Minggu, 28 Agustus 2011

Idul fitri- Hari Manusia dan Kemanusiaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر. الله اكبر. الله اكبر. الله اكبر. الله اكبر . الله اكبر . الله اكبر.
الله اكبر كلّما هلّ هلال وابدر. الله اكبر كلّما صام صائم وأفطر. وكلّما أطعام القانع المعتر. الله اكبر الله اكـــــبر الله اكـــــبر . لا اله الا الله والله اكـــــبر و لله الحمد.
الحمد لله الّذى سهّل للعباد طر يق العبادة ويسّر .ووفّاهم اجور أعمالهم من خز ائن جوده الّتى لا تحصر. وجعل لهم يوم عيد يعود عليهم فى كلّ سنة ويتكرّ ر.
أحمده سبحانه وهو المستحقّ لأن يُحمد ويُشكر. واشكره على نعم لا تعدّ ولا تحصر
واشهد أن لا اله إ لاّ الله وحده لا شر يك له الملك العظيم ا لأكبر. واشهد أنّ مـحــمّدا عبده ورسوله الشـّافع فى المخشـر. اللّهـمّ صلّ وسـلّم على سيدنا محمّد وعلى اله واصحابه الّذين اذهب عنهم الرّجس وطهّر .
امّا بعد , فيا ا يّهاالنّاس إتّقوا الله، و قال تبارك وتعالى يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18 )

Ma’asiral ‘ied, Hadaniyallah wa Iyyakum

Baru saja kita bersama melaksanakan sholat ‘Iedul Fitri, ungkapan rasa syukur kehadirat Allah subhanahu wata’ala bahwa kita telah berhasil menunaikan salah satu kewajiban kita, perintah Allah, melaksanakan shaum ramadlan, satu bulan penuh. Sepanjang shalat kita berdo’a dan meyakini bahwa ibadah puasa kita dan amalan-amalan yang kita lakukan bersamanya diterima Allah Subhanahu wa ta’ala.

Puasa sebagai ibadah, sama seperti ibadah-ibadah lainnya, yaitu memiliki dua dimensi. Yaitu dimensi ilahi dan dimensi insani. Dimensi Ilahi dari puasa antara lain berupa pengakuan total terhadap kebesaran dan keagungan Allah serta kepasrahan mutlak kepadaNya, bahwa hidup ini berasal dari Sang Khaliq dan karenanya semuanya harus dikembalikan pada kehendak dan aturaNya.

Dengan berpuasa kita menyatakan bahwa makanan, minuman, dan kepuasan seks bukanlah kekuatan yang sesungguhnya, atau pemberi kekuatan pada kehidupan kita. Kekuatan hidup yang sesungguhnya hanya bersumber dari Yang Maha Pencipta. La khaola wa laa quwwata Illa Billah. Pernyataan itu diungkap dengan kemauan merasakaan dan membuktikan, bahwa segala aktivitas kehidupan kita sepanjang hari dapat dilakuak oleh kita dan setiap manusia beriman, sekalipun tidak makan dan minum selama satu hari penuh.

Kepasrahan mutlak kepada Sang Khaliq kita nyatakan dengan melepas apa yang telah diyakini menjadi hak kita, bahkan hak milik kita. Makanan, minuman dan kesempatan lainnya, yang telah kita peroleh dengan usaha kita yang halal dan telah kita miliki kita relakan untuk tidak kita nikmati, dikembailkan kepada pemilik yang sesungguhnya, selama satu hari penuh. Bahkan diri kita yang selama ini merasa kita miliki dipasrahkan juga kepada Allah dengan membiarkannya tidak tersentuh makanan dan minuman. Dengan itu kita menyatakan innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Semuanya bersal dari Allah dan kepadaNya jua semuanya akan kembali.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jama’ah Ied yang berbahagia,

Dimensi ilahiah puasa yang diantaranya terpapar di atas seharusnya berimbas kepada dimensi insaniahnya. Keharusan mengaitkan dua dimensi itu ditandai oleh dua hal. Pertama, kewajiban membayar zakat fitra, Kedua, disunnatkannya sholat ‘Iedul Fitri seperti yang baru saja kita laksanakan.

Zakat fitra yang diwajibkan kepada kita, memang terkaitkan erat dengan dimensi ilahiyah puasa la haula wala quwwata illa billah dan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Zakat fitra adalah zakat yang harus dikeluarkan bagi manusia muslim yang berjumpa dengan (malam terakhir) bulan puasa, dan diberikan kepada mustahiq, orang-orang yang berhak. Jika dikaitkan dengan dimensi ilahiah puasa la haula wala quwwata illa billah, maka pemberian zakat menjelang shalat ‘ied itu hanyalah sebuah perlambang. Esensinya adalah agar sepanjang hayat, kita sebagai muslim selalu peka, care (pedul)i, terhadap kaum lemah dan du’afa, dengan segala permasalahannya, dengan tidak melihat hal-hal lain di luar kemanusiaan mereka, seperti ras, bahasa, agama. Dengan itu kita terhindar dan menghindarkan diri untuk menggunakan daya (haula) dan kekuatan (quwwata) kita, yang sesungguhnya dari Allah, untuk memperdayai, menganiaya, mendzalimi, dan mengeksploitasi orang lain yang daya dan kekuatannya kita anggap lemah, berada di bawah kita.

Zakat fitra ditakar dengan ukuran kebutuhan makan kita satu hari, disepakati satu setengah kilogram beras. Jika dihubungkan dengan dimensih ilahiyah puasa yang kedua, yaitu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, maka niscaya dua setengah kilogram tersebut hanyalah sebuah perlambang. Esensi yang lebih dalam ialah pemberian itu tidak berjumlah dan tidak berbatas, tidak hanya beras untuk makan, tetapi pemberian itu haruslah berujud kesediaaan dan kesiapan untuk melepas apapun yang kita miliki demi kehidupan manusia yang lebih baik. Jika hendak dibuat tahapan, maka gambarannya adalah sebagai berikut : Pertama, dengan niatan baik, kita harus senantiasa berusaha guna memperoleh ilmu, harta, tahta dan manfaat bagi kehidupan kita. Kedua, menyatu dengan yang pertama, usaha kita itu harus dijauhkan atau bahkan bersih dan dibersihkan dari hal-hal yang menimbulkan kerugian pada orang lain, baik besar maupun kecil, baik langsung maupun tidak langsung. Ketiga, semua yang diperoleh itu kemudian dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara yang benar untuk memperkuat dan mempertegas penghindaran dari kerugian bagi apa dan siapaapun di sekiltar kita. Keempat, secara proaktif pemanfaatan tersebut harus bisa menyelamatkan dan membahagiakan orang lain dan siapapun di sekitar kita.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang ‘Ied yang dimuliakan Allah,

Perspektif seperti di atas, dalam skala kecil sudah kita latih sendiri dan telah sukses kita laksanakan selama kita melakukan ibadah puasa sebulan penuh. Amanah kita berikutnya, adalah bagaimana kehidupan seperti itu dapat kita perteguh dalam spektrum yang lebih luas, dalam kehidupan keseharian kita.
‘Idul Fitri, Hari Raya Berbuka, dengan ritual shalat ‘ied yang baru saja kita lakukan, sebetulnya adalah ungkapan rasa kemenangan kita. Kita merayakannya dengan “berbuka” karena kita telah ber “puasa” dan selamat dalam menunaikannya. ‘Idul Fitri juga sering dianggap perayaan kemenangan karena kita telah berhasil menang dalam berperang melawi “hawa nafsu” kita, sehingga kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia. Dalam sebuah hadits memang disabdakan , “man shama ramadlona imaanan wa ichtishaban gufira lahu ma taqaddama min dzambih” dalam hadits lain diungkapkan “ka yaomi waladathu ummuh” (Barang siapa menunaikan ibadah puasa di bulan romadlan denga rasa iman (yang kuat) dan kesadaran (yang tinggi), akan diampuni segala dosanya (sehingga bersih kembali) seperti ketika baru dilahirkan oleh ibunya).

Bayi yang baru dilahirkan digambarkan sebagai manusia yang fitri, bukan hanya bersih dari dosa, melainkan potensi yang dimilikinya adalah potensi otentik, yaitu potensi untuk berbuat baik dan mencintai kebaikan, yang sering dikenal dengan fitrah manusia yang sejati. Pada bayi diyakini tidak dijumpai rasa permusuhan, keserakahan, dendam dan hal-hal yang merusak lainnya. Karena itu, ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa denga penuh imaanan wa ichtisaaban, maka diyakini kita telah kembali seperti bayi, menjadi fitri, kembali ke fitrah kita sebagai manusia. Karena itu kita rayakan. Dari situ maka bersalaman, bermaaf-ma’afan, silaturrahmi, dan ungkapan minal a’idiin al faiziin betul-betul merupakan ekspresi dari fitrah kita yang sebenar-benarnya, tulus dan mengalir tanpa pamrih.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Muslimin yang berbahagia,

Dengan mengkoneksikan antara dimensi insani dengan dimensi ilahiyah pada ibadah puasa itu, yang kita harapkan untuk di raih bukan hanya keramaian di tingkat perlambang, atau di tingkat fisik dan formal, yang efeknya hanya sesaat. Yang ingin kita raih ialah keramaian di tingkat substansial dan mental yang lebih abadi dan memiliki dampak pada realitas kehidupan dan masa depan kita bersama. Dengan selesainya ibadah puasa ini yang ingin kita temuai adalah perubahan pada diri kita, dimana kita menjadi manusia yang autentik, mandiri, percaya diri, rela berkorban, suka memberi, menghargai orang lain, dan memafkan, daripada sebaliknya.

Bangsa kita ini sedang berjuang untuk menjadi bangsa yang sejajar, atau bahkan unggul dari bangsa-bangsa lain. Dalam perngkat-peringkat “kebaikan” dunia, negara kita berada pada peringkat yang belum menggembirakan. Bahkan dalam beberapa hal sangat memprihatinkan. Semangat berpuasa dengan ‘iedul fitri kita, diyakini akan dapat menghasilkan karakter manusia Indonesia yang positif dan berguna bagi pembangunan bangsa. Bangsa ini memang membutuhkan manusia yang mau berkorban, suka memberi, jauh dari serakah dan korupsi; manusia yang welas asih, jauh dari sikap memeras dan premanisme; manusia yang proaktif memberi maaf, jauh dari sikap bengis dan balas dendam, sehalus apapun karakter-karakter jelek itu ditampilkan.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ، وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ  الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ . وَتَقَبَّلَ
مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ


Khotbah II


الله اكبر. الله اكبر. الله اكبر. الله اكبر. الله اكبر . الله اكبر . الله اكبر الله اكبر . الله اكبر.
اكبر و لله الحمد لا اله إ لاّ الله و الله
الحمد لله وسعت رحمته وتعالت قدرته و تجلت عظمته أشهد أن لا
إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله
وسلامه عليك يا رسول الله وإنك لعلى خلق عظيم بلغت الرسالة وأديت
الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت في سبيل الله حق الجهاد حتى أتاك
اليقين وعلى آلك وأصحابك ومن اتبع سنتك واهتدى بهداك وسار على
نهجك إلى يوم الدين
. أما بعد
وقال تبارك وتعالى اتقوا الله حق تقاتع ولا تمو تن الا وآنتم مسلمون ،
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18 )

Ma’asyiral ‘Ied Hadaniyallahu wa Iyyakum

Puasa yang kita lakukan salah satunya memiliki fungsi untuk instrospeksi diri. Hasil yang diperoleh adalah penguatan “konsep diri” kita. Konsep diri kita sebagai muslim semestinya berangkat dari fitrah kita sebagai manusia, berangkat dari semangat la haula walaa quwwata illa billah dan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dengan landasan seperti itu, maka niscaya kita mempunyai gambaran yang jelas mengenai diri ( “self image”) kita. Kita akan menggambarkan diri kita sebagai khalifah dan ‘abd atau hamba Allah sekaligus. Tugasnya adalah mengabdi dan melayani.

Kikta sebagai khalifah dan ‘bd ialah kita yang mampu menebar kasih sayang kepada semua; kita yang mampu memekarkan kebahagiaan sesama; kita yang mampu mempersembahkan prestasi berharga; dan kita yang mampu menebarkan rahmat dan kedamaian bagi ummat manusia. Hanya kita seperti itulah yang disebut kita yang muttaqien, kita yang berhak dirayakan hari ini sebagai lambang kemenangan. Taqbbalallahu minna wa minkum, minal ‘aidiin al faiziin.

Dengan itu, maka jadilah ‘idul fitri ini sebagai hari raya manusia dan kemanusiaan. Hari kita menjadi diri sendiri, dan sekaligus hari menghidupkan potensi kemanusiaan kita.
Marilah kita akhiri khotbah ini dengan bersama-sama memanjatkan do’a dengan penuh khusyuk:

َاللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، .وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، فى العالمين إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مجيب الدعوات ، بِرَحْمِتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلِّ الشِرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَك َأَعْدَاءَ الدِيْنِ
اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ
وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



MASYARAKAT BHINEKA TUNGGA IKA: BELANEGARA, PENGALAMAN PESANTREN DAN IMPLEMENTASI KEKINIAN

A. Iftitach

Pesantren merupakan institusi strategis. Sekalipun sering dikelompokkan sebagai institusi pendidikan, pesantren sebetulnya lebih dari sekedar lembaga pendidikan. Sistem kehidupan yang dibina di dalamnya, dan karakter jalinan antar pesantren, dan bahkan variasi kepedulian ppesantren terhadap aspek-aspek kehidupan dalam masyarakatnya, menjadikan pesantren sebagai institusi yang unik yang dapat memberikan konstribusi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat atau bahkan negara.

Posisinya yang amat strategis tersebut bukan tidak disadari oleh banyak kalangan, Tetapi, sebagian yang tidak berpandangan positif justru sering melihat posisi strategisnya itu sebagai ancaman, dan karenanya dicurigai dan bahkan dimusuhi dan dikucilkan. Realitas seperti itu tidak sulit untuk dicarikan catatannya dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Namun demikian, pengalaman yang seperti itu seringkali dijadikan pelajaran oleh kalanagn pesantren sendiri, sehingga menjadikan pesantren semakin matang dan menjadikan perannya dalam masyarakat semakin mantap. Reaksi pesantren dalam menghadapi tantangan dan “tantangan”nya memang tidak selalu sama, baik dari sisi kepekaan maupun dari sisi kemampuannya. Ragam dinamika pesantren yang seperti itu pada sisi tertentu ternyata merupakan kekayaan tersendiri bagi dunia pesantren. Ini adalah faktor strategis lain dari pesantren, sehingga pesantren (kebanyakannya) tetap survive. Sekalipun demikian, memang pula diakui bahwa penempatannya yang di “deskreditkan” juga telah menjadikan beberapa pesntren dalam posisi melemah.

Terakhir pesantren menghadapi “tantangan” terorisme. Bersamaan dengan itu, bangsa kita juga sedang mengkhawatirkan kelanjutan NKRI. Bisa jadi, kekhawatiran itu timbul karena dikaitkan dengan fenomena terorisme dan kekerasan-kekerasan lainnya. Dalam konteks ini, maka secara tidak langsung pesantren juga dikaitkan dengan pertanyaan bela negara dalam ranggka NKRI itu. Sebagai upaya preventif di satu sisi dan upaya memperkuat diposisi lain, maka sebetulnya pertanyaan kepada pesantren tentang kesiapan secara ajaran dan fisik terhadap bela negara untuk mempertahankan NKRI menjadi sesuatu yang harus dipandang positif.



1.Pluralisme dan Bhineka Tunggal Ika



Pluralisme dalam penggertian faham bahwa secara faktual bahwa manusia memang unik dan berbeda antara satu dengan yang lainnya, bukan hanya dalam kategori-kategori besar seperti rasnya, bahasanya, sukunya, tempat tinggalnya, agama atau keyakinannya, atau latar belakang lainnya, melainkan juga pada satuan-satuan yang lebih kecil, terkait antar individu saja, merupakan sesuatu yang secara alamiah adalah niscaya, tidak mungkin ditolak. Penolakan terhadap realitas justru tidak realistis dan harus ditolak.

Dari sisi fisik atau performance superfisialnya, al-Qur’an menggambarkan ide dan konsep pluralisme. Bahasa yang dipakai dan Kisah-kisah yang diangkat dalam al-Quran, dengan jelas menggambarkan semangat pluralisme.

Dari sisi jaran, Islam adalah ajaran yang rasional ilmiah. Karena itu, apa yang ilmiah dan rasional musti merupakan bagian dari ajaran Islam. Al-Qur’an senyatanya telah mengakui realitas seperti itu dan menegaskannya untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan manusia. Diantara pernyataan al-Qur’an yang amat jelas misalnya al-Hujurat ayat 13. Begitu juga ayat-ayat Makkiyah yang memuat ajaran dan nilai universal yang menembus batas ras dan agama. Pernyatan al-Qur’an bahwa Rasul di utus semata-mata uuntuk menyebarkan Rahmat bagi alam semesta, adalah pernyataan yang amat tegas bahwa pamrih utama ajaran Islam adalah kedamaian alam semesta. Lebih lagi bahwa ajaran itu telah diimplementasikan dalam kehidupan Rasulullah di Madinah, yang kemudian kita kenal dengan kehhidupan masyarakat madany (Civil Sosiety)

Jika dicoba dihubungkan dengan konsep Bhineka Tunggal Ika, maka kelihatannya Bhineka Tunggal Ika adalah pluralisme sebatas negara Indonesia.



2. Jihad dan Belanegara



Konsep jihad dalam islam sering disalahfahami. Bagi fihak lain konsep ini sering ditangkap sebagai konsep genocide atau pemusnahan bagi mereka yang berbeda dengan (kebenaran, aqidah) Islam. Karena itu, kata jihad sering menjadi momok bago orang-orang yang tidak seiman dengan Islam. Maka lalu timbul Islamophobia, rasa takut dan anti terhadap Islam. Bagi kalangan muslim sendiri, sebagian mempersempit pengertian jihad dengan usaha menyingkirkan setiap yang berbeda dengan “diri”nya, dengan faham dan kkeyakinannya, bila perlu dengan kekerasan. Pengertian seperti inilah yang menyuburkan kesalahfahaman orang lain. Apalagi ada kalanya konsep seperti itu menjelma dalam tinndakan.

Islam telah memperkenalkan jihad dengan konsep yang unuversal. Jihad memang mengandung pengertian perlawanan. Namun perlawanan yang diusungnya adalah perlawanan terhadap nilai-nilai yang merugikan kehidupan manusia, perlawanan terhadap setiap yang tidak humanis. Seperti ketidak adilan, penganiayaan, perampasan hak dst, yang sifatnya universal. Karena itu, Islam telah menegaskan bahwa jihad yang utama adalah jihad terhadap tirani diri sendiri (jihad al-nafs). Dengan demikian, maka jihad dalam Islam tidak bertentangan dengan tujuan keberadaan Islam sendiri , yaitu rahmatan li al-alamiin. Dari itu, maka setiap aktivitas jihad tidak boleh melukai orang lain, termasuk diri sendiri, sebab yang dilawan adalah nilai, bukan orangnya atau fisiknya.

Belanegara diperlukan dalam hal menjaga dan mempertahankan. Mempertahankan apabila terdapat ancaman untuk mengambil dan merampas wilayah atau kekuasaan atau kekayaan negara. Daalam pengertian yang terakhir ini, maka jihad memang diperlukan, karena untuk melawan nilai-nilai yang tidak humanis tadi. Deangan demikian, belanegara adalah jihad sebatas kepentingan senegara.



3. Bhineka Tunggal Ika di Pesantren



Di pesantren Bhineka Tunggal Ika diajarkan di dalam semangat pluralisme. Pluralisme sendiri diajarkan di pesantren dengan berbagai cara. Pertama, melalui materi-materi yang diajarkan. Pelajaran Tafsir, Hadits, Sirah dan Akhlaq yang diajarkan di pesantren umumnya berisi materi-materi yang bersifat praktis dan menghadapi kehidupan nyata. Kitab-kitab yang dijadikan rujukan biasanya kitab muchtashar dan juga syarah yang semuaanya dikarang oleh para praktisinya, karena itu materinya bersifat praktis, atau terpilih dari materi-matteri yang dekat dengan realitas kehidupan. Dalam kepraktisan itu, semuanya diarahkan pada realitas kehidupan yang plural, atau bernuansa Bhineka Tunggal Ika. Sekalipun Bhineka Tunggal Ikha tidak dikatakan secara langsung, tetapi para guru dan kyai yang menjelaskannya, umumnya menyesuaikan dengan konteks lokal. Jadi pluralismenya bernuansa Bhineka Tunggal Ika. Kedua, melalui keteladanan. Para kyai yang umumnya menjdi teladan dan dijadikan teladan oleh para santrinya menunjukkan sikap uniiversal dalam kehidupan. Di kompleks pesantren siapa saja bisa datang ke kyai dan itu diterima dengan baik oleh sang kyai. Kyai juga biasa dengan senang hati menghadiri undangan dari siapa saja. Bahkan tidak jarang dalam kehadirannya itu mengajak santrinya.

Bagi orang-orang yang tidak mengenal kkultur pesantren, mungkin meragukan kesediaan kyai untuk menerima tamu dari orang-orang yang tidak seagama. Namun ini adalah realitas, karena kyai selalu meletakkan dirinya sebagai pengayom ummat. Ketiga, pengalaman langsung. Agak jarang, atau mungkin tidak ada pesantren yang hanya menampung santri yang hanya berasal dari satu daerah atau satu bahasa atau satu adat istiadat. Pesantren pada umumnya berisi santri-santtri yang lintas kultur dan plural. Sesuai dengan sistemnya mereka tingggal dalam satu komplek, yang disebut pondok dan bergaul sesamanya. Tradisi ini pasti akan menimbulkan bekas yang dalam, dalam artian salaing memahami dan saling mengerti diantara mereka, yang terus dijadikan pengalaman dalam kehidupan mereka setelah keluar dari pesantren.

Jadi secara umum pesantren mengenal ajaran dan mengimplementasikan kehidupan pluralisme dalam prakteknya. Dan itulah pengetahuan dan prakttek Bhineka Tunggal Ika yang terimplementasi dalam kehidupan pesantren.



4. Bela Negara dalam Sejarah Pesantren



Bela Negara dipesantren difahami sebagai kesadaran, sikap dan tindakan untuk memajukan dan mempertahan negara dalam perspektif mengembangkan kesejahteraan, menegakkan keadilan dan nilai-nilai universal lainnya yang terkandung dalam semangat jihad. Itulah sebabnya dikalangan pesanttren bela negara tidak semata ketundukan dalam mewujudkan tujuan negara, namun juga ttetap kritis terhadapnya.

Dalam sejarahnya, pesantren memang telah mengimplementasikan semangat bela negara yang demikian itu. Pada masa pennjajahan pesantren adalah pusat konsentrasi para pejuang dalam melawan penjajahan, bahkan di luar komando formal kekuasaan negara. Mereka sendiri yang mengambil inisiatif membela negara. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya para kyai dan santri yang melakukan perlawanan terhadap penjajah dan bahkan gugur di medan pembelaan tersebut. Akan tetapi, sayangnya, karena pesantren adalah masyarakat, bukan penguasa negara, rupanya perjuangan para kyai dan santri tersebut sedikit sekali, untuk mengatakan tidak ada, yang dicatat dalam sejarah. Kalaupun ada, catatan sejarah kita menempatkan perjuangan para santri dan kiyai itu dalam istilah umum yang mengkaburkan, yaitu “perlawanan rakyat”, menghindari penyebutan kyai atau pesanttren.

Jika ditelusur lebih jauh, lokasi pesantren-pesantren yang ada, yang umumnya di daerah yang terpencil, sulit dijangkau, pada sisi lain adalah tindakan defensif dan sekaligus strategis dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Selain dengan pemilihan lokasi, ppesantren juga melakukan perlawana kultural misalnya dengan menjauhkan diri dari kkultur penjajah. Bagi kalangan pesantren waktu itu, penolakan kkultur penjajah juga merupakan upaya menjauhi dan sekligus melawan penjajah.



5.Implementasi Kekinian



Secara faktual, memang dirasa perlu untuk melihat kembali konsep dan strategi pesantren dalam bela negara. Hal ini seiring dengan perubahan dan perkembangan situasi yang dihadapi. Penjajah misalnya bukan lagi berbentuk fisik, musuh negara tidak lagi berujud konkrit. Begitu juga negara. Pada masa lalu, para pejuang hanya melihat negara dari sisi domisili atau tempat tinggal. Selain sebetulnya secara psikologis negara dimaknai secara sempit, yaitu tempat kelahiran atau tempat tinggal, mereka belum melihat negara sebagai kesatuan organis yang didalammya terdapat komitmen, kebersamaan, iikatan-ikatan, aturan-aturan dan lainnya. Padahal, hal-hal demikian sekarang telah dirumuskan lebih jelas dari masa itu.

Berdasarkan itu, perlu dilihat kembali konsep-konsep menganai pluralisme, jihad dan hal-hal lain yang berimplikasi pada konsep Bhineka Tungggal Ika dan Bela Negara. Berikutnya, maka tentu strategi pencapaiannya, termasuk strategi pendidikan yang diterapkan juga pperlu dikaji lebih lanjut, agar partisipasinya menjadi lebih kena dan tepat.



B. Ikhtitam

Memang ada pekerjaan rumah yang ttidak ringan untuk pesantren agar perannya dalam membangun dan membela nnegara lebih efektif dan strategis di masa datang. Termasuk dalam PR itu ialah meyakinkan bebagai fihak bahwa disamping memang selama ini ada juga kekurangan-kekurangannya, pesantren memiliki banyak kelebihan yang dapat didayagunakan untuk membangun negara.

Wallahu A’lam bishshawab

Jumat, 26 Agustus 2011

Resourcefulness

Yang kita namakan dialektika ialah gerakan pikiran (rohani), ketika yang berbentuk saling terpisah itu, olehnya sendiri artinya terbawa oleh sifatnya sendiri saling berpindahan, dan dengan begitu, maka yang berbentuk keterpisahan itu ditiadakan (artinya bersatu kembali).

Indonesia dewasa ini terasa semakin mengiris hati mengingat rendahnya atau lunturnya rasa percaya diri yang menjadi identitas bangsa ini. Dari dulu hingga sekarang semua tau bahwa bangsa kita adalah bangsa yang paling mudah di pecah belah. Karakter kuat yang sering memfanatikan suatu gerakan, kelompok atau organisasi tanpa disadari membawa kita kedalam permainan "Politik Adu Domba" kaum kapitalis. Keterbukaan atau Demokrasi yang mereka bawa hanyalah omong kosong, Konsep Sosialis hanya di ujung lidah sedangkan sosialisme sesungguhnya dapat ditemukan dalam kerohanian yang tinggi sehingga mampu menghayatinya di dalam hati dan menuangkanya dalam civilization.

Bayangkan dari milion act yang pernah di lakukan di negeri ini, paling hanya seperempat atau bahkan tidak sampai segitu yang berhasil. Kemauan untuk belajar anak muda kita yang begitu tinggi terpaksa di tutupi atau bahkan di batasi hingga menjadi pemerhati karena hanya menyerap setengahnya. Padahal ilmu yang setengah-setengah itu sungguh berbahaya ketika fanatisme mulai meracuni. Sosialis dan kapitalis seolah menjadi tidak ada bedanya ketika lidah dan hati tidak bersatu dan hanya menghasil trouble mind. Ucapan dan hati mereka mudah melejit seperti anak panah keluar dari busurnya atau seperti pemicu yang di nyalakan sedikit saja terbakar.

Jutaan calon penerus bangsa ini hancur dalam majelis ta'lim perpolitikan dadakan. Mereka mengerti akan adanya propaganda tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka adalah korban propaganda. Semangat keangkuhan individualitas merengganggak jarak antara "emotional fact" dari moderinesme. Tertutupnya diri dari segala yang berbeda adalah suatu bentuk atau hasil dari berhasilnya propaganda.

Teriakan "anti kapitalism" berkumandang di seluruh seantero negeri gatot kaca ini. Seolah memangku serta menuntun kelas menengah kebawah. Tetapi merujuk pada kepribadian masing-masing dalam menjalani hidup tidaklah selaras dengan apa yang mereka ucapkan. Mereka berteriak berjuang di luar menentang kapitalis, tetapi tetangga mereka sendiri ada yang tidak makan (apa ini). Aksi menuntut sebuah kondisi yang lebih baik hendaklah mereka pikirkan dengan matang, karena tidak sedikit penyesalan yang terjadi akibat teori propaganda yang tak mereka sadari.

Perlu kita pelajari, dahulu seorang kolenel khadafy menuntut sebuah kemerdekaan dari seorang diktator keras. Tetapi ternyata pada akhirnya dia tidak pernah sistem atau caranya memimpin rakyat seperti yang dijanjikan. Hasil dari Aksi yang di lakukan rakyat libiya 40 tahun lalu hanyalah pergantian wajah atau seni tetapi sama-sama dalam koridor diktator.

Menarik memang kita jika menyimak sejarah panjang negeri yang tak pernah sanggup di kuasai Belanda ini. Kesuksesan era 98 di jadikan sebagai senjata atau ancaman yang di tebarkan untuk mengintimidasi atau bahkan senjata bagi pemilik massa untuk merebut mimpinya. Memunculkan dendam baru dalam skala Nasional yang sama sekali tidak di pikirkan jelas menunjukan ketidak intelektualan.

Yang terbaik adalah melakukan suatu hal yang nyata dan real. Terjun langsung mengawasi apa yang menjadi sorotan masyarakat. Memberikan suatu kontribusi secara actual bukan membakar ban ataupun aksi penuh emosi yang justru memecah belah. Jangan pernah lupakan cita-cita luhur pemimpin kita dahulu "Bhineka Tunggal Ika". Di situ di selipkan makna kesabaran, keyakinan, di siplin dan menyampingkan ego pribadi.

Tuntutan untuk mengharapkan semua harus sesuai dengan apa yang kita inginkan bukanlah suatu penyelesaian. Justru kita hidup adalah untuk bersama-sama dan berusaha memahami orang lain. Sekalipun perlu koreksi masing-masing tetapi dengan cara yang Muasaroh Bil Ma'ruf. Bukankah kita ini negara yang menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat.

Selasa, 23 Agustus 2011

Pemimpin Motivasi


Sosok pemimpin yang di butuhkan saat ini adalah sosok pemimpin yang mampu memotivasi memberi semangat kepada rakyat Indonesia.Negara ini adalah Negara yang sangat luar biasa.Karena rakyatnya luar biasa malasnya,luas biasa menghinanya,luar biasa sok pintarnya hanya sebagian kecil yang berpikiran dewasa.Disini terlihat dari segala pengalaman yang pernah saya alami tidak sedikit rakyat kita yang pintar berfikir dan berpendapat namun di tempatkan pada porsinya yang salah.

Mereka mampu mengatakan mana yang baik dan yang benar tapi tidak melakukanya.Mereka mampu bermimpi yang tingi setinggi langit namun tak punya cara untuk mewujudkanya. Yang terjadi adalah saling mengkritik dan mencemooh yang mengakibatkan semakin terpuruknya negara ini. Padahal mereka tahu jika itu yang mereka lakukan maka efek yang terjadi bukan membuat jera malah menambah permusuhan itu semakin memanas. Ketidak konsistenan berpikir menjadi penyebab masalah yang terjadi saat-saat ini.

Tidak sedikit pula para pengamat politik atau peuang revolusi dadakan yang justru berubah menjadi Profokator. Mereka pikir apa yang mereka tuliskan adalah suatu kebenaran memang itu benar tapi jika tujuan dan inti dari tulisanya menyinggung sebagian pihak justru kebenaranya hilang berubah menjadi keburukan.Seharusnya sebagai seorang yang memliki ilmu lebih itu adalah berbagi cerita tentang pemikiranya tanpa menyinggung sebagian pihak.

Lepas dari masalah itu saya ingin menjelaskan maksud saya bahwa Indonesia perlu pemimpin yang mampu memberi motivasi dan semangat. Seseorang rata-rata lebih bersemangat ketika dia di beri ilmu secara gratis oleh orang yang dipandangnya lebih pandai. Dan biasanya motivasi itu akan selalu ia ingat untuk hidup yang lebih baik kedepanya. Bayangkan saja jika pemimpin kita memiliki kapasitas seperti itu. Contoh saja Presiden kita Ir.Soekarno di setiap sela pidatonya selalu ada kata-kata motivasi yang sangat membakar semangat rakyat Indonesia pada saat itu. Yang terjadi adalah rakyat bersatu dan semakin semangat dalam menjalani hidupnya kedepan.

Betapa sedihnya saya ketika melihat debat Presiden tahun-tahun ini yang terkesan mencontohkan sifat-sifat sailing menjelakan satu sama lain tanpa akal sehat.Kita sendiri tahu bahwa yang dilakukan itu adalah buruk namun apa yang terjadi kita saat ini malah mencontohnya. Apa yang mungkin terjadi pada saat itu jika calon Presiden saat itu saling memotivasi satu sama lain tentu warga Negara Indonesia mungkin akan saling memotivasi dan bersatu. Banyak contoh yang kita dapat dari Nabi MuhammadIr.Soekarno,Panglima-panglima perang China dan masih banyak lagi. Mereka selalu menggunakan media memotivasi untuk mensejahterakan apa yang mereka pimpin pada saat itu.

Ini contoh nyata yang hasilnya memang sudah terbukti dan kita pun tidak bisa mengingkarinya. Mulai dari sekarang kita rubah pemikiran kita yang selalu ingin berada di atas atau sifat kita yang sering kali gatal untuk mengkritik sesuatu yang memang bukan kapasitas kita. Mari kita bersama-sama untuk saling memotivasi agar yang terjadi adalah persatuan bangsa dan negara,keinginan untuk hidup yang lebih baik dan semangat menjalani hari-hari yang cerah dan berarti Bukankah orang pintar itu banyak berbuat buakn banyak bicara dan orang pintar itu selalu memotivasi bukan malah mematikan semangat. Untuk Indonesia yang lebih baik saya ucapkan selamat pagi untuk menjalani hari esok yang lebih baik terima kasih.

KREATIVITAS

Kreativitas berasal dari kata dasar kreatif atau to create yang artinya mencipta. Inilah sesungguhnya suatu kelebihan atas kekuasaan tuhan yang di berikan kepada manusia berupa berupa akan dan pikiran. Dengan pemberian tuhan ini kita di sebut manusia yang sempurna sekaligus menjadi sesuatu yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Kita diberi kemampuan untuk mencipta, termasuk menciptakan realitas baru dalam kehidupan kita.

Seperti apa yang di jelaskan oleh Elizabeth Hurlock (1978) kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru. Artinya bahwa kreatifitas adalah suatu patokan dalam menilai apakah orang itu berprlaku secara aktif ataukah pasif.

Berprilaku aktif adalah berprilaku menggunakan seluruh kekuatanan kemampuan yang ada dalam membentuk, menciptakan, memberikan atau bahkan menyelesaikan sesuatu. Setiap manusia memiliki suatu pengalaman dalam hidupnya dan tidak sedikit yang menceritakan kepada keluarga atau sahabat dekatnya. Keinginan menceritakan ini menunjukan bahwa bila suatu saat nanti keluarga atau sahabat dekatnya mengalami hal yang sama mereka sudah dalam kondisi yang siap.

Manusia yang berprilaku secara aktif tidak hanya menerima tetapi dia mencari info dan cara yang bervariasi menurut dirinya untuk menyelesaikan pengalaman tersebut dengan cara yang lebih mudah dan efisien. Berbeda dengan manusia berprilaku pasif yang mungkin sekedar mengikuti saja atau mencoba berada di titik yang aman yang jelas-jelas sudah menguntungkan. Manusia berprilaku kreatif aktif cenderung tidak mudah terpengaruh ataupun bertindak yang merugikan.


Kreatifitas dapat di artikan juga sebagai seni berfikir dalam menanggapi masalah dan menciptakan suatu karya baru. Dalam berfikir sendiri terbagi dua jenis yaitu berfikir divergen dan konvergen.

Berfikir Divergen : bentuk pemikiran terbuka, yang menjajagi macam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan/ masalah.

Berfikir Konvergen: sebaliknya berfokus pada tercapainya satu jawaban yang paling tepat terhadap suatu persoalan atau masalah

Dalam pendidikan formal pada umumnya menekankan berfikir konvergen dan kurang memikirkan berfikir divergen. Tetapi Torrance (1979) dalam memandang sebuah kreatifitas dia selalu menekankan adanya ketekunan, keuletan, kerja keras, sehingga tidak terlalu terlalu tergantung dari kapan timbulnya inspirasi untuk dapat bertindak secara kreatif.

Kretaivitas juga dapat di artikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Kreatifitas merupakan ungkapan unik dari seluruh pribadi sebagai hasil interaksi individu, perasaan, sikap dan perilakunya. Biasanya seorang individu yang kreatif memiliki sifat yang mandiri. Ia tidak merasa terikat pada nilai-nilai dan norma-norma umum yang berlaku dalam bidang keahliannya. Ia memiliki system nilai dan system apresiasi hidup sendiri yang mungkin tidak sama yang dianut oleh masyarakat ramai. Seperti apa yang dikatakan oleh Selo Soemardjan “Kreativitas merupakan sifat pribadi seorang individu (dan bukan merupakan sifat social yang dihayati oleh masyarakat) yang tercermin dari kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Setiap orang memang memiliki potensi kreatif dalam derajat masing-masing dan dalam bidang yang berbeda-beda. Dan kenyataan inilah yang perlu kita pupuk sejak dini agar dapat direalisasikan. Sehingga diperlukan dorongan-dorongan yang dapat mendukung baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri.

Agar kreativitas ini tumbuh memang perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat memupuk daya kreatif individu, dalam hal ini mencakup baik dari lingkungan dalam arti sempit (keluarga, sekolah) maupun dalam arti kata luas (masyarakat, kebudayaan). Karena Timbul dan tumbuhnya serta berkembangnya suatu kresi yang diciptakan oleh seseorang individu tidak dapat lepas dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu itu hidup dan bekerja.

Mayarakat memang dapat manyediakan berbagai kemudahan, sarana dan prasarana untuk menumbuhkan daya cipta anggotanya, tetapi akhirnya semua kembali pada bagaimana individu itu sendiri, sejauh mana ia merasakan kebutuhan dan dorongan untuk bersibuk diri secara kretif, suatu pengikatan untuk melibatkan diri dalam suatu kegiatan lreatif, yang mungkin memerlukan waktu lama. Hal ini sudah menyangkut pada motivasi internal individu.



Sabtu, 13 Agustus 2011

Menghadapi Ramadhan

Oleh : Bakhrul Amal Mukhtar

Kultum pagi ini adalah kita sebagai manusia haruslah banyak muhasabah atau mengoreksi diri sendiri, kita ketahui bersama bahwa Islam sendiri selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu melakukan introspeksi diri sendiri sebelum dievaluasi oleh orang lain.

Itu adalah langkah awal setelah kita melakukan muhasabah, maka langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah muatabah atau menyalahkan diri sendiri dan tidak menimpakan kegagalan sebagai akibat dari perbuatan orang lain sehingga bisa belajar untuk memperbaikinya

Lalu langkah yang ketiga adalah murakabah atau tidak berputus asa, selalu berharap atas ampunan dari salah yang telah dilakukan kepada Allah. Sebelum sakaratul maut atau nyawa mencapai kerongkongan, yakinlah bahwa Allah masih menerima taubat kita.
Sekian dan terima kasih.

Kreatifitas Kritis (singkat)


Fenomena penggulingan kekuasan menggunakan basis masa memang sedang tren saat ini. Dari negeri arab afrika hingga dan sekarang mulai memasuki kawasan eropa bahkan jutaan rakyat israel pun rencananya akan menyusul. Cara seperti ini seakan menjadi senjata yang paling ampuh jika kita mengingat pada kasus-kasus sebelumnya seperti keberhasilan mesir, tunisia, bahkan Indonesia sendiri pernah merasakan. Melihat kenyataan itu, mereka yang berkepentingan seolah memiliki cara baru untuk mencapai jalanya mereka menjadi profokator dadakan yang selalu menekankan pemikiran pada rakyat bahwa ini adalah cara yang akan membawa keberhasilan, perubahan serta revolusi. Argument mereka menjadi terlihat betul ketika melihat pada bukti-bukti dan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini.



Sekilas memang benar, tetapi cobalah berfikir kritis dan mempertanyakan apakah cara-cara seperti ini memang cara yang paling efektif dan menghasilkan kebaikan yang signifikan. Jika kita bandingkan saja dengan cara nelson mandela, cara penggerakan masa ini belum ada apa-apa nya, karena mereka hanya mampu merubah sistem tetapi tidak mind set. Selain keberhasilan yang tidak begitu signifikan cara seperti pergerakan masa justru akan menimbulkan bibit kebencian yang baru. Bibit yang dulu hendak dilupakan untuk persatuan ternyata malah dimunculkan kembali oleh mereka yang mengaku penggagas revolusi itu. Mereka yang mewujudkan cita-citanya dengan cara basis masa yang tidak sadar justru menimbulkan permusuhan yang baru mereka itu bukan pejuang revolusi, bukan revolusioner tetapi mereka lebih layak disebut seorang obsesioner.



Mengapa saya sebut mereka sebagai seorang obsesioner karena mereka telah mengesampingkan mimpi dan menjadikanya tujuan. Mereka adalah pihak-pihak yang menyerah karena mereka kehilangan akal dan ide sehingga tidak lagi memiliki kreatifitas kritis. Kreatifitas Kritis adalah satu gagasan atau pemikiran yang terdengar baru dalam dunia politik ataupun kehidupan aktivis. Kreatifitas Kritis adalah cara berfikir, bergerak, bertindak dan melakukan sesuatu yang sesungguhnya adalah bentuk protes tetapi dengan memunculkan suatu alternatif yang baru. Sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa di rugikan namun tujuan tercapai secara menyeluruh dan sistematis. Secara singkat kreatifitas kritis adalah suatu pergerakan yang menjunjung tinggi tawsuth, berpikir modern, Mua'syarah bil Maruf dan tidak ekstrem.



Kreatifitas kritis juga sangat menjungjung tinggi nilai-nilai kesucian dalam islam mengambil dari definisi Islam itu sendiri yang berasal dari kata Aslama yang artinya menyerah, pasrah, tunduk atau patuh. Dari kata Aslama kita dapat mendefinisikannya sehingga menemukan beberapa arti kata yaitu Salam artinya keselamatan, taslim artinya penyerahan, salam artinya memelihara, sullami artinya titian dan silm artinya perdamaian. Jadi tidak salah jika saya menilai bahwa mereka yang bergerak dengan mengandalkan basis masa terlebih untuk berbuat rusuh dan mengambil alih kekuasaan secara memaksa dan terkadang tidak manusiawi adalah mereka yang telah kehilangan Kreatifitas Kritis (Baca: Kreatifitas Kritis Amalisme) bahkan iman Islam.

Sabtu, 16 Juli 2011

Selamat merayakan hari lahirmu NU

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) adalah sebuah organisasi masyrakat islam yang mengawinkan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

Senin, 30 Mei 2011

SOLIDARITAS


SOLIDARITAS atau Konsolidasi, Kepedulian dan Kreatifitas Anak Bangsa Manusia tidak akan bisa bertahan tanpa manusia-manusia lain. Solidaritas yang dijadikan sebagai simbol awal, merupakan pengakuan akan hakikat diri kita sebagai makhluk sosial yang tidak ingin melihat seorang berkembang tanpa memiliki rasa kebersamaan yang kuat, karena kita pun tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang lain, dengan itu kami mengharapkan solidaritas hadir dalam situasi dan kondisi apapun. Relasi antar manusia pun haruslah merupakan sebuah realitas normatif yang menuntut tindakan-tindakan yang sifatnya normatif pula. Tidak membedakan ras, etnis, suku bangsa dan status sosial,tetapi menjadikan sebagai saudara yang mampu mendobrak sekat-sekat diskriminatif.

Pandangan kami pun tak lepas dari dinamika sosial atas keterpurukan sumber daya manusia, menjadi langkah kami untuk lebih mengembangkannya. Agar nantinya tercipta masyarakat yang sejahtera, adil dan beradab. Selain itu SOLIDARITAS lahir atas dasar keprihatinan terhadap begitu besarnya bakat dan ide-ide pemuda yang tidak terealisasi karena tidak memiliki wadah yang mampu memberikan mereka dukungan. Keinginan begitu besar ini yang pada akhirnya melahirkan SOLIDARITAS yang rencananya tidak hanya untuk menumbuhkan rasa sosial yang tinggi sesama anak bangsa tetapi juga akan menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan penuh akan segala kreatifitas pemuda Indonesia terutama Cirebon.

VISI :
Menciptakan organisasi yang solid dan membentuk agen perubahan yang berkualitas.
Memberikan suatu perhatian terhadap perkembangan pemuda.

MISI

1. Menghilangkan sifat individualisme dengan menanamkan nilai-nilai solidaritas melalui komunikasi yang intensif.
2. Menciptakan generasi yang cerdas melalui forum diskusi
3. Berani menggali potensi diri sehingga mampu memberikan gagasan-gagasan dan ide-ide baru.
4. Sosialisasi dengan membuat wacana tertulis maupun tidak tertulis.

Langkah awal ini kami harapkan mendapat dukungan penuh terutama dari pemerintah kota Cirebon, semoga SOLIDARITAS akan memberikan manfaat yang positif bagi semua !!!

Minggu, 17 April 2011

Aku Belum Kibarkan Bendera Putih

Oleh : Bakhrul Amal Maksum

Saya terus mencoba untuk meninggalkan segala kehidupan yang menuntutku bermateri. Dunia kebahagian yang sesaat sekarang ini laksana saya tinggalkan, karena dunia yang seperti ikatan setan ini tidak memberikan sesuatu hiburan dan kepuasan kepada saya, karena saya tidak memiliki banyak uang untuk itu.

Saya berusaha meninggalkan dunia yang material ini, dan saya masuk di dalam "dunia yang penuh dengan pemikiran". Dunianya alam kehidupan, dunia khayalan, dunia pikiran. Dan saya katakan, bahwa di dalam "world of mind" itu, di situ saya berjumpa dengan begitu banyaknya orang-orang besar dari segala suku, bangsa dan negara. Di dalam "dunia berpikir" itu saya berjumpa dengan nabi-nabi besar﹑ di dalam "world of mind" itu saya berjumpa dengan sufi-sufi dan ahli falsafah, ahli falsafah besar. Di dalam "world of mind" itu saya berjumpa dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang besar, dan di dalam "world of mind" itu saya bertemu pejuang-pejuang kemerdekaan yang berkaliber besar.

Abah Maksumlah pahlawanku selama ini, Abah Maksum adalah tokoh favoritku selama ini. Aku sesungguhnya adalah muridnya. Entah secara sadar ataupun tidak dia telah menggemblengku. Aku duduk di pangkuanya lalu dia berikan semua buku-bukunya kepadaku. Dia memberikan segala sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya kepadaku. Jujur memang dia tidak pernah bisa memberikan secara langsung kehangatan cintanya dari pribadinya ke pribadiku. Karena sepertinya tak seorangpun yang mampu mencintaiku seperti apa yang aku idamkan, tetapi caranya sungguh telah berpengaruh besar dan merubahku. Membuatku pergi dari segala apa yang orang eropa bilang "dunia pemikiran". Buku-buku menjadi temanku saat ini. Didunia yang penuh kerohanian dan kekal ini aku mencoba mencari kesenanganku. Kupergunakan waktuku untuk membaca, aku mencari ilmu pengetahuan di samping pelajaran di sekolahku.

Aku

Oleh : Bakhrul Amal Maksum

Aku adalah aku dengan segala kelemahanku.
Aku adalah aku dengan segala kekuranganku.
Aku adalah aku yang selalu merasa hebat akan diriku.
Aku bukan sesuatu yang sempurna.
Aku bukan sesuatu yang hina.
Aku hanya mencoba mencari jati diriku dengan caraku.
Tetapi mengapa aku terkadang mengeluh dengan penilaian mereka terhadapku ???
Bukankah aku memang begitu.
Tetapi mengapa aku tidak terima ketika aku dipojokan ?
Bukankah aku yang membuat mereka begitu.
Sekalipun itu semua hanya sepenggal kisah masa laluku.
Aku harus ikhlas atas apa yang mereka juluki terhadapku.
Karena aku laki-laki yang berani untuk mengakui.
Aku salah dan tidak sempurna.
Lalu apa ???
Aku tidak bisa diam dan larut dalam julukanku.
Aku harus bangkit dan melakukan yang terbaik.
Semua yang menjatuhkanku sudah kulalui.
Dan saat ini tuhan.
Aku hanya ingin hidup seperti cahaya.
Aku hanya ingin hidup seperti bunga.
Aku hanya ingin kembali seperti aku.
Biarlah penilaian itu sebagai bahan intropeksiku ketika aku lari dari jalurku.

Diantara Perjuangan Yang Masih Tersisa

Oleh: Bakhrul Amal Maksum

Dini hari itu aku tidur dari tidur dan mencari apa yang hilang dari jiwaku, aku berdiri dan bangkit laksana seorang petarung yang siap menghadapi apapun yang ada di hadapanya. Aku berjalan melangkah tertatih membuka pintu yang terasa berat untuk mecari setetes kesegaran yang mungkin bisa membasahi tenggorokanku ini. Apa yang aku rasakan mungkin juga di lakukan beberapa manusia lain di luar sana. Sikapku ini sepertinya mengundang tanya apa yang sebenarnya hendak aku cari dengan melakukan hal seperti seekor tikus yang bangun lalu mencari sesuatu di saat semua lelap.

Kemudian aku berjalan perlahan menuju tempat dimana aku menemukan air untuk membasuh wajah hingga kakiku. Sebelum akhirnya kembali menuju ruangan yang cukup untuk membca, menaruh beberapa buku dan pakaian serta tentunya merebahkan badanku ketika aku lelah. Mungkin tempat ini telalu indah bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki tempat ber istirahat dan harus tidur dengan kebisingan. Lalu di dalam tempat itu aku bentangkan permadani kecil untuk melakukan gerakan yang berulang dan terjaga menunggu pagi yang enggan kembali.

Aku terus begitu hingga entah kapan malam akan berhenti tetapi aku akan terus memahami walau harus berdarah agar dzat itu mengerti aku bernafas untuknya. Lalu aku duduk sembari mengangkat sembari mengangkat kepalaku ke atas langit lalu menudukanya lagi. Ada setes air mengalir dari bulatan yang indah ketika aku menundukan kembali wajahku. Apa yang sebenarnya aku pikirkan ketika aku mengangkat bagian bagian tertinggi tubuhku hingga air itu bisa mengaliri separuh rupaku ketika aku menundukan kembali pusat pikiranku.



Disaat ku angkat wajahku aku berpikir bahwa apa yang aku lakukan selama ini tidak lebih dari apa yang di lakukan seekor keledai yang bertindak tanpa berpikir. Seperti serigala yang kejam yang tidak mau memikirkan apa yang terjadi di sekitarnya. Seperti se ekor kura-kura yang berada di antara kuda-kuda yang terus berpacu. Aku teramat lemah, aku terlalu bodoh dan sombong, aku terlalu memikirkan diriku dan akhirnya justru akulah yang tertinggal. Aku lebarkan tanganku, ku ucap beribu sumpah serapahku yang tidak hanya saat ini aku ucapkan. Aku memujinya, memberikan penghormatan tertinggku kepadanya, meneteskan air mata di hadapanya ketika aku sadar ia masih sanggup tersenyum dan memberiku nyawa di saat aku merasa hidupku tinggal badan tanpa jiwa yang membuatku seharusnya tak lagi pantas meminta padanya.

Tidak ada harapan yang lebih aku inginkan selain semangat darinya yang mampu membangkitkan raga yang telah hampir mati ini. Karena hanya itu yang terasa sanggup menyempurnakan lukisan keledai yang bersikap seperti serigala dan kura-kura tidak bisa berlari seperti kuda. Hatiku akan terus selalu meninggikanmu agar engkau mampu mengeluarkan keindahan buatku menyempurnakan semua yang terbaik dan terlewati dan semua yang hendak terhenti tanpa ku akhiri. Agar selesai sudah dan semua pun dapat berlalu indah dengan akhirnya aku tau kau memaafkanku dan menempatkanku di singgasana terindah.

Menurut Pandangan Saya


Oleh : Bakhrul Amal Maksum



Dalam masa modern saat ini kita sedikit di bingungkan oleh sekelompok manusia yang mengaku khalifah Tuhan dengan segala argumentasi pembenarnya. Yang membuat kita kadang-kadang ragu untuk melakukan sesuatu bahkan kebaikan sekalipun. Disini saya tidak akan menyebut golongan, organisasi atau perkumulan apapun. Saya tidak sedang berada di pihak manapun, saya tidak membenarkan golongan manapun, disini saya hanyalah ingin menjelaskan bahwa inilah islam menurut pendapat saya. Islam yang progresif dan memisahkan diri dari pandangan yang terkesan konservatif.



Jika kita perhatikan akhir-akhir ini ada dua kata yang memang sudah tidak asing lagi di sekitar kita semenjak kehadiran manusia-manusia islam konservatif ini yaitu Haram dan Kafir. Mereka selalu memandang bahwa sesuatu yang baru itu di anggap sebagai ancaman yang nantinya akan melunturkan islam, lalu kita seakan di ajak untuk kembali merasakan zaman dimana islam belum menjadi agama yang besar, islam masih menjadi minoritas dan di ancam dimana-mana. Kita seakan di haruskan memegang senjata dan berperang ketika sedikit saja sorban terinjak, kita di wajibkan membunuh ketika speaker pengeras mati. Lalu kita seakan dipagari dengan segala dalih kebenaran, kita dicecoki dengan cara kunonya, mereka memaksa kita untuk hidup seperti jaman dulu.



Apakah mereka lupa atau tidak ingat bahwa di dalam masalah dunia, di dalam urusan statesmanship, kita di perbolehkan berqiyas, boleh membuang cara-cara terdahulu, boleh menggunakan cara-cara baru. Boleh menaiki pesawat terbang, boleh menonton tv dan mendengarkan acara-acara di radio, asal tidak nyata semua itu di hukum haram atau makruh oleh Allah S.W.T. Tetapi itulah mereka, mereka selalu mencari cari agar argument mereka dapat di terima dan terlihat lebih benar bahkan terkadang mereka berani memalsukan hadist-hadist agar kita mempercayai dan akhirnya mengikuti pemikiran konservatif mereka.



Selain itu mereka mempunyai misi menjadikan sebuah negara yang didasari atas BHineka tunggal ika ini menjadi negara Islam, dimana mereka berkeyakinan bahwa Hukum islam itu adalah yang terbaik. Memang dari sudut akidah, hak orang Islam memang lebih tinggi dari penganut agama lain. Tapi, Indonesia bukan negara Islam. Indonesia ini negara yang berazaskan Demokrasi. Lagi-lagi mereka lupa bahwa nabi sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia tentang yang baik dan tidak haram atau makruh. Mengapa kita menjadi royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Segala pengetahuan yang baru kita langsung katakan kafir, ilmu-ilmu, music-musik yang baru segera di serang dengan kata “kafir”, ya bekerjasama dengan bangsa yang bukan islam pun “kafir”.



Demokrasi itu bukan hanya tak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yakni syuro dan Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tenpa mebedakan latar belakang ras, suku agama dan asal muasal, di muka-undang-undang. dalam hal ini saya tidak merasa khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam mungkin karena faktor masa lalu sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.



Terlepas dari masalah dasar dan ideologi negara, jika kita perhatikan mereka lebih senang mencari hadist atau ayat yang cenderung membuat permusuhan dan perpecahan dengan akhir dimana mereka yang paling benar. Mereka lebih senang mencari ayat permusuhan daripada ayat-ayat yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan alam. Mereka yang mengaku islamnya hebat itu perlu di pertanyakan mengapa mereka berlaku seperti itu. Mereka seakan sulit menerima pengetahuan alam karena mereka berpikir ilmu itu merusak, ilmu alam itu ajaran barat, ilmu alam itu “haram” karena berasal dari orang “kafir”.



Dari situ munculah pertanyaan dalam benak saya Bagaimana orang bisa betul-betul mengerti firman Tuhan bahwa di jelaskan proses terjadinya bumi, proses kelahiran, bahwa manusia yang lahir berpasang-pasangan, tentang kesehatan, kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui electron, tak mengetahui tentang positif - negative, tak mengetahui aksi dan reaksi dan astronomy. Bagaimana mereka bisa tahu tentang kisah bangsa-bangsa terdahulu jika tidak sedikit mengenal history dan archeology ?



Semoga mereka segera dibukakan hatinya dan dapat memahami islam yang sesungguhnya dengan keyakinan hati dan pikiran. Karena jika hati mereka yakin bahwa mereka benar-benar mencintai tuhanya mereke tidak mungkin menyakiti ciptaan tuhanya dan jika pikiran mereka terbuka maka pengetahuan alam dan kehidupan itu jelaslah penting. Islam itu agama damai dan progresif dapat di terima dimana saja dalam kondisi apapun. Dan yang harus mengerti adalah Islam itu bukan hanya sekedar rahmatan lill muslimin tetapi islam itu Islam rahmattan lill alamin.

Jumat, 04 Februari 2011

...........

Pentingnya menyatukan aksi dan teori dalam menuju revolusi bangsa saat ini menjadi cara yang mulai trend dilakukan oleh beberapa bangsa di dunia ini. Telah banyak terjadi dengan menyatukan satu kata ini tetapi bukan hanya satu tetapi banyak sekali elemen yang di butuhkan hingga dan berhasil. Memang terasa sulit dan mungkin tidak mudah untuk mewujudkan itu karena banyaknya hambatan dan halangan dari masalah politik, sosial, pendidikan serta ekonomi. Merujuk pada kenyataan untuk keadaan yang banyak terjadi saat ini mungkin inilah cara yang terbaik yang harus kita coba dan lakukan.



Tetapi dalam proses keseluruhan kesatuan teori dan aksi yang dina­mis, teori kadang ada di depan aksi dan sewaktu-waktu aksi tampil di depan teori. Bagaimanapun, pada setiap titik keharusan per­juangan mendesak para aktivis untuk memantapkan kesatuan ini pada tingkat yang lebih tinggi.Untuk memahami proses yang dinamis ini kita harus menyadari bahwa mempertentangkan aksi langsung dengan studi yang mendalam itu sepenuhnya keliru. Saya tersentak ketika mengikuti Seminar Sarjana Sosialis dan pertemuan lainnya yang saya ikuti di Jateng selama dua minggu terakhir, melihat bagaimana pemisahan teori dan praktek terus dipertahankan. Saya seperti sedang mengikuti perde­batan di antara orang-orang tuli, di mana sebagian pengunjung mengatakan, "yang penting aksi! Tidak perlu yang lain, yang penting aksi!" sementara di pihak lain ada yang mengatakan, "Tidak, sebelum bisa aksi, kita harus tahu apa yang dikerjakan. Duduk, belajar, dan tulis buku."



Jawaban yang jelas dari pengalaman sejarah gerakan revolu­sioner, bukan hanya dari periode Marxis tapi bahkan dari periode pra-Marxis, adalah kenyataan bahwa keduanya tidak dapat dipisah­kan . Aksi tanpa teori tidak akan efisien atau tidak akan berhasil melakukan perubahan yang mendasar, atau seperti saya katakan sebelumnya, kita tidak dapat membebaskan manusia tanpa sadar. Di pihak lain, teori tanpa aksi tidak akan mendapat watak ilmiah yang sejati karena tidak ada jalan lain untuk mengu­ji teori kecuali melalui aksi.



Setiap bentuk teori yang tidak diuji melalui aksi bukan teori yang sahih, dan dengan sendirinya menjadi teori yang tidak berguna dari sudut pandang pembebasan manusia. Hanya melalui usaha terus menerus memajukan keduanya pada saat bersamaan, tanpa pemisahan kerja, maka kesatuan teori dan aksi dapat dimantapkan, sehingga gerakan revolusioner tersebut, apapun asal usul maupun tujuan sosialnya, dapat mencapai hasilnya. Dalam hubungannya dengan pemisahan kerja, ada satu hal lain yang membuat saya tersentak, dan benar-benar menyentak karena diajukan dalam satu pertemuan orang-orang sosialis. Pemisahan teori dan aksi yang sudah begitu buruk, kini diberi satu dimensi baru dalam gerakan sosialis ketika dikatakan: di satu pihak ada para aktivis, orang-orang awam yang kerja kasar. Di pihak lain adalah elit yang kerjanya berpikir. Jika elit ini terlibat dalam aksi demonstrasi, maka mereka tidak akan punya waktu berpikir atau menulis buku, dan dengan begitu maka ada elemen berharga dalam perjuangan yang akan hilang.



Saya katakan bahwa setiap pernyataan yang menyebut adanya pemisahan kerja manual dan kerja pikiran di dalam gerakan revolu­sioner, yang memisahkan barisan aksi yang kerja kasar dan elit yang kerja pikiran, secara mendasar bukan pernyataan sosialis. Pernyataan itu bertentangan dengan salah satu tujuan utama dari gerakan sosialis, yang ingin mencapai penghapusan pemisahan kerja manual dan intelektual bukan hanya dalam organisa­si tapi, lebih penting lagi, dalam masyarakat secara keseluruhan. Orang-orang sosialis revolusioner pada 50 atau 100 tahun yang lalu belum dapat melihat hal ini dengan jelas, seperti kita sekarang ini, saat sudah ada kemungkinan obyektif untuk mencapai tujuan itu. Kita sudah memasuki satu proses teknologi dan pendi­dikan yang memungkinkan tercapainya hal itu. Salah satu pelajaran berharga yang harus kita ambil dari kemunduran Revolusi Rusia, adalah jika pemisahan antara kerja manual dan kerja intelektual dipertahankan pada masyarakat yang sedang dalam transisi dari kapitalisme menuju sosialisme dalam bentuk lembaga, maka hasilnya pasti meningkatkan birokrasi dan menciptakan ketimpangan baru dan bentuk-bentuk penindasan manusia yang tidak sesuai dengan kemakmuran sosialis.

Jadi kita harus mengikuti cara-cara yang telah dilakukan pada masa terdahulu dengan menghapus sebisa mungkin setiap gagasan tentang pemisahan kerja manual dan kerja pikiran dalam gerakan revolusioner. Kita harus bertahan bahwa tidak akan ada teoretisi yang baik jika tidak terlibat dalam aksi, dan tidak akan ada aktivis yang baik jika tidak dapat menerima, memperkuat dan memajukan teori.



Kita ambil contoh dulu gerakan mahasiswa Eropa telah mencoba mencapai hal seperti ini sampai tingkat tertentu di Jerman, Prancis dan Italia. Di sana muncul pemimpin-pemimpin mahasiswa agitator yang juga dapat, jika diperlukan, membangun barikade dan bertempur mempertahankannya, dan pada saat yang dapat menulis artikel bahkan buku teoretis dan berdiskusi dengan sosiolog terkemuka, ahli politik dan ekonomi dan mengalahkan mereka dalam bidang ilmu mereka sendiri. Hal ini makin memperkuat keyakinan bukan hanya tentang masa depan gerakan mahasiswa tapi juga tentang masa ketika orang-orang ini sudah berhenti menjadi mahasiswa, dan harus berjuang di bidang lain.



Perlunya Organisasi Revolusioner



Sekarang saya ingin berbicara tentang aspek lain dari kesat­uan teori dan aksi yang sudah menjadi perdebatan dalam gerakan mahasiswa contohnya Eropa dan Amerika Utara. Saya secara pribadi yakin bahwa tanpa organisasi yang revolusioner, bukan suatu formasi yang longgar tapi sebuah organisasi yang serius dan permanen sifatnya, maka kesatuan teori dan praktek tidak akan bertahan lama.



Ada dua alasan. Yang pertama berhubungan dengan asas dari mahasiswa sendiri. Status kemahasiswaan, hanya berlaku untuk jangka waktu yang singkat, tidak seperti buruh. Ia bisa menetap di universitas selama empat, lima, enam tahun, dan bahkan tujuh tahun tidak ada yang dapat memperkirakan apa yang terjadi setelah ia meninggalkan universitas. Pada tulisan ini saya sekaligus ingin menjawab salah satu argumen demagogis yang telah digunakan sejumlah pemim­pin partai-partai komunis yang menentang perlawanan mahasiswa. Dengan nada sinis mereka mengatakan: "Siapa mahasiswa-mahasiswa itu? Hari ini mereka berontak, besok mereka akan menja­di bos yang menindas kita. Kita tidak perlu memperhitungkan aksi-aksi mereka dengan serius."

Ini adalah argumen yang kurang bijak karena tidak mempertimbangkan transformasi revolusioner dari peranan lulusan universitas sekar­ang ini. Jika mereka melihat angka-angka statistik, maka mereka akan tahu bahwa hanya sebagian kecil dari lulusan universitas yang bisa menjadi kapitalis atau agen-agen langsung dari para kapitalis ini. Apa yang mereka khawatirkan mungkin saja menjadi kenyataan jika jumlah lulusan itu hanya 10.000, 15.000 atau 20.000 orang dalam satu tahun. Tapi sekarang ada satu juta, empat juta, lima juta mahasiswa, bahkan sepuluh juta dan tidak mungkin kebanyakan dari mereka akan menjadi kapitalis atau manejer perusahaan karena tidak ada lowongan sebanyak itu untuk mereka.



Argumen demagogis ini ada benarnya. Lingkungan akademis memang memiliki konsekuensi tertentu terhadap tingkat kesadaran sosial dan aktivitas politik seorang mahasiswa. Selama ia tetap di universitas, maka lingkungannya mendukung aktivitas politik. Ketika ia meninggalkan universitas, lingkungan ini tidak ada lagi di sekelilingnya, dan ia makin mudah ditekan oleh ideologi dan kepentingan borjuasi atau borjuasi kecil (petty-bourgeoisie). Ada ancaman bahwa ia akan melibatkan dirinya dalam lingkungan sosial yang baru ini, apapun bentuknya. Ada kemungkinan terjadinya proses mundur ke posisi intelektual reformis atau liberal kiri yang tidak lagi berhubungan dengan aktivitas revolusioner.

Penting untuk mempelajari sejarah organisasi SDS di Jerman, yang dalam hal ini adalah gerakan mahasiswa revolusioner yang paling tua di Eropa. Setelah dikeluarkan dari kalangan Sosial Demokrat Jerman beberapa puluh tahun yang lalu satu generasi mahasiswa SDS yang militan meninggalkan universitas. Setelah beberapa tahun, dengan tidak adanya organisasi revolusioner, kebanyakan orang-orang militan ini, terlepas dari keinginan mereka untuk tetap teguh dan menjadi aktivis sosialis, tidak aktif lagi dalam politik dari sudut pandang revolusioner. Jadi, untuk memelihara kelanjutan aktivitas revolusioner ini, kita harus punya organisasi yang lebih luas jangkauannya dari organisasi mahasiswa biasa, sebuah organisasi di mana mahasiswa dan bukan mahasiswa dapat bekerja sama.Dan ada alasan yang lebih penting lagi, di balik kepentingan kita memiliki satu organisasi partai. Karena tanpa organisasi semacam itu, tidak akan dapat dicapai kesatuan aksi dengan kelas buruh industri, dalam pengertian yang paling umum sekalipun. Sebagai Marxis, saya tetap yakin bahwa tanpa aksi kelas buruh tidak akan mungkin masyarakat borjuis ini ditumbangkan dan itu berarti tidak mungkin juga dibangun masyarakat sosialis.

Di sini sekali lagi kita bisa melihat bagaimana pengalaman gerakan-gerakan mahasiswa, pertama di Jerman, lalu Prancis dan Italia, sudah berhasil mencapai kesimpulan teoretis tersebut dalam praktek. Diskusi yang sama tentang relevan atau tidaknya kelas buruh industri bagi aksi revolusioner dilakukan di masa yang lalu di negara-negara seperti Jerman dan Italia.Masalah ini ditempatkan dalam praktek bukan hanya oleh peristiwa revolusioner selama Mei-Juni 1968 di Prancis, tapi juga oleh aksi bersama mahasiswa di Turin dengan buruh Fiat di Italia. Ini juga diperjelas dengan usaha-usaha sadar dari SDS Jerman untuk melibatkan bagian dari kelas buruh di dalam agitasi mereka di luar universitas menentang perusahaan penerbit Springer dan kampanyenya dalam mencegah diberlakukannya undang-undang darurat yang akan mencegah kebebasan sipil.



Pengalaman seperti ini mengajarkan gerakan mahasiswa di Indonesia bahwa mereka harus menemukan jembatan dengan kelas buruh industri. Masalah ini memiliki sejumlah aspek yang berbeda dengan tingkatan yang berbeda pula. Ada masalah programatik yang tidak dapat saya jabarkan dalam tulisan ini sekarang. Hal yang diungkapkan di sini adalah bagaimana mahasiswa dapat mendekati buruh, bukan sebagai guru, karena buruh tentunya menolak hubungan seperti itu, tapi dengan cara masuk ke dalam lapangan kepentingan yang sama. Terutama diuraikan masalah organisasi partai. Selain penga­laman kalah beberapa kali untuk membangun kolaborasi di tingkat rendahan dalam aksi-aksi langsung antara sejumlah kecil mahasiswa dan sejumlah kecil buruh, setelah tiga sampai delapan bulan, persekutuan itu akan hilang. Bahkan jika kalian memulai lagi dari awal, dan saat keseimbangan sudah tercapai, maka sedikit saja yang tersisa.

Kegunaan organisasi revolusioner yang permanen adalah untuk menyediakan integrasi timbal balik antara mahasiswa dan perjuan­gan kelas buruh oleh para pelopornya secara terus menerus. Ini bukan sekadar kesinambungan yang sederhana dalam batas waktu tertentu, tapi sebuah kelanjutan ruang antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda yang memiliki tujuan sosialis revolusioner yang sama. Kita harus kritis melihat apakah integrasi seperti ini memang mungkin secara obyektif. Melihat pengalaman yang dulu ada di Prancis, Italia, dan sejumlah negara lainnya, maka dengan mudah kita bisa bilang ya. Dan garis inipun dapat dipertahankan di Amerika Serikat. Dengan alasan-alasan historis yang juga tidak dapat saya uraikan sekarang, sebuah situasi khusus muncul di Amerika Serikat di mana mayoritas kelas buruh, yakni kelas buruh kulit putih, belum menerima gagasan sosialis tentang aksi revolu­sioner. Ini fakta yang tidak dapat ditandingi.



Tentu saja hal ini dengan cepat dapat berubah. Sejumlah orang berpendapat seperti itu di Prancis, hanya beberapa minggu sebelum tanggal 10 Mei 1968. Namun, bahkan di Amerika Serikat, ada minoritas dalam kelas buruh industri yang penting, yaitu buruh kulit hitam. Tak seorangpun bisa mengatakan bahwa setelah dua tahun terakhir mereka tidak dapat menerima gagasan sosialis atau tidak mampu menjalankan aksi revolusioner. Di sini paling tidak ada kemungkinan langsung terjadinya kesatuan antara teori dan praktek di sebagian kalangan kelas buruh.

Sebagai tambahan, kiranya penting untuk menganalisa kecen­derungan sosial dan ekonomi yang dalam jangka panjang akan meng­guncang ketidakpedulian politik yang platen dan konservatisme kelas buruh kulit putih. Pelajaran dari Jerman dengan lingkungan yang sangat mirip membuktikan bahwa hal itu mungkin terjadi. Beberapa pengalaman yang lalu di kalangan kelas buruh di Jerman mengendap stabilitas, konservatisme, dan integrasi masyarakat kapitalis yang tidak terguncang, sama seperti Amerika Serikat di mata banyak orang sekarang ini. Hal ini sudah mulai berubah. Kasus ini memperlihatkan bahwa pergeseran kecil di dalam perimbangan kekua­tan, yaitu penurunan tingkat ekonomi, dan serangan dari pengusaha terhadap struktur serikat buruh tradisional dan hak-hak dapat menciptakan ketegangan sosial yang mampu mengubah banyak hal.



Tugas saya di sini tidak lebih dari sekedar memberi informasi kepada kalian tentang masalah-masalah perjuangan kelas kalian sementara tugas kalian adalah menyadari bahwa kalian harus bergabung dengan buruh dan belajar dengan baik. Saya hanya akan menunjukkan satu di antara sekian banyak saluran tempat kesadaran sosialis dan aktivitas revolusioner dapat menghubungkan mahasiswa dan buruh, seperti ditunjukkan bukan hanya oleh Eropa Barat tapi juga oleh Jepang. Rangkaian penghubung ini adalah pemuda dari kalangan kelas buruh. Sebagai konsekuensi dari perubahan teknologi selama beberapa tahun terak­hir yang mempengaruhi struktur kelas buruh, sistem pendidikan borjuis tidak dapat mempersiapkan buruh-buruh muda, atau sebagian dari buruh muda ini, untuk memainkan peran baru dalam teknologi yang telah berubah bahkan dari sudut pandang para kapitalis sendiri. Amerika Serikat adalah contoh yang jelas tentang kehan­curan total dari pendidikan bagi buruh muda berkulit hitam yang tingkat penganggurannya sama tinggi seperti tingkat rata-rata pengangguran seluruh kelas buruh di masa depresi. Kenyataan ini memperlihatkan apa yang tengah terjadi di kalangan pemuda kulit hitam negeri itu. Ini hanyalah ekspresi dari kecenderungan umum yang mendikte kepekaan ekstrem terhadap segala sesuatu yang terjadi di kalangan muda. Kebusukan dan kemacetan sistem sosial sekarang ini jelas menunjukkan ketidakberpihakan para penguasanya kepada kaum muda. Para penguasa



Prancis dulu selama peristiwa Mei tidak membeda-bedakan antara mahasiswa, pegawai dan buruh muda. Mereka

memperlakukan semuanya sebagai musuh.Contoh kongkret dari ini adalah insiden yang dulu terjadi di Flins ketika terjadi demonstrasi besar. Setelah seorang anak sekolah dibunuh oleh polisi muncul kegelisahan besar. Polisi bergerak masuk dan mulai memerika para demonstran, memerika kartu identitas orang-orang yang lewat. Setiap orang yang berusia di bawah 30 tahun ditangkap karena dianggap potensial sebagai pemberontak, sebagai orang yang akan bergerak menghantam polisi.

Jika kalian secara seksama membaca buku-buku sekarang, industri film dan bentuk-bentuk refleksi kenyataan sosial yang lain di dalam suprastruktur budaya selama lima atau sepuluh tahun terakhir, kalian akan lihat bahwa di samping semua pembicaraan yang palsu tentang kenakalan remaja, kaum borjuis telah menggam­barkan jenis pemuda yang dihasilkan sistemnya dan juga semangat memberontak dari kaum muda. Ini tidak terbatas bagi mahasiswa atau kelompok minoritas seperti orang kulit hitam di Amerika Serikat. Ini juga berlaku bagi buruh-buruh muda.Kiranya perlu dipelajari apa yang ada lingkungan buruh-buruh muda karena perjuangan memenangkan mereka kepada kesadaran sosia­lis, kepada gagasan-gagasan revolusi sosialis kelihatannya pent­ing bagi negeri-negeri Barat selama sepuluh sampai limabelas tahun mendatang. Jika kita berhasil mengangkat kaum muda yang terbaik menjadi sosialis revolusioner --saya pikir ini sudah mulai dilakukan di negeri-negeri Asia-- kita bisa yakin tentang kemajuan gerakan kita. Jika kemungkinan ini lepas dan kebanyakan orang muda berpihak ke kalangan ekstrem kanan, maka kita akan kalah dalam perjuangan yang menentukan dan akan masuk ke dalam liang kubur bersama sosialis Eropa dan gerakan revolusioner di tahun 1930-an.



Persatuan teori dan praktek juga berarti bahwa serangkaian gagasan kunci dari gerakan sosialis dan tradisi revolusioner telah ditemukan kembali sekarang. Aku tahu bahwa sebagian orang dalam gerakan mahasiswa di Amerika Serikat ingin menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Aku sepenuh hati setuju dengan setiap usulan yang menginginkan sesuatu yang lebih baik, karena apa yang telah dicapai oleh generasi-generasi sebelumnya juga kurang meyakinkan dari sudut pandang pembangunan masyarakat sosialis. Tapi penting juga aku utarakan peringatan. Jika kalian menyangka sedang menciptakan sesuatu yang baru, yang sebenarnya sedang dilakukan adalah mundur ke masa lalu yang jauh lebih terbelakang dari masa lalu Marxisme.

Semua gagasan baru yang dimajukan dalam gerakan mahasiswa di Indonesia selama tiga puluh atau empat puluh tahun terakhir, dan menjadi populer di kalangan mahasiswa Amerika Serikat, sebenarnya sudah sangat tua umurnya.



Alasannya sangat sederhana. Kecenderungan logis dari evolusi sosial dan kecenderungan kritik sosialis dikembangkan dalam jalur para pemikir besar abad 18 dan 19. Terlepas dari kalian suka atau tidak, hal itu memang benar, dan berlaku bagi ilmu sosial sekaligus ilmu alam yang rangkaian hukumnya dicipta­kan di masa lalu. Jika kalian ingin mengembangkan kecenderungan baru, kalian harus maju dari landasan yang merupakan hasil ter­baik dari generasi-generasi sebelumnya. Keinginan untuk senantiasa menciptakan sesuatu yang baru hanyalah satu aspek awal dari radikalisme mahasiswa. Ketika gerakan sudah berkembang menjadi besar dan bisa memobilisasi massa yang besar maka yang akan terjadi adalah sebaliknya seperti ditunjukkan para sosiologis di Prancis ketika melihat kejadian bulan Mei 1968. Saat itu massa mahasiswa revolusioner yang luas ber­juang menemukan kembali tradisi sejarah dan akar-akar historis mereka. Mereka seharusnya sadar bahwa mereka akan lebih kuat jika mengatakan: perjuangan kami adalah perpanjangan dari perjuangan untuk kebebasan yang dimulai 150 tahun lalu, atau bahkan 2.000 tahun lalu ketika budak-budak pertama memberontak terhadap tuannya. Ini akan jauh lebih meyakinkan daripada mengatakan: kami melakukan sesuatu yang sama sekali baru yang terputus dari sejar­ah dan terisolasi dari keseluruhan masa lalu seakan masa lalu tidak pernah mengajarkan apa-apa kepada kita dan tidak ada yang dapat kita pelajari dari itu.



Masalah ini akhirnya akan membawa aktivis mahasiswa kembali pada beberapa konsep historis dasar dari sosialisme dan Marxisme. Kita telah melihat bagaimana gerakan mahasiswa yang dicontohkan di Prancis, Jer­man, Italia dan Inggris kembali kepada gagasan-gagasan revolusi sosialis dan demokrasi buruh. Bagi seseorang seperti saya, sangat menggembirakan melihat bagaimana gerakan revolusion­er Prancis mempertahankan hak kebebasan berbicara, dan menghu­bungkannya dengan tradisi terbaik dari sosialisme. Tulisan aku sekarang ini juga memperbarui kembali tradisi internasion­alisme dari sosialisme lama dan Marxisme ketika kalian bilang bahwa perlawanan mahasiswa bersifat mendunia dan bahwa gerakan mahasiswa itu bersifat internasional. Ini adalah internasionalisme yang sama, dengan akar-akar dan tujuan yang sama seperti internasionalisme dari sosialisme, sama seperti internasionalisme dari kelas buruh.

Sabtu, 22 Januari 2011

Politik ????

Apa yang terjadi dinegeri ini semuanya karena politik, politik dan politik. Semua berniat menang dengan segala cara tidak mementingkan bagaimana musuhnya itu. Politik itu kejam

Jumat, 17 Desember 2010

PIALA AFF DAN MOMENTUM KEBANGKITAN PEMUDA INDONESIA


Oleh:Bakhrul Amal Mukhtar

Beberapa pekan ini publik Asia Tenggara sedikit terhibur dari sekian banyaknya rutinitas yang sungguh menyita hari-hari keluarga besar Asia Tenggara. Hiburan itu tidak lain dan tidak bukan adalah adanya perhelatan akbar pertandingan sepakbola dua tahunan di Asia Tenggara yang berubah nama piala AFF dari sebelumnya Piala Tiger. Dan yang sungguh menarik perhatian adalah Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara belum pernah sekalipun mencicipi gelar juara dari ajang yang dimulai sejak tahun 1996 ini yang dulu di sebut Piala Tiger.

Tetapi ada satu hal yang manarik di piala AFF tahun ini selain di percayanya Indonesia menjadi tuan rumah adalah hadirnya permainan cantik dari beberapa kemanangan Timnas Indonesia. Terlepas dari dukungan penuh puluhan ribu suporter yang terus menyemangati secara langsung dan terlihat memadati Gelora Bung Karno yang menurut saya menjadi pemandangan yang begitu fantastis. Meski awal ketertarikan saya kepada Timnas baru muncul akhir-akhir ini setelah saya melihat perjalanan awal mereka di piala AFF melawan Malaysia karena sebelumnya saya juga mengikuti perkembangan Timnas. Tetapi ini sungguh membuat saya terkejut dan sontak berkata”amazing” gabungan antara permainan cantik, kekompakan tim serta semangat yang tak kenal lelah sungguh terasa berbeda dari penampilan Indonesia sebelumnya. Selain itu munculnya pemain muda di Timnas Indonesia ini sangat membuat warna baru yang sungguh berbanding terbalik dari Timnas sebelumnya.

Entah berkat ramuan pelatih anyar yang berasala dari Austria yaitu Alferd Riedl ataupun kontribusi pemain naturalisasi yang terlihat begitu memotivasi tetapi yang terpenting bagi saya adalah pemain muda Indonesia yang terbukti tidak kalah jauh dari pemain naturalisasi dan ini terlihat dari kemenangan awal 5 – 1 saat menjamu Malaysia diciptakan dari tiga pemain asli anak bangsa dan dua dari naturalisasi. Kemenangan demi kemenangan diraih diantaranya adalah 6 – 0 melawan Laos, 2 – 1 melawan Thailand dan yang teakhir ini 1 -0 melawan Filipina. Ini semua bisa terjadi karena selain kerjasama dan semangat yang pantang menyerah adalah berkat tekhnik individual mereka yang cukup baik dan itu terlihat dari satu persatu pemain menunjukan skill bermain bola yang sangat cantik dan enak dilihat.

Permainan Indonesia yang cenderung ofensif dibarengi kerjasama tim dan memainkan permainan dengan tempo yang cepat dan indah sungguh sempat membuat saya kaget dengan penampilan timnas saat ini. Beberapa kali saya mengeleng-gelengkan kepala sambil mengeluarkan kata khas orang Cirebon”kirik”. Semangat Timnas Indonesia ini perlu di apresiasi karena menunjukan bahwa kita belum habis, kita masih bisa bangkit dan kita bisa jika bersama terlepas dari pelatih baru dan pemain naturalisasi.
Bayangkan jika semangat dan keyakinan kemampuan bahwa kita bisa ini di tuangkan kepada seluruh pemuda Indonesia, jika kerjasama tanpa mengenal lelah ini dicontoh oleh seluruh pemuda Indonesia, jika semangat nasionalisme ini di taruh di dalam dada seluruh pemuda Indonesia sungguh saya tidak bisa bayangkan betapa hebatnya negeri ini. Dengat semangat timnas yang rata-rata di huni pemain muda ini saya jadi teringat kata-kata Bung Karno dulu “beri saya sepuluh anak muda, maka akan aku kuasai dunia ini”.

Setidaknya saat ini kita bisa melihat lalu berteriak jangankan sepuluh Bung Karno, Sebelas, seratus, seribu, satu juta bahkan seratus juta anak muda bangsa Indonesia akan diberikan demi Indonesia untuk menaklukan dunia ini. Dengan semangat Timnas Indonesia ini semoga menjadi momentum awal bangkitnya pemuda-pemuda harapan bangsa. Ayo semangat pemuda Indonesia, bangkit, bangkit dan bangkit biarkan keringat ini mengucur, biarkan darah ini terus mengalir, biarkan teriakan ini lepas, biarkan inspirasi ini terbang tetap berpegang tangan hargai segala bentuk perbedaan melangkah maju demi Indonesia.

Senin, 29 November 2010

SEDIKIT PELAJARAN TENTANG KEPEMIMPINAN

Oleh : Bakhrul Amal Mukhtar

Mengapa di dunia ini selalu menertawai

Hidupku yang hina ini

Mengapa semua manusia

Menghina pemikiranku

Mencari jalan kebenaran

Sebagai seorang pemikir

Namun semunya itu tiada berarti bagiku

Kuanggap sebagai penguji imanku

Tidaknya tuhan jadi saksi bagiku

Betapa sucinya niatku ini

WALAUPUN HINAAN ITU DITUJUKAN PADA DIRIKU

NAMUN KUSELALU TERSENYUM KARENA CINTAKU SUCI PADAMU



Saya percaya akan adanya tuhan, tetapi saya tidak percaya tuhan itu hanya menciptakan satu golongan saja. Tuhan menciptakan setiap golongan-golongan di bumi ini, dia menciptakan bukan karena maksud tetapi agar kita manusia ini mau belajar dan bisa saling menghargai. Selain itu di setiap golongan dia menciptakan pemimpinya masing-masing, untuk menjadi penyeimbang dan penentu sikap setiap golongan-golongan itu. Tentu untuk menjadi seorang pemimpin dia menyiapkan yang sangat istimewa dengan beberapa sifat-sifatnya. Yang perlu kita perhatikan adalah sifat-sifat kepemimpinan kita, karena pemimpin itu bukan hanya pemimpin golongan saja tetapi pemimpin bagi dirinya sendiri. Orang yang sudah mampu mengendalikan dirinya tentu akan mampu untuk mengendalikan orang lain. Saya coba jabarkan sedikit sifat-sifat kepemimpinan yang saya alami berdasar pengalaman adalah sebagai berikut :





1, Rendah Hati

Ilmu pertama yang kita pelajari adalah kerendahan hati. Artinya adalah tidak pernah sombong dengan apa yang telah kita miliki saat ini, atau apa yang akan kita perjuangkan nanti. Tidak pernah membedakan dari apa yang kita miliki saat ini dengan apa yang dimiliki orang lain. Sekalipun lebih baik dan orang itupun mengakui kelebihan yang ada pada diri kita. Tetaplah bersikap santai dan memandang sama.



Tidak mudah memang menutupi kelebihan yang kita miliki, kadang hati kita terasa ingin sekali mengucapkan atau memberi tahu apa yang menjadi kelebihan yang ada pada diri kita entah itu materi,ilmu dll. Tetapi cobalah untuk santai dan biasa saja karena semua yang kita miliki datangnya dari tuhan mungkin itulah kunci dari rendah hati.

*

Pemimpin yang memimpin dengan kerendahan hati, mulia perjuangannya





2, Kesederhanaan

Mungkin kita melupakan ilmu ini padahal ini adalah penilaian yang justru sangat terlihat yaitu kesederhanaan. Sederhana itu artinya tidak berlebih-lebihan, tidak berlebih-lebihan dalam bersikap, berbahasa, berpakaian dan dalam memandang suatu yang terkadang menurut kita perlu di sakralkan.



Kesederhanaan juga mampu membuat kita untuk ikut merasakan apa yang terkadang orang lain rasakan. Kesederhanaan juga bisa diartikan berada di tengah-tengah atau menjadi jembatan diantara makhluk social lainya.

*

Memimpin dalam kesederhanaan adalah hal biasa namun kaya makna





3, Humanis

Tidak banyak pemimpin di dunia ini yang menerapkan prinsip humanis daripada otoriter dan kekuasaan. Padahal mereka lupa bahwa manusia itu haruslah di sikapi secara manusia terlepas dari perbedaan yang ada saat ini. Untuk menjadi pemimpin yang humanis itu memang sulit dan terkadang terbentur oleh bedanya keyakinan. Padahal disitulah seninya, dimana tingkat kemampuan kita untuk menilai manusia itu secara seutuhnya. Humanisme itu jangan hanya dengan sesame keyakinan atau tujuan tetapi humanism itu harus melintasi agama, etnis, teritorial dan negara. Kita tidak usah takut untuk bicara atau bersahabat karena berbeda keyakinan tetapi yakinlah yang kita lakukan atas dasar prinsip kemanusiaan , bahwa manusia diciptakan untuk saling menghargai dan melindungi satu dengan yang lainnya. Inilah karakter pemimpin Indonesia yang saat ini sangat dibutuhkan, pendekatan secara humanis kepada rakyatnya bukan kekuasaan semata.

*

Yang dipimpin adalah manusia maka selayaknya pemimpin juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan





4, Humoris

Kadangkala kita seagai pemimpin terlalu serius sehingga kita lupa atau bahkan tidak jarang saling menyalahkan, karena terlalu serius dalam menyelesaikan suatu masalah. Padahal untuk menjadi pemimpin kita harus mampu membuat suasana di sekitar itu santai dan tak terlalu terbebani. Salah satunya adalah di selingi dengan bercanda untuk memecah kebuntuan yang membelenggu pikiran kita selama ini. Selain itu untuk memberikan suasana nyaman diantara pimpinan dan para pembantunya. Janganlah terlalu memandang sesuatu serius dan menegangkan suatu permasalahan cobalha bersikap santai dan rileks.

*

Memimpin dengan humoris bagaikan setitik embun di padang gersang



5, Visioner

Seni memimpin salah satunya dalah visioner dan berani melakukan terobosan. Mungkin sebagian orang mengatakan kebijakan dan keputusan yang visionergila”tetapi memang apa yang dilakukan haruslah dapat dipertanggungjawabkan dan sudah perhitungkan untuk jangka panjang, bukan saat itu. Terobosan-terobosan yang tepernting haruslah mengandung nilai kostrukstif, demokrasi, penegakkan hak asasi manusia dan perdamaian. Bukan untuk kepentingan pribadi semata.

*

Pemimpin harus mempunyai visi kedepan yang dapat dipertanggungjawabkan tentang apa yang dipimpinnya



6, Sabar dan Memaafkan

Sebagai seorang pemimpin kita harus mempunya sifat sabar dan memaafkan. Untuk memiliki sifat ini kita harus memiliki pemikiran yang positif dan menjauhkan pemikiran negatif tanpa dasar dan kebiasaan yang kuat. Dengan dibiasakanya kita berpikir positif kita akan mampu untuk sabar dan mudah untuk memaafkan sesama.

*

Seorang pemimpin harus mempunyai dua hati, yang satunya sabar dan yang satunya lagi memaafkan



7, Komitmen pemberian diri

Kadang kita malas atau menyudahi perjuangan kita ketika menjadi seorang pemimpin dan apa yang kita lakukan tidak dapat di perjuangkan pada saat itu. Kata menyerah inilah yang harus kita hindari dan buang jauh dari pikiran dan hati kita. Tidak sedikit dari kita yang lupa bahwa untuk memperjuangkan apa yang kita perjuangkan tidak harus kita harus selalu berada di atas. Tetapi kita harus yakin bahwa yang kita perjuangkan itu untuk kepentingan bersama dan harus tetap dilakukan meski kita berada di bawah ataupun diatas. Bagaimanapun caranya berusahalah untuk tetap semangat memperjuangkan sesuatu yang menurut kita benar dan berusalah komitmen dengan tujuan kita.

*

Beda pemimpin dan pecundang; Pemimpin sejati total memberi diri sedangkan seorang pecundang hanya tahu menerima hasilnya.



8, “Marketing Leader”

Yang ingin saya jelaskan bukanlah ilmu seorang marketing seperti Aburizal bakrie, tapi dengan humanismenya itu melintasi agama, etnis, teritorial dan negara.semua kalangan. Salah satu caranya adalah dengan menulis, dengan tulisan kita secara tidak langsung kita memasarkan pemikiran kita kepada orang lain, tentunya tulisan kita haruslah yang bermanfaat bagi semua kalangan.



Dan yang terpenting adalah tulisan yang mampu merubah pola pemikiran yang biasa menjadi luar biasa sehingga menarik dan mampu mengundang tanya, keingintahuan yang positif tentunya bukan keingin tahuan yang menimbulkan sesuatu yang negatif.

*

Kepemimpinan pada dasarnya adalah tentang sebuah strategi memimpin





9, Berani dan Kritis

Pemikiran, tindakan dan ucapan kita haruslah sejalan dan tidak ada bedanya. Janganlah kita menjadi pemimpin yang kadang-kadang lain di hati lain di bibir. Kita harus berani mengatakan kata-kata yang kadang tajam dan pedas membuat kuping yang diserang menjadi panas. Tetapi apa yang kita katakan bukan tanpa sebabnya. Kritikan kita harus terbukti dan mempunyai dasar yang jelas. Dalam sikap kritis terkadang kita terhalang dengan betapa kuatnya pondasi musuh yang kita sikapi kritis tetapi selama kita benar, kita tidak perlu takut untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi terus berusaha lakukan dengan cara kita. Dan ini menjadi pelajaran penting untuk calon-calon pemimpin nantinya. Jangan mati konyol, berani mengeluarkan pendapat tetapi tidak punya amunisi dan argument yang kuat ketika diserang balik.

*

Seorang pemimpin layaknya kesatria, berani mengambil keputusan dan siap bertanggungjawab akan keputusannya.



10, Pejuang

Untuk menjadi seorang pejuang di perlukan keikhlasan hati tingkat tinggi, karena tidak jarang pejuang justru harus mengorbankan dirinya demi apa yang diperjuangkan. Dia tidak takut dianggap sebelah mata selama apa yang di perjuangkan itu benar dan perlu di tegakan. Sikap pantang menyerah adalah satu satu yang harus dimiliki oleh seorang pejuang karena perjuang haruslah pantang menyerah demi ditegakanya keadilan. Sebabagi seorang pejuang kita haruslah berjuang dengan berbagai cara. Ucapan, pemikiran, tindakan, tulisan-tulisan, diplomasi dan pendekatan secara manusiawi. Dan perjuangan itu harus ditunjukkan bukan untuk mencari popularitas, tetapi perjuangan karena cinta. Cinta akan Tuhan, cinta akan manusia, cinta akan perdamaian, cinta akan demokrasi dan cinta akan nilai-nilai kebaikan.

*

Pemimpin sejati berjuang dengan ketulusan hatinya



11, Menghargai perbedaan

Seorang pemimpin sejati pasti akan menghargai perbedaan dan senang melihat apa yang di pimpinya dapat hidup hidup bersama tanpa membedakan keyakinan, golonga ataupun kepentingan. Seorang pemimpin sejati pasti selalu berfikir bahwa perbedaan adalah denyut kehidupannya. Itulah sebabnya sebagai seorang pemimpin harus memiliki pandangan yang sama kepada semua manusia tanpa membedan keyakinan, suku, golongan ataupun kepentingan. Yang dia pikirkan adalah kebersamaan dan saling menghargai antar sesama jadi jangan heran jika kita menjadi pemimpin yang menghargai perbedaan ketika kita nanti meninggal, kita akan ditangisi banyak orang, bukan hanya dari kalangan kita. Karena kita sangat menghargai perbedaan, maka kita diterima oleh golongan, suku dan agama apapun. Dan yang terpenting sebagai seorang pemimpin kita harus memiliki pribadi yang sangat menghargai pluralisme dan kesatuan bangsa.

*

Jika pemimpin ingin dihargai, maka ia terlebih dahulu belajar menghargai

NASIONALISME TERIAK HINGGA HILANG SUARANYA

Oleh : Bakhrul Amal Mukhtar



Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.

Sehingga nasionalisme yang tinggi mengahasilkan sebuah ekspresi kecintaan terhadap suatu negara dengan segala bentuk yang menunjukan kecintaanya terhadap suatu negara tersebut. Tidak jarang rasa nasionalisme di tunjukan dengan berteriak lantang untuk menunjukan kecintaanya terhadap bangsa karena merasa identitas bangsanya telah di curi. Siapakah yang mencuri ? tentunya mencuri itu bisa diartikan dari dalam serta dari luar, contohnya adalah rezim soeharto yang dinilai mengubur nasionalisme dan itu bisa dijadikan contoh mencuri nasionalisme dari dalam.

Dengan adanya momentum rezim Soeharto mereka yang berbentengkan Nasionalisme seolah muncul dan berteriak dengan sebutan kaum Nasionalis yang peduli terhadap bangsa itu. Dan terbukti dengan semangat ini berhasilah mereka menurunkan Soeharto dari kursi presiden Indonesia setelah berpuluh-puluh tahun memimpin Indonesia. Apakah dengan begini Nasionalisme terhadap bangsa ini sudah dijalan yang lurus ? belum tentu . Karena nyatanya jiwa itu dilanggar oleh seorang Nasionalis itu sendiri, bukankah seorang nasionalis itu seharusnya mencintai bangsa ini dengan segala peraturanya, dengan menaati peraturan itu adalah suatu bentuk nasionalisme yang real terhadap Indonesia.

Lebih baik diam dan belajar bibanding dengan berteriak-teriak seolah berjiwa nasionalis, tetapi pada akhirnya suara itupun hilang dengan berjalanya “bisnis politik” ataupun sesatu yang lebih menguntungkan pribadi. Kita teruskan pada saat jatuhnya Soeharto terpilihlah presiden baru yaitu Abdurrahman Wahid atau yang biasa kita sebut Gus Dur. Tetapi masa demokrasi bersama Gus Dur tidak berlangsung lama beliaupun dilengserkan oleh Sidang Istimewa (SI) MPR yang menurut saya melanggar UUD dan terkesan adanya “bisnis politik” karena,

Pertama Undanganya (yang diterima Presiden dari Ketua MPR Amien Rais-red) menyebutkan negara dalam keadaan bahaya, sedangkan pengumuman negara dalam bahaya, terutama dipakai untuk apa, itu adalah hak presiden menurut pasal 12 UUD 1945.

Kedua, terjadi penyimpangan agenda, semula Gus Dur akan di periksa masalah bulog dan masalah Aceh berdasarkan Memorandum 1dan Memorandum 2. Padahal semuanya telah dijawab secara lugas dan jujur oleh Gus Dur. Karena tidak ada alesan yang sesuai maka dinyatakan bahwa yang diperiksa adalah Kapolri Chaerudin sebagai PJS. Yang menurutnya menunggu ketentuan atau persetujuan DPR menurut Tap MPR, tetapi Tap MPR nya belum ada pelaksanaanya sehingga pada saat itu masih di tunggu. Padahal Gus Dur melakukan itu menurut permintaan Akbar Tandjung yang pada saat itu menjabat seagai ketua DPR. Tetapi entah berbohong atau tidak seorang Akbar Tandjung diketahui pada saat itu membantah, menurut pengakuan pada saat itu Gus Dur memiliki saksi yang siap di periksa di bawah sumpah.

Ketiga, seharusnya pemeriksaan terhadap Presiden adalah bahwa pemeriksaan atas seorang Presiden itu harus menyangkut pengkhianatan. Sedangkan pada saat itu belum pernah Gus Dur melakukan pengkhianatan,padahal yang ada adalah pada saati itu pemutihan keresahan masyarakat , tidak tenangnya masyarakat dan sebagainya dikatakan gara-gara pengangkatan PJS Kapolri oleh Pak Chaerudin. Jadi menurut saya ini sungguh menyimpang dari UUD 1945. Ini didasari ketentuan bahwa tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya wewenang Gus Dur.

Kemudian yang ke empat adalah, seharusnya menurut tata cara yaitu prosedurnya, itu kalau memang Gus Dur di periksa karena masalah Chaeruddin, itu seharusnya DPR menetukan, mengirim Momerandum 1 dan Memorandum 2, tetapi hal ini pun tidak dilakukan.

Dari sini jelas terlihat bahwa penurunan Gus Dur ini adalah sebuah “bisnis politik” yang sangat menjijikan yang menelanjangi bangsa Indonesia. Apalagi tersiar kabar pada saat itu, ada kata-kata dari pihak MPR yang diucapkan langsung oleh ketuanya pada saat itu Amie Rais setelah melakukan siding “bisnis politiknya” di Kebagusan (rumah pribadi Megawati Soekarnoputri) dengan bertemu dengan beberapa pimpinan partai bahwa dalam waktu dekat ini, Insya Allah, kita akan memperoleh kepala negara baru.

Inilah apa yang saya sebut “Nasionalisme teriak hingga hilang suaranya”, saya hanya ingin menunjukan kejujuran yang seharusnya kita temukan jawabanya. Apa yang dituduhkan kepada Gus Dur tentang masalah bulog dan Aceh yang menjadi dasar pelengseranya pada saat itu sampai saat ini tidak pernah terbukti. Kecurangan-kecurangan seperti ini adalah salah satu bibit hancurnya negara kita.

Permasalahan pelengseran Gus Dur yang kita sebut kecerungan ini terbukti menjadi momok tersendiri bagi calon Presiden kedepanya di bumi Indonesia. Terlihat dari ketakutan SBY saat ini, yang terkesan lebih mementingkan lobi-lobi politik daripada kepentingan yang lebih penting yaitu kemajuan bangsa Indonesia. Sehingga saat ini munculah koalisi dan oposisi yang sekarang seolah menjadi trend perpolitikan Bangsa yang kita cintai yaitu Indonesia.

Dan dengan adanya momok seperti ini saya yakin sampai kapanpun demokrasi, penangulangan korupsi ataupun penegakan HAM di negera ini tidak akan pernah menemukan titik temu jika kita tidak memiliki pemimpin yang nekat. Pemimpin kita sekarang seolah dipaksa menjadi pengecut, bahkan takut dengan apa yang dipimpinya sekalipun notabene ia adalah kepala negara. Sampai kapan ini harus terjadi ? yang bisa menjawabnya adalah kita penerus bangsa Indonesia.

Sekarang yang perlu dilakukan oleh bangsa ini adalah mau terus larut dalam urusan pribadi yang seperti ini, atau bersama-sama bangkit menuju Indonesia yang maju dan bersatu. Sebagai akhir menurut hemat saya pemimpin yang di butuhkan Indonesia adalah pemimpin yang nekat tentu nekat dalam artian yang positif, yaitu berani, jujur, tegas, terbuka, adil, tak pandang bulu, dan tentunya berjuang sepenuh hati tulus karena kecintaanya terhadap bangsa Indonesia.

AMALISME