia pergi tanpa mendengar penjelasan dan suasana pun hening. Perasaan bersalah dan membodohi diri sendiri menyelimuti hari-hari. Di teras rumah merenung sendiri dan berkata dalam hati "Zahra yang bandel itu ternyata telah menjadi wanita sejati". Dikatakan sebagai seorang wanita sejati adalah ketika dia mampu membuat laki-laki merasa bersalah. Bagaimanapun bentuknya dari sifatnya wanita selalulah seperti itu, wanita Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Eropa, Amerika semuanya begitu. Selamat masuk sekolah, sudah saatnya menimba ilmu meski baru Taman Kanak-kanak.

Budi

Hali Ariv, gimana kabarnya?

Woy riv inget ngga sih dulu tuh suka nakalin si Budi anaknya ibu enjum yang adiknya A dedi. Hahaha. Dulu waktu kecilkan dia badanya ber otot tapi pas udah gede kok jadi kempes ya, salah susu mungkin. Dulu dia tuh suka ngga jelas bikin rumah kardus dan bilang mau tidur di rumah kardus yang kardus tu bekas kardus lemari es gede. Malem di tungguin eh ternyata dia ga jadi tidur disitu alesanya kedingninan.

Jujur nih ya, sampe sekarang masih heran sama ceritanya Adi. Dia katanya kan dulu ngeliat Budi asik main speda lewat gangnya tapi setengah jam kemudia balik lagi sepedanya rusak dan badanya lecet semua. Pas di tanya ekh ternyata si Budi jatuh kesepak sama kuda. Bisa bayangin ngga coba dia tuh main sepedanya gimana. Balapan sama kuda, ada kuda yang dia suka terus deket-deket sampe kudanya muak terus nyepak dia atau gimana ya, Budi kesepak kuda.

Pernah juga kan kita main basket alias lemarin batu ke tempat sampahnya. Tempat sampahnya itu di buat dari pelastik karet yang pas sampe batu kelima akhirnya tempat sampah itu rusak. Karena udah rusak kita jadi terus-terusan ngelemparin tempat sampah itu sampe bener-bener rusak di depan Budinya. Budi pura-pura pulang lewat pintu belakang rumah. Beberapa menit kemudian terus kakaknya (A Dedi) keluar pura-pura polos nanya sepeda baru ponakanya. "der sepeda bagus" sambil akhirnya nengok "tempat sampah kok banyak batunya, ambil ambil". saya yakin itu pasti Budi ngomong sama A Dedi kalau tempat sampahnya kita yang rusak.

Terus waktu kita main petak umpet bareng juga tuh. Kalau ngga salah pas itu yang lagi jadi pencarinya si Dewi anaknya bapak Suro. Di sekitar situ ada banyak bapak-bapak asik mainan burung peiharaan semacem kutilang atau apa gituh. Si Dei jago banget ya, larinya kenceng. Budi dapet giliran ketauan, terus si Budi terkejut dan balap lari sama Dewi. Ya Allah tapi dasar Budi ya, udah tau ada kandang burung malah di tabrak. Dia bukanya lanjut main malah pulang kerumah sambil megang telinga dan jewer bapaknya karena burungnya terbang. hahahahaha

Si Budi juga suka rada aneh ya pas kecil, dia suka ngga jelas mainya. Kita dulu kan musuhan sama anak-anak RT 02, inget kan. Di jalan yang tengah si Budi keluar dan kita cuma bisa liat dari jauh. Gila budi berani banget maju sendiri. Ekh tapi dia tiba-tiba garuk pantat ngadep kaca rumah Alm. Bi Tonah yang galak itu. Di balik kaca jendela rumah itu ternyata ada Alm Bi Tonah yang langsung marah karena di kasih pantat, hahahaha si Budi ada-ada ajah ya.

Oh iya, inget ngga waktu dulu suka main bola di halaman rumah saya. Waktu itu kacanya Wa Jumhur masih polosan belum kaya sekarang yang udah rapih dan bagus. Kaca itu jadi langganan pecah kalau kita main bola. Nah, siang itu kayaknya abis jum'atan deh, si Budi mecahin kaca. Gila bener anak itu emang berani, biasanya kita lari semua karena takut tapi dia gentlemen ngadepin Wa Timah (Ibunya Wa Jumhur) yang emang galak. Dia datengin terus tanya "harus bayar berapa saya, saya bayar" gila tuh si Budi umur segitu beraninya minta ampun. ekh, ternyata besoknya dia ngga ngeganti sama sekali malah ngumpet dan ga main dua minggu.

Malam ini tuh lagi lucu inget si Budi dan masa kecil loh. Kalo di pikir-pikir kayaknya bandel banget ya kita, tapi bersyukur deh dan bisa bilang Alkhamdulillah nakalnya udah lebih dulu. Hahaha, Budi emang The Best lawaknya saat itu, kayaknya ga ada dia ga rame cerita masa kecil. Masih banyak sihm tapi bulan puasa gaboleh ngomongin orang ya. Yauda segini dulu.

Sahur atau Maling

Suatu pagi, menjelang sahur tepatnya sih pukul dua dini hari. Saya, Ariv, Adi, Pian, Alfan dan beberapa anak lainya memang bisa dibilang peduli. Disaat yang lain tidur kita justru inisiatif untuk 'obrok-obrok' atau yang biasa di kenal dengan ritual membangunkan orang sahur. Botol kecap, galon, besi, potongan genteng, dan pintu warung di bawa. Mungkin edisi obrok-obrok tahun 2006 adalah yang ter ekstrem, bisa di lihat dari alat-alatnya.

Kampung kita kebetulan tidak terlalu besar, sekitar satu lapangan sepokbola. Jenuh memang apalagi rute jalanya tidak terlalu banyak karena itu nggak jarang kampung sebelah juga menjadi sasaran 'obrok-obrok'. Hari ke hari bukanya warga malah bangun tetapi malah marah. Mungkin karena suaranya ga enak dan alunan musiknya yang kacau. Yang paling sering di pukul saat itu adalah daun pintu bekas warung. Suaranya keras dan sudah pasti warga bangun.

Bila ingin merasakan gimana cara membangunkan sahur yang tersulit datanglah ke kampung kami. Setidaknya itu kata-kata Pian. Di kampung kamu 'obrok-obrok' benar-benar tidak bisa hidup dengan nyaman. Baru satu langkah sudah di tolak, kadang ada yang membuka jendela sambil bicara "brisik". Bahkan lagi ada seorang Chinese yang rela lari pagi mengejar komplotan kami karena persoalan obrok-obrok. Alhasil dua minggu kami merasa sia-sia, tidak bisa maksimal membangunkan warga.

Pian : Priben (gimana) bosen lah kalo gini terus mah

Alpan : Iya kih, ana (ada) ide beli (ngga)

Arip : Apa ya

Pian : Bingung

Hari itu bener-bener Vacum satu hari tanpa 'obrok-obrok'. Warga merasa nyaman dan kayaknya bisa tenang karena ngga ada suara gebrakan pintu dan pecahan batu. Fenomena matinya budaya 'obrok-obrok' di kampung Kasepuhan (akhirnya sebut merek).

Tanpa permisi akhirnya besok ide yang baru di pikirkan sehari segera di jalankan.

Pian : Cepet lari Pan (pian menyuruh Alpan)

"Ssssseeeeeeeeeeet" wuuuih, suara larinya lumayan juga, kencang dan tak terkendali. Sekitar jarak sepuluh meter akhirnya saya, Pian, Ariv dan beberapa anak lainya ancang-ancang. Sambil berlari teriaaaaak "Maliiiiiiiiing, maliiiiing". Kejar-kejaran puter kampung pun terus di lakukan sampai akhirnya seluruh warga terbangun dan kita lari terpisah. "Yes berhasil" hari pertama berjalan lancar dan tanpa jejak. Warga akhirnya bangun dan santap sahur dengan nyaman.

Esoknya trik itu coba di lakukan kembali. Dengan sedikit keberanian akhirnya kali ini Pian menjadi maling. Dia berlari cukup ganas, anak-anak lain pun siap mengejar. Dan "maliiiiiiiiiing-maliiiiiiiiing", kejar-kejaran putar kampung. Ini adalah tragedi frustasi 'obrok-obrok'. Sampai pada akhirnya warga kesal dan menangkap Pian dengan cekatan. "Ini malingnya ini" sambil marah dan menjewer telinga Pian.

Itulah kampung kami, kampung yang serba salah, serba bingung melakukan apapun. Akhirnya lebaran pun tiba dan kami semua mengikuti budaya putar rumah. Satu persatu rumah di datangi untuk saling bermaafan. Kata-kata dari warga semuanya sama.

"Oh ini ya rombongan yang suka ganggu tidur"

'Obrok-obrok' ternyata bukan lagi sebuah ritual menjelang sahur tapi sudah ke ranah yang serius "Mengganggu Tidur".

Sabtu, 07 Juli 2012

Mencetak Generasi Entrepreneur


Indonesia adalah negara yang besar, negara yang memiliki ribuan suku, bahasa dan bermacam-macam keyakinan. Tidak heran apabila sentiment dari segi perekonomianpun tersulut menjadi obor yang membesar. Zaman Orde Baru cukuplah menjadi contoh bagaimana Kaum Tionghoa di bumi hanguskan dan persulit proses bisnisnya.

Berkaca dari masa lalu maka munculah suatu sistem baru yang di gagas Presiden ke empat yaitu Abdurrahman Wahid dengan Demokrasinya. Di tengah kegentingan carut marut negara yang di tinggalkan ratusan investor, Indonesia secara merangkak mulai tumbuh. Meskipun Demokrasi dinilai sebagai learning system namun sejauh ini Indonesia adalah yang paling konsisten dalam berdemokrasi.

Saat ini Indonesia telah masuk kategori efficiency driven economy atau ber GDP Per kapita diantara USD 3.000. Setelah sebelumnya harus puas berada pada factor driven economy. Perjuangan ini layak di apresiasi dengan tindakan yang seharusnya yaitu mencetak entrepreneur muda sebanyak-banyaknya. Tetapi nyatanya saat ini Indonesia masih kehilangan spirit itu dan tetap puas pada pola stagnanisasi.

Di Singapura, Malaysia bahkan Filipina, pergerakan kaum muda sudah terlihat jelas dalam bidang ekonomi. Adam Khoo dari Singapura dan adapula Tony Fernandes dengan Air Asianya. Di Indonesia bukan tidak ada namun namanya sedikit yang mendunia. Mungkin Sandiaga Uno adalah salah satu yang tergiat dan bisa menjadi panutan bagi usahawan muda lainya.

Langkah awalnya mungin adalah dengan sering mengadakan seminar atau model training untuk membangun motivasi anak muda. Selain itu perusahaan besarpun sedikitnya mampu mempercayakan pekerjaan tekhnis harapanya pada pemuda. Hal kecil ini adalah awal dimana hal besar kedepan terjadi.

Atas dasar itu, dasar kesadaran dan keinginan membangun suatu perekonomian yang sehat dan lebih baik. Saya siap untuk melakukan usaha dan berjuang demi Indonesia yang lebih baik. Siap untuk merubah mind set dari My City is My Goverment Responsibility menjadi My City is My Responsibilty. Perjuanganya memang tidaklah instant tetapi perlu melewati berbagai macam hal yang berlubang.

Hal-hal seperti itu yang saya yakini hingga saat ini hanya dapat dikalahkan oleh suatu hal kongkrit yaitu berupa kejujuran. Le Kwan Yuw pernah berkata “jika saja ada satu rayap masuk kerumahmu” katanya “maka robohlah rumah itu”. Kejujuran adalah pondasi utama dari segala hal yang ingin kita lakukan. Tidak hanya berwirausaha tetapi juga dalam berhidup.

Uraian sederhana ini sedikit menggambarkan bahwa lebih baik memulai untuk melakukan daripada sibuk mencari alternatif terbaik. Jangan terjebak oleh mimpi-mimpi teori yang nyatanya jauh dari aplikasi. Semua tergantung bagaimana kita memulai dan bagaimana kita mengakhirinya. Mari berjuang bersama untuk menuju Indonesia yang lebih baik finish what you started.

Kamis, 05 Juli 2012

SOLIDARITAS in Charity

Saat mendampingi Ketum SOLIDARITAS di Acara Ultah 
bersama Anak Yatim Piatu

Acara ini berlangsung sekitar bulan Februari 2012. Sebagai organisasi muda yang galau, bimbang dan penuh inovasi SOLIDARITAS mencoba berjuang dengan kukuatanya yang luhur. Usianya saat ini telah menginjak 2 Tahun dengan berbagai prestasi pribadi anggotanya. Organisasi ini tidak mengikat dan sifatnya menampung untuk pengembangan Kreatifitas. Dalam waktu dekat tentunya akan banyak lagi inovasi yang patut di tunggu.

Jari Al-Jabar CIrebon

Saat menjadi pembicara menerangkan estimasi 
biaya eskul


Selain ke produktifan dalam menulis dan menjalani masa-masa kuliah yang rumit. Saya mencoba peruntungan untuk memulai memimpin bisnis. Awalnya bisnis ini kembang kempis bahkan hampir di pertaruhkan eksistensinya. Namun dengan semangat pantang menyerah dan bantuan Allah SWT akhirnya mulai berkembang dan telah memiliki 10 guru tetap. Rencana jangka pendek pertama adalah memilih tiga sekolah untuk di jadikan model ekstra kulikuler dan jangka panjangnya adalah menjadi Bimbingan Belajar yang mampu bersaing di Kota Cirebon.

Jumat, 15 Juni 2012

RCTV Januari 2012



Dalam hidup kita mengenal istilah yang pertama. Mungkin ini adalah pengalaman pertama yang pernah saya rasakan, diwawancarai dan ditanya pendapatnya tentang bagaiamana menjadi seorang penulis. Jujur awalnya bingung, apa ini maksudnya? saya beelum menjadi penulis handal, belum mempunyai buku dan segala atribut yang bisa di sebut sebagai penulis.

Dengan pertimbangan yang matang akhirnya saya sanggupi talk show yang berdurasi 30 menit itu. Ada perasaan yang sedikit gugup teteapi saya mencoba untuk tetap tenang dan bersikap profesional. Satu pertanyaan dan pertanyaan selanjutnya terus saya jawab secara maksimal. Menarik memang, acara yang di gagas salah satu televisi lokal ini harapanya mampu memberi inspirasi bagi semua kaum muda untuk menulis.

Tapi sayang, mohon maaf apabila record videonya kurang jelas. Memang ada something trouble. Yang pertama rekaman ini di ambil dengan kamera seorang teman yang menonton. Kedua, cuaca saat itu hujan deras. Jadi mohon maklum apabila kurang nyaman dan kurang mampu menangkap lebih dari isi pembicaraan di atas. Makasih yah teman-teman, keep writing and reach the succes.

Sabtu, 02 Juni 2012

NULIS YUK



Buku ini bisa di pesan :
                                   pin BB : 22E41EFD an Pengkuh Syahtian
                                   alamat  : Jl. Kasepuhan No.30 Cirebon
                                   email    : Bakhrulamal@ymail.com

Ucapan

Semilir angin mungkin tak mampu menggoyahkan beberapa ranting yang hampir layu. Tetapi semerbaknya kata-kata ternyata lebih tajam dan mampu meruntuhkan gedung. Adalah dengungan agung yang katanya sang penerus Nabi, Osama bin Laden. Bisikanya bila mau dikata memang mengandung hasud dan ucapanya terkesan hanyut dalam suasana yang mencekam.

11 September tahun 2001 adalah awal dimana ternyata kesunyian takdir benar tak dapat di tentukan. Diantara kesibukan dan riuhnya hitungan-hitungan uang, satu persatu hiang seketika. "Buuuum" runtuhlah gedung Word Trade Center dalam satu serangan. Sorak sorai kemenangan terdengar jauh membahana diantara jutaan kecemasan dan wajah haru penuh duka.

Entah apa yang ada di pikiran perompak pesawat yang lalu diakui bahwa itu adalah Jaringan Al-Qaeda. Berjihadkan, memperjuangkan agama dan keyakinankah atau sekedar sensasi merusak ekonomi. Tak tahu bagaimana maunya, yang jelas kehancuran dan kesedihan adalah sisa-sisa diantara puing yang rapuh.

Dalam kesempatan lain, di sebuah negara yang bisa dikata terhitung lemah, lahirlah pemimpi baru. Mimpi yang tak sekedar bunga tidur atau pelengkap lelah dimalam hari. Obor mimpi itu diarak dengan gagah dan penuh semangat oleh seorang yang lambat laun kita kenal dengan Muhammad Yunus. Dia mungkin bukan Mario Teguh ataupun Andry Wongso yang kegiatanya berbicara tetapi dia adalah pembicara yang beracara.

Mengawal karir dari seorang dosen ekonomi membuatnya sadar, bahwa sumbangsihnya adalah pengaplikasian ilmu. Lewat kata-katanya yang santun dan penuh harapan, dia berhasil memberi jalan masa-masa sulit jutaan kaum miskin Bangladesh. Melalui gagasanya tentang bank bagi rakyat miskin akhirnya Grameen Bank tumbuh pesat. Dari situlah jutaan kepala keluarga beranjak sejahtera dan akirnya Yunuspun mendapat penghargaan nobel perdamaian pada tahun 2006.

Singkatnya adalah mengutip kata Nabi bahwa "Ucapan adalah doa", tentunya kita sepakat, entah baik ataupun buruk itu adalah doa. Tetapi dalam kesempatan lain pagar itu muncul, ucapan yang buruk akan kembali kepadanya. Salah satunya baik dan salah satunya buruk, hadiah manis dari apa yang dinamakan prilaku. Tugasnya adalah memilih tutur kata mengobar api 'ala" Osama Bin Laden yang hasilnya NOL atau 'ala" Muhammad Yunus yang mampu mensejahterakan jutaan kepala keluarga.

Sabar

Someday, not now.. Ketika mimpi itu kembali hadir ditengah semakin bertambahnya usia. Ada hal kecil memang yang pantas di ceritakan dan sebagianya di simpan dalam bingkai kenangan. Rasanya untuk menangisi hal-hal yang 'runyem' tidaklah pantas lagi. Life must go on and you must move on. I think to my self, maybe its a bad circumstences but... I don't know.

Orang mungkin bisa bilang "yes I'm happy" dalam runtutan masalah yang sebenarnya menggunung. Atau sebagaian lagi sabar dan berpikir "its time to change" ketika rundung masalah hadir. Tetapi itu sebuah hal yang lumrah dan tak perlu di permasalahkan. Yang menjadi masalah justru, sampai kapan aku terus berputar dalam lingkaran yang stagnan. Aku makin merasa tidak memiliki influence terhadap hidupku sendiri saat ini. Entahlah...

Saat ini yang kubutuhkan adalah inducement, inducement yang tak sekedar lepas. Apakah itu sebuah kewibawaan, konsep yang sudah di telaah sejak Plato sampai filosof-filosof abad modern ini. Atau mungkin Teori Murni Hans Skelson yang memisahkan masalah dari kaitanya terhadap yang lain. Semuanya bisa terjadi, tapi saat ini tidak sendiri, saat ini ada hal-hal yang memang mengharuskan untuk memasukan komparatif di dalamnya.

Natuurkunde mungkin adalah queen of the sciences, mungkin pula tidak tapi bagi saya 'iya'. Tapi yang jelas 'the earth is the home of man, manusia yang tak sendiri. Dari zaman Adam sampai saat ini selalu berdua. Adam dengan Hawa, Ibrahim dan Khajar, dan lainya. Nah, apakah yang terlalu lama itu nantinya mengikuti pendeta atau yang terlalu cepat takut kehilangan bidikanya. Sasaranya itu...

Bertambah dan memang terus bertambah. Pertanyaan pelengkap dari sebuah irisan hidup mengakar dalam. Tetapi semuanya memang selalu mengharapkan untuk kembali ke atas ius soli. Kerinduan itu sudah menjadi immortality of the soul, ya kan. Kapan ya, menunggu dan terus menunggu, tapi ketika takut untuk melepaskan bidikan bagaimana?. Jawabanya satu, ingat selalu janjinya, ingat selalu apa yang di tuliskanya, tenang, damai dan aman.

Senin, 21 Mei 2012

Pante rei, ouden menei

"Pante rei, ouden menei"

Jargon manis nan apik yang dikenal milik seorang filosof yang berasal dari Ioni dia adalah Heraklitus. Arti dari kata di atas kurang lebih adalah "semuanya mengalir, tida ada yang diam". Yap, semua memang terus mengalir dan tidak hanya diam. Ungkapan yang sangat sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam.

Kadang memang kegairahan akan hidup hanyalah sebatas mencapai kesenangan semata. Ketika kita meminum kopi sambil mebaca koran, khayalan kita diam. Tetapi dalam kegaulauan masalah, khayalan kita justru tumbuh dan mengalir. Optimis, yakin dan menganggap hal-hal tidak mungkin menjadi mungkin adalah tipe sejati penakluk masalah. Spirit Heraklitus secara tidak langsung jika dikhayati akan membawa kita kepada ataraxia (kedamaian pikiran).

Secara langsung ataupun tidak kehidupan Heraklitus banyaklah di pengaruhi oleh ajaran Tao Yunani. Dia sangat percaya apabila dunia ini selalu memuat dualitas. Dualitas dalam artian dimana setiap ujungnya terdapat eksistensi yang berlawan, baik dan buruk, positif dan negatif, hitam dan putih, atas dan bawah serta lainya. Diapun berkeyakinan bahwa cara terbaik dalam hidup adalah menyatu dengan alam.

Ya mungkin benar, karena pada kenyataanya pun seperti itu. Dalam setiap keburukan mestilah ada pembanding yang baik yang membuat itu menjadi buruk. Putih yang tak akan pernah bermakna apabila tak ada hitam. Karena hanya dengan adanya hal itulah kita mampu menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Terus belajar dan belajar agar kehidupan nyata sebagai seorang manusia benarlah terlaksana sebagaimana mestinya.

Mungkin Adam Khoo hanyalah tinggal cerita buruk apabila di terus menerus larut dalam masa lalunya. Mungkin Steve Jobs mati dalam rintihan murung tentang kedua orang tuanya. Tetapi mereka mampu meminjam spirit "Panta rei, ouden menei" dan mengembalikanya dalam bentuk yang lebih baik. Adam Khoo sukses setelah hancur di masa SMP dan SMA nya dan Steve Jobs, seperti kita ketahui, sukses lepas dari belenggu kenyaatan sebagai anak tiri.

Memang bukanlah perkara mudah, membalikan keadaan dan memukulnya dengan keras. Perlu tetesan-tetesan air yang terus menerus untuk melubangi batu. Memajukan langkah yang telanjur berat seringkali malah membuat jalan mundur atau diam di tempat teduh adalah pilihan yang baik. Itu adalah tanda, mengalirnya hidup senantiasa selaras dengan apa yang ada di sekitar pula. Lingkungan, teman dan keluarga adalah pendorong nyata perubahan itu.

Dorongan-dorongan menuju hidup yang ideal menurut Alfred Adler, adalah dengan mempostulatkan "nafsu" yang bermain di balik segala bentuk perilaku dan pengalaman kita. Dia menyebut daya motivasi itu dengan striving for perfection atau dorongan menuju kesempurnaan. Adalah hal yang menarik memang, tetapi tetap bukanlah menjadi hal yang sepele, apalagi bila kita tidak dapat seperti apa yang Smuth katakan "memahami diri sendiri dalam satu kesatuan yang utuh". Atau yang lebih di kenal dengan Holisme.

Gelap

Kegelapan malam mengajarkan sesuatu pada kita, bahwa hidup haruslah seimbang. Keseimbangan hidup nantinya membawa kita pada kebahagiaan. Teramat sangat, memandang terang adalah satu-satunya jalan untuk lebih dapat jelas melihat. Tetapi sesungguhnya dalam kegelapanlah, kesunyianlah, segala yang tak dapat di pahami secara kasat mata dapat di renungkan.

Manusia terkadang enggan, atau bahkan acuh tak acuh terhadap niatan perenungan. Mereka lebih suka dimanja oleh kenyataan yang sebenarnya amat teramat semu. Dari satu tindakan lemah disumpulkan jutaan kelemahan. Dari satu tindakan hebat, di agungkanlah kehebatan itu. Cenderung lebih memaknai apa yang terjadi sekarang, dan tak menerima di hari-hari selanjutnya.

Sah-sah saja memang, karena untuk sampai pada tingakatan keseimbangan bukanlah hal yang mudah. Perlu kedewasaan dan pengalaman yang cukup panjang. Tetapi tidak selesai sampai disitu, perlu pula sisi kerohanian yang ikhlas serta tulus. Perjalananya tidak sederhana, panjang dan berliku-liku. Memang terletak pada satu ujung, yaitu apa yang kita kenal dan sebut sebagai kebijaksanaan.

Dalam Ihya Ulum Al-Din Al Ghazali menggunakan perumpaan sebutir kacang untuk menggambarkan tingkatan itu. Pertama: kulit luar kacang, kedua, kulit dalam, ketiga, biji, dan keempat minyak yang di hasilkan dari biji. Mungkin, kulit luarlah yang memang tidak pantas untuk di makan dan harus di buang jauh-jauh. Begitu menipu dan tidak mewakili isi di dalamnya yang sungguh mengandung nikmat yang besar.

Kulit dalam mewakili hati dan raga. Kulit dalam berguna sebagai penjaga biji dan menjaganya dari segala kerusakan. Biji melambangkan apa yang sesungguhnya ada dalam hati, sekalipun kulit dalam menjaganya, tetapi biji tidaklah dapat lepas dari campuran-campuran yang tidak murni. Dan minyak adalah ujung pangkal serta kualitas nyata dari segala-galanya, dari campuran-campuran yang terurai lemah.

Begitu panjang, dan tentunya dalam penulisan yang singkat tak akan habislah pembahasan ini. Sekurangnya, serapan inti yang terkandung bisa mewakilinya. Berjalan kembali menuju pemuliaan yang mulia, kita mengenalnya dengan sebutan filsafat. Ilmu tentang cinta terhadap kebijaksanaan. Tidak sedikit yang meyakininya sebagai ilmu menuju keseimbangan yang real dan sejati-sejatinya mantiq. Filsafat pulalah yang di anggap sebagai rajanya ilmu.

Mungkin kita pernah melihat sebuah berita tentang pencurian. Sebagian orang pastilah menilai, si A mengambil apa yang bukan hak nya dari tangan si B. Itu adalah pandangan wajar dan umum manusia secara keseluruhan. Tetapi dengan ilmu yang dikenal dengan ilmu hukum pastilah kita menyebutnya, si A melanggar pasal 362 tentang pencurian. Ada penilaian yang lebih dalam dari sebelumnya.

Seorang pria berjalan menatap seorang wanita dari kejauhan, memakai gaun dengan senyum menawan. Dalam hati pria itu berbisik "wanita itu cantik" dan menggumam kemungkinan-kemungkinan tentang wanita itu secara pasif, itu pasti. Lalu langkah kakinya semakin jelas mendekati, wajah wanita pun semakin terlihat "oh dia memakai bedak". Kakinya pun telah sampai dan obrolan kecil di mulai, di tariklah kesimpulan "hmm, ternyata wanita itu seorang kupu-kupu malam".

Terciptanya gelap adalah sebagian cara, untuk kita mengenal terang dengan kebaikan, kelembutan dan keharmonisa. Gelap itu adalah romantisme dari siang dengan cara yang berbeda. Pelukan dari segala pelukan yang memaknai haru dan lelah dengan cara yang dalam. Sebisa mungkin untuk terus menggali dan mencari esesnsi ketenangan dalam gelap. "Tugas kita bukan menciptakan terang saja tetapi yang terpenting adalah memaknai gelap sebelum terang"

Perjalanan

Perjalanan panjang itu membawa dalam sebuah perenungan baru, akan hal-hal baru dan mimpi-mimpi baru. Benar, bila pada saatnya nanti kelurgalah tempat dari segalanya kembali. Kepakan sayap dan lekukan layar yang mengembang membawa pelukan manis. Formulasi dari apa yang di sebut "man jadda wa jadda" tidak lebih untuk pada akhirnya entreprenurial yang disumbangkan.

Pernah, dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi desa yang menurut orang kebanyakan adalah desa bar-bar. Disitu di kisahkan, hasil laut melimpah tak kunjung membawa penghuninya untuk ber asketik. Sebut saja desa Taro, desa pinggir laut yang unik dan penuh jawara-jawara kejam. "Disini dulunya, tetangga saling makan" kata seorang tukang bangunan, makan dalam artian istri tetangga bisa di tiduri ketika suami pergi berlayar.

Jahiliyah memang, lebih lagi anak-anaknya yang katanya jauh dari pendidikan. Pencurian, perkelahian berujung pembunuhan dan segala macam khamar disajikan dengan bebas. Aturanya singkat, siapa yang kuat dia yang akan bertahan hidup. Harus memang, habis meng habisi, tikam menikam, "serunya hidup ya seperti itu" kata salah seorang teman yang kebetulan tinggal disana. Mental memang sudah menjadi karakter yang akhirnya menjadi jati diri.

Pernah lagi, dalam suatu kesempatan perjalan saya temui suasana berbeda. Desanya tidaklah lebih besar dari Taro, tidak juga lebih melimpah dari Taro tetapi masyarakatnya justru 'survive. Saya biasa menyebutnya desa "bunga". Memang tidak semua yang 'survive' karena ada pula yang 'bar-bar' tetapi secara keseluruhan memang lebih baik. Bapak-bapaknya datang memakai sarung di pagi buta, menuju masjid memadu kasih bersama tuhan. Anaknya mudanya pun begitu, bangun begitu pagi dan membuka-buka buku.

"Semua tak sama tak pernah sama"

Lirik lagu padi mengiringi waktu penulisan cerita perjalanan sinkat ini. Sebagai ingatan kita, dunia ini diciptakan Allah sesungguhnya sangat komplementasi, simbang dan teratur. Allah menciptakan segalanya sebagai "pelajaran bagi manusia yang mau berpikir". Mungkin terlalu berlebihan apabila saya mengibaratkan perjalanan itu dengan mengembangkan layar. Karena sampai saat ini, untuk hal-hal yang lebih jauh masih belum terjangkau.

Ada hal yang hendak di ceritakan, bahwa tuntutan untuk selalu sama itu baik dalam penilian yang baik. Maksudnya untuk menyatukan tujuan dan tekad supaya berada dalam 'one track'. Penting, tetapi tidak lebih penting lagi memahami perbedaan itu sebagai kemasan yang menarik. Desa Taro dan Bunga mungkin memiliki kerinduan yang berbeda pada tujuanya tetapi semuanya sama, yaitu mencari kedamaian.

Yang satu caranya dengan semakin kuat dan khamar sedangkan satunya lagi dengan mendekatkan diri pada ilahi. Jika salah satunya saja merasa memiliki hak maka terbenturlah sudah segalanya. Dalam tradisi pesantren kita mengenalnya dengan 'musakalah', apabila Taro keras, Bunga pun lebih keras. Apabila Taro kejam, Bunga pun lebih kejam. Tetapi hidup tidaklah seperti itu, "Api tidak bisa di padamkan oleh Api" "Luka tidak bisa disembuhkan dengan Luka".

Penting memahami, mengapa ada yang melotot, mengapa ada yang terpejam. Mengapa ada yang menangis, mengapa pula ada yang tersenyum. Mengapa ada menjerit, mengapa pula ada yang berbisik. Itulah cara-cara Tuhan untuk menjadikan kita kreatif, untuk menjadikan kita menari dalam kehidupan. Mungkin pada saatnya kita akan berpikir bahwa jalan lurus sudah terlalu penuh sehingga macet, maka kita ambil jalur lain? Apakah heteremoni?