Senin, 06 Agustus 2012

PENGUMUMAN !!!


Buka bersamaaaaa Kerajaan Solidaritas di Rumah Raden Amal tanggal 10, yang puasa atau yang tidak puasa boleh datang yang penting di undang. Rencananya menu sepesial SOTO MADURA, acara ini juga akan membahas isu-isu seputar Pos Ronda, Pangkalan Becak dan Jamblang Pelabuhan.

Patungan 15.000 Untuk acara baksos di hari selanjutnya yang disepakati nanti.

Zahraa Masuk TK

Pagi sekali dengan tas kecilnya yang baru serta tempat tulis hadiah dari KFC dengan bangganya dia keluar rumah. Dengan riang dia menyapa supir yang sedang memanaskan mobil dan Ibu yang sedang mencabuti rumput di halaman. Keadaan mulai berubah, selang dua puluh menit dia kembali lagi kerumah.

Amal: Kenapa wahai Zahra kembali lagi

Zahra: Lupa om, sekolah Zahra dimana ya.

Gubraaaaaak, "Makanya nungguin Bunda". Zahra memang anak yang pandai dan penuh ide, inisiatif dan daya ingatnya luar biasa. Pernah suatu kesempatan dia masuk ke kamer Ibu (neneknya). Dengan berani dia mengambil buah jeruk di bawah meja, karena dia pikir tidak ada Ibu. Ternyata keliru, Ibu ada di kamar dan memergokinya. Tentu Ibu tidak akan marah karena Zahra memang ponakan yang disayang dan dicintai oleh seluruh keluarga. Disini awal kecerdasan Zahra terlihat, karena bingung harus bagaimana akhirnya dia pura-pura bodoh.

Zahra: Wahai ibu, buah apakah ini, sepertinya kalau di cium daari baunya sih jeruk ya bu. (sambil tanganya mendekatkan buah pada lubang hidungnya yang besar)

Ibu: Iya, kenapa?

Zahra: Ga (sambil senyum malu)

Ibu: Sok Ambil aja....

Akhirnya Zahra pun berhasil dengan trik cerdasnya yang benar-benar tidak di pikirkan sebelumnya.

Suatu malam kami berdua di teras rumah dengan suasana yang begitu khidmat sehabis sholat ashar dan mandi. Sewajarnya anak kecil Zahra suka bertanya yang tidak nyambung tetapi sebagai om yang baik saya mencoba menjawab dengan seadanya juga.

Zahra: Wahai om kenapa dunia itu bulat?

Amal: Karena kalau kotak kasian yang hidup di ujung

Zahra: Wahai om kenapa Cabai itu pedas?

Amal: Karena kalu manis itu coklat namanya.

Zahra: Wahai om kenapa ibu begitu cantik?

Amal: Karena ibu perempuan, kalau ibu laki-laki ganteng.

Zahra: Wahai om kenapa kita harus sekolah?

Amal: Supaya pintar.

Zahra; Pintar itu apa?

Amal: Bisa jawab semua pertanyaan.

Zahra: Berarti om pintar

Amal: Iya

Zahra: Wahai om apa yang membedakan orang pintar dengan orang bodo?

Amal: Orang pintar santun, baik dan sopan sedangkan orang bodo entahlah

Zahra: Kalau orang memberi itu termasuk orang pintar dan baik

Amal: Pasti dong

Zahra: Wahai om bolehkah zahra meminta uang

Amal: Ga ada

Zahra: Berarti Zahra telah salah menilai om itu Pintar.

Sambil berlalu dia pergi tanpa mendengar penjelasan dan suasana pun hening. Perasaan bersalah dan membodohi diri sendiri menyelimuti hari-hari. Di teras rumah merenung sendiri dan berkata dalam hati "Zahra yang bandel itu ternyata telah menjadi wanita sejati". Dikatakan sebagai seorang wanita sejati adalah ketika dia mampu membuat laki-laki merasa bersalah. Bagaimanapun bentuknya dari sifatnya wanita selalulah seperti itu, wanita Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Eropa, Amerika semuanya begitu. Selamat masuk sekolah, sudah saatnya menimba ilmu meski baru Taman Kanak-kanak.

Budi

Hali Ariv, gimana kabarnya?

Woy riv inget ngga sih dulu tuh suka nakalin si Budi anaknya ibu enjum yang adiknya A dedi. Hahaha. Dulu waktu kecilkan dia badanya ber otot tapi pas udah gede kok jadi kempes ya, salah susu mungkin. Dulu dia tuh suka ngga jelas bikin rumah kardus dan bilang mau tidur di rumah kardus yang kardus tu bekas kardus lemari es gede. Malem di tungguin eh ternyata dia ga jadi tidur disitu alesanya kedingninan.

Jujur nih ya, sampe sekarang masih heran sama ceritanya Adi. Dia katanya kan dulu ngeliat Budi asik main speda lewat gangnya tapi setengah jam kemudia balik lagi sepedanya rusak dan badanya lecet semua. Pas di tanya ekh ternyata si Budi jatuh kesepak sama kuda. Bisa bayangin ngga coba dia tuh main sepedanya gimana. Balapan sama kuda, ada kuda yang dia suka terus deket-deket sampe kudanya muak terus nyepak dia atau gimana ya, Budi kesepak kuda.

Pernah juga kan kita main basket alias lemarin batu ke tempat sampahnya. Tempat sampahnya itu di buat dari pelastik karet yang pas sampe batu kelima akhirnya tempat sampah itu rusak. Karena udah rusak kita jadi terus-terusan ngelemparin tempat sampah itu sampe bener-bener rusak di depan Budinya. Budi pura-pura pulang lewat pintu belakang rumah. Beberapa menit kemudian terus kakaknya (A Dedi) keluar pura-pura polos nanya sepeda baru ponakanya. "der sepeda bagus" sambil akhirnya nengok "tempat sampah kok banyak batunya, ambil ambil". saya yakin itu pasti Budi ngomong sama A Dedi kalau tempat sampahnya kita yang rusak.

Terus waktu kita main petak umpet bareng juga tuh. Kalau ngga salah pas itu yang lagi jadi pencarinya si Dewi anaknya bapak Suro. Di sekitar situ ada banyak bapak-bapak asik mainan burung peiharaan semacem kutilang atau apa gituh. Si Dei jago banget ya, larinya kenceng. Budi dapet giliran ketauan, terus si Budi terkejut dan balap lari sama Dewi. Ya Allah tapi dasar Budi ya, udah tau ada kandang burung malah di tabrak. Dia bukanya lanjut main malah pulang kerumah sambil megang telinga dan jewer bapaknya karena burungnya terbang. hahahahaha

Si Budi juga suka rada aneh ya pas kecil, dia suka ngga jelas mainya. Kita dulu kan musuhan sama anak-anak RT 02, inget kan. Di jalan yang tengah si Budi keluar dan kita cuma bisa liat dari jauh. Gila budi berani banget maju sendiri. Ekh tapi dia tiba-tiba garuk pantat ngadep kaca rumah Alm. Bi Tonah yang galak itu. Di balik kaca jendela rumah itu ternyata ada Alm Bi Tonah yang langsung marah karena di kasih pantat, hahahaha si Budi ada-ada ajah ya.

Oh iya, inget ngga waktu dulu suka main bola di halaman rumah saya. Waktu itu kacanya Wa Jumhur masih polosan belum kaya sekarang yang udah rapih dan bagus. Kaca itu jadi langganan pecah kalau kita main bola. Nah, siang itu kayaknya abis jum'atan deh, si Budi mecahin kaca. Gila bener anak itu emang berani, biasanya kita lari semua karena takut tapi dia gentlemen ngadepin Wa Timah (Ibunya Wa Jumhur) yang emang galak. Dia datengin terus tanya "harus bayar berapa saya, saya bayar" gila tuh si Budi umur segitu beraninya minta ampun. ekh, ternyata besoknya dia ngga ngeganti sama sekali malah ngumpet dan ga main dua minggu.

Malam ini tuh lagi lucu inget si Budi dan masa kecil loh. Kalo di pikir-pikir kayaknya bandel banget ya kita, tapi bersyukur deh dan bisa bilang Alkhamdulillah nakalnya udah lebih dulu. Hahaha, Budi emang The Best lawaknya saat itu, kayaknya ga ada dia ga rame cerita masa kecil. Masih banyak sihm tapi bulan puasa gaboleh ngomongin orang ya. Yauda segini dulu.

Sahur atau Maling

Suatu pagi, menjelang sahur tepatnya sih pukul dua dini hari. Saya, Ariv, Adi, Pian, Alfan dan beberapa anak lainya memang bisa dibilang peduli. Disaat yang lain tidur kita justru inisiatif untuk 'obrok-obrok' atau yang biasa di kenal dengan ritual membangunkan orang sahur. Botol kecap, galon, besi, potongan genteng, dan pintu warung di bawa. Mungkin edisi obrok-obrok tahun 2006 adalah yang ter ekstrem, bisa di lihat dari alat-alatnya.

Kampung kita kebetulan tidak terlalu besar, sekitar satu lapangan sepokbola. Jenuh memang apalagi rute jalanya tidak terlalu banyak karena itu nggak jarang kampung sebelah juga menjadi sasaran 'obrok-obrok'. Hari ke hari bukanya warga malah bangun tetapi malah marah. Mungkin karena suaranya ga enak dan alunan musiknya yang kacau. Yang paling sering di pukul saat itu adalah daun pintu bekas warung. Suaranya keras dan sudah pasti warga bangun.

Bila ingin merasakan gimana cara membangunkan sahur yang tersulit datanglah ke kampung kami. Setidaknya itu kata-kata Pian. Di kampung kamu 'obrok-obrok' benar-benar tidak bisa hidup dengan nyaman. Baru satu langkah sudah di tolak, kadang ada yang membuka jendela sambil bicara "brisik". Bahkan lagi ada seorang Chinese yang rela lari pagi mengejar komplotan kami karena persoalan obrok-obrok. Alhasil dua minggu kami merasa sia-sia, tidak bisa maksimal membangunkan warga.

Pian : Priben (gimana) bosen lah kalo gini terus mah

Alpan : Iya kih, ana (ada) ide beli (ngga)

Arip : Apa ya

Pian : Bingung

Hari itu bener-bener Vacum satu hari tanpa 'obrok-obrok'. Warga merasa nyaman dan kayaknya bisa tenang karena ngga ada suara gebrakan pintu dan pecahan batu. Fenomena matinya budaya 'obrok-obrok' di kampung Kasepuhan (akhirnya sebut merek).

Tanpa permisi akhirnya besok ide yang baru di pikirkan sehari segera di jalankan.

Pian : Cepet lari Pan (pian menyuruh Alpan)

"Ssssseeeeeeeeeeet" wuuuih, suara larinya lumayan juga, kencang dan tak terkendali. Sekitar jarak sepuluh meter akhirnya saya, Pian, Ariv dan beberapa anak lainya ancang-ancang. Sambil berlari teriaaaaak "Maliiiiiiiiing, maliiiiing". Kejar-kejaran puter kampung pun terus di lakukan sampai akhirnya seluruh warga terbangun dan kita lari terpisah. "Yes berhasil" hari pertama berjalan lancar dan tanpa jejak. Warga akhirnya bangun dan santap sahur dengan nyaman.

Esoknya trik itu coba di lakukan kembali. Dengan sedikit keberanian akhirnya kali ini Pian menjadi maling. Dia berlari cukup ganas, anak-anak lain pun siap mengejar. Dan "maliiiiiiiiiing-maliiiiiiiiing", kejar-kejaran putar kampung. Ini adalah tragedi frustasi 'obrok-obrok'. Sampai pada akhirnya warga kesal dan menangkap Pian dengan cekatan. "Ini malingnya ini" sambil marah dan menjewer telinga Pian.

Itulah kampung kami, kampung yang serba salah, serba bingung melakukan apapun. Akhirnya lebaran pun tiba dan kami semua mengikuti budaya putar rumah. Satu persatu rumah di datangi untuk saling bermaafan. Kata-kata dari warga semuanya sama.

"Oh ini ya rombongan yang suka ganggu tidur"

'Obrok-obrok' ternyata bukan lagi sebuah ritual menjelang sahur tapi sudah ke ranah yang serius "Mengganggu Tidur".

Sabtu, 07 Juli 2012

Mencetak Generasi Entrepreneur


Indonesia adalah negara yang besar, negara yang memiliki ribuan suku, bahasa dan bermacam-macam keyakinan. Tidak heran apabila sentiment dari segi perekonomianpun tersulut menjadi obor yang membesar. Zaman Orde Baru cukuplah menjadi contoh bagaimana Kaum Tionghoa di bumi hanguskan dan persulit proses bisnisnya.

Berkaca dari masa lalu maka munculah suatu sistem baru yang di gagas Presiden ke empat yaitu Abdurrahman Wahid dengan Demokrasinya. Di tengah kegentingan carut marut negara yang di tinggalkan ratusan investor, Indonesia secara merangkak mulai tumbuh. Meskipun Demokrasi dinilai sebagai learning system namun sejauh ini Indonesia adalah yang paling konsisten dalam berdemokrasi.

Saat ini Indonesia telah masuk kategori efficiency driven economy atau ber GDP Per kapita diantara USD 3.000. Setelah sebelumnya harus puas berada pada factor driven economy. Perjuangan ini layak di apresiasi dengan tindakan yang seharusnya yaitu mencetak entrepreneur muda sebanyak-banyaknya. Tetapi nyatanya saat ini Indonesia masih kehilangan spirit itu dan tetap puas pada pola stagnanisasi.

Di Singapura, Malaysia bahkan Filipina, pergerakan kaum muda sudah terlihat jelas dalam bidang ekonomi. Adam Khoo dari Singapura dan adapula Tony Fernandes dengan Air Asianya. Di Indonesia bukan tidak ada namun namanya sedikit yang mendunia. Mungkin Sandiaga Uno adalah salah satu yang tergiat dan bisa menjadi panutan bagi usahawan muda lainya.

Langkah awalnya mungin adalah dengan sering mengadakan seminar atau model training untuk membangun motivasi anak muda. Selain itu perusahaan besarpun sedikitnya mampu mempercayakan pekerjaan tekhnis harapanya pada pemuda. Hal kecil ini adalah awal dimana hal besar kedepan terjadi.

Atas dasar itu, dasar kesadaran dan keinginan membangun suatu perekonomian yang sehat dan lebih baik. Saya siap untuk melakukan usaha dan berjuang demi Indonesia yang lebih baik. Siap untuk merubah mind set dari My City is My Goverment Responsibility menjadi My City is My Responsibilty. Perjuanganya memang tidaklah instant tetapi perlu melewati berbagai macam hal yang berlubang.

Hal-hal seperti itu yang saya yakini hingga saat ini hanya dapat dikalahkan oleh suatu hal kongkrit yaitu berupa kejujuran. Le Kwan Yuw pernah berkata “jika saja ada satu rayap masuk kerumahmu” katanya “maka robohlah rumah itu”. Kejujuran adalah pondasi utama dari segala hal yang ingin kita lakukan. Tidak hanya berwirausaha tetapi juga dalam berhidup.

Uraian sederhana ini sedikit menggambarkan bahwa lebih baik memulai untuk melakukan daripada sibuk mencari alternatif terbaik. Jangan terjebak oleh mimpi-mimpi teori yang nyatanya jauh dari aplikasi. Semua tergantung bagaimana kita memulai dan bagaimana kita mengakhirinya. Mari berjuang bersama untuk menuju Indonesia yang lebih baik finish what you started.

Kamis, 05 Juli 2012

SOLIDARITAS in Charity

Saat mendampingi Ketum SOLIDARITAS di Acara Ultah 
bersama Anak Yatim Piatu

Acara ini berlangsung sekitar bulan Februari 2012. Sebagai organisasi muda yang galau, bimbang dan penuh inovasi SOLIDARITAS mencoba berjuang dengan kukuatanya yang luhur. Usianya saat ini telah menginjak 2 Tahun dengan berbagai prestasi pribadi anggotanya. Organisasi ini tidak mengikat dan sifatnya menampung untuk pengembangan Kreatifitas. Dalam waktu dekat tentunya akan banyak lagi inovasi yang patut di tunggu.

Jari Al-Jabar CIrebon

Saat menjadi pembicara menerangkan estimasi 
biaya eskul


Selain ke produktifan dalam menulis dan menjalani masa-masa kuliah yang rumit. Saya mencoba peruntungan untuk memulai memimpin bisnis. Awalnya bisnis ini kembang kempis bahkan hampir di pertaruhkan eksistensinya. Namun dengan semangat pantang menyerah dan bantuan Allah SWT akhirnya mulai berkembang dan telah memiliki 10 guru tetap. Rencana jangka pendek pertama adalah memilih tiga sekolah untuk di jadikan model ekstra kulikuler dan jangka panjangnya adalah menjadi Bimbingan Belajar yang mampu bersaing di Kota Cirebon.

Jumat, 15 Juni 2012

RCTV Januari 2012



Dalam hidup kita mengenal istilah yang pertama. Mungkin ini adalah pengalaman pertama yang pernah saya rasakan, diwawancarai dan ditanya pendapatnya tentang bagaiamana menjadi seorang penulis. Jujur awalnya bingung, apa ini maksudnya? saya beelum menjadi penulis handal, belum mempunyai buku dan segala atribut yang bisa di sebut sebagai penulis.

Dengan pertimbangan yang matang akhirnya saya sanggupi talk show yang berdurasi 30 menit itu. Ada perasaan yang sedikit gugup teteapi saya mencoba untuk tetap tenang dan bersikap profesional. Satu pertanyaan dan pertanyaan selanjutnya terus saya jawab secara maksimal. Menarik memang, acara yang di gagas salah satu televisi lokal ini harapanya mampu memberi inspirasi bagi semua kaum muda untuk menulis.

Tapi sayang, mohon maaf apabila record videonya kurang jelas. Memang ada something trouble. Yang pertama rekaman ini di ambil dengan kamera seorang teman yang menonton. Kedua, cuaca saat itu hujan deras. Jadi mohon maklum apabila kurang nyaman dan kurang mampu menangkap lebih dari isi pembicaraan di atas. Makasih yah teman-teman, keep writing and reach the succes.

Sabtu, 02 Juni 2012

NULIS YUK



Buku ini bisa di pesan :
                                   pin BB : 22E41EFD an Pengkuh Syahtian
                                   alamat  : Jl. Kasepuhan No.30 Cirebon
                                   email    : Bakhrulamal@ymail.com

Ucapan

Semilir angin mungkin tak mampu menggoyahkan beberapa ranting yang hampir layu. Tetapi semerbaknya kata-kata ternyata lebih tajam dan mampu meruntuhkan gedung. Adalah dengungan agung yang katanya sang penerus Nabi, Osama bin Laden. Bisikanya bila mau dikata memang mengandung hasud dan ucapanya terkesan hanyut dalam suasana yang mencekam.

11 September tahun 2001 adalah awal dimana ternyata kesunyian takdir benar tak dapat di tentukan. Diantara kesibukan dan riuhnya hitungan-hitungan uang, satu persatu hiang seketika. "Buuuum" runtuhlah gedung Word Trade Center dalam satu serangan. Sorak sorai kemenangan terdengar jauh membahana diantara jutaan kecemasan dan wajah haru penuh duka.

Entah apa yang ada di pikiran perompak pesawat yang lalu diakui bahwa itu adalah Jaringan Al-Qaeda. Berjihadkan, memperjuangkan agama dan keyakinankah atau sekedar sensasi merusak ekonomi. Tak tahu bagaimana maunya, yang jelas kehancuran dan kesedihan adalah sisa-sisa diantara puing yang rapuh.

Dalam kesempatan lain, di sebuah negara yang bisa dikata terhitung lemah, lahirlah pemimpi baru. Mimpi yang tak sekedar bunga tidur atau pelengkap lelah dimalam hari. Obor mimpi itu diarak dengan gagah dan penuh semangat oleh seorang yang lambat laun kita kenal dengan Muhammad Yunus. Dia mungkin bukan Mario Teguh ataupun Andry Wongso yang kegiatanya berbicara tetapi dia adalah pembicara yang beracara.

Mengawal karir dari seorang dosen ekonomi membuatnya sadar, bahwa sumbangsihnya adalah pengaplikasian ilmu. Lewat kata-katanya yang santun dan penuh harapan, dia berhasil memberi jalan masa-masa sulit jutaan kaum miskin Bangladesh. Melalui gagasanya tentang bank bagi rakyat miskin akhirnya Grameen Bank tumbuh pesat. Dari situlah jutaan kepala keluarga beranjak sejahtera dan akirnya Yunuspun mendapat penghargaan nobel perdamaian pada tahun 2006.

Singkatnya adalah mengutip kata Nabi bahwa "Ucapan adalah doa", tentunya kita sepakat, entah baik ataupun buruk itu adalah doa. Tetapi dalam kesempatan lain pagar itu muncul, ucapan yang buruk akan kembali kepadanya. Salah satunya baik dan salah satunya buruk, hadiah manis dari apa yang dinamakan prilaku. Tugasnya adalah memilih tutur kata mengobar api 'ala" Osama Bin Laden yang hasilnya NOL atau 'ala" Muhammad Yunus yang mampu mensejahterakan jutaan kepala keluarga.

Sabar

Someday, not now.. Ketika mimpi itu kembali hadir ditengah semakin bertambahnya usia. Ada hal kecil memang yang pantas di ceritakan dan sebagianya di simpan dalam bingkai kenangan. Rasanya untuk menangisi hal-hal yang 'runyem' tidaklah pantas lagi. Life must go on and you must move on. I think to my self, maybe its a bad circumstences but... I don't know.

Orang mungkin bisa bilang "yes I'm happy" dalam runtutan masalah yang sebenarnya menggunung. Atau sebagaian lagi sabar dan berpikir "its time to change" ketika rundung masalah hadir. Tetapi itu sebuah hal yang lumrah dan tak perlu di permasalahkan. Yang menjadi masalah justru, sampai kapan aku terus berputar dalam lingkaran yang stagnan. Aku makin merasa tidak memiliki influence terhadap hidupku sendiri saat ini. Entahlah...

Saat ini yang kubutuhkan adalah inducement, inducement yang tak sekedar lepas. Apakah itu sebuah kewibawaan, konsep yang sudah di telaah sejak Plato sampai filosof-filosof abad modern ini. Atau mungkin Teori Murni Hans Skelson yang memisahkan masalah dari kaitanya terhadap yang lain. Semuanya bisa terjadi, tapi saat ini tidak sendiri, saat ini ada hal-hal yang memang mengharuskan untuk memasukan komparatif di dalamnya.

Natuurkunde mungkin adalah queen of the sciences, mungkin pula tidak tapi bagi saya 'iya'. Tapi yang jelas 'the earth is the home of man, manusia yang tak sendiri. Dari zaman Adam sampai saat ini selalu berdua. Adam dengan Hawa, Ibrahim dan Khajar, dan lainya. Nah, apakah yang terlalu lama itu nantinya mengikuti pendeta atau yang terlalu cepat takut kehilangan bidikanya. Sasaranya itu...

Bertambah dan memang terus bertambah. Pertanyaan pelengkap dari sebuah irisan hidup mengakar dalam. Tetapi semuanya memang selalu mengharapkan untuk kembali ke atas ius soli. Kerinduan itu sudah menjadi immortality of the soul, ya kan. Kapan ya, menunggu dan terus menunggu, tapi ketika takut untuk melepaskan bidikan bagaimana?. Jawabanya satu, ingat selalu janjinya, ingat selalu apa yang di tuliskanya, tenang, damai dan aman.

Senin, 21 Mei 2012

Pante rei, ouden menei

"Pante rei, ouden menei"

Jargon manis nan apik yang dikenal milik seorang filosof yang berasal dari Ioni dia adalah Heraklitus. Arti dari kata di atas kurang lebih adalah "semuanya mengalir, tida ada yang diam". Yap, semua memang terus mengalir dan tidak hanya diam. Ungkapan yang sangat sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam.

Kadang memang kegairahan akan hidup hanyalah sebatas mencapai kesenangan semata. Ketika kita meminum kopi sambil mebaca koran, khayalan kita diam. Tetapi dalam kegaulauan masalah, khayalan kita justru tumbuh dan mengalir. Optimis, yakin dan menganggap hal-hal tidak mungkin menjadi mungkin adalah tipe sejati penakluk masalah. Spirit Heraklitus secara tidak langsung jika dikhayati akan membawa kita kepada ataraxia (kedamaian pikiran).

Secara langsung ataupun tidak kehidupan Heraklitus banyaklah di pengaruhi oleh ajaran Tao Yunani. Dia sangat percaya apabila dunia ini selalu memuat dualitas. Dualitas dalam artian dimana setiap ujungnya terdapat eksistensi yang berlawan, baik dan buruk, positif dan negatif, hitam dan putih, atas dan bawah serta lainya. Diapun berkeyakinan bahwa cara terbaik dalam hidup adalah menyatu dengan alam.

Ya mungkin benar, karena pada kenyataanya pun seperti itu. Dalam setiap keburukan mestilah ada pembanding yang baik yang membuat itu menjadi buruk. Putih yang tak akan pernah bermakna apabila tak ada hitam. Karena hanya dengan adanya hal itulah kita mampu menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Terus belajar dan belajar agar kehidupan nyata sebagai seorang manusia benarlah terlaksana sebagaimana mestinya.

Mungkin Adam Khoo hanyalah tinggal cerita buruk apabila di terus menerus larut dalam masa lalunya. Mungkin Steve Jobs mati dalam rintihan murung tentang kedua orang tuanya. Tetapi mereka mampu meminjam spirit "Panta rei, ouden menei" dan mengembalikanya dalam bentuk yang lebih baik. Adam Khoo sukses setelah hancur di masa SMP dan SMA nya dan Steve Jobs, seperti kita ketahui, sukses lepas dari belenggu kenyaatan sebagai anak tiri.

Memang bukanlah perkara mudah, membalikan keadaan dan memukulnya dengan keras. Perlu tetesan-tetesan air yang terus menerus untuk melubangi batu. Memajukan langkah yang telanjur berat seringkali malah membuat jalan mundur atau diam di tempat teduh adalah pilihan yang baik. Itu adalah tanda, mengalirnya hidup senantiasa selaras dengan apa yang ada di sekitar pula. Lingkungan, teman dan keluarga adalah pendorong nyata perubahan itu.

Dorongan-dorongan menuju hidup yang ideal menurut Alfred Adler, adalah dengan mempostulatkan "nafsu" yang bermain di balik segala bentuk perilaku dan pengalaman kita. Dia menyebut daya motivasi itu dengan striving for perfection atau dorongan menuju kesempurnaan. Adalah hal yang menarik memang, tetapi tetap bukanlah menjadi hal yang sepele, apalagi bila kita tidak dapat seperti apa yang Smuth katakan "memahami diri sendiri dalam satu kesatuan yang utuh". Atau yang lebih di kenal dengan Holisme.

Gelap

Kegelapan malam mengajarkan sesuatu pada kita, bahwa hidup haruslah seimbang. Keseimbangan hidup nantinya membawa kita pada kebahagiaan. Teramat sangat, memandang terang adalah satu-satunya jalan untuk lebih dapat jelas melihat. Tetapi sesungguhnya dalam kegelapanlah, kesunyianlah, segala yang tak dapat di pahami secara kasat mata dapat di renungkan.

Manusia terkadang enggan, atau bahkan acuh tak acuh terhadap niatan perenungan. Mereka lebih suka dimanja oleh kenyataan yang sebenarnya amat teramat semu. Dari satu tindakan lemah disumpulkan jutaan kelemahan. Dari satu tindakan hebat, di agungkanlah kehebatan itu. Cenderung lebih memaknai apa yang terjadi sekarang, dan tak menerima di hari-hari selanjutnya.

Sah-sah saja memang, karena untuk sampai pada tingakatan keseimbangan bukanlah hal yang mudah. Perlu kedewasaan dan pengalaman yang cukup panjang. Tetapi tidak selesai sampai disitu, perlu pula sisi kerohanian yang ikhlas serta tulus. Perjalananya tidak sederhana, panjang dan berliku-liku. Memang terletak pada satu ujung, yaitu apa yang kita kenal dan sebut sebagai kebijaksanaan.

Dalam Ihya Ulum Al-Din Al Ghazali menggunakan perumpaan sebutir kacang untuk menggambarkan tingkatan itu. Pertama: kulit luar kacang, kedua, kulit dalam, ketiga, biji, dan keempat minyak yang di hasilkan dari biji. Mungkin, kulit luarlah yang memang tidak pantas untuk di makan dan harus di buang jauh-jauh. Begitu menipu dan tidak mewakili isi di dalamnya yang sungguh mengandung nikmat yang besar.

Kulit dalam mewakili hati dan raga. Kulit dalam berguna sebagai penjaga biji dan menjaganya dari segala kerusakan. Biji melambangkan apa yang sesungguhnya ada dalam hati, sekalipun kulit dalam menjaganya, tetapi biji tidaklah dapat lepas dari campuran-campuran yang tidak murni. Dan minyak adalah ujung pangkal serta kualitas nyata dari segala-galanya, dari campuran-campuran yang terurai lemah.

Begitu panjang, dan tentunya dalam penulisan yang singkat tak akan habislah pembahasan ini. Sekurangnya, serapan inti yang terkandung bisa mewakilinya. Berjalan kembali menuju pemuliaan yang mulia, kita mengenalnya dengan sebutan filsafat. Ilmu tentang cinta terhadap kebijaksanaan. Tidak sedikit yang meyakininya sebagai ilmu menuju keseimbangan yang real dan sejati-sejatinya mantiq. Filsafat pulalah yang di anggap sebagai rajanya ilmu.

Mungkin kita pernah melihat sebuah berita tentang pencurian. Sebagian orang pastilah menilai, si A mengambil apa yang bukan hak nya dari tangan si B. Itu adalah pandangan wajar dan umum manusia secara keseluruhan. Tetapi dengan ilmu yang dikenal dengan ilmu hukum pastilah kita menyebutnya, si A melanggar pasal 362 tentang pencurian. Ada penilaian yang lebih dalam dari sebelumnya.

Seorang pria berjalan menatap seorang wanita dari kejauhan, memakai gaun dengan senyum menawan. Dalam hati pria itu berbisik "wanita itu cantik" dan menggumam kemungkinan-kemungkinan tentang wanita itu secara pasif, itu pasti. Lalu langkah kakinya semakin jelas mendekati, wajah wanita pun semakin terlihat "oh dia memakai bedak". Kakinya pun telah sampai dan obrolan kecil di mulai, di tariklah kesimpulan "hmm, ternyata wanita itu seorang kupu-kupu malam".

Terciptanya gelap adalah sebagian cara, untuk kita mengenal terang dengan kebaikan, kelembutan dan keharmonisa. Gelap itu adalah romantisme dari siang dengan cara yang berbeda. Pelukan dari segala pelukan yang memaknai haru dan lelah dengan cara yang dalam. Sebisa mungkin untuk terus menggali dan mencari esesnsi ketenangan dalam gelap. "Tugas kita bukan menciptakan terang saja tetapi yang terpenting adalah memaknai gelap sebelum terang"

Perjalanan

Perjalanan panjang itu membawa dalam sebuah perenungan baru, akan hal-hal baru dan mimpi-mimpi baru. Benar, bila pada saatnya nanti kelurgalah tempat dari segalanya kembali. Kepakan sayap dan lekukan layar yang mengembang membawa pelukan manis. Formulasi dari apa yang di sebut "man jadda wa jadda" tidak lebih untuk pada akhirnya entreprenurial yang disumbangkan.

Pernah, dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi desa yang menurut orang kebanyakan adalah desa bar-bar. Disitu di kisahkan, hasil laut melimpah tak kunjung membawa penghuninya untuk ber asketik. Sebut saja desa Taro, desa pinggir laut yang unik dan penuh jawara-jawara kejam. "Disini dulunya, tetangga saling makan" kata seorang tukang bangunan, makan dalam artian istri tetangga bisa di tiduri ketika suami pergi berlayar.

Jahiliyah memang, lebih lagi anak-anaknya yang katanya jauh dari pendidikan. Pencurian, perkelahian berujung pembunuhan dan segala macam khamar disajikan dengan bebas. Aturanya singkat, siapa yang kuat dia yang akan bertahan hidup. Harus memang, habis meng habisi, tikam menikam, "serunya hidup ya seperti itu" kata salah seorang teman yang kebetulan tinggal disana. Mental memang sudah menjadi karakter yang akhirnya menjadi jati diri.

Pernah lagi, dalam suatu kesempatan perjalan saya temui suasana berbeda. Desanya tidaklah lebih besar dari Taro, tidak juga lebih melimpah dari Taro tetapi masyarakatnya justru 'survive. Saya biasa menyebutnya desa "bunga". Memang tidak semua yang 'survive' karena ada pula yang 'bar-bar' tetapi secara keseluruhan memang lebih baik. Bapak-bapaknya datang memakai sarung di pagi buta, menuju masjid memadu kasih bersama tuhan. Anaknya mudanya pun begitu, bangun begitu pagi dan membuka-buka buku.

"Semua tak sama tak pernah sama"

Lirik lagu padi mengiringi waktu penulisan cerita perjalanan sinkat ini. Sebagai ingatan kita, dunia ini diciptakan Allah sesungguhnya sangat komplementasi, simbang dan teratur. Allah menciptakan segalanya sebagai "pelajaran bagi manusia yang mau berpikir". Mungkin terlalu berlebihan apabila saya mengibaratkan perjalanan itu dengan mengembangkan layar. Karena sampai saat ini, untuk hal-hal yang lebih jauh masih belum terjangkau.

Ada hal yang hendak di ceritakan, bahwa tuntutan untuk selalu sama itu baik dalam penilian yang baik. Maksudnya untuk menyatukan tujuan dan tekad supaya berada dalam 'one track'. Penting, tetapi tidak lebih penting lagi memahami perbedaan itu sebagai kemasan yang menarik. Desa Taro dan Bunga mungkin memiliki kerinduan yang berbeda pada tujuanya tetapi semuanya sama, yaitu mencari kedamaian.

Yang satu caranya dengan semakin kuat dan khamar sedangkan satunya lagi dengan mendekatkan diri pada ilahi. Jika salah satunya saja merasa memiliki hak maka terbenturlah sudah segalanya. Dalam tradisi pesantren kita mengenalnya dengan 'musakalah', apabila Taro keras, Bunga pun lebih keras. Apabila Taro kejam, Bunga pun lebih kejam. Tetapi hidup tidaklah seperti itu, "Api tidak bisa di padamkan oleh Api" "Luka tidak bisa disembuhkan dengan Luka".

Penting memahami, mengapa ada yang melotot, mengapa ada yang terpejam. Mengapa ada yang menangis, mengapa pula ada yang tersenyum. Mengapa ada menjerit, mengapa pula ada yang berbisik. Itulah cara-cara Tuhan untuk menjadikan kita kreatif, untuk menjadikan kita menari dalam kehidupan. Mungkin pada saatnya kita akan berpikir bahwa jalan lurus sudah terlalu penuh sehingga macet, maka kita ambil jalur lain? Apakah heteremoni?

Senin, 16 April 2012

Masalah

"Kita hidup dalam masa gegap gempita, suatu masa yang penuh dengan bahaya......namun kita tidak boleh melarikan diri....kita harus mengatasi keadaan itu"

Lantang dalam gemuruh, pita suaranya tak putus ketika di bawa nada panjang yang bersemangat. Dialah Soekarno, kata-kata penuh semangat perjuangan ini diucapkanya taktala dia di beri kesempatan untuk berpidato pada Konferensi Negara-negara Nonblok 1 di Beograd tepatnya 1 September 1961.

Beograd dulu berbeda dengan Beograd saat ini. Dulu Beograd adalah kota dari sebuah Negara yang kita kenal dengan Yugoslavia. Di tahun 2003 Yugoslavia terpecah dan secara Resmi Beograd menjadi milik negara baru Serbia. Selain sebagai kota terbesar di Serbia, Beograd pun menjadi saksi bisu dari perjuangan kemerdekaan rakyat Serbia. Isi pidato diatas menunjukan yang dengan begini artinya Yugoslavia tidak dapat "mengatasi" atau rakyat Serbia yang "mengatasi" keadaan sehingga merdeka.

Mungkin tak terbesit sebelumnya bila hal-hal kecil tentang terbentuknya negera Serbia terwujud. Dan para pejuang Serbia pun tidak sedikit yang merasa kaget bila perjuanganya akhirnya berhasil di tahun 2003. Harapan dan keinginan di tengah gegap-gempita membuat semuanya menjadi mudah. Mungkin saat itu Yugoslavia lari dan tidak mengindahkan lagi kata-kata Bung Karno. Mungkin pula Serbia yang terlalu bersemangat sehingga Yugoslavia bertekuk lutut.

Begitu banyak kemungkinan dan spekulasi. "Dia telah merasakan asam garam" pribahasa singkat tentang sebuah penjelasan bilamana menghargai pengalaman orang lain itu penting. Bagi yang telah berpengalamanpun, membagi pengalamanya itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Masa-masa sulit Indonesia membebaskan Irian Barat mungkin menjadi pecutan dari Bung Karno kepada Yugoslavia kala itu. "Tidak boleh lari dan harus mengatasi keadaan itu".

Maknanya bukan hanya tergenelarisir untuk sebuah gejolak yang beasar saja. Tetapipun pada hal-hal kecil kehidupan. Semua kembali bagaimana penerima informasi itu dapat memanfaatkan informasinya dengan baik. Yugoslavia gagal menangkap informasi, meski mungkin dalam waktu yang lama Boegrad aman. Toh, informasi itu seharusnya di indahkan simultan dengan pndorong kebaikan kondusifitas keadaan.

Contoh kecilnya adalah Feri, tokoh pria dalam novel April Cafe karangan Syafrina Siregar. April Cafe adalah sebuah novel yang bercerita tentang kisa cinta segitiga antara Feri, Dina dan Faisal. Diawal cerita dikisahkan tentang perdebatan seru antara Feri dan Dina yang membuat Dina akhirnya memilih untuk pergi ke Batam.

Kala itu Feri terlalu cuek dan terkesan tidak menghiraukan perasaan Dina. Feri sesungguhnya sangat mencintai Dina tetapi dia terlalu canggung dan terkesan tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan Dinai. Dia memilih untuk membiarkan Dina lari karena dia tahu bahwa ahirnya nanti Dina akan kembali padanya. Ternyata waktu berselang begitu lama, Dinapun tak lagi menampakan batang hidungnya.

Feripun bingung, dia merasa hubunganya harus kembali di persatukan dalam waktu dekat. Akhirnya suatu pertemuanpun tak terelakan lagi. Feri, dengan susah payah dapat menemui Dina di Batam. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan, dia pun melamar Dina yang terlanjur sudah di sakitinya. Beruntung, meskipun Dina merasa kecewa karena dulu Feri tak dapat menyelesaikan masalah hubunganya tetapi toh, dengan berat hati Dina menerima dengan sarat bulan depan harus menikahinya.

Dina bukan tak malu, bukan tak laku dan tanpa pengorbanan ketika meminta Feri segera menikahinya. Dina menunggu keseriusan. Dengan di satu sisi diapun telah menjalin hubungan dengan Faisal. Kecewa, Feri ternyata tak dapat menyanggupinya dengan penuh rasa kekecewaan. Feri tahu jika Dina pada akhirnya lebih memilih Faisal. Feri menerima dengan lapang dada dan diapun sadar itu kesalahanya, kenapa dahulu tak dapat menyelasikan masalahnya dan memilih lari.

Yah, masalah bukanlah hal yang seharunya kita jauhi. Masalah adalah sesuatu yang seharusnya kita taklukan. Seperti sebuah kata dalam teks proklamasi "dalam tempo dan waktu yang sisingkat-singkatnya" seperti itulah masalah seharunya di selesaikan. Banyak makna yang terkandung dalam setiap masalah dan perjuangan adalah sesunggunya membuat masalah besar menjadi kecil. Tetap semangat, karena masalah adalah hal yang membuat kita pantas di sebut sebagai seorang manusia.

Kisah Patah Hati

Semua manusia pernah jatuh cinta bahkan anak SD jaman sekarang juga bisa jatuh cinta. Satu hal di bumi ini yang mungkin ngga akan bisa di bedain mana nenek-nenek, kakek-kakek, abah, mba dan ade kecil adalah saat mereka jatuh cinta. Semua kejadian yang di lalui pastilah sama, tuker nomor handphone untuk komunikasi, kirim-kirim kabar, rayuan, pendekatan dan akhirnya mengungkapkan perasaan. Yang beruntung mungkin bisa di terima dan yang belum beruntung pastinya di tolak.

Sebelum deketin cewe, biasanya kita sering sok-sok deket. Pura-pura tau keseharianya, pura-pura tau kesukaanya yang ga jarang itu salah. Percuma tau keseharianya dan kesukaanya karena itu ga lebih penting dari tau apa kriteria cowo idamanya. Ada beberapa kriteria cewe yang mungkin semua cewe itu kriterianya sama (sempet mikir kenapa tuhan ga nyiptain manusia kaya semut yang mirip semua?). Kriteria-kriterianya adalah sebagai berikut.

Ini paling ga adil.
1. Ganteng

Menurut gw ini adalah kriteria yang paling ga adil. Gara-gara kriteria ini, cwo-cwo ada yang rela ke salon, potong rambut mirip artis dan ga jarang pake 'lipgloss'. Kriteria ini memaksa cowo untuk jadi sok aktif, belajar wibawa atau bergaya gaul. Kriteria ini juga yang munculin krisis kepercayaan "kayanya gue bukan tipe dya". Bahkan 'saking' pesimisnya, kadang-kadang cowo sampe rela potong rambut, pake celana dan samain jenis baju sama Pasha ungu. Inget banget pas SMA, pake celana jenis 'begi' (celana yang di pake pagi dan cuma bisa di keluarin sore). Mungkin saat itu mikirnya kita bakalan mirip Pasha, idola cewe-cewe SMA padahal gak sama sekali.

2. Putih

Cewe emang susah di tebak, bener banget. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda termasuk warna kulit. Dan gw suka heran kenapa kok banyak cewe yang nyari kriteria cowonya itu kulit putih?. Yang kulitnya item terus mau di kemanain?. Ini kriteria melanggar kodrat. Kriteria yang membuat cowo kadang-kadang ngumpetin sunblock dan alat lulurnya di balik meja (supaya temen-temenya pas main ke kamer ga tahu ke feminimanya).

Jangan heran, kalo lo punya temen yang mukanya putih banget tapi leher dan tanganya item. Itu adalah tipe-tipe cowo yang cewenya punya kriteria kulit putih. Kriteria ini juga yang buat cowo susah cari kerja. Mereka rata-rata bingung, mau kerja lapangan atau kantoran?. Pertimbanganya sederhana,

A. Kantoran

Ada Ac, jauh dari sinar matahari, nyantai dan pastinya putih.......

B. Lapangan

Matahariiiiiiiiiiiii, panas, lembab bikin kulit kasar dan satu mimpi buruk yaitu kulit iteeeeeeeeem.

3. Aktif

Anak band, aktivis, comunity dan punya banyak temen mungkin lebih beruntung dari pembaca buku dan penulis. Karena menurut survey, cewe itu suka cowo-cowo yang aktifnya dikenal. Jangan heran kalo ada cowo yang suka alay, aktifnya ga seberapa tapi ributnya se kecamatan BBM dan Jejaring sosial tau. Contoh-contoh status yang mau di bilang aktif sebenrnya udah sering bertebaran, kaya misalkan "aduh hari ini sibuk jadwal padet" "senin lagi, berarti kembali ke aktifitas melelahkan" "rapat sampai malam" dan masih banyak lagi.

Jangan heran kalau fenomena boyband saat ini menjamur bagaikan CD bajakan. Itu adalah bagian dari kesalahan cewe minta kriteria-kriteria aneh dalam hidupnya. Lima anak yang dulunya bersahabat akrab dan hidup dalam dunia yang normal terpaksa aktif menuruti kemauan cewenya, lahirlah boyband....

Lanjut...

Setelah tahu kriterianya, cowo mulai deh sok-sokan pasang aksi. Yang tadinya diem, sok-sokan jadi pemain band dan aktif nge gowe sepeda tiap pagi. Yang tadinya rajin kerja lapangan dan kesanya cowo banget jadi mulai males kerja lapangan. Yang tadinya normal pake baju standar tiba-tiba pake celana yang ukuranya sesuai dengan 'gede' kakinya.

Cowo emang di akui selalu total memberikan hal-hal terbaik buat cewe yang di sukai. Detail-detail kecil kaya dia bangun jam berapa juga di perhatiin. Atau sekedar dia suka sampo apa juga di cari-cari. Tapi kadang ga sedikit juga cewe yang ga peduli sama cowo-cowo kaya gini, apalagi itu bukan kriterianya.

Setelah berbulan-bulan PDKT, berlebay-lebay ria dan sok-sokan jadi yang dia mau tibalah saatnya mengungkapkan rasam. Jujur, gue mungkin adalah cwo yang laing susah peka sama cewe. Karena gue ga pernah secara langsung nunjikin gw suka. Nah, sekarang tibalah ke moment yang terpahit yaitu di tolak. Ada beberapa kesamaan tingkah laku manusia yang di sebut cowo kalo dia patah hati. Tingkah itu spontan di lakuin semua cwo.

1. Delete Contact

Ngelihat wajahnya bikin galau, statusnya yang nunjukin udah punya itu rasanya ngehina perasaan banget munculah niat buruk. Kalo yang pake Hand Phone mungin nomernya langsung di apus yang padahal ga jarang kita juga penasaran mau sms lagi. Yang pake BB biasanya spontan langsung delete contact BBM nya, tapi ga selesai disitu. Dia sering pura-pura minjem BB temenya untuk ngecek status BBM nya, berharap dia putus.

2. Menghilang Dari Percaturan Jejaring Sosial

Yang biasanya tiap hari ke warnet atau rela beli pulsa buat online pake HP, semenjak di tolak berubah drastis. Dia lebih suka minjem HP temenya untuk nge cek cewe inceranya dulu. Dia udah jarang kirim wall atau mention, "udah makan belum ????" "Udah sholat belummmmm ????". Bahkan ga sedikit, yang 'saking keselnya' dia sampe menghapus fesbuk dan tuwiter cewe inceranya. Fakta membuktikan, bahwa perasaan ini di sebut dengan galau.

3. Ga Doyan Makan

Cowo biasanya suka lebay, mandangin foto dan menaruh raut wajah penyesalan. Sampe kadang-kadang rela ga makan seharian demi nyari tahu kenapa dia di tolak.

4 Kulit Belang

Mungkin kesalahan terbesar dari cewe yang nolak cowo di tengah jalan adalah kulit belang. Dari kriteria tersadis yang di berikan cowo, mungkin kriteria putih adalah jawabanya. Cwo yang kulitnya item biasanya maksa luluran dan pake cream malem yang itu rutin. Kalo berhasil, mungin jadinya dia kaya Michael Jackson. Kalo gagal dia bisa jadi kaya zebra. Wajah sampe jidat dan pipi putihnya kaya artis jepang tapi leher sampe kaki itemnya kaya Koby Briant.

Kesimpulanya, cewe terlalu kejam dan kadang menyalahi kodrat illahi dalam memberikan kriteria. Cewe parahanya, ga ngasih kesempatan untuk cowo ngebuktiin siapa dirinya. Dan ahirnya boyband dan zebra pun saat ini bertebaran di mana-mana. Ga jarang ada juga cowo yang rela pake leging yang di tangan buat mensukseskan program kulit putihnya. Salon pun penuh tidak hanya kalangan wanita tetapi pria pun aktif mengecek kesehatan kulitnya. Dunia ini kejam bagi cowo-cowo yang pesimis hidupnya.

Tulisan

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"

Dalam buku Minke halaman 352 karya Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya adalah penulis handal yang hampir seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk menulis. Tidak heran apabila beberapa karyanya dijadikan buku wajib bagi Mahasiswa di Amerika. Diapun pejuang tetapi dia tidak di perjuangkan bangsanya pada saat itu. Dia menjadi bagian di antara beberapa anggota PKI yang di asingkan di pulau buru.

Setiap orang memiliki pandanganya masing-masing tentang apa yang disukainya. Pemain bola beranggapan bahwa sepak bola adalah ajang terbaik bagi seorang laki-laki untuk membuktikan kekuatanya. Pengusaha menganggap pekerjaanya adalah yang paling relevan untuk dapat selalu berbuat baik. Tak terkecuali penulis, penulis memiliki penilaian bahwa sejarah adalah mencatat dan diabadikan lalu kembali lagi dicatat, maka menulislah.

Bahasan menarik bukan pada anggapan yang masing-masing itu. Tetapi pada anggapan yang mencoba mengeneralisir sesuatu dan seolah mengecilkan yang lainya. Pramoedya boleh bersuara tentang kebanggan dan sukanya sebagai penulis tetapi tidak pula harus berkata "akan hilang dari sejarah dan masyrakat" bagi yang tidak menulis. Ya, sekalipun sebagian besar mengamininya sebagai sebuah kebenaran.

Banyak sejarah yang memang di ungkap kembali melalui transkip-transkip kuno yang diartikan dengan baik. Dan tulisan adalah penyumbang terbesar dari ribuan sejarah-sejarah yang berhasil di buktikan kembali. Tetapi tidak sedikit pula yang mencoba mengemasnya dengan simbol, relief dan kode-kode lainya yang bukan tulisan. Tidak berbeda jauh, kode-kode, dan relief-relief itupun memberikan impact terhadap sejarah yang sama dengan tulisan.

Penulis mungkin secara singkat diartikan menjadi seseorang yang menulis. Berawal dari kata nulis lalu di beri imbuhan pe sehingga memilikki arti seseorang yang.... dalam hal.....

Memang tidak sedikit yang menilai benar dan sepakat dengan Pramoedya tetapi ada pula yang menanggap menulis adalah hal yang rendah. Tidak tanggung-tanggung, penolakan itu hadir dari Plato. Plato beranggapan bahwa jiwa dan ingatan manusia itu abadi, seabadi aetipe-arketipe yang menjadi sumber pengetahuanya. Oleh sebab itu, ia menganggap tulisan hanya membuat ingatan itu menjadi ephemeral (sementara). Dengan merekam pengetahuan kedalam tulisan, ingatan kehilangan sebagian besar fungsinya.

"Tulisan mematerialkan pengetahuan arketipal yang transenden dan abadi. Adanya tulisan akan membuat manusia enggan mengingat dan menggunakan memorinya"

Di dalam Phaerdus, Plato mencoba memaparkan dialog sang penemu tulisan Hermes dengan raja Thamus. Tapi sependapat dengan Plato, Thamuspun menolak ajakan Hermes untuk menulis dengan alasan yang sama dengan Plato yaitu "Tulisan adalah aktualisasi dari mereka yang malas menghafal". Plato merinci apabila sejatinya kebenaran itu hanya dapat diperolah melalui verbalisasi dan kehadiran absolut.

Lambat laun Platopun ternyata menerima tulisan sebagai fungsi. Sekalipun dia tetap kekal pada pendapatnya bahwa tulisan hanya membuat orang malas. Menurut Plato, tulisan hanya direduksi menjadi sekedar tekhnik tetapi fungsinya tetap sebagai natural writing yang primordial dan merupakan origin tuturan. Logosentrisme terkesan tidak konsisten dan berada diantara tengah-tengah yang sebenarnya tidak menolak kehadiran tulisan tetapi hanya menundanya.

Bayangkan, Pramodya dan Plato memiliki pandangan yang berbeda. Keduanya sama-sama penulis dan penghasil karya yang konsisten. Pramoedya menulis karena mungkin hobby dan tekanan yang membuat imajinasinya terpenuhi. Sedangkan Plato, sekalipun dia menolak tetapi sesungguhnya dia menerima namun dengan bahasa yang tegas "natural writing" atau tuturan yang di tuliskan. Apapun itu, pilihan dan masing-masing memiliki alasan yang Good and Rasional, Plato tidak ingin fungsi otak melemah sedangkan Pramoedya mencetak sejarah. Sama baik, sama masuk akal !!

Rabu, 21 Maret 2012

Tan Malaka

Hidungnya pesek, sorot matanya tajam, perawakanya sedang. Ia berpakaian kemeja hitam dan celana bahan khaki, dan taktala ia tiba dia memakai topi helm tropis berwaena hijau muda. Ia berbicara dan suaranya agak parau.

Setidaknya itulah gambaran mengenai 'sosok kesepian' ketika umurnya menginjak 52 tahun. Tidak terlalu istimewa dan terkesan sangat sederhana namun rapih. Dia tidak lain adalah Tan Malaka, deskripsi itu di buat ketika ia menghadiri pertemuan pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia. Secarik kertas gambaran sosok Tan Malaka itu di tulis rapih oleh Rosihan Anwar.

Tan Malaka atau dikenal pula dengan nama Ibrahim lahir di Nagari Pandan Gadang pada tahun 1897. Dia di lahirkan dari keluarga terpandang, sebagian keluarganya termasukk ayahnya bekerja sebagai pegawai pertanian Hindia Belanda.

Tan Malaka dalam hidupnya seperti banyak di kisahkan orang memiliki pemikiran kiri. Pemikiran yang menurut definisi singkat di artikan sebagai Revolusioner. Sebutan 'kiri' ini muncul berawal dari revolusi prancis dimana kala itu pemikir moderat duduk di sebelah kanan dewan dan revolusioner di sebelah kirinya. Atas dasar pemikiran revolusionernya maka Tan Malaka masuklah ke kardus bagian kiri 'Revolusioner'.

Kisah hidupnya bisa di bilang cukup heroic dan menegangkan, penuh cerita, penuh makna, keikhlasan berjuang dan keberanian. Belanda, Jerman, China, Soviet, Singapura, Thailand, Filipina, Hongkong pernah di lalui dan di letakan kisah-kisah indah di dalamnya. Di Belanda dia begitu di agungkan sebagai pemikir muda yang handal, di China dia mendirikan beberapa sekolah, di Malaya dia menjadi penggerak perjuangan 'kekirian' dan masih berjuta kisah panjang lainya di miliki Tan di berbagai negara.

Masa kecilnya tidak begitu berbeda dengan masa kecil anak 'desa' pada umumnya. Dia handal berkelahi, dia pemimpin pergulatan antar kampung, diapun cerdas mengelabui guru ngaji. Dia tidak terlalu suka bermewah-mewahan sekalipun hidup dalam lingkungan berkucupan. Di balik ketangkasanya meramu kenakalan, diapun tidak lupa mencintai buku dan menorehkan hal 'gila' dalam program pendidikanya masa itu.

Selang waktu berlalu, Tan tumbuh menjadi manusia remaja yang kian matang. Keuletanya dan keberanianya sudahlah teruji dan mentalnya bisa di bilang 'sekuat baja'. Penolakan gelar datuk menjadi salah satu prinsip hidup kesederhanaanya sekalipun mau tidak mau ia harus menerima karena pilihan dinikahkan. Dia akhirnya pergi, pergi memulai kariernya menuju Belanda.

G.H. Horensma, gurunya di Kwekkschool mungkin adalah orang yang paling berjasa dalam proses perantaunya. Horensma yang begitu tertarik dengan kecerdasan Tan Malaka ikut pula membiayai sekolah Tan Malaka. Di Belanda, kehidupan Tan Malaka tidak serta merta bahagia dan mudah, diapun seperti sewajarnya perantau, mengalami apa yang di namakan 'kekurangan dana'. Tidak itupula, dia pun mengalami masalah adaptasi dengan Bahasa Belandanya yang kala itu masih kacau.

Tan muda hidup dengan serba kecukupan, dengan semangat belajar dan keinginan yang luhur diapun mencoba bertahan hidup. Di pilihlah Guru Bahasa Melayu menjadi menjadi pekerjaan sampinganya kala itu. Dia mengajar bahasa Melayu kepada kaum pirang Belanda yang hendak bekerja di Hindia-Belanda. Sembari mengajar, diapun tak pernah lupa meneruskan hobinya, yaitu membaca buku. Kesempatan panjangnya di Eropa ia gunakan untuk melahap habis buku karya Rosa Luxemburg, Nietzsche, Rousseau hingga Marx-Engels.

Ibarat cerobong api yang di bawa berestafet, sampailah Tan Malaka pada pertemuan penting. Dia bertemu dengan tokoh sosialis Belanda, Sneevliet. Pertemuan itu pula yang mengantarkan kedekatanya dengan Partai Komunis Belanda dan kaum Sosialis Eropa. Tan Malaka muda, Tan Malaka memulai niat dan Tan Malaka mulai menemukan jati dirinya sedikit demi sedikit.

Revolusi Rusia bisa di bilang sebagai penguat kesadaranya akan hubungan antara imperialsme, kapitalisme dan kelas sosial. Keyakinan akan paham dan idealis yang ia bawa dipertebal dengan pengalamanya ketika bekerja di perusahaan Belanda-Swiss yang terletak di Deli. Dari situ ia menyadari betapa tidak adilnya perlakuan pemilik modal terhadap pencipta uang yang sesungguhnya. Dalam kesempatanya di Deli dia menulis sebuah brosur Parlemen atau Soviet...

Akhirnya sampailah ia di Pulau Jawa. Gagasan yang pertama ia bawa adalah membangun kecerdasan rakyat. Dalam prosesnya perjuanganya dia tak lupa mengibarkan bendera komunis 'ala'k Tan Malaka. Diapun tidak gegabah dan terus membangun perjuangan bersama Kaum Muslim. Kemaunya hanya satu saat itu, menyelamatkan rakyat dari penjajahan dan paham Feodalisme.

Tepat dan cepat, mungkkin kata-kata itu layak di berikan padanya. Tanpa menghitung waktu yang lama akhirnya sekolah rakyat di bangun (di Semarang). Sekolah rakyat ini ia bangun bukan dengan niatan nantinya para lulusan menjadi juru tulis pemerintah. Tetapi sekolah rakyat ini ia bangun dari rakyat untuk kecerdasan rakyat. Untuk mencerdaskan rakyat dan berani dalam bersikap, karena dia sadar bagaimanapun pendidikan itu penting.

Perjalananya dalam mencerdaskan rakyat tidaklah mudah. Setelah beberapa sekolahnya di bangun di Semarang, Kaliwungu, Salatiga, Sukabumi, Pekalongan, Jakarta hingga Bandung, Tan Malaka justru di tanggkap. 13 Februari 1922, ya itu adalah tanggal dimana terjadinya perpisahan batin antara Tan Malaka dan Semarang, kesedihan mendalam menyelimutinya hingga diapun tak kuasa menahan tangis.

Tan Malaka pun di bawa kembali ke Belanda, sambutan dan lambaian tangan menyambut kepergianya. Wajah-wajah serta ratapan kesedihan tak bisa di sangsikan secara jelas. Kesempatan yang begitu sempit membuatnya memilih jalan lain, bak seorang kekasih sedang jatuh cinta tetapi tak dapat bertemu dan bertukar cerita, Tan Malaka menulis catatanya untuk negeri Minangkabau. Sebuah negeri yang telah lama ia tinggalkan.

Bukan Tan Malaka namanya jika kalah oleh keadaan. Dalam pengasinganya dia justru lebih 'garang', berani dan semakin matang. Dia secara berani mencalonkin diri sebagai anggota parlemen Belanda dari Partai Komunis Belanda. Usahanya kala itu sederhana, membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan melalui tangan orang Belanda sendiri yaitu Partai Komunis Belanda. Dia cerdik, dia pandai namun dia tidak berisik. ("Padi tumbuh tak berisik" Naar De Republik Indonesia)

Tan Malaka pun akhirnya secara resmi dikenalkan oleh Partai Komunis Belanda secara luas. Tanpa diduga, ternyata sambutan Warga Belanda begitu antusias, begitu ingin tahu dan begitu setuju dengan Tan Malaka. Seluruh hadirin yang hadir di Diamantbeurs berebut cepat menjabat tanganya. Tepuk tangan serta teriakan kegembiraan begitu keras di dengarkan kala Tan Malaka berpidato.

"Kami bersatu dengan Tan Malaka dan musuh daripada musuhnya! Kami memberi hormat yang tinggi kepada Tan Malaka dan kami membenci kalian kaum munafik kapitalis (Poeze hal 261-263)"

Perjalananya berlanjut menuju Moskow. Tak kenal lelah dan terus berjuang adalah motto hidupnya. Sikap keras 'ala' Minangkabau pun dia bawa hingga Moskow. Dimana dia katakan "aku akan tunduk pada prinsip kita bersama, tetapi aku tidak akan pernah bisa menundukan kepalaku kepada Stalin".

Cukup muda, bahkan bisa di bilang sangatlah muda. Di usianya yang ke 26 Tan Malaka telah di angkat menjadi seorang Agen Komunis untuk wilayah sebesar Asia Tenggara. Tan Malaka pun menuliskan secara gamblang tentang politik dan ekonomi bangsanya untuk Comitern. Tak perlu waktu lama, setahun kemudian buku itu di terbitkan di Russia.

Di tahun 1923 atas persetujuan Comitern Tan Malaka akhirnya pindah menuju Kanton, China. Perjalanan yang panjang sedang ia tempuh kembali. Hidup baru dan ekosistem baru tanpa latin kala itu ia jalanin. Di China ia di beri tugas menuliskan surat kabar berbahasa Inggris. Putar otak, bingung dan galaupun ia rasakan manakala ia merasa kesulitan mencari percetakan dengan bahasa latin. Di China pula ia semakin memperkuat jaringanya, dia kenal dan begitu akrab dengan Sun Yat Sen.

Tan Malaka memang sangatlah cerdas, dimanapun ia tinggal ia selalu mendapatkan tempat terbaik. Di China dia diangkat menjadi Kepala Biro Buruh Angkutan lewat Konfrensi Pan Pacific. Di sana pula ia menuliskan Pamflet Semangat Muda atau yang lebih di kenal dengan Naar Dee Republik Indonesia, Menuju Republik Indonesia. Karya itu akhirnya baru bisa di terbitkan ketika ia berada di Manila. Karya untuk Indonesia, yang dia tulis 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Dia mendahului Soekarno dan Hatta dalam soal Indonesia.....

Dalam petualanganya yang di iringi dengan beberapa persembunyian, Tan Malaka memiliki beberapa nama. Di China dia dikenal Ong Soong Lee atau Howard Law, sedangkan di Philipina, orang menyebutnya dengan Ellias Fuentes. Semua itu di lakukan untuk menghindari diri dari kejaran intelijen Inggris.

Jauh dari pantaunya, di Indonesia ternyata sedang terjadi gejolak. PKI yang ia sanjung ternyata bergerak di luar kemauanya, PKI berencana melakukan pembrontakan besar-besaran. Sebagai wail Comitern Asia Tenggara, Tan Malaka segera bergerak cepat. Dia mengeluarkan surat larangan dan penarikan rencana. Tetapi miris, ternyata pandanganya di tolak keras oleh Muso dan Alimin. PKI pun beringas dan melakukan pembrontakan diman-mana.

Secara singkat, perjuanganya di lanjutkan dengan mendirikan Sekolah Bahasa Asing di Amoy sebelum akhirnya pulang ke Indonesia. Dalam masa kepulanganya dia terus berjuang dan menginginkan kemerdekaan seratus persen tanp kompromi (Gerpolek). Niat suci terhadap bangsanya tak berbuah manis, di justru mati di tangan pribumi. Ajaranya kini hanya bersisa dalam buku fenomenalnya Madilog. Buku yang memandang segala penjuru menggunakan matter.

"Bung, perjuanganmu begitu ikhlas. Kau tidak berisik namun kau banyak bekerja. Kau tunjukan keikhlasan serta tanggung jawab yang tinggi. Pundaku mungkin begitu berat memikul persoalan tapi palingan wajah orang yang kaui perjuangankan justru membuatmu semakin semangat. Dimana kini sekolah-sekolahmu yang dulu kau bangun?. Aku ikut caramu bung, aku ikut wajahmu yang tanpa kemunafikan. Kau diakui Bung!! Kau Presiden bung!! Walau hanya sebatas bayangan. Namamu terpatri dalam setiap jengkal perjuangan yang tulus. Hidupmu sungguh menginspirasi bung!!!"

Bakhrul Amal

Syekh Siti Jenar

Dia duduk sila di atas sejadah di ruang tengahnya. Tanganya terlihat memutar tasbih dan terus membaca asma Allah. Tamu yang datang tak ia hiraukan sebelum tugasnya menghadap sang kuasa dia selesaikan dengan tuntas. Kepala menggeleng ke kanan dan kiri, bibirnya tak pernah diam dan selalu berirama. Suasana yang indah dan penuh dengan keharmonisan.

Dia Jenar, Syekh Siti Jenar. Sebagian pengikutnya menganggapnya wali tanpa mengurangi rasa hormat pada kesembilan wali lainya. Ucapan Syekh Siti Jenar memang terkenal lugas dan jujur (konon) bahkan dia lebih dapat di terima dari sembilan wali lainya. Dia cerdas, dia ahli dalam berbagai ilmu termasuk ilmu yang orang mengenalnya dengan 'manunggaling kawula gusti' atau 'bersatu raga bersama tuhan'.

Pernah suatu waktu ajudan dari dewan wali menghadapnya memberi surat. Surat itu mungkin teguran, mungkin pula ajakan diskusi yang kala itu Syekh Siti Jenar adalah bintangnya. Belum terbaca surat itu, Syek Siti Jenar sudah membuat dua ajudan dewan wali itu marah. Ketika baru di ketuk pintu rumahnya lalu ajudan dewan wali menyaut namanya, dia menjawab "disini tidak ada Siti Jenar yang ada adalah Tuhan".

Dua ajudan itupun pergi meringis dengan pendaman luka yang teramat. Syekh Siti Jenar kembali menjadi sorotan di antara permasalahan yang muncul kala itu. Runtuhnya tiang-tiang agama menjadi alasan mengapa Syekh Siti Jenar dimusuhi, dia dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan membahayakan. Luapan hatinya akan cinta terhadap Tuhan, memasukan dia kedalam kelompok 'khawas' (khusus) yaitu kelompok Sufi atau dalam jawa di sebut kebatinan.

Argumenya di nilai ngawur kala itu, dia memanggap semua itu tak ada dan yang ada hanya Tuhan. "Kamu tuhan, aku tuhan dan semua tuhan". Namun keyakinyanya tak pudar seiring kecaman yang kian menggema. Dia tetap santai dalam pondoknya yang agung mengajar murid-muridnya. Merumuskan ide-ide serta tulisan yang menarik pun tak pernah ia tinggal.

Akhirnya kesempatan itu tiba juga, dimana ketika dia memenuhi panggilan sembilan Wali (Wali Songo). Dia diadili, dia dicecar, dia bersalah dan dia harus dihukum. Dewan Walipun tak bergerak lambat. Berbagai opsi serta persetujuanpun dilakukan. Akhirnya terpilihlah hukuman paling menakutkan. Yaitu apa yang kita kenal saat ini pancung atau hukuman mati dengan memotong kepalanya.

Syekh Siti Jenar yang memiliki ilmu tinggi pun akhirnya menghargai. Dengan kepasrahan dan kesadaran hatinya dia serahkan kepalanya. Akhirnya, tamatlah riwayat sang Sufi besar dari jawa itu. Tetapi belum, belum selesai sampai di situh. Dari kabar dan potongan transkrip yang tersisa, ketika Syekh Siti Jenar diakhiri hidupnya ternyata bau wangi semerbak muncul dari jasadnya. Jasadnya memunculkan cahaya terang benderang melebihi penerang lampu kala itu. Syekh Siti Jenar pun didudukan sembari tanpa pimpinan Sembilan Wali langsung meminta maaf. Wallahu a'lam bi sh-shawab!

Kisahnya begitu haru, mengundang tanya dan menuai sejuta rasa ingin tahu, ingin tahu dan terus ingin tahu. Mungkin Rummi lah yang mampu menjawabnya dengan penjelasanya...

"Ungkapan "Aku adalah Tuhan" bukanlah timbu dari sifat sombong yang teramat sangat. Melainkan kerendahan hati yang paling dasar. Seseorang yang berkata "Aku adalah hamba Tuhan" menyebutkan dua keberadaan, dirinya dan Tuhan. Sedangkan ungkapan "Aku adalah Tuhan" berarti penidaan diri, dia menyerahkan seluruhnya yang ada padanya sebagai kekosongan"

Jadi, bisakah bila kita menganggap Syekh Siti Jenar sebagai wali kesepuluh.

Kawan

Bro

oleh Bakhrul Amal BA pada 14 Maret 2012 pukul 21:27 ·
Kendalanya satu, hidupnya belum berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Kemajemukan, kelurusan dan kesetaraan adalah tema yang terpatri dalam dadanya. Rasionalitas dan imajinasinya masih belum bisa bersatu taktala waktu yang salah menyelimuti harinya. Dia adalah Gigih Yafitri, anak pertama dari tiga bersaudara yang di lahirkan dari keluarga yang amat sederhana dan rendah diri.

Entah dari mana memulainya, terlalu lama banyak yang hal kita lalui bersama. Kisahnya mungkin hampir sama dengan kata-kata Derida "sejak Aristoteles hingga Heidegger, mereka mencoba melihat kehidupan tak ubahnya sesuatu yang remeh atau kebetulan". Ya itulah makna dari segala perjalanan panjangnya sampai saat ini. Dalam ketidaktahuan, dia tetap maju untuk mencoba survivre "mengatasi" (sur) "hidup" (vivre), melewati.

Pernah satu malam aku menatap matanya yang kosong, harapanya sedikit melambung tinggi. Dalam rinai hujan dan gelap-gelap kerlap-kerlip lampu kota dia bercerita. "Aku harus maju bung, aku anak pertama" katanya tegas dan saat itu akupun sepakat. "Anda bisa melakukanya, asal semuanya tulus" jawabku memegang pundaknya yang kala itu melemah lesu.

Malam itu terasa begitu panjang dengan cerita-ceritanya yang rumit. Berulang kali dia berlaku layaknya "Merasakan nikmat dan menangis di hadapan kematian sama saja". Padahal dia sudah membuka gerbangnya, tetapi kesadaranya sulit untuk masuk. Hingga malam semakin larut dan kita berpisah, saat itu dia masih pongah dengan pandanganya yang kaku.

Kebuntuan adalah kata yang sudah tidak asing di telingaku ketika mengingatnya. Entah sedikit sadar atau tidak, dia selaku pemegang komando akan hidupnya terkadang lupa. Permasalahan memajukan kaki kanan terlebih dulu saja menjadi masalah baginya. Padahal tujuanya masih begitu terbentang bak padang pasir di sahara. Dia memutar dirinya dan kadang hampir saja lupa caranya menyalakan api yang hampir padam.

Saat ini, setelah pertemuanku yang terakhir rasanya dia begitu banyak berubah. Semangatnya tak lagi seperti delman melainkan layaknya kuda pacu yang bebas. Dua buah tanganya pun semakin besar dan siap memanggul beban keraguanya yang terbuang sia-sia. "Aku sudah siap sekarang, maju dan tidak menatap kebelakang adalah hal terbaik" katanya di suatu kesempatan.

Sebuah penilaian ganjil yang dulu ia paparkan kini mulai sirna secara perlahan. Mottonya yang menolak usulpun tak lagi tampak dalam sela-sela pembicaraan yang panjang kala itu. Namun sifatnya yang kadang salah persepsi masih saja melekat dan berbahaya jika ia tidak kikis dari sekarang. Majukan langkahmu sekarang, kamu sudah ada didepan mereka yang terlanjur kembali ke belakang. Ruas-ruas rusukmu satukan layaknya satria, Bravo Gigih Yafitri (Semangat Suci)