"Pante rei, ouden menei"
Jargon manis nan apik yang dikenal milik seorang filosof yang
berasal dari Ioni dia adalah Heraklitus. Arti dari kata di atas kurang
lebih adalah "semuanya mengalir, tida ada yang diam". Yap, semua memang
terus mengalir dan tidak hanya diam. Ungkapan yang sangat sederhana
namun memiliki makna yang begitu dalam.
Kadang memang kegairahan akan hidup hanyalah sebatas mencapai
kesenangan semata. Ketika kita meminum kopi sambil mebaca koran,
khayalan kita diam. Tetapi dalam kegaulauan masalah, khayalan kita
justru tumbuh dan mengalir. Optimis, yakin dan menganggap hal-hal tidak
mungkin menjadi mungkin adalah tipe sejati penakluk masalah. Spirit
Heraklitus secara tidak langsung jika dikhayati akan membawa kita kepada
ataraxia (kedamaian pikiran).
Secara langsung ataupun tidak kehidupan Heraklitus banyaklah di
pengaruhi oleh ajaran Tao Yunani. Dia sangat percaya apabila dunia ini
selalu memuat dualitas. Dualitas dalam artian dimana setiap ujungnya
terdapat eksistensi yang berlawan, baik dan buruk, positif dan negatif,
hitam dan putih, atas dan bawah serta lainya. Diapun berkeyakinan bahwa
cara terbaik dalam hidup adalah menyatu dengan alam.
Ya mungkin benar, karena pada kenyataanya pun seperti itu. Dalam
setiap keburukan mestilah ada pembanding yang baik yang membuat itu
menjadi buruk. Putih yang tak akan pernah bermakna apabila tak ada
hitam. Karena hanya dengan adanya hal itulah kita mampu menjadi manusia
yang memanusiakan manusia. Terus belajar dan belajar agar kehidupan
nyata sebagai seorang manusia benarlah terlaksana sebagaimana mestinya.
Mungkin Adam Khoo hanyalah tinggal cerita buruk apabila di terus
menerus larut dalam masa lalunya. Mungkin Steve Jobs mati dalam rintihan
murung tentang kedua orang tuanya. Tetapi mereka mampu meminjam spirit
"Panta rei, ouden menei" dan mengembalikanya dalam bentuk yang lebih
baik. Adam Khoo sukses setelah hancur di masa SMP dan SMA nya dan Steve
Jobs, seperti kita ketahui, sukses lepas dari belenggu kenyaatan sebagai
anak tiri.
Memang bukanlah perkara mudah, membalikan keadaan dan memukulnya
dengan keras. Perlu tetesan-tetesan air yang terus menerus untuk
melubangi batu. Memajukan langkah yang telanjur berat seringkali malah
membuat jalan mundur atau diam di tempat teduh adalah pilihan yang baik.
Itu adalah tanda, mengalirnya hidup senantiasa selaras dengan apa yang
ada di sekitar pula. Lingkungan, teman dan keluarga adalah pendorong
nyata perubahan itu.
Dorongan-dorongan menuju hidup yang ideal menurut Alfred Adler,
adalah dengan mempostulatkan "nafsu" yang bermain di balik segala bentuk
perilaku dan pengalaman kita. Dia menyebut daya motivasi itu dengan
striving for perfection atau dorongan menuju kesempurnaan. Adalah hal
yang menarik memang, tetapi tetap bukanlah menjadi hal yang sepele,
apalagi bila kita tidak dapat seperti apa yang Smuth katakan "memahami
diri sendiri dalam satu kesatuan yang utuh". Atau yang lebih di kenal
dengan Holisme.
Senin, 21 Mei 2012
Gelap
Kegelapan malam mengajarkan sesuatu pada kita, bahwa hidup haruslah
seimbang. Keseimbangan hidup nantinya membawa kita pada kebahagiaan.
Teramat sangat, memandang terang adalah satu-satunya jalan untuk lebih
dapat jelas melihat. Tetapi sesungguhnya dalam kegelapanlah,
kesunyianlah, segala yang tak dapat di pahami secara kasat mata dapat di
renungkan.
Manusia terkadang enggan, atau bahkan acuh tak acuh terhadap niatan perenungan. Mereka lebih suka dimanja oleh kenyataan yang sebenarnya amat teramat semu. Dari satu tindakan lemah disumpulkan jutaan kelemahan. Dari satu tindakan hebat, di agungkanlah kehebatan itu. Cenderung lebih memaknai apa yang terjadi sekarang, dan tak menerima di hari-hari selanjutnya.
Sah-sah saja memang, karena untuk sampai pada tingakatan keseimbangan bukanlah hal yang mudah. Perlu kedewasaan dan pengalaman yang cukup panjang. Tetapi tidak selesai sampai disitu, perlu pula sisi kerohanian yang ikhlas serta tulus. Perjalananya tidak sederhana, panjang dan berliku-liku. Memang terletak pada satu ujung, yaitu apa yang kita kenal dan sebut sebagai kebijaksanaan.
Dalam Ihya Ulum Al-Din Al Ghazali menggunakan perumpaan sebutir kacang untuk menggambarkan tingkatan itu. Pertama: kulit luar kacang, kedua, kulit dalam, ketiga, biji, dan keempat minyak yang di hasilkan dari biji. Mungkin, kulit luarlah yang memang tidak pantas untuk di makan dan harus di buang jauh-jauh. Begitu menipu dan tidak mewakili isi di dalamnya yang sungguh mengandung nikmat yang besar.
Kulit dalam mewakili hati dan raga. Kulit dalam berguna sebagai penjaga biji dan menjaganya dari segala kerusakan. Biji melambangkan apa yang sesungguhnya ada dalam hati, sekalipun kulit dalam menjaganya, tetapi biji tidaklah dapat lepas dari campuran-campuran yang tidak murni. Dan minyak adalah ujung pangkal serta kualitas nyata dari segala-galanya, dari campuran-campuran yang terurai lemah.
Begitu panjang, dan tentunya dalam penulisan yang singkat tak akan habislah pembahasan ini. Sekurangnya, serapan inti yang terkandung bisa mewakilinya. Berjalan kembali menuju pemuliaan yang mulia, kita mengenalnya dengan sebutan filsafat. Ilmu tentang cinta terhadap kebijaksanaan. Tidak sedikit yang meyakininya sebagai ilmu menuju keseimbangan yang real dan sejati-sejatinya mantiq. Filsafat pulalah yang di anggap sebagai rajanya ilmu.
Mungkin kita pernah melihat sebuah berita tentang pencurian. Sebagian orang pastilah menilai, si A mengambil apa yang bukan hak nya dari tangan si B. Itu adalah pandangan wajar dan umum manusia secara keseluruhan. Tetapi dengan ilmu yang dikenal dengan ilmu hukum pastilah kita menyebutnya, si A melanggar pasal 362 tentang pencurian. Ada penilaian yang lebih dalam dari sebelumnya.
Seorang pria berjalan menatap seorang wanita dari kejauhan, memakai gaun dengan senyum menawan. Dalam hati pria itu berbisik "wanita itu cantik" dan menggumam kemungkinan-kemungkinan tentang wanita itu secara pasif, itu pasti. Lalu langkah kakinya semakin jelas mendekati, wajah wanita pun semakin terlihat "oh dia memakai bedak". Kakinya pun telah sampai dan obrolan kecil di mulai, di tariklah kesimpulan "hmm, ternyata wanita itu seorang kupu-kupu malam".
Terciptanya gelap adalah sebagian cara, untuk kita mengenal terang dengan kebaikan, kelembutan dan keharmonisa. Gelap itu adalah romantisme dari siang dengan cara yang berbeda. Pelukan dari segala pelukan yang memaknai haru dan lelah dengan cara yang dalam. Sebisa mungkin untuk terus menggali dan mencari esesnsi ketenangan dalam gelap. "Tugas kita bukan menciptakan terang saja tetapi yang terpenting adalah memaknai gelap sebelum terang"
Manusia terkadang enggan, atau bahkan acuh tak acuh terhadap niatan perenungan. Mereka lebih suka dimanja oleh kenyataan yang sebenarnya amat teramat semu. Dari satu tindakan lemah disumpulkan jutaan kelemahan. Dari satu tindakan hebat, di agungkanlah kehebatan itu. Cenderung lebih memaknai apa yang terjadi sekarang, dan tak menerima di hari-hari selanjutnya.
Sah-sah saja memang, karena untuk sampai pada tingakatan keseimbangan bukanlah hal yang mudah. Perlu kedewasaan dan pengalaman yang cukup panjang. Tetapi tidak selesai sampai disitu, perlu pula sisi kerohanian yang ikhlas serta tulus. Perjalananya tidak sederhana, panjang dan berliku-liku. Memang terletak pada satu ujung, yaitu apa yang kita kenal dan sebut sebagai kebijaksanaan.
Dalam Ihya Ulum Al-Din Al Ghazali menggunakan perumpaan sebutir kacang untuk menggambarkan tingkatan itu. Pertama: kulit luar kacang, kedua, kulit dalam, ketiga, biji, dan keempat minyak yang di hasilkan dari biji. Mungkin, kulit luarlah yang memang tidak pantas untuk di makan dan harus di buang jauh-jauh. Begitu menipu dan tidak mewakili isi di dalamnya yang sungguh mengandung nikmat yang besar.
Kulit dalam mewakili hati dan raga. Kulit dalam berguna sebagai penjaga biji dan menjaganya dari segala kerusakan. Biji melambangkan apa yang sesungguhnya ada dalam hati, sekalipun kulit dalam menjaganya, tetapi biji tidaklah dapat lepas dari campuran-campuran yang tidak murni. Dan minyak adalah ujung pangkal serta kualitas nyata dari segala-galanya, dari campuran-campuran yang terurai lemah.
Begitu panjang, dan tentunya dalam penulisan yang singkat tak akan habislah pembahasan ini. Sekurangnya, serapan inti yang terkandung bisa mewakilinya. Berjalan kembali menuju pemuliaan yang mulia, kita mengenalnya dengan sebutan filsafat. Ilmu tentang cinta terhadap kebijaksanaan. Tidak sedikit yang meyakininya sebagai ilmu menuju keseimbangan yang real dan sejati-sejatinya mantiq. Filsafat pulalah yang di anggap sebagai rajanya ilmu.
Mungkin kita pernah melihat sebuah berita tentang pencurian. Sebagian orang pastilah menilai, si A mengambil apa yang bukan hak nya dari tangan si B. Itu adalah pandangan wajar dan umum manusia secara keseluruhan. Tetapi dengan ilmu yang dikenal dengan ilmu hukum pastilah kita menyebutnya, si A melanggar pasal 362 tentang pencurian. Ada penilaian yang lebih dalam dari sebelumnya.
Seorang pria berjalan menatap seorang wanita dari kejauhan, memakai gaun dengan senyum menawan. Dalam hati pria itu berbisik "wanita itu cantik" dan menggumam kemungkinan-kemungkinan tentang wanita itu secara pasif, itu pasti. Lalu langkah kakinya semakin jelas mendekati, wajah wanita pun semakin terlihat "oh dia memakai bedak". Kakinya pun telah sampai dan obrolan kecil di mulai, di tariklah kesimpulan "hmm, ternyata wanita itu seorang kupu-kupu malam".
Terciptanya gelap adalah sebagian cara, untuk kita mengenal terang dengan kebaikan, kelembutan dan keharmonisa. Gelap itu adalah romantisme dari siang dengan cara yang berbeda. Pelukan dari segala pelukan yang memaknai haru dan lelah dengan cara yang dalam. Sebisa mungkin untuk terus menggali dan mencari esesnsi ketenangan dalam gelap. "Tugas kita bukan menciptakan terang saja tetapi yang terpenting adalah memaknai gelap sebelum terang"
Perjalanan
Perjalanan panjang itu membawa dalam sebuah perenungan baru, akan
hal-hal baru dan mimpi-mimpi baru. Benar, bila pada saatnya nanti
kelurgalah tempat dari segalanya kembali. Kepakan sayap dan lekukan
layar yang mengembang membawa pelukan manis. Formulasi dari apa yang di
sebut "man jadda wa jadda" tidak lebih untuk pada akhirnya
entreprenurial yang disumbangkan.
Pernah, dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi desa yang menurut orang kebanyakan adalah desa bar-bar. Disitu di kisahkan, hasil laut melimpah tak kunjung membawa penghuninya untuk ber asketik. Sebut saja desa Taro, desa pinggir laut yang unik dan penuh jawara-jawara kejam. "Disini dulunya, tetangga saling makan" kata seorang tukang bangunan, makan dalam artian istri tetangga bisa di tiduri ketika suami pergi berlayar.
Jahiliyah memang, lebih lagi anak-anaknya yang katanya jauh dari pendidikan. Pencurian, perkelahian berujung pembunuhan dan segala macam khamar disajikan dengan bebas. Aturanya singkat, siapa yang kuat dia yang akan bertahan hidup. Harus memang, habis meng habisi, tikam menikam, "serunya hidup ya seperti itu" kata salah seorang teman yang kebetulan tinggal disana. Mental memang sudah menjadi karakter yang akhirnya menjadi jati diri.
Pernah lagi, dalam suatu kesempatan perjalan saya temui suasana berbeda. Desanya tidaklah lebih besar dari Taro, tidak juga lebih melimpah dari Taro tetapi masyarakatnya justru 'survive. Saya biasa menyebutnya desa "bunga". Memang tidak semua yang 'survive' karena ada pula yang 'bar-bar' tetapi secara keseluruhan memang lebih baik. Bapak-bapaknya datang memakai sarung di pagi buta, menuju masjid memadu kasih bersama tuhan. Anaknya mudanya pun begitu, bangun begitu pagi dan membuka-buka buku.
"Semua tak sama tak pernah sama"
Lirik lagu padi mengiringi waktu penulisan cerita perjalanan sinkat ini. Sebagai ingatan kita, dunia ini diciptakan Allah sesungguhnya sangat komplementasi, simbang dan teratur. Allah menciptakan segalanya sebagai "pelajaran bagi manusia yang mau berpikir". Mungkin terlalu berlebihan apabila saya mengibaratkan perjalanan itu dengan mengembangkan layar. Karena sampai saat ini, untuk hal-hal yang lebih jauh masih belum terjangkau.
Ada hal yang hendak di ceritakan, bahwa tuntutan untuk selalu sama itu baik dalam penilian yang baik. Maksudnya untuk menyatukan tujuan dan tekad supaya berada dalam 'one track'. Penting, tetapi tidak lebih penting lagi memahami perbedaan itu sebagai kemasan yang menarik. Desa Taro dan Bunga mungkin memiliki kerinduan yang berbeda pada tujuanya tetapi semuanya sama, yaitu mencari kedamaian.
Yang satu caranya dengan semakin kuat dan khamar sedangkan satunya lagi dengan mendekatkan diri pada ilahi. Jika salah satunya saja merasa memiliki hak maka terbenturlah sudah segalanya. Dalam tradisi pesantren kita mengenalnya dengan 'musakalah', apabila Taro keras, Bunga pun lebih keras. Apabila Taro kejam, Bunga pun lebih kejam. Tetapi hidup tidaklah seperti itu, "Api tidak bisa di padamkan oleh Api" "Luka tidak bisa disembuhkan dengan Luka".
Penting memahami, mengapa ada yang melotot, mengapa ada yang terpejam. Mengapa ada yang menangis, mengapa pula ada yang tersenyum. Mengapa ada menjerit, mengapa pula ada yang berbisik. Itulah cara-cara Tuhan untuk menjadikan kita kreatif, untuk menjadikan kita menari dalam kehidupan. Mungkin pada saatnya kita akan berpikir bahwa jalan lurus sudah terlalu penuh sehingga macet, maka kita ambil jalur lain? Apakah heteremoni?
Pernah, dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi desa yang menurut orang kebanyakan adalah desa bar-bar. Disitu di kisahkan, hasil laut melimpah tak kunjung membawa penghuninya untuk ber asketik. Sebut saja desa Taro, desa pinggir laut yang unik dan penuh jawara-jawara kejam. "Disini dulunya, tetangga saling makan" kata seorang tukang bangunan, makan dalam artian istri tetangga bisa di tiduri ketika suami pergi berlayar.
Jahiliyah memang, lebih lagi anak-anaknya yang katanya jauh dari pendidikan. Pencurian, perkelahian berujung pembunuhan dan segala macam khamar disajikan dengan bebas. Aturanya singkat, siapa yang kuat dia yang akan bertahan hidup. Harus memang, habis meng habisi, tikam menikam, "serunya hidup ya seperti itu" kata salah seorang teman yang kebetulan tinggal disana. Mental memang sudah menjadi karakter yang akhirnya menjadi jati diri.
Pernah lagi, dalam suatu kesempatan perjalan saya temui suasana berbeda. Desanya tidaklah lebih besar dari Taro, tidak juga lebih melimpah dari Taro tetapi masyarakatnya justru 'survive. Saya biasa menyebutnya desa "bunga". Memang tidak semua yang 'survive' karena ada pula yang 'bar-bar' tetapi secara keseluruhan memang lebih baik. Bapak-bapaknya datang memakai sarung di pagi buta, menuju masjid memadu kasih bersama tuhan. Anaknya mudanya pun begitu, bangun begitu pagi dan membuka-buka buku.
"Semua tak sama tak pernah sama"
Lirik lagu padi mengiringi waktu penulisan cerita perjalanan sinkat ini. Sebagai ingatan kita, dunia ini diciptakan Allah sesungguhnya sangat komplementasi, simbang dan teratur. Allah menciptakan segalanya sebagai "pelajaran bagi manusia yang mau berpikir". Mungkin terlalu berlebihan apabila saya mengibaratkan perjalanan itu dengan mengembangkan layar. Karena sampai saat ini, untuk hal-hal yang lebih jauh masih belum terjangkau.
Ada hal yang hendak di ceritakan, bahwa tuntutan untuk selalu sama itu baik dalam penilian yang baik. Maksudnya untuk menyatukan tujuan dan tekad supaya berada dalam 'one track'. Penting, tetapi tidak lebih penting lagi memahami perbedaan itu sebagai kemasan yang menarik. Desa Taro dan Bunga mungkin memiliki kerinduan yang berbeda pada tujuanya tetapi semuanya sama, yaitu mencari kedamaian.
Yang satu caranya dengan semakin kuat dan khamar sedangkan satunya lagi dengan mendekatkan diri pada ilahi. Jika salah satunya saja merasa memiliki hak maka terbenturlah sudah segalanya. Dalam tradisi pesantren kita mengenalnya dengan 'musakalah', apabila Taro keras, Bunga pun lebih keras. Apabila Taro kejam, Bunga pun lebih kejam. Tetapi hidup tidaklah seperti itu, "Api tidak bisa di padamkan oleh Api" "Luka tidak bisa disembuhkan dengan Luka".
Penting memahami, mengapa ada yang melotot, mengapa ada yang terpejam. Mengapa ada yang menangis, mengapa pula ada yang tersenyum. Mengapa ada menjerit, mengapa pula ada yang berbisik. Itulah cara-cara Tuhan untuk menjadikan kita kreatif, untuk menjadikan kita menari dalam kehidupan. Mungkin pada saatnya kita akan berpikir bahwa jalan lurus sudah terlalu penuh sehingga macet, maka kita ambil jalur lain? Apakah heteremoni?
Senin, 16 April 2012
Masalah
"Kita hidup dalam masa gegap gempita, suatu masa yang penuh dengan
bahaya......namun kita tidak boleh melarikan diri....kita harus
mengatasi keadaan itu"
Lantang dalam gemuruh, pita suaranya tak putus ketika di bawa nada panjang yang bersemangat. Dialah Soekarno, kata-kata penuh semangat perjuangan ini diucapkanya taktala dia di beri kesempatan untuk berpidato pada Konferensi Negara-negara Nonblok 1 di Beograd tepatnya 1 September 1961.
Beograd dulu berbeda dengan Beograd saat ini. Dulu Beograd adalah kota dari sebuah Negara yang kita kenal dengan Yugoslavia. Di tahun 2003 Yugoslavia terpecah dan secara Resmi Beograd menjadi milik negara baru Serbia. Selain sebagai kota terbesar di Serbia, Beograd pun menjadi saksi bisu dari perjuangan kemerdekaan rakyat Serbia. Isi pidato diatas menunjukan yang dengan begini artinya Yugoslavia tidak dapat "mengatasi" atau rakyat Serbia yang "mengatasi" keadaan sehingga merdeka.
Mungkin tak terbesit sebelumnya bila hal-hal kecil tentang terbentuknya negera Serbia terwujud. Dan para pejuang Serbia pun tidak sedikit yang merasa kaget bila perjuanganya akhirnya berhasil di tahun 2003. Harapan dan keinginan di tengah gegap-gempita membuat semuanya menjadi mudah. Mungkin saat itu Yugoslavia lari dan tidak mengindahkan lagi kata-kata Bung Karno. Mungkin pula Serbia yang terlalu bersemangat sehingga Yugoslavia bertekuk lutut.
Begitu banyak kemungkinan dan spekulasi. "Dia telah merasakan asam garam" pribahasa singkat tentang sebuah penjelasan bilamana menghargai pengalaman orang lain itu penting. Bagi yang telah berpengalamanpun, membagi pengalamanya itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Masa-masa sulit Indonesia membebaskan Irian Barat mungkin menjadi pecutan dari Bung Karno kepada Yugoslavia kala itu. "Tidak boleh lari dan harus mengatasi keadaan itu".
Maknanya bukan hanya tergenelarisir untuk sebuah gejolak yang beasar saja. Tetapipun pada hal-hal kecil kehidupan. Semua kembali bagaimana penerima informasi itu dapat memanfaatkan informasinya dengan baik. Yugoslavia gagal menangkap informasi, meski mungkin dalam waktu yang lama Boegrad aman. Toh, informasi itu seharusnya di indahkan simultan dengan pndorong kebaikan kondusifitas keadaan.
Contoh kecilnya adalah Feri, tokoh pria dalam novel April Cafe karangan Syafrina Siregar. April Cafe adalah sebuah novel yang bercerita tentang kisa cinta segitiga antara Feri, Dina dan Faisal. Diawal cerita dikisahkan tentang perdebatan seru antara Feri dan Dina yang membuat Dina akhirnya memilih untuk pergi ke Batam.
Kala itu Feri terlalu cuek dan terkesan tidak menghiraukan perasaan Dina. Feri sesungguhnya sangat mencintai Dina tetapi dia terlalu canggung dan terkesan tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan Dinai. Dia memilih untuk membiarkan Dina lari karena dia tahu bahwa ahirnya nanti Dina akan kembali padanya. Ternyata waktu berselang begitu lama, Dinapun tak lagi menampakan batang hidungnya.
Feripun bingung, dia merasa hubunganya harus kembali di persatukan dalam waktu dekat. Akhirnya suatu pertemuanpun tak terelakan lagi. Feri, dengan susah payah dapat menemui Dina di Batam. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan, dia pun melamar Dina yang terlanjur sudah di sakitinya. Beruntung, meskipun Dina merasa kecewa karena dulu Feri tak dapat menyelesaikan masalah hubunganya tetapi toh, dengan berat hati Dina menerima dengan sarat bulan depan harus menikahinya.
Dina bukan tak malu, bukan tak laku dan tanpa pengorbanan ketika meminta Feri segera menikahinya. Dina menunggu keseriusan. Dengan di satu sisi diapun telah menjalin hubungan dengan Faisal. Kecewa, Feri ternyata tak dapat menyanggupinya dengan penuh rasa kekecewaan. Feri tahu jika Dina pada akhirnya lebih memilih Faisal. Feri menerima dengan lapang dada dan diapun sadar itu kesalahanya, kenapa dahulu tak dapat menyelasikan masalahnya dan memilih lari.
Yah, masalah bukanlah hal yang seharunya kita jauhi. Masalah adalah sesuatu yang seharusnya kita taklukan. Seperti sebuah kata dalam teks proklamasi "dalam tempo dan waktu yang sisingkat-singkatnya" seperti itulah masalah seharunya di selesaikan. Banyak makna yang terkandung dalam setiap masalah dan perjuangan adalah sesunggunya membuat masalah besar menjadi kecil. Tetap semangat, karena masalah adalah hal yang membuat kita pantas di sebut sebagai seorang manusia.
Lantang dalam gemuruh, pita suaranya tak putus ketika di bawa nada panjang yang bersemangat. Dialah Soekarno, kata-kata penuh semangat perjuangan ini diucapkanya taktala dia di beri kesempatan untuk berpidato pada Konferensi Negara-negara Nonblok 1 di Beograd tepatnya 1 September 1961.
Beograd dulu berbeda dengan Beograd saat ini. Dulu Beograd adalah kota dari sebuah Negara yang kita kenal dengan Yugoslavia. Di tahun 2003 Yugoslavia terpecah dan secara Resmi Beograd menjadi milik negara baru Serbia. Selain sebagai kota terbesar di Serbia, Beograd pun menjadi saksi bisu dari perjuangan kemerdekaan rakyat Serbia. Isi pidato diatas menunjukan yang dengan begini artinya Yugoslavia tidak dapat "mengatasi" atau rakyat Serbia yang "mengatasi" keadaan sehingga merdeka.
Mungkin tak terbesit sebelumnya bila hal-hal kecil tentang terbentuknya negera Serbia terwujud. Dan para pejuang Serbia pun tidak sedikit yang merasa kaget bila perjuanganya akhirnya berhasil di tahun 2003. Harapan dan keinginan di tengah gegap-gempita membuat semuanya menjadi mudah. Mungkin saat itu Yugoslavia lari dan tidak mengindahkan lagi kata-kata Bung Karno. Mungkin pula Serbia yang terlalu bersemangat sehingga Yugoslavia bertekuk lutut.
Begitu banyak kemungkinan dan spekulasi. "Dia telah merasakan asam garam" pribahasa singkat tentang sebuah penjelasan bilamana menghargai pengalaman orang lain itu penting. Bagi yang telah berpengalamanpun, membagi pengalamanya itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Masa-masa sulit Indonesia membebaskan Irian Barat mungkin menjadi pecutan dari Bung Karno kepada Yugoslavia kala itu. "Tidak boleh lari dan harus mengatasi keadaan itu".
Maknanya bukan hanya tergenelarisir untuk sebuah gejolak yang beasar saja. Tetapipun pada hal-hal kecil kehidupan. Semua kembali bagaimana penerima informasi itu dapat memanfaatkan informasinya dengan baik. Yugoslavia gagal menangkap informasi, meski mungkin dalam waktu yang lama Boegrad aman. Toh, informasi itu seharusnya di indahkan simultan dengan pndorong kebaikan kondusifitas keadaan.
Contoh kecilnya adalah Feri, tokoh pria dalam novel April Cafe karangan Syafrina Siregar. April Cafe adalah sebuah novel yang bercerita tentang kisa cinta segitiga antara Feri, Dina dan Faisal. Diawal cerita dikisahkan tentang perdebatan seru antara Feri dan Dina yang membuat Dina akhirnya memilih untuk pergi ke Batam.
Kala itu Feri terlalu cuek dan terkesan tidak menghiraukan perasaan Dina. Feri sesungguhnya sangat mencintai Dina tetapi dia terlalu canggung dan terkesan tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan Dinai. Dia memilih untuk membiarkan Dina lari karena dia tahu bahwa ahirnya nanti Dina akan kembali padanya. Ternyata waktu berselang begitu lama, Dinapun tak lagi menampakan batang hidungnya.
Feripun bingung, dia merasa hubunganya harus kembali di persatukan dalam waktu dekat. Akhirnya suatu pertemuanpun tak terelakan lagi. Feri, dengan susah payah dapat menemui Dina di Batam. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan, dia pun melamar Dina yang terlanjur sudah di sakitinya. Beruntung, meskipun Dina merasa kecewa karena dulu Feri tak dapat menyelesaikan masalah hubunganya tetapi toh, dengan berat hati Dina menerima dengan sarat bulan depan harus menikahinya.
Dina bukan tak malu, bukan tak laku dan tanpa pengorbanan ketika meminta Feri segera menikahinya. Dina menunggu keseriusan. Dengan di satu sisi diapun telah menjalin hubungan dengan Faisal. Kecewa, Feri ternyata tak dapat menyanggupinya dengan penuh rasa kekecewaan. Feri tahu jika Dina pada akhirnya lebih memilih Faisal. Feri menerima dengan lapang dada dan diapun sadar itu kesalahanya, kenapa dahulu tak dapat menyelasikan masalahnya dan memilih lari.
Yah, masalah bukanlah hal yang seharunya kita jauhi. Masalah adalah sesuatu yang seharusnya kita taklukan. Seperti sebuah kata dalam teks proklamasi "dalam tempo dan waktu yang sisingkat-singkatnya" seperti itulah masalah seharunya di selesaikan. Banyak makna yang terkandung dalam setiap masalah dan perjuangan adalah sesunggunya membuat masalah besar menjadi kecil. Tetap semangat, karena masalah adalah hal yang membuat kita pantas di sebut sebagai seorang manusia.
Kisah Patah Hati
Semua manusia pernah jatuh cinta bahkan anak SD jaman sekarang juga bisa
jatuh cinta. Satu hal di bumi ini yang mungkin ngga akan bisa di bedain
mana nenek-nenek, kakek-kakek, abah, mba dan ade kecil adalah saat
mereka jatuh cinta. Semua kejadian yang di lalui pastilah sama, tuker
nomor handphone untuk komunikasi, kirim-kirim kabar, rayuan, pendekatan
dan akhirnya mengungkapkan perasaan. Yang beruntung mungkin bisa di
terima dan yang belum beruntung pastinya di tolak.
Sebelum deketin cewe, biasanya kita sering sok-sok deket. Pura-pura tau keseharianya, pura-pura tau kesukaanya yang ga jarang itu salah. Percuma tau keseharianya dan kesukaanya karena itu ga lebih penting dari tau apa kriteria cowo idamanya. Ada beberapa kriteria cewe yang mungkin semua cewe itu kriterianya sama (sempet mikir kenapa tuhan ga nyiptain manusia kaya semut yang mirip semua?). Kriteria-kriterianya adalah sebagai berikut.
Ini paling ga adil.
1. Ganteng
Menurut gw ini adalah kriteria yang paling ga adil. Gara-gara kriteria ini, cwo-cwo ada yang rela ke salon, potong rambut mirip artis dan ga jarang pake 'lipgloss'. Kriteria ini memaksa cowo untuk jadi sok aktif, belajar wibawa atau bergaya gaul. Kriteria ini juga yang munculin krisis kepercayaan "kayanya gue bukan tipe dya". Bahkan 'saking' pesimisnya, kadang-kadang cowo sampe rela potong rambut, pake celana dan samain jenis baju sama Pasha ungu. Inget banget pas SMA, pake celana jenis 'begi' (celana yang di pake pagi dan cuma bisa di keluarin sore). Mungkin saat itu mikirnya kita bakalan mirip Pasha, idola cewe-cewe SMA padahal gak sama sekali.
2. Putih
Cewe emang susah di tebak, bener banget. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda termasuk warna kulit. Dan gw suka heran kenapa kok banyak cewe yang nyari kriteria cowonya itu kulit putih?. Yang kulitnya item terus mau di kemanain?. Ini kriteria melanggar kodrat. Kriteria yang membuat cowo kadang-kadang ngumpetin sunblock dan alat lulurnya di balik meja (supaya temen-temenya pas main ke kamer ga tahu ke feminimanya).
Jangan heran, kalo lo punya temen yang mukanya putih banget tapi leher dan tanganya item. Itu adalah tipe-tipe cowo yang cewenya punya kriteria kulit putih. Kriteria ini juga yang buat cowo susah cari kerja. Mereka rata-rata bingung, mau kerja lapangan atau kantoran?. Pertimbanganya sederhana,
A. Kantoran
Ada Ac, jauh dari sinar matahari, nyantai dan pastinya putih.......
B. Lapangan
Matahariiiiiiiiiiiii, panas, lembab bikin kulit kasar dan satu mimpi buruk yaitu kulit iteeeeeeeeem.
3. Aktif
Anak band, aktivis, comunity dan punya banyak temen mungkin lebih beruntung dari pembaca buku dan penulis. Karena menurut survey, cewe itu suka cowo-cowo yang aktifnya dikenal. Jangan heran kalo ada cowo yang suka alay, aktifnya ga seberapa tapi ributnya se kecamatan BBM dan Jejaring sosial tau. Contoh-contoh status yang mau di bilang aktif sebenrnya udah sering bertebaran, kaya misalkan "aduh hari ini sibuk jadwal padet" "senin lagi, berarti kembali ke aktifitas melelahkan" "rapat sampai malam" dan masih banyak lagi.
Jangan heran kalau fenomena boyband saat ini menjamur bagaikan CD bajakan. Itu adalah bagian dari kesalahan cewe minta kriteria-kriteria aneh dalam hidupnya. Lima anak yang dulunya bersahabat akrab dan hidup dalam dunia yang normal terpaksa aktif menuruti kemauan cewenya, lahirlah boyband....
Lanjut...
Setelah tahu kriterianya, cowo mulai deh sok-sokan pasang aksi. Yang tadinya diem, sok-sokan jadi pemain band dan aktif nge gowe sepeda tiap pagi. Yang tadinya rajin kerja lapangan dan kesanya cowo banget jadi mulai males kerja lapangan. Yang tadinya normal pake baju standar tiba-tiba pake celana yang ukuranya sesuai dengan 'gede' kakinya.
Cowo emang di akui selalu total memberikan hal-hal terbaik buat cewe yang di sukai. Detail-detail kecil kaya dia bangun jam berapa juga di perhatiin. Atau sekedar dia suka sampo apa juga di cari-cari. Tapi kadang ga sedikit juga cewe yang ga peduli sama cowo-cowo kaya gini, apalagi itu bukan kriterianya.
Setelah berbulan-bulan PDKT, berlebay-lebay ria dan sok-sokan jadi yang dia mau tibalah saatnya mengungkapkan rasam. Jujur, gue mungkin adalah cwo yang laing susah peka sama cewe. Karena gue ga pernah secara langsung nunjikin gw suka. Nah, sekarang tibalah ke moment yang terpahit yaitu di tolak. Ada beberapa kesamaan tingkah laku manusia yang di sebut cowo kalo dia patah hati. Tingkah itu spontan di lakuin semua cwo.
1. Delete Contact
Ngelihat wajahnya bikin galau, statusnya yang nunjukin udah punya itu rasanya ngehina perasaan banget munculah niat buruk. Kalo yang pake Hand Phone mungin nomernya langsung di apus yang padahal ga jarang kita juga penasaran mau sms lagi. Yang pake BB biasanya spontan langsung delete contact BBM nya, tapi ga selesai disitu. Dia sering pura-pura minjem BB temenya untuk ngecek status BBM nya, berharap dia putus.
2. Menghilang Dari Percaturan Jejaring Sosial
Yang biasanya tiap hari ke warnet atau rela beli pulsa buat online pake HP, semenjak di tolak berubah drastis. Dia lebih suka minjem HP temenya untuk nge cek cewe inceranya dulu. Dia udah jarang kirim wall atau mention, "udah makan belum ????" "Udah sholat belummmmm ????". Bahkan ga sedikit, yang 'saking keselnya' dia sampe menghapus fesbuk dan tuwiter cewe inceranya. Fakta membuktikan, bahwa perasaan ini di sebut dengan galau.
3. Ga Doyan Makan
Cowo biasanya suka lebay, mandangin foto dan menaruh raut wajah penyesalan. Sampe kadang-kadang rela ga makan seharian demi nyari tahu kenapa dia di tolak.
4 Kulit Belang
Mungkin kesalahan terbesar dari cewe yang nolak cowo di tengah jalan adalah kulit belang. Dari kriteria tersadis yang di berikan cowo, mungkin kriteria putih adalah jawabanya. Cwo yang kulitnya item biasanya maksa luluran dan pake cream malem yang itu rutin. Kalo berhasil, mungin jadinya dia kaya Michael Jackson. Kalo gagal dia bisa jadi kaya zebra. Wajah sampe jidat dan pipi putihnya kaya artis jepang tapi leher sampe kaki itemnya kaya Koby Briant.
Kesimpulanya, cewe terlalu kejam dan kadang menyalahi kodrat illahi dalam memberikan kriteria. Cewe parahanya, ga ngasih kesempatan untuk cowo ngebuktiin siapa dirinya. Dan ahirnya boyband dan zebra pun saat ini bertebaran di mana-mana. Ga jarang ada juga cowo yang rela pake leging yang di tangan buat mensukseskan program kulit putihnya. Salon pun penuh tidak hanya kalangan wanita tetapi pria pun aktif mengecek kesehatan kulitnya. Dunia ini kejam bagi cowo-cowo yang pesimis hidupnya.
Sebelum deketin cewe, biasanya kita sering sok-sok deket. Pura-pura tau keseharianya, pura-pura tau kesukaanya yang ga jarang itu salah. Percuma tau keseharianya dan kesukaanya karena itu ga lebih penting dari tau apa kriteria cowo idamanya. Ada beberapa kriteria cewe yang mungkin semua cewe itu kriterianya sama (sempet mikir kenapa tuhan ga nyiptain manusia kaya semut yang mirip semua?). Kriteria-kriterianya adalah sebagai berikut.
Ini paling ga adil.
1. Ganteng
Menurut gw ini adalah kriteria yang paling ga adil. Gara-gara kriteria ini, cwo-cwo ada yang rela ke salon, potong rambut mirip artis dan ga jarang pake 'lipgloss'. Kriteria ini memaksa cowo untuk jadi sok aktif, belajar wibawa atau bergaya gaul. Kriteria ini juga yang munculin krisis kepercayaan "kayanya gue bukan tipe dya". Bahkan 'saking' pesimisnya, kadang-kadang cowo sampe rela potong rambut, pake celana dan samain jenis baju sama Pasha ungu. Inget banget pas SMA, pake celana jenis 'begi' (celana yang di pake pagi dan cuma bisa di keluarin sore). Mungkin saat itu mikirnya kita bakalan mirip Pasha, idola cewe-cewe SMA padahal gak sama sekali.
2. Putih
Cewe emang susah di tebak, bener banget. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda termasuk warna kulit. Dan gw suka heran kenapa kok banyak cewe yang nyari kriteria cowonya itu kulit putih?. Yang kulitnya item terus mau di kemanain?. Ini kriteria melanggar kodrat. Kriteria yang membuat cowo kadang-kadang ngumpetin sunblock dan alat lulurnya di balik meja (supaya temen-temenya pas main ke kamer ga tahu ke feminimanya).
Jangan heran, kalo lo punya temen yang mukanya putih banget tapi leher dan tanganya item. Itu adalah tipe-tipe cowo yang cewenya punya kriteria kulit putih. Kriteria ini juga yang buat cowo susah cari kerja. Mereka rata-rata bingung, mau kerja lapangan atau kantoran?. Pertimbanganya sederhana,
A. Kantoran
Ada Ac, jauh dari sinar matahari, nyantai dan pastinya putih.......
B. Lapangan
Matahariiiiiiiiiiiii, panas, lembab bikin kulit kasar dan satu mimpi buruk yaitu kulit iteeeeeeeeem.
3. Aktif
Anak band, aktivis, comunity dan punya banyak temen mungkin lebih beruntung dari pembaca buku dan penulis. Karena menurut survey, cewe itu suka cowo-cowo yang aktifnya dikenal. Jangan heran kalo ada cowo yang suka alay, aktifnya ga seberapa tapi ributnya se kecamatan BBM dan Jejaring sosial tau. Contoh-contoh status yang mau di bilang aktif sebenrnya udah sering bertebaran, kaya misalkan "aduh hari ini sibuk jadwal padet" "senin lagi, berarti kembali ke aktifitas melelahkan" "rapat sampai malam" dan masih banyak lagi.
Jangan heran kalau fenomena boyband saat ini menjamur bagaikan CD bajakan. Itu adalah bagian dari kesalahan cewe minta kriteria-kriteria aneh dalam hidupnya. Lima anak yang dulunya bersahabat akrab dan hidup dalam dunia yang normal terpaksa aktif menuruti kemauan cewenya, lahirlah boyband....
Lanjut...
Setelah tahu kriterianya, cowo mulai deh sok-sokan pasang aksi. Yang tadinya diem, sok-sokan jadi pemain band dan aktif nge gowe sepeda tiap pagi. Yang tadinya rajin kerja lapangan dan kesanya cowo banget jadi mulai males kerja lapangan. Yang tadinya normal pake baju standar tiba-tiba pake celana yang ukuranya sesuai dengan 'gede' kakinya.
Cowo emang di akui selalu total memberikan hal-hal terbaik buat cewe yang di sukai. Detail-detail kecil kaya dia bangun jam berapa juga di perhatiin. Atau sekedar dia suka sampo apa juga di cari-cari. Tapi kadang ga sedikit juga cewe yang ga peduli sama cowo-cowo kaya gini, apalagi itu bukan kriterianya.
Setelah berbulan-bulan PDKT, berlebay-lebay ria dan sok-sokan jadi yang dia mau tibalah saatnya mengungkapkan rasam. Jujur, gue mungkin adalah cwo yang laing susah peka sama cewe. Karena gue ga pernah secara langsung nunjikin gw suka. Nah, sekarang tibalah ke moment yang terpahit yaitu di tolak. Ada beberapa kesamaan tingkah laku manusia yang di sebut cowo kalo dia patah hati. Tingkah itu spontan di lakuin semua cwo.
1. Delete Contact
Ngelihat wajahnya bikin galau, statusnya yang nunjukin udah punya itu rasanya ngehina perasaan banget munculah niat buruk. Kalo yang pake Hand Phone mungin nomernya langsung di apus yang padahal ga jarang kita juga penasaran mau sms lagi. Yang pake BB biasanya spontan langsung delete contact BBM nya, tapi ga selesai disitu. Dia sering pura-pura minjem BB temenya untuk ngecek status BBM nya, berharap dia putus.
2. Menghilang Dari Percaturan Jejaring Sosial
Yang biasanya tiap hari ke warnet atau rela beli pulsa buat online pake HP, semenjak di tolak berubah drastis. Dia lebih suka minjem HP temenya untuk nge cek cewe inceranya dulu. Dia udah jarang kirim wall atau mention, "udah makan belum ????" "Udah sholat belummmmm ????". Bahkan ga sedikit, yang 'saking keselnya' dia sampe menghapus fesbuk dan tuwiter cewe inceranya. Fakta membuktikan, bahwa perasaan ini di sebut dengan galau.
3. Ga Doyan Makan
Cowo biasanya suka lebay, mandangin foto dan menaruh raut wajah penyesalan. Sampe kadang-kadang rela ga makan seharian demi nyari tahu kenapa dia di tolak.
4 Kulit Belang
Mungkin kesalahan terbesar dari cewe yang nolak cowo di tengah jalan adalah kulit belang. Dari kriteria tersadis yang di berikan cowo, mungkin kriteria putih adalah jawabanya. Cwo yang kulitnya item biasanya maksa luluran dan pake cream malem yang itu rutin. Kalo berhasil, mungin jadinya dia kaya Michael Jackson. Kalo gagal dia bisa jadi kaya zebra. Wajah sampe jidat dan pipi putihnya kaya artis jepang tapi leher sampe kaki itemnya kaya Koby Briant.
Kesimpulanya, cewe terlalu kejam dan kadang menyalahi kodrat illahi dalam memberikan kriteria. Cewe parahanya, ga ngasih kesempatan untuk cowo ngebuktiin siapa dirinya. Dan ahirnya boyband dan zebra pun saat ini bertebaran di mana-mana. Ga jarang ada juga cowo yang rela pake leging yang di tangan buat mensukseskan program kulit putihnya. Salon pun penuh tidak hanya kalangan wanita tetapi pria pun aktif mengecek kesehatan kulitnya. Dunia ini kejam bagi cowo-cowo yang pesimis hidupnya.
Tulisan
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"
Dalam buku Minke halaman 352 karya Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya adalah penulis handal yang hampir seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk menulis. Tidak heran apabila beberapa karyanya dijadikan buku wajib bagi Mahasiswa di Amerika. Diapun pejuang tetapi dia tidak di perjuangkan bangsanya pada saat itu. Dia menjadi bagian di antara beberapa anggota PKI yang di asingkan di pulau buru.
Setiap orang memiliki pandanganya masing-masing tentang apa yang disukainya. Pemain bola beranggapan bahwa sepak bola adalah ajang terbaik bagi seorang laki-laki untuk membuktikan kekuatanya. Pengusaha menganggap pekerjaanya adalah yang paling relevan untuk dapat selalu berbuat baik. Tak terkecuali penulis, penulis memiliki penilaian bahwa sejarah adalah mencatat dan diabadikan lalu kembali lagi dicatat, maka menulislah.
Bahasan menarik bukan pada anggapan yang masing-masing itu. Tetapi pada anggapan yang mencoba mengeneralisir sesuatu dan seolah mengecilkan yang lainya. Pramoedya boleh bersuara tentang kebanggan dan sukanya sebagai penulis tetapi tidak pula harus berkata "akan hilang dari sejarah dan masyrakat" bagi yang tidak menulis. Ya, sekalipun sebagian besar mengamininya sebagai sebuah kebenaran.
Banyak sejarah yang memang di ungkap kembali melalui transkip-transkip kuno yang diartikan dengan baik. Dan tulisan adalah penyumbang terbesar dari ribuan sejarah-sejarah yang berhasil di buktikan kembali. Tetapi tidak sedikit pula yang mencoba mengemasnya dengan simbol, relief dan kode-kode lainya yang bukan tulisan. Tidak berbeda jauh, kode-kode, dan relief-relief itupun memberikan impact terhadap sejarah yang sama dengan tulisan.
Penulis mungkin secara singkat diartikan menjadi seseorang yang menulis. Berawal dari kata nulis lalu di beri imbuhan pe sehingga memilikki arti seseorang yang.... dalam hal.....
Memang tidak sedikit yang menilai benar dan sepakat dengan Pramoedya tetapi ada pula yang menanggap menulis adalah hal yang rendah. Tidak tanggung-tanggung, penolakan itu hadir dari Plato. Plato beranggapan bahwa jiwa dan ingatan manusia itu abadi, seabadi aetipe-arketipe yang menjadi sumber pengetahuanya. Oleh sebab itu, ia menganggap tulisan hanya membuat ingatan itu menjadi ephemeral (sementara). Dengan merekam pengetahuan kedalam tulisan, ingatan kehilangan sebagian besar fungsinya.
"Tulisan mematerialkan pengetahuan arketipal yang transenden dan abadi. Adanya tulisan akan membuat manusia enggan mengingat dan menggunakan memorinya"
Di dalam Phaerdus, Plato mencoba memaparkan dialog sang penemu tulisan Hermes dengan raja Thamus. Tapi sependapat dengan Plato, Thamuspun menolak ajakan Hermes untuk menulis dengan alasan yang sama dengan Plato yaitu "Tulisan adalah aktualisasi dari mereka yang malas menghafal". Plato merinci apabila sejatinya kebenaran itu hanya dapat diperolah melalui verbalisasi dan kehadiran absolut.
Lambat laun Platopun ternyata menerima tulisan sebagai fungsi. Sekalipun dia tetap kekal pada pendapatnya bahwa tulisan hanya membuat orang malas. Menurut Plato, tulisan hanya direduksi menjadi sekedar tekhnik tetapi fungsinya tetap sebagai natural writing yang primordial dan merupakan origin tuturan. Logosentrisme terkesan tidak konsisten dan berada diantara tengah-tengah yang sebenarnya tidak menolak kehadiran tulisan tetapi hanya menundanya.
Bayangkan, Pramodya dan Plato memiliki pandangan yang berbeda. Keduanya sama-sama penulis dan penghasil karya yang konsisten. Pramoedya menulis karena mungkin hobby dan tekanan yang membuat imajinasinya terpenuhi. Sedangkan Plato, sekalipun dia menolak tetapi sesungguhnya dia menerima namun dengan bahasa yang tegas "natural writing" atau tuturan yang di tuliskan. Apapun itu, pilihan dan masing-masing memiliki alasan yang Good and Rasional, Plato tidak ingin fungsi otak melemah sedangkan Pramoedya mencetak sejarah. Sama baik, sama masuk akal !!
Dalam buku Minke halaman 352 karya Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya adalah penulis handal yang hampir seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk menulis. Tidak heran apabila beberapa karyanya dijadikan buku wajib bagi Mahasiswa di Amerika. Diapun pejuang tetapi dia tidak di perjuangkan bangsanya pada saat itu. Dia menjadi bagian di antara beberapa anggota PKI yang di asingkan di pulau buru.
Setiap orang memiliki pandanganya masing-masing tentang apa yang disukainya. Pemain bola beranggapan bahwa sepak bola adalah ajang terbaik bagi seorang laki-laki untuk membuktikan kekuatanya. Pengusaha menganggap pekerjaanya adalah yang paling relevan untuk dapat selalu berbuat baik. Tak terkecuali penulis, penulis memiliki penilaian bahwa sejarah adalah mencatat dan diabadikan lalu kembali lagi dicatat, maka menulislah.
Bahasan menarik bukan pada anggapan yang masing-masing itu. Tetapi pada anggapan yang mencoba mengeneralisir sesuatu dan seolah mengecilkan yang lainya. Pramoedya boleh bersuara tentang kebanggan dan sukanya sebagai penulis tetapi tidak pula harus berkata "akan hilang dari sejarah dan masyrakat" bagi yang tidak menulis. Ya, sekalipun sebagian besar mengamininya sebagai sebuah kebenaran.
Banyak sejarah yang memang di ungkap kembali melalui transkip-transkip kuno yang diartikan dengan baik. Dan tulisan adalah penyumbang terbesar dari ribuan sejarah-sejarah yang berhasil di buktikan kembali. Tetapi tidak sedikit pula yang mencoba mengemasnya dengan simbol, relief dan kode-kode lainya yang bukan tulisan. Tidak berbeda jauh, kode-kode, dan relief-relief itupun memberikan impact terhadap sejarah yang sama dengan tulisan.
Penulis mungkin secara singkat diartikan menjadi seseorang yang menulis. Berawal dari kata nulis lalu di beri imbuhan pe sehingga memilikki arti seseorang yang.... dalam hal.....
Memang tidak sedikit yang menilai benar dan sepakat dengan Pramoedya tetapi ada pula yang menanggap menulis adalah hal yang rendah. Tidak tanggung-tanggung, penolakan itu hadir dari Plato. Plato beranggapan bahwa jiwa dan ingatan manusia itu abadi, seabadi aetipe-arketipe yang menjadi sumber pengetahuanya. Oleh sebab itu, ia menganggap tulisan hanya membuat ingatan itu menjadi ephemeral (sementara). Dengan merekam pengetahuan kedalam tulisan, ingatan kehilangan sebagian besar fungsinya.
"Tulisan mematerialkan pengetahuan arketipal yang transenden dan abadi. Adanya tulisan akan membuat manusia enggan mengingat dan menggunakan memorinya"
Di dalam Phaerdus, Plato mencoba memaparkan dialog sang penemu tulisan Hermes dengan raja Thamus. Tapi sependapat dengan Plato, Thamuspun menolak ajakan Hermes untuk menulis dengan alasan yang sama dengan Plato yaitu "Tulisan adalah aktualisasi dari mereka yang malas menghafal". Plato merinci apabila sejatinya kebenaran itu hanya dapat diperolah melalui verbalisasi dan kehadiran absolut.
Lambat laun Platopun ternyata menerima tulisan sebagai fungsi. Sekalipun dia tetap kekal pada pendapatnya bahwa tulisan hanya membuat orang malas. Menurut Plato, tulisan hanya direduksi menjadi sekedar tekhnik tetapi fungsinya tetap sebagai natural writing yang primordial dan merupakan origin tuturan. Logosentrisme terkesan tidak konsisten dan berada diantara tengah-tengah yang sebenarnya tidak menolak kehadiran tulisan tetapi hanya menundanya.
Bayangkan, Pramodya dan Plato memiliki pandangan yang berbeda. Keduanya sama-sama penulis dan penghasil karya yang konsisten. Pramoedya menulis karena mungkin hobby dan tekanan yang membuat imajinasinya terpenuhi. Sedangkan Plato, sekalipun dia menolak tetapi sesungguhnya dia menerima namun dengan bahasa yang tegas "natural writing" atau tuturan yang di tuliskan. Apapun itu, pilihan dan masing-masing memiliki alasan yang Good and Rasional, Plato tidak ingin fungsi otak melemah sedangkan Pramoedya mencetak sejarah. Sama baik, sama masuk akal !!
Rabu, 21 Maret 2012
Tan Malaka
Hidungnya pesek, sorot matanya tajam, perawakanya sedang. Ia berpakaian
kemeja hitam dan celana bahan khaki, dan taktala ia tiba dia memakai
topi helm tropis berwaena hijau muda. Ia berbicara dan suaranya agak
parau.
Setidaknya itulah gambaran mengenai 'sosok kesepian' ketika umurnya menginjak 52 tahun. Tidak terlalu istimewa dan terkesan sangat sederhana namun rapih. Dia tidak lain adalah Tan Malaka, deskripsi itu di buat ketika ia menghadiri pertemuan pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia. Secarik kertas gambaran sosok Tan Malaka itu di tulis rapih oleh Rosihan Anwar.
Tan Malaka atau dikenal pula dengan nama Ibrahim lahir di Nagari Pandan Gadang pada tahun 1897. Dia di lahirkan dari keluarga terpandang, sebagian keluarganya termasukk ayahnya bekerja sebagai pegawai pertanian Hindia Belanda.
Tan Malaka dalam hidupnya seperti banyak di kisahkan orang memiliki pemikiran kiri. Pemikiran yang menurut definisi singkat di artikan sebagai Revolusioner. Sebutan 'kiri' ini muncul berawal dari revolusi prancis dimana kala itu pemikir moderat duduk di sebelah kanan dewan dan revolusioner di sebelah kirinya. Atas dasar pemikiran revolusionernya maka Tan Malaka masuklah ke kardus bagian kiri 'Revolusioner'.
Kisah hidupnya bisa di bilang cukup heroic dan menegangkan, penuh cerita, penuh makna, keikhlasan berjuang dan keberanian. Belanda, Jerman, China, Soviet, Singapura, Thailand, Filipina, Hongkong pernah di lalui dan di letakan kisah-kisah indah di dalamnya. Di Belanda dia begitu di agungkan sebagai pemikir muda yang handal, di China dia mendirikan beberapa sekolah, di Malaya dia menjadi penggerak perjuangan 'kekirian' dan masih berjuta kisah panjang lainya di miliki Tan di berbagai negara.
Masa kecilnya tidak begitu berbeda dengan masa kecil anak 'desa' pada umumnya. Dia handal berkelahi, dia pemimpin pergulatan antar kampung, diapun cerdas mengelabui guru ngaji. Dia tidak terlalu suka bermewah-mewahan sekalipun hidup dalam lingkungan berkucupan. Di balik ketangkasanya meramu kenakalan, diapun tidak lupa mencintai buku dan menorehkan hal 'gila' dalam program pendidikanya masa itu.
Selang waktu berlalu, Tan tumbuh menjadi manusia remaja yang kian matang. Keuletanya dan keberanianya sudahlah teruji dan mentalnya bisa di bilang 'sekuat baja'. Penolakan gelar datuk menjadi salah satu prinsip hidup kesederhanaanya sekalipun mau tidak mau ia harus menerima karena pilihan dinikahkan. Dia akhirnya pergi, pergi memulai kariernya menuju Belanda.
G.H. Horensma, gurunya di Kwekkschool mungkin adalah orang yang paling berjasa dalam proses perantaunya. Horensma yang begitu tertarik dengan kecerdasan Tan Malaka ikut pula membiayai sekolah Tan Malaka. Di Belanda, kehidupan Tan Malaka tidak serta merta bahagia dan mudah, diapun seperti sewajarnya perantau, mengalami apa yang di namakan 'kekurangan dana'. Tidak itupula, dia pun mengalami masalah adaptasi dengan Bahasa Belandanya yang kala itu masih kacau.
Tan muda hidup dengan serba kecukupan, dengan semangat belajar dan keinginan yang luhur diapun mencoba bertahan hidup. Di pilihlah Guru Bahasa Melayu menjadi menjadi pekerjaan sampinganya kala itu. Dia mengajar bahasa Melayu kepada kaum pirang Belanda yang hendak bekerja di Hindia-Belanda. Sembari mengajar, diapun tak pernah lupa meneruskan hobinya, yaitu membaca buku. Kesempatan panjangnya di Eropa ia gunakan untuk melahap habis buku karya Rosa Luxemburg, Nietzsche, Rousseau hingga Marx-Engels.
Ibarat cerobong api yang di bawa berestafet, sampailah Tan Malaka pada pertemuan penting. Dia bertemu dengan tokoh sosialis Belanda, Sneevliet. Pertemuan itu pula yang mengantarkan kedekatanya dengan Partai Komunis Belanda dan kaum Sosialis Eropa. Tan Malaka muda, Tan Malaka memulai niat dan Tan Malaka mulai menemukan jati dirinya sedikit demi sedikit.
Revolusi Rusia bisa di bilang sebagai penguat kesadaranya akan hubungan antara imperialsme, kapitalisme dan kelas sosial. Keyakinan akan paham dan idealis yang ia bawa dipertebal dengan pengalamanya ketika bekerja di perusahaan Belanda-Swiss yang terletak di Deli. Dari situ ia menyadari betapa tidak adilnya perlakuan pemilik modal terhadap pencipta uang yang sesungguhnya. Dalam kesempatanya di Deli dia menulis sebuah brosur Parlemen atau Soviet...
Akhirnya sampailah ia di Pulau Jawa. Gagasan yang pertama ia bawa adalah membangun kecerdasan rakyat. Dalam prosesnya perjuanganya dia tak lupa mengibarkan bendera komunis 'ala'k Tan Malaka. Diapun tidak gegabah dan terus membangun perjuangan bersama Kaum Muslim. Kemaunya hanya satu saat itu, menyelamatkan rakyat dari penjajahan dan paham Feodalisme.
Tepat dan cepat, mungkkin kata-kata itu layak di berikan padanya. Tanpa menghitung waktu yang lama akhirnya sekolah rakyat di bangun (di Semarang). Sekolah rakyat ini ia bangun bukan dengan niatan nantinya para lulusan menjadi juru tulis pemerintah. Tetapi sekolah rakyat ini ia bangun dari rakyat untuk kecerdasan rakyat. Untuk mencerdaskan rakyat dan berani dalam bersikap, karena dia sadar bagaimanapun pendidikan itu penting.
Perjalananya dalam mencerdaskan rakyat tidaklah mudah. Setelah beberapa sekolahnya di bangun di Semarang, Kaliwungu, Salatiga, Sukabumi, Pekalongan, Jakarta hingga Bandung, Tan Malaka justru di tanggkap. 13 Februari 1922, ya itu adalah tanggal dimana terjadinya perpisahan batin antara Tan Malaka dan Semarang, kesedihan mendalam menyelimutinya hingga diapun tak kuasa menahan tangis.
Tan Malaka pun di bawa kembali ke Belanda, sambutan dan lambaian tangan menyambut kepergianya. Wajah-wajah serta ratapan kesedihan tak bisa di sangsikan secara jelas. Kesempatan yang begitu sempit membuatnya memilih jalan lain, bak seorang kekasih sedang jatuh cinta tetapi tak dapat bertemu dan bertukar cerita, Tan Malaka menulis catatanya untuk negeri Minangkabau. Sebuah negeri yang telah lama ia tinggalkan.
Bukan Tan Malaka namanya jika kalah oleh keadaan. Dalam pengasinganya dia justru lebih 'garang', berani dan semakin matang. Dia secara berani mencalonkin diri sebagai anggota parlemen Belanda dari Partai Komunis Belanda. Usahanya kala itu sederhana, membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan melalui tangan orang Belanda sendiri yaitu Partai Komunis Belanda. Dia cerdik, dia pandai namun dia tidak berisik. ("Padi tumbuh tak berisik" Naar De Republik Indonesia)
Tan Malaka pun akhirnya secara resmi dikenalkan oleh Partai Komunis Belanda secara luas. Tanpa diduga, ternyata sambutan Warga Belanda begitu antusias, begitu ingin tahu dan begitu setuju dengan Tan Malaka. Seluruh hadirin yang hadir di Diamantbeurs berebut cepat menjabat tanganya. Tepuk tangan serta teriakan kegembiraan begitu keras di dengarkan kala Tan Malaka berpidato.
"Kami bersatu dengan Tan Malaka dan musuh daripada musuhnya! Kami memberi hormat yang tinggi kepada Tan Malaka dan kami membenci kalian kaum munafik kapitalis (Poeze hal 261-263)"
Perjalananya berlanjut menuju Moskow. Tak kenal lelah dan terus berjuang adalah motto hidupnya. Sikap keras 'ala' Minangkabau pun dia bawa hingga Moskow. Dimana dia katakan "aku akan tunduk pada prinsip kita bersama, tetapi aku tidak akan pernah bisa menundukan kepalaku kepada Stalin".
Cukup muda, bahkan bisa di bilang sangatlah muda. Di usianya yang ke 26 Tan Malaka telah di angkat menjadi seorang Agen Komunis untuk wilayah sebesar Asia Tenggara. Tan Malaka pun menuliskan secara gamblang tentang politik dan ekonomi bangsanya untuk Comitern. Tak perlu waktu lama, setahun kemudian buku itu di terbitkan di Russia.
Di tahun 1923 atas persetujuan Comitern Tan Malaka akhirnya pindah menuju Kanton, China. Perjalanan yang panjang sedang ia tempuh kembali. Hidup baru dan ekosistem baru tanpa latin kala itu ia jalanin. Di China ia di beri tugas menuliskan surat kabar berbahasa Inggris. Putar otak, bingung dan galaupun ia rasakan manakala ia merasa kesulitan mencari percetakan dengan bahasa latin. Di China pula ia semakin memperkuat jaringanya, dia kenal dan begitu akrab dengan Sun Yat Sen.
Tan Malaka memang sangatlah cerdas, dimanapun ia tinggal ia selalu mendapatkan tempat terbaik. Di China dia diangkat menjadi Kepala Biro Buruh Angkutan lewat Konfrensi Pan Pacific. Di sana pula ia menuliskan Pamflet Semangat Muda atau yang lebih di kenal dengan Naar Dee Republik Indonesia, Menuju Republik Indonesia. Karya itu akhirnya baru bisa di terbitkan ketika ia berada di Manila. Karya untuk Indonesia, yang dia tulis 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Dia mendahului Soekarno dan Hatta dalam soal Indonesia.....
Dalam petualanganya yang di iringi dengan beberapa persembunyian, Tan Malaka memiliki beberapa nama. Di China dia dikenal Ong Soong Lee atau Howard Law, sedangkan di Philipina, orang menyebutnya dengan Ellias Fuentes. Semua itu di lakukan untuk menghindari diri dari kejaran intelijen Inggris.
Jauh dari pantaunya, di Indonesia ternyata sedang terjadi gejolak. PKI yang ia sanjung ternyata bergerak di luar kemauanya, PKI berencana melakukan pembrontakan besar-besaran. Sebagai wail Comitern Asia Tenggara, Tan Malaka segera bergerak cepat. Dia mengeluarkan surat larangan dan penarikan rencana. Tetapi miris, ternyata pandanganya di tolak keras oleh Muso dan Alimin. PKI pun beringas dan melakukan pembrontakan diman-mana.
Secara singkat, perjuanganya di lanjutkan dengan mendirikan Sekolah Bahasa Asing di Amoy sebelum akhirnya pulang ke Indonesia. Dalam masa kepulanganya dia terus berjuang dan menginginkan kemerdekaan seratus persen tanp kompromi (Gerpolek). Niat suci terhadap bangsanya tak berbuah manis, di justru mati di tangan pribumi. Ajaranya kini hanya bersisa dalam buku fenomenalnya Madilog. Buku yang memandang segala penjuru menggunakan matter.
"Bung, perjuanganmu begitu ikhlas. Kau tidak berisik namun kau banyak bekerja. Kau tunjukan keikhlasan serta tanggung jawab yang tinggi. Pundaku mungkin begitu berat memikul persoalan tapi palingan wajah orang yang kaui perjuangankan justru membuatmu semakin semangat. Dimana kini sekolah-sekolahmu yang dulu kau bangun?. Aku ikut caramu bung, aku ikut wajahmu yang tanpa kemunafikan. Kau diakui Bung!! Kau Presiden bung!! Walau hanya sebatas bayangan. Namamu terpatri dalam setiap jengkal perjuangan yang tulus. Hidupmu sungguh menginspirasi bung!!!"
Bakhrul Amal
Setidaknya itulah gambaran mengenai 'sosok kesepian' ketika umurnya menginjak 52 tahun. Tidak terlalu istimewa dan terkesan sangat sederhana namun rapih. Dia tidak lain adalah Tan Malaka, deskripsi itu di buat ketika ia menghadiri pertemuan pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia. Secarik kertas gambaran sosok Tan Malaka itu di tulis rapih oleh Rosihan Anwar.
Tan Malaka atau dikenal pula dengan nama Ibrahim lahir di Nagari Pandan Gadang pada tahun 1897. Dia di lahirkan dari keluarga terpandang, sebagian keluarganya termasukk ayahnya bekerja sebagai pegawai pertanian Hindia Belanda.
Tan Malaka dalam hidupnya seperti banyak di kisahkan orang memiliki pemikiran kiri. Pemikiran yang menurut definisi singkat di artikan sebagai Revolusioner. Sebutan 'kiri' ini muncul berawal dari revolusi prancis dimana kala itu pemikir moderat duduk di sebelah kanan dewan dan revolusioner di sebelah kirinya. Atas dasar pemikiran revolusionernya maka Tan Malaka masuklah ke kardus bagian kiri 'Revolusioner'.
Kisah hidupnya bisa di bilang cukup heroic dan menegangkan, penuh cerita, penuh makna, keikhlasan berjuang dan keberanian. Belanda, Jerman, China, Soviet, Singapura, Thailand, Filipina, Hongkong pernah di lalui dan di letakan kisah-kisah indah di dalamnya. Di Belanda dia begitu di agungkan sebagai pemikir muda yang handal, di China dia mendirikan beberapa sekolah, di Malaya dia menjadi penggerak perjuangan 'kekirian' dan masih berjuta kisah panjang lainya di miliki Tan di berbagai negara.
Masa kecilnya tidak begitu berbeda dengan masa kecil anak 'desa' pada umumnya. Dia handal berkelahi, dia pemimpin pergulatan antar kampung, diapun cerdas mengelabui guru ngaji. Dia tidak terlalu suka bermewah-mewahan sekalipun hidup dalam lingkungan berkucupan. Di balik ketangkasanya meramu kenakalan, diapun tidak lupa mencintai buku dan menorehkan hal 'gila' dalam program pendidikanya masa itu.
Selang waktu berlalu, Tan tumbuh menjadi manusia remaja yang kian matang. Keuletanya dan keberanianya sudahlah teruji dan mentalnya bisa di bilang 'sekuat baja'. Penolakan gelar datuk menjadi salah satu prinsip hidup kesederhanaanya sekalipun mau tidak mau ia harus menerima karena pilihan dinikahkan. Dia akhirnya pergi, pergi memulai kariernya menuju Belanda.
G.H. Horensma, gurunya di Kwekkschool mungkin adalah orang yang paling berjasa dalam proses perantaunya. Horensma yang begitu tertarik dengan kecerdasan Tan Malaka ikut pula membiayai sekolah Tan Malaka. Di Belanda, kehidupan Tan Malaka tidak serta merta bahagia dan mudah, diapun seperti sewajarnya perantau, mengalami apa yang di namakan 'kekurangan dana'. Tidak itupula, dia pun mengalami masalah adaptasi dengan Bahasa Belandanya yang kala itu masih kacau.
Tan muda hidup dengan serba kecukupan, dengan semangat belajar dan keinginan yang luhur diapun mencoba bertahan hidup. Di pilihlah Guru Bahasa Melayu menjadi menjadi pekerjaan sampinganya kala itu. Dia mengajar bahasa Melayu kepada kaum pirang Belanda yang hendak bekerja di Hindia-Belanda. Sembari mengajar, diapun tak pernah lupa meneruskan hobinya, yaitu membaca buku. Kesempatan panjangnya di Eropa ia gunakan untuk melahap habis buku karya Rosa Luxemburg, Nietzsche, Rousseau hingga Marx-Engels.
Ibarat cerobong api yang di bawa berestafet, sampailah Tan Malaka pada pertemuan penting. Dia bertemu dengan tokoh sosialis Belanda, Sneevliet. Pertemuan itu pula yang mengantarkan kedekatanya dengan Partai Komunis Belanda dan kaum Sosialis Eropa. Tan Malaka muda, Tan Malaka memulai niat dan Tan Malaka mulai menemukan jati dirinya sedikit demi sedikit.
Revolusi Rusia bisa di bilang sebagai penguat kesadaranya akan hubungan antara imperialsme, kapitalisme dan kelas sosial. Keyakinan akan paham dan idealis yang ia bawa dipertebal dengan pengalamanya ketika bekerja di perusahaan Belanda-Swiss yang terletak di Deli. Dari situ ia menyadari betapa tidak adilnya perlakuan pemilik modal terhadap pencipta uang yang sesungguhnya. Dalam kesempatanya di Deli dia menulis sebuah brosur Parlemen atau Soviet...
Akhirnya sampailah ia di Pulau Jawa. Gagasan yang pertama ia bawa adalah membangun kecerdasan rakyat. Dalam prosesnya perjuanganya dia tak lupa mengibarkan bendera komunis 'ala'k Tan Malaka. Diapun tidak gegabah dan terus membangun perjuangan bersama Kaum Muslim. Kemaunya hanya satu saat itu, menyelamatkan rakyat dari penjajahan dan paham Feodalisme.
Tepat dan cepat, mungkkin kata-kata itu layak di berikan padanya. Tanpa menghitung waktu yang lama akhirnya sekolah rakyat di bangun (di Semarang). Sekolah rakyat ini ia bangun bukan dengan niatan nantinya para lulusan menjadi juru tulis pemerintah. Tetapi sekolah rakyat ini ia bangun dari rakyat untuk kecerdasan rakyat. Untuk mencerdaskan rakyat dan berani dalam bersikap, karena dia sadar bagaimanapun pendidikan itu penting.
Perjalananya dalam mencerdaskan rakyat tidaklah mudah. Setelah beberapa sekolahnya di bangun di Semarang, Kaliwungu, Salatiga, Sukabumi, Pekalongan, Jakarta hingga Bandung, Tan Malaka justru di tanggkap. 13 Februari 1922, ya itu adalah tanggal dimana terjadinya perpisahan batin antara Tan Malaka dan Semarang, kesedihan mendalam menyelimutinya hingga diapun tak kuasa menahan tangis.
Tan Malaka pun di bawa kembali ke Belanda, sambutan dan lambaian tangan menyambut kepergianya. Wajah-wajah serta ratapan kesedihan tak bisa di sangsikan secara jelas. Kesempatan yang begitu sempit membuatnya memilih jalan lain, bak seorang kekasih sedang jatuh cinta tetapi tak dapat bertemu dan bertukar cerita, Tan Malaka menulis catatanya untuk negeri Minangkabau. Sebuah negeri yang telah lama ia tinggalkan.
Bukan Tan Malaka namanya jika kalah oleh keadaan. Dalam pengasinganya dia justru lebih 'garang', berani dan semakin matang. Dia secara berani mencalonkin diri sebagai anggota parlemen Belanda dari Partai Komunis Belanda. Usahanya kala itu sederhana, membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan melalui tangan orang Belanda sendiri yaitu Partai Komunis Belanda. Dia cerdik, dia pandai namun dia tidak berisik. ("Padi tumbuh tak berisik" Naar De Republik Indonesia)
Tan Malaka pun akhirnya secara resmi dikenalkan oleh Partai Komunis Belanda secara luas. Tanpa diduga, ternyata sambutan Warga Belanda begitu antusias, begitu ingin tahu dan begitu setuju dengan Tan Malaka. Seluruh hadirin yang hadir di Diamantbeurs berebut cepat menjabat tanganya. Tepuk tangan serta teriakan kegembiraan begitu keras di dengarkan kala Tan Malaka berpidato.
"Kami bersatu dengan Tan Malaka dan musuh daripada musuhnya! Kami memberi hormat yang tinggi kepada Tan Malaka dan kami membenci kalian kaum munafik kapitalis (Poeze hal 261-263)"
Perjalananya berlanjut menuju Moskow. Tak kenal lelah dan terus berjuang adalah motto hidupnya. Sikap keras 'ala' Minangkabau pun dia bawa hingga Moskow. Dimana dia katakan "aku akan tunduk pada prinsip kita bersama, tetapi aku tidak akan pernah bisa menundukan kepalaku kepada Stalin".
Cukup muda, bahkan bisa di bilang sangatlah muda. Di usianya yang ke 26 Tan Malaka telah di angkat menjadi seorang Agen Komunis untuk wilayah sebesar Asia Tenggara. Tan Malaka pun menuliskan secara gamblang tentang politik dan ekonomi bangsanya untuk Comitern. Tak perlu waktu lama, setahun kemudian buku itu di terbitkan di Russia.
Di tahun 1923 atas persetujuan Comitern Tan Malaka akhirnya pindah menuju Kanton, China. Perjalanan yang panjang sedang ia tempuh kembali. Hidup baru dan ekosistem baru tanpa latin kala itu ia jalanin. Di China ia di beri tugas menuliskan surat kabar berbahasa Inggris. Putar otak, bingung dan galaupun ia rasakan manakala ia merasa kesulitan mencari percetakan dengan bahasa latin. Di China pula ia semakin memperkuat jaringanya, dia kenal dan begitu akrab dengan Sun Yat Sen.
Tan Malaka memang sangatlah cerdas, dimanapun ia tinggal ia selalu mendapatkan tempat terbaik. Di China dia diangkat menjadi Kepala Biro Buruh Angkutan lewat Konfrensi Pan Pacific. Di sana pula ia menuliskan Pamflet Semangat Muda atau yang lebih di kenal dengan Naar Dee Republik Indonesia, Menuju Republik Indonesia. Karya itu akhirnya baru bisa di terbitkan ketika ia berada di Manila. Karya untuk Indonesia, yang dia tulis 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Dia mendahului Soekarno dan Hatta dalam soal Indonesia.....
Dalam petualanganya yang di iringi dengan beberapa persembunyian, Tan Malaka memiliki beberapa nama. Di China dia dikenal Ong Soong Lee atau Howard Law, sedangkan di Philipina, orang menyebutnya dengan Ellias Fuentes. Semua itu di lakukan untuk menghindari diri dari kejaran intelijen Inggris.
Jauh dari pantaunya, di Indonesia ternyata sedang terjadi gejolak. PKI yang ia sanjung ternyata bergerak di luar kemauanya, PKI berencana melakukan pembrontakan besar-besaran. Sebagai wail Comitern Asia Tenggara, Tan Malaka segera bergerak cepat. Dia mengeluarkan surat larangan dan penarikan rencana. Tetapi miris, ternyata pandanganya di tolak keras oleh Muso dan Alimin. PKI pun beringas dan melakukan pembrontakan diman-mana.
Secara singkat, perjuanganya di lanjutkan dengan mendirikan Sekolah Bahasa Asing di Amoy sebelum akhirnya pulang ke Indonesia. Dalam masa kepulanganya dia terus berjuang dan menginginkan kemerdekaan seratus persen tanp kompromi (Gerpolek). Niat suci terhadap bangsanya tak berbuah manis, di justru mati di tangan pribumi. Ajaranya kini hanya bersisa dalam buku fenomenalnya Madilog. Buku yang memandang segala penjuru menggunakan matter.
"Bung, perjuanganmu begitu ikhlas. Kau tidak berisik namun kau banyak bekerja. Kau tunjukan keikhlasan serta tanggung jawab yang tinggi. Pundaku mungkin begitu berat memikul persoalan tapi palingan wajah orang yang kaui perjuangankan justru membuatmu semakin semangat. Dimana kini sekolah-sekolahmu yang dulu kau bangun?. Aku ikut caramu bung, aku ikut wajahmu yang tanpa kemunafikan. Kau diakui Bung!! Kau Presiden bung!! Walau hanya sebatas bayangan. Namamu terpatri dalam setiap jengkal perjuangan yang tulus. Hidupmu sungguh menginspirasi bung!!!"
Bakhrul Amal
Syekh Siti Jenar
Dia duduk sila di atas sejadah di ruang tengahnya. Tanganya terlihat
memutar tasbih dan terus membaca asma Allah. Tamu yang datang tak ia
hiraukan sebelum tugasnya menghadap sang kuasa dia selesaikan dengan
tuntas. Kepala menggeleng ke kanan dan kiri, bibirnya tak pernah diam
dan selalu berirama. Suasana yang indah dan penuh dengan keharmonisan.
Dia Jenar, Syekh Siti Jenar. Sebagian pengikutnya menganggapnya wali tanpa mengurangi rasa hormat pada kesembilan wali lainya. Ucapan Syekh Siti Jenar memang terkenal lugas dan jujur (konon) bahkan dia lebih dapat di terima dari sembilan wali lainya. Dia cerdas, dia ahli dalam berbagai ilmu termasuk ilmu yang orang mengenalnya dengan 'manunggaling kawula gusti' atau 'bersatu raga bersama tuhan'.
Pernah suatu waktu ajudan dari dewan wali menghadapnya memberi surat. Surat itu mungkin teguran, mungkin pula ajakan diskusi yang kala itu Syekh Siti Jenar adalah bintangnya. Belum terbaca surat itu, Syek Siti Jenar sudah membuat dua ajudan dewan wali itu marah. Ketika baru di ketuk pintu rumahnya lalu ajudan dewan wali menyaut namanya, dia menjawab "disini tidak ada Siti Jenar yang ada adalah Tuhan".
Dua ajudan itupun pergi meringis dengan pendaman luka yang teramat. Syekh Siti Jenar kembali menjadi sorotan di antara permasalahan yang muncul kala itu. Runtuhnya tiang-tiang agama menjadi alasan mengapa Syekh Siti Jenar dimusuhi, dia dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan membahayakan. Luapan hatinya akan cinta terhadap Tuhan, memasukan dia kedalam kelompok 'khawas' (khusus) yaitu kelompok Sufi atau dalam jawa di sebut kebatinan.
Argumenya di nilai ngawur kala itu, dia memanggap semua itu tak ada dan yang ada hanya Tuhan. "Kamu tuhan, aku tuhan dan semua tuhan". Namun keyakinyanya tak pudar seiring kecaman yang kian menggema. Dia tetap santai dalam pondoknya yang agung mengajar murid-muridnya. Merumuskan ide-ide serta tulisan yang menarik pun tak pernah ia tinggal.
Akhirnya kesempatan itu tiba juga, dimana ketika dia memenuhi panggilan sembilan Wali (Wali Songo). Dia diadili, dia dicecar, dia bersalah dan dia harus dihukum. Dewan Walipun tak bergerak lambat. Berbagai opsi serta persetujuanpun dilakukan. Akhirnya terpilihlah hukuman paling menakutkan. Yaitu apa yang kita kenal saat ini pancung atau hukuman mati dengan memotong kepalanya.
Syekh Siti Jenar yang memiliki ilmu tinggi pun akhirnya menghargai. Dengan kepasrahan dan kesadaran hatinya dia serahkan kepalanya. Akhirnya, tamatlah riwayat sang Sufi besar dari jawa itu. Tetapi belum, belum selesai sampai di situh. Dari kabar dan potongan transkrip yang tersisa, ketika Syekh Siti Jenar diakhiri hidupnya ternyata bau wangi semerbak muncul dari jasadnya. Jasadnya memunculkan cahaya terang benderang melebihi penerang lampu kala itu. Syekh Siti Jenar pun didudukan sembari tanpa pimpinan Sembilan Wali langsung meminta maaf. Wallahu a'lam bi sh-shawab!
Kisahnya begitu haru, mengundang tanya dan menuai sejuta rasa ingin tahu, ingin tahu dan terus ingin tahu. Mungkin Rummi lah yang mampu menjawabnya dengan penjelasanya...
"Ungkapan "Aku adalah Tuhan" bukanlah timbu dari sifat sombong yang teramat sangat. Melainkan kerendahan hati yang paling dasar. Seseorang yang berkata "Aku adalah hamba Tuhan" menyebutkan dua keberadaan, dirinya dan Tuhan. Sedangkan ungkapan "Aku adalah Tuhan" berarti penidaan diri, dia menyerahkan seluruhnya yang ada padanya sebagai kekosongan"
Jadi, bisakah bila kita menganggap Syekh Siti Jenar sebagai wali kesepuluh.
Dia Jenar, Syekh Siti Jenar. Sebagian pengikutnya menganggapnya wali tanpa mengurangi rasa hormat pada kesembilan wali lainya. Ucapan Syekh Siti Jenar memang terkenal lugas dan jujur (konon) bahkan dia lebih dapat di terima dari sembilan wali lainya. Dia cerdas, dia ahli dalam berbagai ilmu termasuk ilmu yang orang mengenalnya dengan 'manunggaling kawula gusti' atau 'bersatu raga bersama tuhan'.
Pernah suatu waktu ajudan dari dewan wali menghadapnya memberi surat. Surat itu mungkin teguran, mungkin pula ajakan diskusi yang kala itu Syekh Siti Jenar adalah bintangnya. Belum terbaca surat itu, Syek Siti Jenar sudah membuat dua ajudan dewan wali itu marah. Ketika baru di ketuk pintu rumahnya lalu ajudan dewan wali menyaut namanya, dia menjawab "disini tidak ada Siti Jenar yang ada adalah Tuhan".
Dua ajudan itupun pergi meringis dengan pendaman luka yang teramat. Syekh Siti Jenar kembali menjadi sorotan di antara permasalahan yang muncul kala itu. Runtuhnya tiang-tiang agama menjadi alasan mengapa Syekh Siti Jenar dimusuhi, dia dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan membahayakan. Luapan hatinya akan cinta terhadap Tuhan, memasukan dia kedalam kelompok 'khawas' (khusus) yaitu kelompok Sufi atau dalam jawa di sebut kebatinan.
Argumenya di nilai ngawur kala itu, dia memanggap semua itu tak ada dan yang ada hanya Tuhan. "Kamu tuhan, aku tuhan dan semua tuhan". Namun keyakinyanya tak pudar seiring kecaman yang kian menggema. Dia tetap santai dalam pondoknya yang agung mengajar murid-muridnya. Merumuskan ide-ide serta tulisan yang menarik pun tak pernah ia tinggal.
Akhirnya kesempatan itu tiba juga, dimana ketika dia memenuhi panggilan sembilan Wali (Wali Songo). Dia diadili, dia dicecar, dia bersalah dan dia harus dihukum. Dewan Walipun tak bergerak lambat. Berbagai opsi serta persetujuanpun dilakukan. Akhirnya terpilihlah hukuman paling menakutkan. Yaitu apa yang kita kenal saat ini pancung atau hukuman mati dengan memotong kepalanya.
Syekh Siti Jenar yang memiliki ilmu tinggi pun akhirnya menghargai. Dengan kepasrahan dan kesadaran hatinya dia serahkan kepalanya. Akhirnya, tamatlah riwayat sang Sufi besar dari jawa itu. Tetapi belum, belum selesai sampai di situh. Dari kabar dan potongan transkrip yang tersisa, ketika Syekh Siti Jenar diakhiri hidupnya ternyata bau wangi semerbak muncul dari jasadnya. Jasadnya memunculkan cahaya terang benderang melebihi penerang lampu kala itu. Syekh Siti Jenar pun didudukan sembari tanpa pimpinan Sembilan Wali langsung meminta maaf. Wallahu a'lam bi sh-shawab!
Kisahnya begitu haru, mengundang tanya dan menuai sejuta rasa ingin tahu, ingin tahu dan terus ingin tahu. Mungkin Rummi lah yang mampu menjawabnya dengan penjelasanya...
"Ungkapan "Aku adalah Tuhan" bukanlah timbu dari sifat sombong yang teramat sangat. Melainkan kerendahan hati yang paling dasar. Seseorang yang berkata "Aku adalah hamba Tuhan" menyebutkan dua keberadaan, dirinya dan Tuhan. Sedangkan ungkapan "Aku adalah Tuhan" berarti penidaan diri, dia menyerahkan seluruhnya yang ada padanya sebagai kekosongan"
Jadi, bisakah bila kita menganggap Syekh Siti Jenar sebagai wali kesepuluh.
Kawan
Bro
oleh Bakhrul Amal BA pada 14 Maret 2012 pukul 21:27 ·
Kendalanya
satu, hidupnya belum berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Kemajemukan, kelurusan dan kesetaraan adalah tema yang terpatri dalam
dadanya. Rasionalitas dan imajinasinya masih belum bisa bersatu taktala
waktu yang salah menyelimuti harinya. Dia adalah Gigih Yafitri, anak
pertama dari tiga bersaudara yang di lahirkan dari keluarga yang amat
sederhana dan rendah diri.
Entah dari mana memulainya, terlalu lama banyak yang hal kita lalui bersama. Kisahnya mungkin hampir sama dengan kata-kata Derida "sejak Aristoteles hingga Heidegger, mereka mencoba melihat kehidupan tak ubahnya sesuatu yang remeh atau kebetulan". Ya itulah makna dari segala perjalanan panjangnya sampai saat ini. Dalam ketidaktahuan, dia tetap maju untuk mencoba survivre "mengatasi" (sur) "hidup" (vivre), melewati.
Pernah satu malam aku menatap matanya yang kosong, harapanya sedikit melambung tinggi. Dalam rinai hujan dan gelap-gelap kerlap-kerlip lampu kota dia bercerita. "Aku harus maju bung, aku anak pertama" katanya tegas dan saat itu akupun sepakat. "Anda bisa melakukanya, asal semuanya tulus" jawabku memegang pundaknya yang kala itu melemah lesu.
Malam itu terasa begitu panjang dengan cerita-ceritanya yang rumit. Berulang kali dia berlaku layaknya "Merasakan nikmat dan menangis di hadapan kematian sama saja". Padahal dia sudah membuka gerbangnya, tetapi kesadaranya sulit untuk masuk. Hingga malam semakin larut dan kita berpisah, saat itu dia masih pongah dengan pandanganya yang kaku.
Kebuntuan adalah kata yang sudah tidak asing di telingaku ketika mengingatnya. Entah sedikit sadar atau tidak, dia selaku pemegang komando akan hidupnya terkadang lupa. Permasalahan memajukan kaki kanan terlebih dulu saja menjadi masalah baginya. Padahal tujuanya masih begitu terbentang bak padang pasir di sahara. Dia memutar dirinya dan kadang hampir saja lupa caranya menyalakan api yang hampir padam.
Saat ini, setelah pertemuanku yang terakhir rasanya dia begitu banyak berubah. Semangatnya tak lagi seperti delman melainkan layaknya kuda pacu yang bebas. Dua buah tanganya pun semakin besar dan siap memanggul beban keraguanya yang terbuang sia-sia. "Aku sudah siap sekarang, maju dan tidak menatap kebelakang adalah hal terbaik" katanya di suatu kesempatan.
Sebuah penilaian ganjil yang dulu ia paparkan kini mulai sirna secara perlahan. Mottonya yang menolak usulpun tak lagi tampak dalam sela-sela pembicaraan yang panjang kala itu. Namun sifatnya yang kadang salah persepsi masih saja melekat dan berbahaya jika ia tidak kikis dari sekarang. Majukan langkahmu sekarang, kamu sudah ada didepan mereka yang terlanjur kembali ke belakang. Ruas-ruas rusukmu satukan layaknya satria, Bravo Gigih Yafitri (Semangat Suci)
Entah dari mana memulainya, terlalu lama banyak yang hal kita lalui bersama. Kisahnya mungkin hampir sama dengan kata-kata Derida "sejak Aristoteles hingga Heidegger, mereka mencoba melihat kehidupan tak ubahnya sesuatu yang remeh atau kebetulan". Ya itulah makna dari segala perjalanan panjangnya sampai saat ini. Dalam ketidaktahuan, dia tetap maju untuk mencoba survivre "mengatasi" (sur) "hidup" (vivre), melewati.
Pernah satu malam aku menatap matanya yang kosong, harapanya sedikit melambung tinggi. Dalam rinai hujan dan gelap-gelap kerlap-kerlip lampu kota dia bercerita. "Aku harus maju bung, aku anak pertama" katanya tegas dan saat itu akupun sepakat. "Anda bisa melakukanya, asal semuanya tulus" jawabku memegang pundaknya yang kala itu melemah lesu.
Malam itu terasa begitu panjang dengan cerita-ceritanya yang rumit. Berulang kali dia berlaku layaknya "Merasakan nikmat dan menangis di hadapan kematian sama saja". Padahal dia sudah membuka gerbangnya, tetapi kesadaranya sulit untuk masuk. Hingga malam semakin larut dan kita berpisah, saat itu dia masih pongah dengan pandanganya yang kaku.
Kebuntuan adalah kata yang sudah tidak asing di telingaku ketika mengingatnya. Entah sedikit sadar atau tidak, dia selaku pemegang komando akan hidupnya terkadang lupa. Permasalahan memajukan kaki kanan terlebih dulu saja menjadi masalah baginya. Padahal tujuanya masih begitu terbentang bak padang pasir di sahara. Dia memutar dirinya dan kadang hampir saja lupa caranya menyalakan api yang hampir padam.
Saat ini, setelah pertemuanku yang terakhir rasanya dia begitu banyak berubah. Semangatnya tak lagi seperti delman melainkan layaknya kuda pacu yang bebas. Dua buah tanganya pun semakin besar dan siap memanggul beban keraguanya yang terbuang sia-sia. "Aku sudah siap sekarang, maju dan tidak menatap kebelakang adalah hal terbaik" katanya di suatu kesempatan.
Sebuah penilaian ganjil yang dulu ia paparkan kini mulai sirna secara perlahan. Mottonya yang menolak usulpun tak lagi tampak dalam sela-sela pembicaraan yang panjang kala itu. Namun sifatnya yang kadang salah persepsi masih saja melekat dan berbahaya jika ia tidak kikis dari sekarang. Majukan langkahmu sekarang, kamu sudah ada didepan mereka yang terlanjur kembali ke belakang. Ruas-ruas rusukmu satukan layaknya satria, Bravo Gigih Yafitri (Semangat Suci)
BBM
Lupa, mungkin itu adalah kata yang paling ringan di ucapkan ketika janji
tak unjung di tepati. Romlah menangis lagi dengan penuh kesedihan. Lima
orang anaknya terancam melepas seragam dengan sukarela tanpa perlawanan
dan pengakuan ijazah. Dia berlari mencari kawan, menutup mata, meraih
apapun yang ada di dekatnya untuk ia lemparkan.
Apa gerangan yang membuat Romlah sebegitu ganasnya?. Belum lagi pertanyaan itu terjawab, Romlah memeluk kelima anaknya, empat kali dia ucapkan kata itu "maafkan ibu nak, maafkan ibu nak, maafkan ibuuu". Kelima anaknya termangu, tak habis pikir dan merasa bingung dengan tingkah ibunya yang daritadi terlihat kebingungan.
Sementara di bagian lain, cheos mulai merajelela. Puluhan tukang beca, pedagang dan sopir angkot yang di bantu ratusan mahasiswa mulai adu fisik dengan beberapa polisi. "Kita mau keadilan" teriak pria bertopi dengan urat menekan di bagian lehernya. "Apa mereka sudah tuli" mahasiswa yang memiliki perawakan tegap berkata lantang dengan speakernya.
Jawaban itu belum juga muncul, potongan berita yang kusaksikan lirih di tambah aksi yang ricuh belum juga memberi titik terang. Akhirnya akupun merebahkan tubuhku di sofa panjang di ruang tamu rumahku. "Hleeeh" hela nafas lelah keluar dari rongga mulut yang semenjak pagi belum dialiri air. Aku masih bingung dan terus membayangkan, kejadian apa yang barusan aku saksikan.
Seperti biasa, setelah merasa nyaman dengan posisi duduku, akupun mencari koran yang tersimpan rapih di bawah meja. Koran olahraga ku pilih paling awal, beritanya luar biasa, Lionen Messi mencatatkan rekor baru pencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan. Putar-putar, bolak-balik dan ternyata makin menumpuk tanya dalam benak yang tak terjawab.
Hingga akhirnya, Jreeeeeeeng, seperti iringan musik suasana terkejut. Baru halaman pertama ternyata jawaban itu mulai menemukan pasanganya. Bingung, heran dan kaku akhirnya terbungkus dalam satu suasana terkejut. "BBM Naik Terhitung Awal April" tulisan besar terpajang di muka halaman, menampilkan pula wajah beberapa Mentri dan Presiden yang tertawa sumringah.
Tangisan Romlah menjadi logis dan bukan keanehan lagi ketika halaman pertama itu memuat kejutan yang tak terduga. Tangisanya bukan putus asa, bukan pula percobaan bunuh diri yang di awali permohonan maaf. Tetapi tangisanya tidak lebih kekhawatiran peminat nasi bungkusnya yang semakin berkurang. Dengan naiknya BBM, seperti sesuai pengalaman yang sudah turun-menurun, mestilah di ikuti pula dengan kenaikan bahan makanan pokok yang secara otomatis menambah pula harga nasi bungkusnya.
Romlah resah, Romlah penuh gelisan dan Romlah bertanya dalam hati. "Apakah masih mungkin, seorang membeli nasi dengan harga yang tinggi?", "lalu jika peminatku berurang, bagaimana anak2ku?", "tolong hamba tuhan". Mahasiswa serta tukang beca dan supir angkotpun ikut ambil bicara. Mungkin di luar sanah masih banyak Romlah-Romlah lain yang berselimut dalam keraguan. Di luar sana pula, akan banyak muncul peng halalan cara demi tujuan. Apalagi, bagamaina, bila sudah begini, Pemerintahlah yang harus menjawabnya, jawablah dengan hati nurani....
Apa gerangan yang membuat Romlah sebegitu ganasnya?. Belum lagi pertanyaan itu terjawab, Romlah memeluk kelima anaknya, empat kali dia ucapkan kata itu "maafkan ibu nak, maafkan ibu nak, maafkan ibuuu". Kelima anaknya termangu, tak habis pikir dan merasa bingung dengan tingkah ibunya yang daritadi terlihat kebingungan.
Sementara di bagian lain, cheos mulai merajelela. Puluhan tukang beca, pedagang dan sopir angkot yang di bantu ratusan mahasiswa mulai adu fisik dengan beberapa polisi. "Kita mau keadilan" teriak pria bertopi dengan urat menekan di bagian lehernya. "Apa mereka sudah tuli" mahasiswa yang memiliki perawakan tegap berkata lantang dengan speakernya.
Jawaban itu belum juga muncul, potongan berita yang kusaksikan lirih di tambah aksi yang ricuh belum juga memberi titik terang. Akhirnya akupun merebahkan tubuhku di sofa panjang di ruang tamu rumahku. "Hleeeh" hela nafas lelah keluar dari rongga mulut yang semenjak pagi belum dialiri air. Aku masih bingung dan terus membayangkan, kejadian apa yang barusan aku saksikan.
Seperti biasa, setelah merasa nyaman dengan posisi duduku, akupun mencari koran yang tersimpan rapih di bawah meja. Koran olahraga ku pilih paling awal, beritanya luar biasa, Lionen Messi mencatatkan rekor baru pencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan. Putar-putar, bolak-balik dan ternyata makin menumpuk tanya dalam benak yang tak terjawab.
Hingga akhirnya, Jreeeeeeeng, seperti iringan musik suasana terkejut. Baru halaman pertama ternyata jawaban itu mulai menemukan pasanganya. Bingung, heran dan kaku akhirnya terbungkus dalam satu suasana terkejut. "BBM Naik Terhitung Awal April" tulisan besar terpajang di muka halaman, menampilkan pula wajah beberapa Mentri dan Presiden yang tertawa sumringah.
Tangisan Romlah menjadi logis dan bukan keanehan lagi ketika halaman pertama itu memuat kejutan yang tak terduga. Tangisanya bukan putus asa, bukan pula percobaan bunuh diri yang di awali permohonan maaf. Tetapi tangisanya tidak lebih kekhawatiran peminat nasi bungkusnya yang semakin berkurang. Dengan naiknya BBM, seperti sesuai pengalaman yang sudah turun-menurun, mestilah di ikuti pula dengan kenaikan bahan makanan pokok yang secara otomatis menambah pula harga nasi bungkusnya.
Romlah resah, Romlah penuh gelisan dan Romlah bertanya dalam hati. "Apakah masih mungkin, seorang membeli nasi dengan harga yang tinggi?", "lalu jika peminatku berurang, bagaimana anak2ku?", "tolong hamba tuhan". Mahasiswa serta tukang beca dan supir angkotpun ikut ambil bicara. Mungkin di luar sanah masih banyak Romlah-Romlah lain yang berselimut dalam keraguan. Di luar sana pula, akan banyak muncul peng halalan cara demi tujuan. Apalagi, bagamaina, bila sudah begini, Pemerintahlah yang harus menjawabnya, jawablah dengan hati nurani....
Makna
Malam masih begitu panjang, kita masuk dalam sebuah ruangan dimana
harga-harga miring di tampilkan. Saat itu aku datang bersama dua
temanku, kebetulan kita telah lama tak bertemu. Pertemuan itu terasa
mengalir dan berjalan begitu menarik, kita tidak terlalu dekat, tidak
terlalu sering berbincang tetapi kita di pertemukan dalam satu tema
'perantauan'.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat dalam sebuah komunikasi. Diantaranya adalah ucapan, makna, dan perbedaan. Bila di gabungkan ketiganya memang bisa bersatu menjadi sebuah kesimpulan. Hal yang terpenting adalah bagaimana memulainya. Suatu ucapan itu menimbulkan makna dan makna itu bisa berbeda-beda tergantung bagaimana kita memulai dan menyikapinya.
Mobil sangatlah berguna untuk perjalanan jauh tetapi bila memasuki gang sempit itu namanya gila. Lampu sungguh di butuhkan ketika malam tiba tetapi ketika terik datang apalah artinya pula. Begitupun kata-kata, asu mungkin terlalu kasar bila kita mengucapnya dengan mimik kekesalan dan kemarahan. Tetapi asu bisa di terima dalam suasan canda dan tawa sebagai hal yang biasa.
Menarik memang malam itu, satu persatu mengeluarkan ceritanya yang mengundang tawa. Tak peduli akan keramaian, orang di sekitar atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang serius rapat, sepertinya. Hingga akhirnya kita harus menutup pertemuan karena waktu sudah terlarut malam. Suasana gaduh berangsur hening, sembari kaki melangkah meninggalkan tempat kerinduan.
Masing-masing kuyakin membawa cerita sendiri dalam mimpinya. Tiga jam bukanlah waktu yang singkat untuk menanggapi obrolan yang bisa di bilang 'kosong'. Satu yang tidak bisa aku bayangkan adalah bagaimana 'asu' dan 'astaghfirullah' bertemu dalam satu meja?. Bila hal ini dalam suasana yang khusus mungkin menjadi masalah. Tetapi dalam hal yang tidak ada kerancuan itu malah terkesan biasa.
Disatu sisi pandangan itu buruk, karena tidak pantas sama sekali meskipun dalam balutan canda. Namun sisi yang lain memandangnya wajar, karena manusia di ciptakan berbeda-beda, sekalipun bisa di paksakan tetapi butuhlah proses. Bukan masalah 'bagaimana' tetapi persoalanya adalah 'mengapa'. Bagaimana tidak bisa di paksakan? Melainkan mengapa harus memaksa bila bisa dengan cara yang baik.
Kesanya memang sederhana, ya tetapi itulah sebuah keharmonisan. Tidak ada ketegangan, tidak ada kekhususan dan tempat yang seakan lebih tinggi. Semua sama, tergantung kita menyakipanya. Balutlah hati dengan segala perasaan yang membuat kita tentram. Santun tidak mesti "aduh mohon maaf atau permisi boleh saya anu?" Tetapi santun dengan keceriaan yang tak memaksa dan membuat semua nyaman mengekspresikan dirinya di hadapan kita.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat dalam sebuah komunikasi. Diantaranya adalah ucapan, makna, dan perbedaan. Bila di gabungkan ketiganya memang bisa bersatu menjadi sebuah kesimpulan. Hal yang terpenting adalah bagaimana memulainya. Suatu ucapan itu menimbulkan makna dan makna itu bisa berbeda-beda tergantung bagaimana kita memulai dan menyikapinya.
Mobil sangatlah berguna untuk perjalanan jauh tetapi bila memasuki gang sempit itu namanya gila. Lampu sungguh di butuhkan ketika malam tiba tetapi ketika terik datang apalah artinya pula. Begitupun kata-kata, asu mungkin terlalu kasar bila kita mengucapnya dengan mimik kekesalan dan kemarahan. Tetapi asu bisa di terima dalam suasan canda dan tawa sebagai hal yang biasa.
Menarik memang malam itu, satu persatu mengeluarkan ceritanya yang mengundang tawa. Tak peduli akan keramaian, orang di sekitar atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang serius rapat, sepertinya. Hingga akhirnya kita harus menutup pertemuan karena waktu sudah terlarut malam. Suasana gaduh berangsur hening, sembari kaki melangkah meninggalkan tempat kerinduan.
Masing-masing kuyakin membawa cerita sendiri dalam mimpinya. Tiga jam bukanlah waktu yang singkat untuk menanggapi obrolan yang bisa di bilang 'kosong'. Satu yang tidak bisa aku bayangkan adalah bagaimana 'asu' dan 'astaghfirullah' bertemu dalam satu meja?. Bila hal ini dalam suasana yang khusus mungkin menjadi masalah. Tetapi dalam hal yang tidak ada kerancuan itu malah terkesan biasa.
Disatu sisi pandangan itu buruk, karena tidak pantas sama sekali meskipun dalam balutan canda. Namun sisi yang lain memandangnya wajar, karena manusia di ciptakan berbeda-beda, sekalipun bisa di paksakan tetapi butuhlah proses. Bukan masalah 'bagaimana' tetapi persoalanya adalah 'mengapa'. Bagaimana tidak bisa di paksakan? Melainkan mengapa harus memaksa bila bisa dengan cara yang baik.
Kesanya memang sederhana, ya tetapi itulah sebuah keharmonisan. Tidak ada ketegangan, tidak ada kekhususan dan tempat yang seakan lebih tinggi. Semua sama, tergantung kita menyakipanya. Balutlah hati dengan segala perasaan yang membuat kita tentram. Santun tidak mesti "aduh mohon maaf atau permisi boleh saya anu?" Tetapi santun dengan keceriaan yang tak memaksa dan membuat semua nyaman mengekspresikan dirinya di hadapan kita.
Rabu, 29 Februari 2012
Yanto dan Gitarnya
Alunan gitarnya menyisir malam, mendayu bersama angin dan menawarkan
kerinduan. Sebut saja Yanto, pengamen jalanan yang tak pernah ku kenal
baik namanya. Yanto tau betul bagaimana menghangatkan malam, dia petik
gitarnya perlahan dan semakin keras 'slow but sure'. Tak menghiraukan
tubuhnya yang tak terbungkus dia bahkan terus bernyanyi lepas membakar
malam.
Hari itu aku menemuinya di warung bubur dekat stasiun. Dia begitu lusuh dan lelah kala itu tapi semangatnya ternyata lebih besar dari keringatnya.
"Luar biasa" sapanya, yang mungkin menjadi ciri khasnya bila menatap wajah-wajah yang tak asing. "Lanjutkan" kataku sembari meninggalkanya masuk menuju warung. Kedatanganku disambutnya dengan sebuah lagu rindu ciptaan Ebiet G Ade, "kupu-kupu kertas". Aku pun terhanyut, menikmati alunan sambil memesan Indomie goreng telur dan telur setengah matang.
Khayalanku muncul, mengkinkah Yanto tetapi menyapa "Luar biasa" bila dia jadi bintang?. Bagi sebagian pihak, belajar, bekerja, berusaha dan berdoa adalah pola hidup demi satu tujuan, yaitu kesenangan. Yanto ternyata berbeda, bukan sekedar menghibur atau mendapat sawer tetapi dengan diam dan mendengarnya bernyanyi itu sudah suatu kebahagiaan yang tak ternilai baginya.
Kebahagiaan menurutnya adalah merubah nada menjadi indah dan di dengar. Di dengar baginya suatu penghargaan yang sangat istimewa. "Saat ini kita memiliki orang-orang yang pandai bicara, tapi sayang mereka 'ga' mau denger" nadanya marah ketika ku tanya alasan 'di dengar'. Masuk akal dan sangat wajar mengingat dia adalah termasuk manusia yang kepala di injak dan kakinya pun terasa di ikat.
Alah, itu kan hanya khayalan dan kisah obrolanan lalu. Aku berhenti berkhayal lalu tegas menyantap pesananku dengan lahap. "Berapa mas" tanyaku, "delapan ribu" jawab pedagang sembari bernyayi mendengar alunan gitar Yanto. "Luar biasa" ya memang luar biasa si Yanto, malam ini dia jadi bintang karena beberapa pengunjung tak sungkan memesan lagu-lagu klasik untuk bernostalgia bersama.
Setelah selesai urusan perutku dan uangpun telah ku bayarkan aku pun keluar dari dalam tempat makan. "Mantap sekali bung" sahutku menatap wajahnya yang mengayun. "Hahah Luar biasa" lagi-lagi dia berkata luar biasa. Dalam hati ketika menuju rumah aku berbisik, aku bukan "Luar biasa" tapi "biasa di luar toh" hehe. Good job Yanto, be ready to stand up and reach the succes Mr Guitar......
Yanto (Nama samaran) bubur Moh Toha...
Hari itu aku menemuinya di warung bubur dekat stasiun. Dia begitu lusuh dan lelah kala itu tapi semangatnya ternyata lebih besar dari keringatnya.
"Luar biasa" sapanya, yang mungkin menjadi ciri khasnya bila menatap wajah-wajah yang tak asing. "Lanjutkan" kataku sembari meninggalkanya masuk menuju warung. Kedatanganku disambutnya dengan sebuah lagu rindu ciptaan Ebiet G Ade, "kupu-kupu kertas". Aku pun terhanyut, menikmati alunan sambil memesan Indomie goreng telur dan telur setengah matang.
Khayalanku muncul, mengkinkah Yanto tetapi menyapa "Luar biasa" bila dia jadi bintang?. Bagi sebagian pihak, belajar, bekerja, berusaha dan berdoa adalah pola hidup demi satu tujuan, yaitu kesenangan. Yanto ternyata berbeda, bukan sekedar menghibur atau mendapat sawer tetapi dengan diam dan mendengarnya bernyanyi itu sudah suatu kebahagiaan yang tak ternilai baginya.
Kebahagiaan menurutnya adalah merubah nada menjadi indah dan di dengar. Di dengar baginya suatu penghargaan yang sangat istimewa. "Saat ini kita memiliki orang-orang yang pandai bicara, tapi sayang mereka 'ga' mau denger" nadanya marah ketika ku tanya alasan 'di dengar'. Masuk akal dan sangat wajar mengingat dia adalah termasuk manusia yang kepala di injak dan kakinya pun terasa di ikat.
Alah, itu kan hanya khayalan dan kisah obrolanan lalu. Aku berhenti berkhayal lalu tegas menyantap pesananku dengan lahap. "Berapa mas" tanyaku, "delapan ribu" jawab pedagang sembari bernyayi mendengar alunan gitar Yanto. "Luar biasa" ya memang luar biasa si Yanto, malam ini dia jadi bintang karena beberapa pengunjung tak sungkan memesan lagu-lagu klasik untuk bernostalgia bersama.
Setelah selesai urusan perutku dan uangpun telah ku bayarkan aku pun keluar dari dalam tempat makan. "Mantap sekali bung" sahutku menatap wajahnya yang mengayun. "Hahah Luar biasa" lagi-lagi dia berkata luar biasa. Dalam hati ketika menuju rumah aku berbisik, aku bukan "Luar biasa" tapi "biasa di luar toh" hehe. Good job Yanto, be ready to stand up and reach the succes Mr Guitar......
Yanto (Nama samaran) bubur Moh Toha...
Bushido
Robert N. Bellah, Rambutnya putih tipis tersipu angin taktala dia
berjalan untuk memberikan materi di Universitas Kristen Satya Wacana,
Salatiga, Jawa Tengah. Setiap kali di tanya, dia pasti menyertakan
senyum khasnya begitupun sebaliknya. Namanya mungkin belum dikenal saat
itu tetapi auranya mulai sedikit muncul. Religi Tokugawa, ya, mungkin
itulah awal dimana penulis itu merajut ketenaranya.
Dia adalah "Max Weber saat ini", julukan itu muncul mengalir berkat bukunya yang berjudul Religi Tokugawa. Dalam bukunya, Profesor lulusan Harvard University itu mencoba menjelaskan bahwa agama berperan dalam rasionalisasi politik dan ekonomi. Bukan hanya kompas yang mewancarai dan menerbitkanya pada edisi Jum'at, 4 Desember 1992 tetapi sayapun terglitik untuk membaca karyanya.
Setiap kata-kata dan penjelasanya memang menarik, menginspirasi dan membakar semangat. Setelah memutar balik, akhirnya saya terhenti di halaman 121. Di situ di jelaskan mengenai 'Bushido', 'Bushido' dalam masanya dikenal sebagai bentuk kelas sosial bagi kaum samurai atau jalan prajurit. Istilah ini berkembang pada masa Tokugawa dan sebagian besar telah menganggapnya sebagi etika nasional.
Tokugawa Mitsukuni (1628-1700) adalah pangeran ketiga dari Mito. Tokugawa menganggap bila kelas samurai adalah perwujudan dan penjagaan moralitas. "Jika tidak ada samurai, kebenaran (giri) akan musnah dari masyarakat manusia, rasa malu akan hilang, dan kesalahan serta ketidakadilan akan merajalela" tulisnya dalam pemerintah untuk para pengikutnya.
Ketika semua orang lari dan berusaha untuk tidak memikirkan kematian, 'Bushido' justru sebaliknya. Mengingat kematian dari pagi, siang, sore hingga hendak tidur bagi 'Bushido' adalah suatu kewajiban. Kematian bukanlah tombak menaktukan tetapi justru inspirasi dan sumber motivasi bagi sebuah kesetiaan dan tanggung jawab (Hagekure).
Dalam buku peganganya Budho Shoshinshu yang disusun pada abad 17, pandangan akan kematian sebagai samurai sejati sungguh terasa melekat. Budhisme Zen mungkin adalah sumbangsih terbesar dalam buku itu, dijelaskan bahwa "selalu merindukan kematian akan membuatnya (Bushido) memberi jarak dari benda dan tidak akan bersifat tamak, dan akan menjadi, seperti yang telah saya katakan, pribadi yang baik!".
Tapi rasanya itu menjadi berarti, dimana saat ini jepang berubah menjadi kuat dan disiplin. Paradigma terhadap kematian membangkitkan rasa untuk melakukan yang terbaik semasa hidup. Dalam kemasan modern munculah istilah baru yang menjadi manifestasi 'Budisho' yaitu mungkin 'Harakiri'. Ketika tidak berguna maka mati adalah jalan satu-satunya untuk menjadi terhormat. Kematian yang agung, kematian yang di hormati......
Kepercayaan mistis akan cinta terhadap budaya 'Bushido' tidak hanya di aplikasikan dengan Harakiri tetapi pun jadwal-jadwal kerja yang baik. Konfusian terkenal Muro Kyuso adalah salah satunya, dia menjadwal bangun (06.00) dan tidur (00.00) bahkan dalam khayalnya ketika roh malas muncul dia akan memanggil roh baik yang bisa membuatnya rajin kembali. Mungkin ada ribuan Kyuso-kyuso lain di Jepang yang membuat Jepang tetap kokoh meski Hiroshima dan Nagasaki hancur.
Apakah 'Bushido' pun menjadi perlu ketika rasa rindu akan kematian tidaklah menjadi barang mewah lagi di Indonesia?. Pemikiran akan kehidupan yang panjang sudah tidak lagi relevan dimana leha-leha, ktamakan yang lupa akan kewajiban bahkan justru saling menghancurkan. Yusidho Shoin berkata "Istirahat itu setelah mati. Ini suatu motto, pendek tetapi sarat dengan arti. Ketekunan, kemauan keras. Tidak ada jalan lain".
Haik Bushido.
Dia adalah "Max Weber saat ini", julukan itu muncul mengalir berkat bukunya yang berjudul Religi Tokugawa. Dalam bukunya, Profesor lulusan Harvard University itu mencoba menjelaskan bahwa agama berperan dalam rasionalisasi politik dan ekonomi. Bukan hanya kompas yang mewancarai dan menerbitkanya pada edisi Jum'at, 4 Desember 1992 tetapi sayapun terglitik untuk membaca karyanya.
Setiap kata-kata dan penjelasanya memang menarik, menginspirasi dan membakar semangat. Setelah memutar balik, akhirnya saya terhenti di halaman 121. Di situ di jelaskan mengenai 'Bushido', 'Bushido' dalam masanya dikenal sebagai bentuk kelas sosial bagi kaum samurai atau jalan prajurit. Istilah ini berkembang pada masa Tokugawa dan sebagian besar telah menganggapnya sebagi etika nasional.
Tokugawa Mitsukuni (1628-1700) adalah pangeran ketiga dari Mito. Tokugawa menganggap bila kelas samurai adalah perwujudan dan penjagaan moralitas. "Jika tidak ada samurai, kebenaran (giri) akan musnah dari masyarakat manusia, rasa malu akan hilang, dan kesalahan serta ketidakadilan akan merajalela" tulisnya dalam pemerintah untuk para pengikutnya.
Ketika semua orang lari dan berusaha untuk tidak memikirkan kematian, 'Bushido' justru sebaliknya. Mengingat kematian dari pagi, siang, sore hingga hendak tidur bagi 'Bushido' adalah suatu kewajiban. Kematian bukanlah tombak menaktukan tetapi justru inspirasi dan sumber motivasi bagi sebuah kesetiaan dan tanggung jawab (Hagekure).
Dalam buku peganganya Budho Shoshinshu yang disusun pada abad 17, pandangan akan kematian sebagai samurai sejati sungguh terasa melekat. Budhisme Zen mungkin adalah sumbangsih terbesar dalam buku itu, dijelaskan bahwa "selalu merindukan kematian akan membuatnya (Bushido) memberi jarak dari benda dan tidak akan bersifat tamak, dan akan menjadi, seperti yang telah saya katakan, pribadi yang baik!".
Tapi rasanya itu menjadi berarti, dimana saat ini jepang berubah menjadi kuat dan disiplin. Paradigma terhadap kematian membangkitkan rasa untuk melakukan yang terbaik semasa hidup. Dalam kemasan modern munculah istilah baru yang menjadi manifestasi 'Budisho' yaitu mungkin 'Harakiri'. Ketika tidak berguna maka mati adalah jalan satu-satunya untuk menjadi terhormat. Kematian yang agung, kematian yang di hormati......
Kepercayaan mistis akan cinta terhadap budaya 'Bushido' tidak hanya di aplikasikan dengan Harakiri tetapi pun jadwal-jadwal kerja yang baik. Konfusian terkenal Muro Kyuso adalah salah satunya, dia menjadwal bangun (06.00) dan tidur (00.00) bahkan dalam khayalnya ketika roh malas muncul dia akan memanggil roh baik yang bisa membuatnya rajin kembali. Mungkin ada ribuan Kyuso-kyuso lain di Jepang yang membuat Jepang tetap kokoh meski Hiroshima dan Nagasaki hancur.
Apakah 'Bushido' pun menjadi perlu ketika rasa rindu akan kematian tidaklah menjadi barang mewah lagi di Indonesia?. Pemikiran akan kehidupan yang panjang sudah tidak lagi relevan dimana leha-leha, ktamakan yang lupa akan kewajiban bahkan justru saling menghancurkan. Yusidho Shoin berkata "Istirahat itu setelah mati. Ini suatu motto, pendek tetapi sarat dengan arti. Ketekunan, kemauan keras. Tidak ada jalan lain".
Haik Bushido.
Noer
"Kemanapun kau hadapkan wajahmu kau akan melihatku"
Pria itu dengan lugas mengatakan apa yang menurutnya di kutip dalam Qur'an. Kata-katanya memang manis dan sudah pasti karena itu adalah kata-kata Tuhan. Ke kiri Tuhan, ke tumbuhan Tuhan, ke depan Tuhan dan kemanapun Tuhan. Tetapi mengapa dunia ini tak seindah nama-namanya yang dalam Qur'an sampai berjumlah 99?.
Kemajuan zaman membuat orang begitu mudah berinteraksi. Tak hanya mengirim surat tetapi juga bertelepon menggunakan suara hingga chatting secara visual bertatap muka. Begitu cepat berlalu hingga jarakpun tak terlalu memisahkan waktu. Wajah-wajah Tuhan terlihat dalam sebuah senyuman audio dalam sumringahnya visual.
Tetapi apakah itu?, ternyata tidak lantas pula seperti itu. "Lalu bila begitu kita adalah jelmaan Tuhan" "Bukan, tetapi kita adalah bentuk eksistensi dari Tuhan" jawabnya. Hubunganya bukan seperti mix dengan kabelnya yang apabila di colokan lalu menyala. Tetapi seperti cahaya lampu yang apabila lampu itu kita tutup maka gelaplah yang kita temukan.
Bagian-bagian itu menunjuk pada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya tentang mengapa?. "Jika memang kita ini adalah bagianya yang tentunya sifat baik terkumpul kepadanya, mengapa masih banyak penjahat, apakah penjata itu adalah bentuk eksistensi dari sifat-sifatnya juga?". Rumit memang pertanyaanya, tetapi sungguh mengglitik dan nyaris merobohkan argumentasi Mohammad Nor, sahabat saya.
Ada satu contoh lagi, air itu bersih (dalam konteks air putih yang biasa kita kenal). Kita dan Tuhan adalah ibarat air dengan ombaknya. Ombak bukan lautan dan lautanpun bukan ombak. Ombak dan lautan adalah contoh relasi sekunder, ombak itu adalah bagian dari lautan yang notabene air dan air itu putih, bersih.
Jika kita adalah bagianya tentunya kita seharunya menjadi baik. "Air memang selalu bersih, selalu bening tetapi yang kotor adalah gelasnya". Wuiih, mantapnya argument itu mengingatkan kita pada argumen Ibn Aribi. "Bukan tuhan yang memiliki keburukan tetapi wadah kitalah yang buruk sehingga beningnya air itu tak terlihat" paparnya.
Tuhan selalu berada di dalam jiwa kita, Tuhan pemaaf, bersih dan segala kebaikan lainya. Pikiran dan sifat adalah wadah dari sebuah jiwa. Manusia adalah manifestasi dari Tuhan dan karena itu manusia satu dalam jiwa. "Mahuw al insan?, Al insan Hayawanun nathiq", manusia adalah makhluk yang berpikir. Pernahkah kita memikirkan ini?
Dalam buku Niels Murdet tentang kebatinan jawa dia menjelaskan bilamana di jawa dikenal istilah "Sepi ing pamrih, rame ing gawe, Mamayu hayuning buwono" yang artinya "Tidak mementingkan diri sendiri, selalu giat bekerja, Menjaga keindahan dunia". Setidaknya kata-kata ini menjadi etika kebatinan yang di rumuskan bersama-sama oleh BKKI (Badan Kongres Kebatinan seluruh Indonesia) di Semarang pada tahun 1955.
Djojodigoeno seorang penafsir dan mistikawan menjelaskan jika kebaikan itu tidak lain akibat dari sikap 'sepi ing pamrih'. Kondisi di dunia bisa menjadi baik karena sikap ini karena manusia mempunyai sikap yang benar menurutnya. Dengan tidak mementingkan diri, manusia akan mampu mengamalkan Ar-rahman dan Ar-rohim "pengasih dan penyayang".
Setelahnya adalah "rame ing gawe", menurut Sosrosudigdo "rame ing gawe" berarti "bekerja sepenuh hati untuk kepentingan umum". Implikasinya sama dengan tidak mementingkan diri sendiri tetapi dalam konteks yang luas. Setelah semuanya barulah "Mamayu Hanung buwono" atau yang menurut De Jong "menghiasi dunia"
Bukan manusia bila tak lelah bertanya, bukan manusia pula bila iya tak penasaran. Muncul kembali di benaknya sebuah ayat "Kebaikan itu adalah aku sedangkan keburukan itu adalah kamu". Menurutnya ini tidak sesuai dengan Mohammad Nor bila Kita ada manifestasi dari Tuhan. Dengan santainya "Aku memberikanmu cahaya (ilmu adalah cahaya) tetapi mengapa engkau menutup pintumu" balasnya, memang luar biasa sekali Dr lulusan Iran ini.
Pria itu dengan lugas mengatakan apa yang menurutnya di kutip dalam Qur'an. Kata-katanya memang manis dan sudah pasti karena itu adalah kata-kata Tuhan. Ke kiri Tuhan, ke tumbuhan Tuhan, ke depan Tuhan dan kemanapun Tuhan. Tetapi mengapa dunia ini tak seindah nama-namanya yang dalam Qur'an sampai berjumlah 99?.
Kemajuan zaman membuat orang begitu mudah berinteraksi. Tak hanya mengirim surat tetapi juga bertelepon menggunakan suara hingga chatting secara visual bertatap muka. Begitu cepat berlalu hingga jarakpun tak terlalu memisahkan waktu. Wajah-wajah Tuhan terlihat dalam sebuah senyuman audio dalam sumringahnya visual.
Tetapi apakah itu?, ternyata tidak lantas pula seperti itu. "Lalu bila begitu kita adalah jelmaan Tuhan" "Bukan, tetapi kita adalah bentuk eksistensi dari Tuhan" jawabnya. Hubunganya bukan seperti mix dengan kabelnya yang apabila di colokan lalu menyala. Tetapi seperti cahaya lampu yang apabila lampu itu kita tutup maka gelaplah yang kita temukan.
Bagian-bagian itu menunjuk pada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya tentang mengapa?. "Jika memang kita ini adalah bagianya yang tentunya sifat baik terkumpul kepadanya, mengapa masih banyak penjahat, apakah penjata itu adalah bentuk eksistensi dari sifat-sifatnya juga?". Rumit memang pertanyaanya, tetapi sungguh mengglitik dan nyaris merobohkan argumentasi Mohammad Nor, sahabat saya.
Ada satu contoh lagi, air itu bersih (dalam konteks air putih yang biasa kita kenal). Kita dan Tuhan adalah ibarat air dengan ombaknya. Ombak bukan lautan dan lautanpun bukan ombak. Ombak dan lautan adalah contoh relasi sekunder, ombak itu adalah bagian dari lautan yang notabene air dan air itu putih, bersih.
Jika kita adalah bagianya tentunya kita seharunya menjadi baik. "Air memang selalu bersih, selalu bening tetapi yang kotor adalah gelasnya". Wuiih, mantapnya argument itu mengingatkan kita pada argumen Ibn Aribi. "Bukan tuhan yang memiliki keburukan tetapi wadah kitalah yang buruk sehingga beningnya air itu tak terlihat" paparnya.
Tuhan selalu berada di dalam jiwa kita, Tuhan pemaaf, bersih dan segala kebaikan lainya. Pikiran dan sifat adalah wadah dari sebuah jiwa. Manusia adalah manifestasi dari Tuhan dan karena itu manusia satu dalam jiwa. "Mahuw al insan?, Al insan Hayawanun nathiq", manusia adalah makhluk yang berpikir. Pernahkah kita memikirkan ini?
Dalam buku Niels Murdet tentang kebatinan jawa dia menjelaskan bilamana di jawa dikenal istilah "Sepi ing pamrih, rame ing gawe, Mamayu hayuning buwono" yang artinya "Tidak mementingkan diri sendiri, selalu giat bekerja, Menjaga keindahan dunia". Setidaknya kata-kata ini menjadi etika kebatinan yang di rumuskan bersama-sama oleh BKKI (Badan Kongres Kebatinan seluruh Indonesia) di Semarang pada tahun 1955.
Djojodigoeno seorang penafsir dan mistikawan menjelaskan jika kebaikan itu tidak lain akibat dari sikap 'sepi ing pamrih'. Kondisi di dunia bisa menjadi baik karena sikap ini karena manusia mempunyai sikap yang benar menurutnya. Dengan tidak mementingkan diri, manusia akan mampu mengamalkan Ar-rahman dan Ar-rohim "pengasih dan penyayang".
Setelahnya adalah "rame ing gawe", menurut Sosrosudigdo "rame ing gawe" berarti "bekerja sepenuh hati untuk kepentingan umum". Implikasinya sama dengan tidak mementingkan diri sendiri tetapi dalam konteks yang luas. Setelah semuanya barulah "Mamayu Hanung buwono" atau yang menurut De Jong "menghiasi dunia"
Bukan manusia bila tak lelah bertanya, bukan manusia pula bila iya tak penasaran. Muncul kembali di benaknya sebuah ayat "Kebaikan itu adalah aku sedangkan keburukan itu adalah kamu". Menurutnya ini tidak sesuai dengan Mohammad Nor bila Kita ada manifestasi dari Tuhan. Dengan santainya "Aku memberikanmu cahaya (ilmu adalah cahaya) tetapi mengapa engkau menutup pintumu" balasnya, memang luar biasa sekali Dr lulusan Iran ini.
Semangat Kaum Muda (Will)
Oleh : Bakhrul Amal MS
Kaum muda adalah senjata amunisi yang paling ampuh dalam membangun suatu negara atau daerah menuju perubahan yang lebih baik. Tetapi akhir-akhir ini peranan pemuda itu mulai hilang dengan hadirnya era yang di sebut globalisasi dan cenderung kapitalis. Namun artian hilang dalam arti bukan tidak ada tetapi dalam artian “zero but not empty”, ada tetapi tidak bisa menempatkan posisinya dengan baik.
Pemuda dalam masa kemerdekaan tentunya memiliki tempat yang begitu istimewa bagi seorang Soekarno dimana Soekarno berkata “berikan aku sepuluh anak muda maka akan ku taklukan dunia”. Jargon yang di lontarkan Sokarno pada saat itu bukanlah tidak beralasan tetapi sangatlah memiliki arti filosofi tersendiri. Dimana anak muda masih memiliki tenaga, otak yang fresh dan kekuatan yang dalam harapanya bisa ia bawa untuk merubah dunia.
Kata ‘berikanlah’ itu adalah sebuah kata harapan, keinginan atau kasarnya berharap di beri. Anak muda yang Soekarno harapkan adalah anak muda yang siap ‘menaklukan dunia’, dia memerlukan seribu orang tua untuk mencabut gunung semeru tetapi hanya perlu sepuluh anak muda untuk menaklukan dunia. Kata-kata ini agaknya kurang di perhatikan bahkan di renungkan filosofinya oleh anak-anak muda sekarang.
Pergaulan anak muda kita dari dulu hingga sekarang, terdiri oleh klassen atau strata sosial, yakni strata sosial dari tinggi, tengah dan rendah atau yang biasa kita kenal dengan istilah proletar dan borjuis. Di dalam bukunya Das Kapital Karl Marx berpandangan, adanya kasta-kasta itulah yang pada akhirnya menimbulkan politik, Agama dan adat. Selain itu Marx beranggapan bahwa sejarah dari semua bangsa adalah perebutan eksistensi antara kasta rendah dan tinggi yang saling ‘membunuh’ antara yang menginjak dan terinjak.
Dalam sejarah bangsa Indonesia perbandingan klassen itu banyak menimbulkan cerita perjuangan mendobrak strata sosial, seperti kisah keberanian Ken Arok, ketulusan Jaka Tingkir hingga kedermawanan Sunan Kalijaga. Mereka adalah tokoh yang mencoba untuk meratakan kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya yang akhirnya menjadi rakyatnya. Pembagian kebahagiaan itu di lakukan dengan cara mencuri hartawan yang lalu menempatkan mereka menjadi dermawan bagi kaum kelas bawah karena harta yang mereka dapatkan akhirnya di bagi-bagikan bagi mereka yang tidak mampu pada masanya.
Jika kita perhatikan Ken Arok, Jaka Tingkir dan Sunan Kalijaga melakukan tindakan ‘Zorro’nya ketika mereka menginjak masa muda atau sebelum menjadi orang yang benar-benar bijaksana dalam memahami kehidupan. Mereka pada saat itu melakukanya tanpa rasa bersalah kecewa ataupun menyesal. Tetapi itulah semangat kaum muda, kaum yang menjunjung tinggi idealism dimana kebaikan dan kejahatan masih menjadi sorotan yang penting di dalam hatinya. Apapun yang mereka lakukan adalah untuk kepuasan dan kebenaran tanpa memikirkan esensi kebaikan. Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa “amar ma’ruf nahi munkar dalam pengaplikasianya untuk mengajak ma’ruf haruslah dengan cara yang ma’ruf juga, bukan dengan munkar”.
Masalah klassen pula yang membawa rakyat Indonesia terbawa oleh budaya suatu bangsa yang menyiksa Indonesia selama 350 tahun, tidak lain adalah Belanda. Budaya yang mereka bawa yaitu budaya yang bersifat demogogisch, ialah sifat berdalih, sifat yang suka mempertentangkan permasalahan-permasalahan kecil dan cenderung melupakan pokok permasalahan yang besar. Fakta itu bisa di lihat pada tahun 1940 negara sekecil Belanda memiliki partai politik sebanyak lima puluh dua. Coba perhatikan dan bandingkan dengan Indonesia dewasa ini tentunya tidak berbeda bukan.
Memang sangatlah sulit untuk membawa perbedaan pikiran yang sedang dalam transformasi kepada satu cita-cita yang sama yang saling membangun dan tak berubah. Karena itu pekerjaan yang berat ini di harapkan dapat membawa kaum muda seluruh Indonesia pada umumnya dan Cirebon pada khususnya kepada garis-garis perjuangan yang sesuai dan selaras. Perjuangan kaum muda jangalah mudah terpropaganda menjadi tindakan untuk mencari keuntungan, kerusuhan dan mempercayai hal-hal yang bersifat ilusi.
WILL
Dalam bahasa inggris kita mengenal kata ‘will’ yang berarti kamauan, will bila kita kembangkan dapat menjadikan tekun dan bekerja dengan sepenuh hati. Saya mencoba mengambil ‘will’ dalam arti bekerja dengan sepenuh hati karena kemauan.
Kita bisa ambil kisah masa lalu, dahulu rakyat majapahit bercocok tanam, berternak, memahat batu dan membangun daerah siang malam tanpa rasa lelah bahkan tidak memikirkan gaji atau dalam istilah majapahit di sebut genduk. Mungkin bila itu terjadi pada masa-masa ini, orang lain akan menganggapnya sebagai suatu penyiksaan raja terhadap rakyatnya. Tetapi bagi rakyat majapahit itulah yang di sebut dengan semangat ‘will’. Mereka melakukanya dengan ikhlas dan penuh semangat demi kemajuan bangsanya.
Kita juga bisa contohkan ‘will’ itu seperti seorang anak yang hobi bermain game online, siang malam di depan komputer. Mungkin orang lain memandang “orang itu membuang waktu, melakukan hal percuma dan menyiksa diri”. Padahal anak itu melakukanya dengan ‘will’, dengan senang hati dan penuh kebahagiaan tanpa kesengsaraan sedikitpun.
Tony Buzan dalam bukunya Gunakan Kepala Anda pernah mengabadikan seorang bernama Edward Hughes. Seorang siswa dengan prestasi minim, tidak memiliki kelebihan dalam pelajaran apapun pada tahun 1982 dan pemegang tetap nilai C dan B. Hughes seperti anak muda pada umumnya yang memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di tempat terbaik dan dia bermipi dapat melanjutkan study ke Cambridge University.
Dia mencoba dan terus berusaha melakukan yang terbaik karena dia sadar apabila nilainya tetap seperti ini, dia tidak mempunyai peluang menuju Cambridge University. Akhirnya semangat itu menuntunya kepada buku Gunakan Kepala Anda yang di berikan ayahnya kepadanya. Buku itu telah memberikan semangat ‘will’ kedalam hidupnya dan membangkitkan kembali keinginanya. Tanpa lelah dia membaca dan belajar siang dan malam.
Kebangkitan Hughes ini awalnya di ragukan oleh guru-gurunya, apalagi dia tidak hanya ingin mengikuti ujian menuju
Cambridge tetapi dia juga ingin menulis makalah untuk mendapatkan beasiswa. Hughes terus berjanji dan meyakinkan keraguan guru-gurunya yang bahkan mengatakan padanya “Jangan maca-macam! Kamu mungkin dapat memperoleh nilai B, tetapi peluangmu lebih besar kea rah nilai C”.
Akhirnya Hughes pada waktu yang telah di tentukan Hughes mengikuti empat macam ujian: Geografi, makalah Beasiswa Geografi, Studi Bisnis dan Sejarah. Secara mengejutkan seorang siswa yang memiliki predikat buruk dan sangat di ragukan guru-gurunya justru mendapatkan nilai terbaik. Hughes lulus tes beasiswa dengan mengantongi keseluruhan nilai A, peringkat siswa top dan berhak mendapat beasiswa menuju Cambridge University.
Kisah Edward Hughes ini setidaknya memiliki dua hikmah yang dapat kita ambil. Pertama optimis, sikap optimis akan sebuah keberhasilan akan membawa kita kepada hasil yang memuaskan. Kedua kemauan atau ‘will’, dengan kemauan Hughes dapat merubah hal yang tidak mungkin (siswa dengan predikat nilai C dan B mengikuti tes beasiswa) menjadi mungkin (lulus dengan pringkat siswa terbaik dan nilai A).
Bayangkan bila semangat ‘will’ dan kisah Edward Hughes ini kita transfers ke zaman globalisasi yang menghamba kapitalis saat ini untuk membangun bangsa. Bukan tidak mungkin pada akhirnya anak muda mampu bangkit, berjuang dan berkarya tanpa lagi berpikir pada uang. Berjuang secara ‘will’ demi kebaikan bersama dan kemajuan bangsa atau dalam lingkup kecil daerah yang selalu di inginkan foundingfathers bangsa ini.
Dan saya berpikir sudah saatnya anak muda saat ini mengambil peranya dalam membangun daerahnya masing-masing, berjuang itu tidak hanya dengan melakukan tuntutan. Tetapi ada banyak cara untuk berjuang contohnya dengan disiplin kerja atau arbeiddiscipline, karya dan perjuangan yang lebih nyata.
Dengan semangat ‘will’ tentunya kita berharap supaya mendapat kepercayaan dari manapun, bahwa kita betul-betul memiliki semangat perjuangan. Itulah cara yang harus kita lakukan agat kita dapat berkomonukasi dengan baik dengan siapapun dan bisa mengajak siapapun kepada aksi yang teratur sesuai ide kita.
Kita harus cerdas membaca situasi seperti apa yang di lakukan Sunan Gunung Djati, kita tidak bisa mengadakan atau memaksakan kehendak untuk menentukan sikap sebelum semua tanda-tanda itu keluar. Kita perlu ketenangan, ‘will’ dan pengetahuan luas tentang ekonomi, politik serta pengetahuan yang dalam sekali atas psikologi atau tabiat masyarakat kita. Agar peranan pemuda ini dapat terasa kembali secara positif dan menyeluruh di masyarakat maupun birokrasi
Kaum muda adalah senjata amunisi yang paling ampuh dalam membangun suatu negara atau daerah menuju perubahan yang lebih baik. Tetapi akhir-akhir ini peranan pemuda itu mulai hilang dengan hadirnya era yang di sebut globalisasi dan cenderung kapitalis. Namun artian hilang dalam arti bukan tidak ada tetapi dalam artian “zero but not empty”, ada tetapi tidak bisa menempatkan posisinya dengan baik.
Pemuda dalam masa kemerdekaan tentunya memiliki tempat yang begitu istimewa bagi seorang Soekarno dimana Soekarno berkata “berikan aku sepuluh anak muda maka akan ku taklukan dunia”. Jargon yang di lontarkan Sokarno pada saat itu bukanlah tidak beralasan tetapi sangatlah memiliki arti filosofi tersendiri. Dimana anak muda masih memiliki tenaga, otak yang fresh dan kekuatan yang dalam harapanya bisa ia bawa untuk merubah dunia.
Kata ‘berikanlah’ itu adalah sebuah kata harapan, keinginan atau kasarnya berharap di beri. Anak muda yang Soekarno harapkan adalah anak muda yang siap ‘menaklukan dunia’, dia memerlukan seribu orang tua untuk mencabut gunung semeru tetapi hanya perlu sepuluh anak muda untuk menaklukan dunia. Kata-kata ini agaknya kurang di perhatikan bahkan di renungkan filosofinya oleh anak-anak muda sekarang.
Pergaulan anak muda kita dari dulu hingga sekarang, terdiri oleh klassen atau strata sosial, yakni strata sosial dari tinggi, tengah dan rendah atau yang biasa kita kenal dengan istilah proletar dan borjuis. Di dalam bukunya Das Kapital Karl Marx berpandangan, adanya kasta-kasta itulah yang pada akhirnya menimbulkan politik, Agama dan adat. Selain itu Marx beranggapan bahwa sejarah dari semua bangsa adalah perebutan eksistensi antara kasta rendah dan tinggi yang saling ‘membunuh’ antara yang menginjak dan terinjak.
Dalam sejarah bangsa Indonesia perbandingan klassen itu banyak menimbulkan cerita perjuangan mendobrak strata sosial, seperti kisah keberanian Ken Arok, ketulusan Jaka Tingkir hingga kedermawanan Sunan Kalijaga. Mereka adalah tokoh yang mencoba untuk meratakan kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya yang akhirnya menjadi rakyatnya. Pembagian kebahagiaan itu di lakukan dengan cara mencuri hartawan yang lalu menempatkan mereka menjadi dermawan bagi kaum kelas bawah karena harta yang mereka dapatkan akhirnya di bagi-bagikan bagi mereka yang tidak mampu pada masanya.
Jika kita perhatikan Ken Arok, Jaka Tingkir dan Sunan Kalijaga melakukan tindakan ‘Zorro’nya ketika mereka menginjak masa muda atau sebelum menjadi orang yang benar-benar bijaksana dalam memahami kehidupan. Mereka pada saat itu melakukanya tanpa rasa bersalah kecewa ataupun menyesal. Tetapi itulah semangat kaum muda, kaum yang menjunjung tinggi idealism dimana kebaikan dan kejahatan masih menjadi sorotan yang penting di dalam hatinya. Apapun yang mereka lakukan adalah untuk kepuasan dan kebenaran tanpa memikirkan esensi kebaikan. Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa “amar ma’ruf nahi munkar dalam pengaplikasianya untuk mengajak ma’ruf haruslah dengan cara yang ma’ruf juga, bukan dengan munkar”.
Masalah klassen pula yang membawa rakyat Indonesia terbawa oleh budaya suatu bangsa yang menyiksa Indonesia selama 350 tahun, tidak lain adalah Belanda. Budaya yang mereka bawa yaitu budaya yang bersifat demogogisch, ialah sifat berdalih, sifat yang suka mempertentangkan permasalahan-permasalahan kecil dan cenderung melupakan pokok permasalahan yang besar. Fakta itu bisa di lihat pada tahun 1940 negara sekecil Belanda memiliki partai politik sebanyak lima puluh dua. Coba perhatikan dan bandingkan dengan Indonesia dewasa ini tentunya tidak berbeda bukan.
Memang sangatlah sulit untuk membawa perbedaan pikiran yang sedang dalam transformasi kepada satu cita-cita yang sama yang saling membangun dan tak berubah. Karena itu pekerjaan yang berat ini di harapkan dapat membawa kaum muda seluruh Indonesia pada umumnya dan Cirebon pada khususnya kepada garis-garis perjuangan yang sesuai dan selaras. Perjuangan kaum muda jangalah mudah terpropaganda menjadi tindakan untuk mencari keuntungan, kerusuhan dan mempercayai hal-hal yang bersifat ilusi.
WILL
Dalam bahasa inggris kita mengenal kata ‘will’ yang berarti kamauan, will bila kita kembangkan dapat menjadikan tekun dan bekerja dengan sepenuh hati. Saya mencoba mengambil ‘will’ dalam arti bekerja dengan sepenuh hati karena kemauan.
Kita bisa ambil kisah masa lalu, dahulu rakyat majapahit bercocok tanam, berternak, memahat batu dan membangun daerah siang malam tanpa rasa lelah bahkan tidak memikirkan gaji atau dalam istilah majapahit di sebut genduk. Mungkin bila itu terjadi pada masa-masa ini, orang lain akan menganggapnya sebagai suatu penyiksaan raja terhadap rakyatnya. Tetapi bagi rakyat majapahit itulah yang di sebut dengan semangat ‘will’. Mereka melakukanya dengan ikhlas dan penuh semangat demi kemajuan bangsanya.
Kita juga bisa contohkan ‘will’ itu seperti seorang anak yang hobi bermain game online, siang malam di depan komputer. Mungkin orang lain memandang “orang itu membuang waktu, melakukan hal percuma dan menyiksa diri”. Padahal anak itu melakukanya dengan ‘will’, dengan senang hati dan penuh kebahagiaan tanpa kesengsaraan sedikitpun.
Tony Buzan dalam bukunya Gunakan Kepala Anda pernah mengabadikan seorang bernama Edward Hughes. Seorang siswa dengan prestasi minim, tidak memiliki kelebihan dalam pelajaran apapun pada tahun 1982 dan pemegang tetap nilai C dan B. Hughes seperti anak muda pada umumnya yang memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di tempat terbaik dan dia bermipi dapat melanjutkan study ke Cambridge University.
Dia mencoba dan terus berusaha melakukan yang terbaik karena dia sadar apabila nilainya tetap seperti ini, dia tidak mempunyai peluang menuju Cambridge University. Akhirnya semangat itu menuntunya kepada buku Gunakan Kepala Anda yang di berikan ayahnya kepadanya. Buku itu telah memberikan semangat ‘will’ kedalam hidupnya dan membangkitkan kembali keinginanya. Tanpa lelah dia membaca dan belajar siang dan malam.
Kebangkitan Hughes ini awalnya di ragukan oleh guru-gurunya, apalagi dia tidak hanya ingin mengikuti ujian menuju
Cambridge tetapi dia juga ingin menulis makalah untuk mendapatkan beasiswa. Hughes terus berjanji dan meyakinkan keraguan guru-gurunya yang bahkan mengatakan padanya “Jangan maca-macam! Kamu mungkin dapat memperoleh nilai B, tetapi peluangmu lebih besar kea rah nilai C”.
Akhirnya Hughes pada waktu yang telah di tentukan Hughes mengikuti empat macam ujian: Geografi, makalah Beasiswa Geografi, Studi Bisnis dan Sejarah. Secara mengejutkan seorang siswa yang memiliki predikat buruk dan sangat di ragukan guru-gurunya justru mendapatkan nilai terbaik. Hughes lulus tes beasiswa dengan mengantongi keseluruhan nilai A, peringkat siswa top dan berhak mendapat beasiswa menuju Cambridge University.
Kisah Edward Hughes ini setidaknya memiliki dua hikmah yang dapat kita ambil. Pertama optimis, sikap optimis akan sebuah keberhasilan akan membawa kita kepada hasil yang memuaskan. Kedua kemauan atau ‘will’, dengan kemauan Hughes dapat merubah hal yang tidak mungkin (siswa dengan predikat nilai C dan B mengikuti tes beasiswa) menjadi mungkin (lulus dengan pringkat siswa terbaik dan nilai A).
Bayangkan bila semangat ‘will’ dan kisah Edward Hughes ini kita transfers ke zaman globalisasi yang menghamba kapitalis saat ini untuk membangun bangsa. Bukan tidak mungkin pada akhirnya anak muda mampu bangkit, berjuang dan berkarya tanpa lagi berpikir pada uang. Berjuang secara ‘will’ demi kebaikan bersama dan kemajuan bangsa atau dalam lingkup kecil daerah yang selalu di inginkan foundingfathers bangsa ini.
Dan saya berpikir sudah saatnya anak muda saat ini mengambil peranya dalam membangun daerahnya masing-masing, berjuang itu tidak hanya dengan melakukan tuntutan. Tetapi ada banyak cara untuk berjuang contohnya dengan disiplin kerja atau arbeiddiscipline, karya dan perjuangan yang lebih nyata.
Dengan semangat ‘will’ tentunya kita berharap supaya mendapat kepercayaan dari manapun, bahwa kita betul-betul memiliki semangat perjuangan. Itulah cara yang harus kita lakukan agat kita dapat berkomonukasi dengan baik dengan siapapun dan bisa mengajak siapapun kepada aksi yang teratur sesuai ide kita.
Kita harus cerdas membaca situasi seperti apa yang di lakukan Sunan Gunung Djati, kita tidak bisa mengadakan atau memaksakan kehendak untuk menentukan sikap sebelum semua tanda-tanda itu keluar. Kita perlu ketenangan, ‘will’ dan pengetahuan luas tentang ekonomi, politik serta pengetahuan yang dalam sekali atas psikologi atau tabiat masyarakat kita. Agar peranan pemuda ini dapat terasa kembali secara positif dan menyeluruh di masyarakat maupun birokrasi
Brutal
Brutal, mungkin kata itulah yang paling pantas melukiskan bagaimana
kejadian malam itu. Segrombolan pemuda yang umurnya tidak lebih tua dari
perang teluk satu di Irak, berkumpul. Mereka kala itu menghabiskan
malam layaknya koboi Amerika. Senang memang, tidak ada beban dan
pikiran, tidak ada tanggung jawab ataupun kesedihan dan semua di lalui
dengan santai.
Kemana? Bagaimana? Dua kata tanya yang memiliki konotasi berkaitan. Kemana itu seolah melukiskan tujuan dan bagaimana menunjukan apa yang harus kita lakukan. Ya, hidup ini adalah tentang kemana lalu bagaimana, selebihnya adalah ulasan tentang kapan, apa, mengapa dan dimana. Dik Doang, pria berkacamata bundar yang dulu sering tampil di layar kaca kini menjadi duta pendidikan. Dia saat ini gencar mengampanyekan wajib belajar 9 tahun, dalam sebuah kesempatan dia pernah berujar "masa SMA adalah masa 'apa kata teman'.
Masa-masa 'apa kata teman' tentulah masa-masa sulit bagi sebagian orang tua untuk memasukan wejanganya. Tetapi tidak begitu sulit juga bagi sebagian lainya yang sudah mengantisipasi. Dimana dalam periode itu orang tua menjadi prioritas kedua setelah teman. Fase 'Apa kata teman' menuntun kelinci-kelinci kecil menuju jawaban dari pertanyaan 'kemana?'. Atau dalam bahasa sosiologinya adalah proses pembentukan karater.
Ternyata rombongan si boy-si boy tadi memilih memutari kota setelah merasa badanya ringan. John Kei adalah panutan yang mungkin bagi sebagian lainya bahkan di anggap tokoh. John Kei adalah ketua perkumpulan pemuda asal pulai kei, maluku. Tapi bukan itu, John Kei lebih di kenal sebagai kepala Gang Ster. Track Record nya sebagai raja kriminal tidak di ragukan, bahkan yang terbaru adalah nyawa bos sanex konon lenyap oleh kesadisanya.
Boy-boy muda belum juga menemukan makananya malam itu. Mereka melaju motornya berirama hingga akhirnya gerombolan pemuda yang entah tidak di kenal melintas di hadapanya. "Ini bang kita habisi" teriak remaja yang seharusnya besok masuk sekolah. "Putar-putar" seorang pemimpin paling depan memberi komando dan berbalik arah mengejar makananya yang tadi melintas. Laju motor di percepat di ikuti boy-boy muda di belakangnya.
Bukanlah kebetulan, bukan pula sesuatu yang di rencanakan tetapi sudah menjadi suatu kewajiban, manakala melakukan perjalanan malam haruslah berhati-hati. Mungkin itulah yang di rasakan kumpulan pemuda yang tidak lebih banyak dari boy-boy muda tadi. Mereka merasa terancam dan pilihanya sederhana, melaju motornya dengan kencang atau menepi. Akhirnya mereka memilih melaju motornya dengan harapan bisa lari dari boy-boy muda. "Kirik (anjing), berhenti" teriak pemuda di barisan ketiga sambil mengacungkan senjata khas negeri sakura.
Ternyata boy-boy muda lebih tangguh, dengan kecepatan super akhirnya jarakpun menipis hingga sekitar 10 meter dari motor pemuda-pemuda lugu di depanya. Kalang kabut, khawatir dan merasa nyawanya tidak lagi tertolong pemuda-pemuda 'lugu' memilih menepi menghindari keganasan boy-boy muda. Tetapi apa mau dikata, tempat yang menjadi pilihan untuk menepi salah. Mereka memilih berhenti di toserba yang tak bersalah, memilih berhenti di toserba yang perizinanya mulai sulit saat ini.
Boy-boy muda yang kecewa karena kehilangan makananya kesal. Mereka murka dan memecahkan jendala kaca yang menjadi tameng toserba itu. "Prang, prang, prang" terdengar suara kaca-kaca pecah oleh hantaman batu. Warga sekitar sontak berlarian menuju suara pecahanan kaca yang terdengar nyaring. Melihat hal itu boy-boy muda akhirnya memilih berpisah di kegelapan malam dengan perasaan puas.
Malam itu begitu indah bagi boy-boy muda tetapi begitu mencekam bagi pemuda-pemuda tanggung lainya yang memilih aman. Tetapi pilu', kisah boy-boy muda itupun ternyata tidaklah jauh beda dari tokoh panutanya. Mereka akhirnya harus berususan dengan Polisi yang dengan cepat mengumpulkan informasi. Tanpa diduga, siang harinya boy-boy muda di giring menuju pengasingan dan dunia bebas. (Cirebon 23 Januari 2012, 00.30)
Kemana? Bagaimana? Dua kata tanya yang memiliki konotasi berkaitan. Kemana itu seolah melukiskan tujuan dan bagaimana menunjukan apa yang harus kita lakukan. Ya, hidup ini adalah tentang kemana lalu bagaimana, selebihnya adalah ulasan tentang kapan, apa, mengapa dan dimana. Dik Doang, pria berkacamata bundar yang dulu sering tampil di layar kaca kini menjadi duta pendidikan. Dia saat ini gencar mengampanyekan wajib belajar 9 tahun, dalam sebuah kesempatan dia pernah berujar "masa SMA adalah masa 'apa kata teman'.
Masa-masa 'apa kata teman' tentulah masa-masa sulit bagi sebagian orang tua untuk memasukan wejanganya. Tetapi tidak begitu sulit juga bagi sebagian lainya yang sudah mengantisipasi. Dimana dalam periode itu orang tua menjadi prioritas kedua setelah teman. Fase 'Apa kata teman' menuntun kelinci-kelinci kecil menuju jawaban dari pertanyaan 'kemana?'. Atau dalam bahasa sosiologinya adalah proses pembentukan karater.
Ternyata rombongan si boy-si boy tadi memilih memutari kota setelah merasa badanya ringan. John Kei adalah panutan yang mungkin bagi sebagian lainya bahkan di anggap tokoh. John Kei adalah ketua perkumpulan pemuda asal pulai kei, maluku. Tapi bukan itu, John Kei lebih di kenal sebagai kepala Gang Ster. Track Record nya sebagai raja kriminal tidak di ragukan, bahkan yang terbaru adalah nyawa bos sanex konon lenyap oleh kesadisanya.
Boy-boy muda belum juga menemukan makananya malam itu. Mereka melaju motornya berirama hingga akhirnya gerombolan pemuda yang entah tidak di kenal melintas di hadapanya. "Ini bang kita habisi" teriak remaja yang seharusnya besok masuk sekolah. "Putar-putar" seorang pemimpin paling depan memberi komando dan berbalik arah mengejar makananya yang tadi melintas. Laju motor di percepat di ikuti boy-boy muda di belakangnya.
Bukanlah kebetulan, bukan pula sesuatu yang di rencanakan tetapi sudah menjadi suatu kewajiban, manakala melakukan perjalanan malam haruslah berhati-hati. Mungkin itulah yang di rasakan kumpulan pemuda yang tidak lebih banyak dari boy-boy muda tadi. Mereka merasa terancam dan pilihanya sederhana, melaju motornya dengan kencang atau menepi. Akhirnya mereka memilih melaju motornya dengan harapan bisa lari dari boy-boy muda. "Kirik (anjing), berhenti" teriak pemuda di barisan ketiga sambil mengacungkan senjata khas negeri sakura.
Ternyata boy-boy muda lebih tangguh, dengan kecepatan super akhirnya jarakpun menipis hingga sekitar 10 meter dari motor pemuda-pemuda lugu di depanya. Kalang kabut, khawatir dan merasa nyawanya tidak lagi tertolong pemuda-pemuda 'lugu' memilih menepi menghindari keganasan boy-boy muda. Tetapi apa mau dikata, tempat yang menjadi pilihan untuk menepi salah. Mereka memilih berhenti di toserba yang tak bersalah, memilih berhenti di toserba yang perizinanya mulai sulit saat ini.
Boy-boy muda yang kecewa karena kehilangan makananya kesal. Mereka murka dan memecahkan jendala kaca yang menjadi tameng toserba itu. "Prang, prang, prang" terdengar suara kaca-kaca pecah oleh hantaman batu. Warga sekitar sontak berlarian menuju suara pecahanan kaca yang terdengar nyaring. Melihat hal itu boy-boy muda akhirnya memilih berpisah di kegelapan malam dengan perasaan puas.
Malam itu begitu indah bagi boy-boy muda tetapi begitu mencekam bagi pemuda-pemuda tanggung lainya yang memilih aman. Tetapi pilu', kisah boy-boy muda itupun ternyata tidaklah jauh beda dari tokoh panutanya. Mereka akhirnya harus berususan dengan Polisi yang dengan cepat mengumpulkan informasi. Tanpa diduga, siang harinya boy-boy muda di giring menuju pengasingan dan dunia bebas. (Cirebon 23 Januari 2012, 00.30)
Agresi
Sebundel peluru melingkar di tubuhnya, tapi tidak menyurutkanya untuk
tetap berjalan dengan baju yang robek hingga terlihat dadanya. Menyusuri
hutan Vietnam sama halnya dengan memberi makan singa yang lapar. Tetapi
itulah yang harus dilakukanya, karena pilihanya hanya satu saat itu
mati dalam keadaan yang luar biasa. Matanya tak bisa diam, setiap
desiran anginpun dia pasti menoleh. Menyiksa dan sungguh menaruh seribu
kekhawatiran.
Kawan seperjuanganya telah tumbang di medan perang, terpaksa misi berat itu harus di laluinya sendiri. Dalam perjalananya, ratusan bahkan mungkin ribuan geriliyawan anti penjajahan telah dia bunuh. Musuhnya begitu lemah tetapi ia begitu kuat, tida adil, ya, tetapi itulah namanya skenario. Laga aksi itu di beri judul 'Rambo', dengan Silvestre Stallone sebagai aktor utamanya.
Menegangkan, mengucurkan keringat, umpatan bahkan decak kagum akan perjuangan. Mungkin hanya sedikit sekali yang membayangkan bila sesungguhnya itu benar-benar terjadi. Sejarawan mungkin merealitakan kisah 'Rambo' dengan seorang Tan Malaka, meskipun kisahnya tak begitu mirip tetapi keteganya tak kalah menarik. Atau mungkin Che Guevara dalam kisah peperanganya di Bolivia.
Tetapi berbeda lagi dari agamawan. Agamawan memiliki cara pandang yang sedikit kekuning-kuningan. Dalam kaidah arti warna mungkin kuning adalah yang paling tepat. Kuning mengartikan filosofi, pendalaman dan perenungan yang serius. Agamawan berpendapat seharusnya seperti itulah kita hidup, berjuang, berusaha, syukur akan takdir dan janganlah lepas dari doa. Toh 'Rambo' akhirnya pulang dengan kesenangan dan menjadi tokoh kepahlawanan sehabis cobaan.
Aku pernah bertemu dengan seorang pemain musik yang hebat di sebuah acara pengajian. Dia bertutur 'Jalanilah hidup ini apa adanya, semuanya sudah ada yang merencanakan'. Kata-katanya mungkin sederhana, bagi sebagian orang jalanilah hidup apa adanya mungkin di kiaskan dengan leha-leha. Tak terkecuali aku, 'Apa adanya dengan segenap tenaga dan kemampuan yang tuhan berikan' dia menambahkan dengan sedikit penekanan.
Dari situ aku mulai bisa sedikit menangkap maksud 'apa adanya'. Apa adanya yang dia getarkan adalah segenap kemampuan, kekuatan dan pikiran yang kita miliki. Itulah apa adanya kita, 'Bekerjalah sampai engkau benar-benar merasa lelah, bahagialah sampai engkau benar-benar merasa gembira dan berjuanglah sampai engkau benar-benar merasa hidupmu berarti'.
'Ketika Lenin menciptakan Soviet, adakah masyrarakat Sovyet yang sudah cerdas' cetus pedas patriot kecil bernama Bung Karno. Kata-kata mengglegar menggema dunia dan kata-kata itulah yang harus menjadi pecutan bagi kita. Untuk menjadi berarti berjuanglah dan bertarunglah seperti satria yang gagah. Cerdas, pintar dan berhasil bahkan stempel buruk hanyalah julukan bukan sebuah tujuan, tujuan kita adalah 'apa adanya', 'apa adanya' tanpa pangkal ujung.
Kawan seperjuanganya telah tumbang di medan perang, terpaksa misi berat itu harus di laluinya sendiri. Dalam perjalananya, ratusan bahkan mungkin ribuan geriliyawan anti penjajahan telah dia bunuh. Musuhnya begitu lemah tetapi ia begitu kuat, tida adil, ya, tetapi itulah namanya skenario. Laga aksi itu di beri judul 'Rambo', dengan Silvestre Stallone sebagai aktor utamanya.
Menegangkan, mengucurkan keringat, umpatan bahkan decak kagum akan perjuangan. Mungkin hanya sedikit sekali yang membayangkan bila sesungguhnya itu benar-benar terjadi. Sejarawan mungkin merealitakan kisah 'Rambo' dengan seorang Tan Malaka, meskipun kisahnya tak begitu mirip tetapi keteganya tak kalah menarik. Atau mungkin Che Guevara dalam kisah peperanganya di Bolivia.
Tetapi berbeda lagi dari agamawan. Agamawan memiliki cara pandang yang sedikit kekuning-kuningan. Dalam kaidah arti warna mungkin kuning adalah yang paling tepat. Kuning mengartikan filosofi, pendalaman dan perenungan yang serius. Agamawan berpendapat seharusnya seperti itulah kita hidup, berjuang, berusaha, syukur akan takdir dan janganlah lepas dari doa. Toh 'Rambo' akhirnya pulang dengan kesenangan dan menjadi tokoh kepahlawanan sehabis cobaan.
Aku pernah bertemu dengan seorang pemain musik yang hebat di sebuah acara pengajian. Dia bertutur 'Jalanilah hidup ini apa adanya, semuanya sudah ada yang merencanakan'. Kata-katanya mungkin sederhana, bagi sebagian orang jalanilah hidup apa adanya mungkin di kiaskan dengan leha-leha. Tak terkecuali aku, 'Apa adanya dengan segenap tenaga dan kemampuan yang tuhan berikan' dia menambahkan dengan sedikit penekanan.
Dari situ aku mulai bisa sedikit menangkap maksud 'apa adanya'. Apa adanya yang dia getarkan adalah segenap kemampuan, kekuatan dan pikiran yang kita miliki. Itulah apa adanya kita, 'Bekerjalah sampai engkau benar-benar merasa lelah, bahagialah sampai engkau benar-benar merasa gembira dan berjuanglah sampai engkau benar-benar merasa hidupmu berarti'.
'Ketika Lenin menciptakan Soviet, adakah masyrarakat Sovyet yang sudah cerdas' cetus pedas patriot kecil bernama Bung Karno. Kata-kata mengglegar menggema dunia dan kata-kata itulah yang harus menjadi pecutan bagi kita. Untuk menjadi berarti berjuanglah dan bertarunglah seperti satria yang gagah. Cerdas, pintar dan berhasil bahkan stempel buruk hanyalah julukan bukan sebuah tujuan, tujuan kita adalah 'apa adanya', 'apa adanya' tanpa pangkal ujung.
Jumat, 24 Februari 2012
Kemana Pancasila?
Tanggal 4 Maret 1933 mungkin akan selalu di kenang oleh Franklim D.
Roosevelt, puluhan manusia menunggu pidato pelantikanya. Dalam
kesempatan itu FDR mengatakan 'bangsa yang tidak punya visi akan
musnah'. Visi menjadi suatu bagian penting bagi eksistensi suatu bangsa
bagi roosevelt. Diapun melanjutkan 'Tugas utama kita adalah membuat
warga bekerja. Ini bukanlah yang tak teratasi kalau kita mau
menghadapinya dengan bijaksana dan berani'.
Untuk menciptakan suatu bangsa yang kuat dan tetap eksis tentulah di perlukan satu kesamaan visi, ideologi dan kepercayaan pada pemimpin. Roosevelt menekankan bilamana cara mengatasinya adalah dengan bijaksana dan berani. Bijaksana dalam hal tenggang rasa dan membentuk keharmonisan dan berani dalam bertindak, tidak temprament tidak pula 'mlempem'.
Pada dasarnya semua negara di dunia pasti memiliki satu ideologi yang menjadi dasar negaranya. Tak terkecuali di Indonesia yang memilih Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup. Menurut bahasa sendiri Pancasila itu terdiri dari dua kata. Yang pertama itu Panca yang berarti lima dan yang kedua itu sila yang artinya adalah prinsip. Dua bahasa itu di ambil dari bahasa sansekerta atau bahasa nenek moyang Indonesia dahulu.
Secara arti telah kita temukan bahwa Pancasila itu adalah Lima Prinsip Negara. Ketika kita berbicara prinsip berati kita telah mengamini bahwa kelima atau lima isi itu adalah kebenaran yang menjadi pokok berfikir, bertindak dsb. Secara garis besar berarti tindakan, kebijakan bahkan peraturan serta keinganan negara haruslah sesuai dengan Pancasila. Mengingat kelima itu adalah sebuah prinsip atau kebenaran yang menjadi pokok berfikir.
Pancasila sendiri berisi 1.Ketuhanan yang maha esa 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3.Persatuan Indonesia 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan 5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari kelima sila tersebut tidak dapat di pungkiri bahwa Pancasila sangat memiliki prinsip-prinsip yang begitu istimewa.
Dilihat dari kemunculanya, sejarah tentunya memberikan pengaruh yang besar terhadap lahirnya Pancasila. Seperti apa yang dikatakan Soekarno bahwa Pancasila di ambil bukan hanya dari sejarah masa kini tetapi juga dari sejarah terdahulu Indonesia (pada saat zaman kerajaan dan atau sebelumnya). Artinya Pancasila benar-benar digali dengan harapan sesuai untuk menstabilisasikan kehidupan berbangsa Indonesia.
Dengan alasan itu tentunya kematangan dan tujuanya sudahlah jelas untuk menjadi tiang atau weltenschaung bangsa Indonesia. Tetapi ternyata pengaplikasian dan sejarah perjalanan bangsa Indonesia ini Pancasila jarang sekali di gunakan. Aksi lempar batu, dominasi mayoritas, kemiskinan serta diskriminasi jelaslah pencerminan Pancasila yang tidak efektif.
Permasalahan penerapan dan efektifitas aura Pancasila tentulah tergantung bagaimana pemimpin menjalankanya. Pancasila tak akan di rasakan tanpa keberanian dan keseriusan penerepan. Lunturnya spirit Pancasila dalam masa sulit saat ini adalah tidak adanya konsistensi dan keberanian yang sedikit demi sedikit akan menimbulkan seperti apa yang Roosevelt katakan 'Bangsa yang akan musnah'. Kemusnahan itu setidaknya telah di tandi dengan munculnya syariatisasi yang notabene arabisasi serta kekacauan demokrasi yang condong westernisasi.
Untuk menciptakan suatu bangsa yang kuat dan tetap eksis tentulah di perlukan satu kesamaan visi, ideologi dan kepercayaan pada pemimpin. Roosevelt menekankan bilamana cara mengatasinya adalah dengan bijaksana dan berani. Bijaksana dalam hal tenggang rasa dan membentuk keharmonisan dan berani dalam bertindak, tidak temprament tidak pula 'mlempem'.
Pada dasarnya semua negara di dunia pasti memiliki satu ideologi yang menjadi dasar negaranya. Tak terkecuali di Indonesia yang memilih Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup. Menurut bahasa sendiri Pancasila itu terdiri dari dua kata. Yang pertama itu Panca yang berarti lima dan yang kedua itu sila yang artinya adalah prinsip. Dua bahasa itu di ambil dari bahasa sansekerta atau bahasa nenek moyang Indonesia dahulu.
Secara arti telah kita temukan bahwa Pancasila itu adalah Lima Prinsip Negara. Ketika kita berbicara prinsip berati kita telah mengamini bahwa kelima atau lima isi itu adalah kebenaran yang menjadi pokok berfikir, bertindak dsb. Secara garis besar berarti tindakan, kebijakan bahkan peraturan serta keinganan negara haruslah sesuai dengan Pancasila. Mengingat kelima itu adalah sebuah prinsip atau kebenaran yang menjadi pokok berfikir.
Pancasila sendiri berisi 1.Ketuhanan yang maha esa 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3.Persatuan Indonesia 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan 5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari kelima sila tersebut tidak dapat di pungkiri bahwa Pancasila sangat memiliki prinsip-prinsip yang begitu istimewa.
Dilihat dari kemunculanya, sejarah tentunya memberikan pengaruh yang besar terhadap lahirnya Pancasila. Seperti apa yang dikatakan Soekarno bahwa Pancasila di ambil bukan hanya dari sejarah masa kini tetapi juga dari sejarah terdahulu Indonesia (pada saat zaman kerajaan dan atau sebelumnya). Artinya Pancasila benar-benar digali dengan harapan sesuai untuk menstabilisasikan kehidupan berbangsa Indonesia.
Dengan alasan itu tentunya kematangan dan tujuanya sudahlah jelas untuk menjadi tiang atau weltenschaung bangsa Indonesia. Tetapi ternyata pengaplikasian dan sejarah perjalanan bangsa Indonesia ini Pancasila jarang sekali di gunakan. Aksi lempar batu, dominasi mayoritas, kemiskinan serta diskriminasi jelaslah pencerminan Pancasila yang tidak efektif.
Permasalahan penerapan dan efektifitas aura Pancasila tentulah tergantung bagaimana pemimpin menjalankanya. Pancasila tak akan di rasakan tanpa keberanian dan keseriusan penerepan. Lunturnya spirit Pancasila dalam masa sulit saat ini adalah tidak adanya konsistensi dan keberanian yang sedikit demi sedikit akan menimbulkan seperti apa yang Roosevelt katakan 'Bangsa yang akan musnah'. Kemusnahan itu setidaknya telah di tandi dengan munculnya syariatisasi yang notabene arabisasi serta kekacauan demokrasi yang condong westernisasi.
Sosialis Hal Kecil
Dengan langkah tegak dan penuh percaya diri pria itu berjalan di hadapan
tentara yang berbaris dengan rapi. Helm hitam dan celana mengembang
seolah menjadi ciri khas pada masa itu. Kejadian itu tertanggal 5 juni
1944 atau dimana ketegangan perang dunia ke dua sedang begitu memuncak.
Hitler yang menjadi tokoh utama menolak menyerah dan berikrar untuk
berjuang sampai akhir.
Suasana begitu tegang dan terlihat semakin sepi, pria itu ternyata memiliki hak di hormati oleh tentara-tentara yang berbaris di depanya. Ketika kondisi semakin kondusif, dia akhirnya mulai berbicara panjang membakar semangat. Dia katakan "Pahlawan sejati adalah orang yang bertempur sekalipun ia takut", kata-kata itu membuat wajah-wajah tentara di hadapanya semakin bersemangat.
Ya, pria tua itu tidak lain adalah Jendran Goerge S.Patton, Jr dan suasana itu terjadi ketika dia Berpidato di depan Pasukan Ketiga Amerika menjelang Hari Peperangan besar. Dengan kebulatan tekadnya untuk berperang diapun menambahkan "Lelaki sejati tidak akan membiarkan rasa takutnya terhadap kematian akan mengalahkan kehormatanya, kewajibanya kepada negara dan sesama manusia".
Pidato itu terkenal begitu fantastis dan bahkan diabadikan sebagai suatu pidato yang berpengaruh. Betapa tidak, kata-kata magis Patton ternyata mampu membuat pasukan Amerika berperang dengan gagah berani membantai musuh-musuhnya. Meski Jepang bahkan Hitlerpun takluk, tetapi kemangan itu ternyata haruslah di bayar mahal dengan kerusakan dan jutaan tangisan korban perang tak berdosa.
Hitler tewas dalam bunker yang terpojok dan tanpa sempat meninggal pesan penting. Sementara Kaisar Hirohito menyerah di Agustus 1945, dalam kesempatanya dia berkata bahwa "Musuh telah mulai menggunakan bom baru yang sangatlah kejam". Dia pun berpesan damai bahwasanya "jika perang di teruskan, maka tidak hanya bangsa Jepang yang hancur tetapi seluruh peradaban manusia akan musnah".
Fakta sejarah ini, cukuplah menjadi pelajaran jikalau peperangan tidak akan menimbulkan kebaikan melaikan hanyalah kerusakan-kerusakan baru. Apapun bentuknya baik dalam bentuk gencatan senjata ataupun tidak. Jika perjuangan itu di tunggani niat busuk dan perasaan benci, justru yang timbul adalah kerusakan. Tahrir Square di Mesir menjadi bukti, niatnya berperang demi revolusi justru menimbulkan kerusakan baru. Ribuan nyawa melayang percuma hanya demi perubahan yang semu.
Lebih parah lagi di Lapangan Benghazi Libya, lapangan yang seolah menjadi saksi bisu awal pergerakan kudeta Khadafi. Terlalu banyaknya aktifis yang 'sangtlah pintar' membuat akhirnya Libya menuju revolusi. Revolusi dari bangsa yang independen dan menghargai hak-haknya menjadi bangsa yang minyaknya di blok-blok oleh Amerika dan Prancis serta bangsa barat yang berkepentingan lainya. Aktifis yang 'sangatlah pintar' itu bahagiakah dengan perjuanganya yang katanya mencetak sejarah baru?
Kembali lagi kebelakang, anak dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu yang lahir pada tanggal 26 Agustus 1910 ternyata mampu memberikan solusi terbaik. Tak lain di adalah Bunda Taresa, seorang Kristen terkenal yang memberikan hatinya kepada rakyat miskin India. Perjuangannya demi kemanusian tidak di ragukan lagi, dia selalu berpandangan bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan manusia untuk berjuang sendirian.
Karena konsistensinya terhadap kemanusiaan, kesejahteraan dan perdamaian akhirnya dia di anugrahi Nobel Perdamain dunia di Oslo, Norwegia, 11 Desember 1979. Dalam kesempatan itu dia berpesan bahwa perubahan atau kasih di mulai dari hal kecil seperti rumah. Jika kita berniat melakukan perubahan, menurutnya adalah seperti apa yang di kutip dari pidatonya
"Dengan hadiah perdamaian yang baru saya terima ini, saya akan membuat rumah untuk orang yang tidak memiliki rumah. Karena saya percaya kasih itu di mulai dari rumah. Dan jika kita bisa membangun rumah untuk kaum miskin, saya rasa akan semakin banyak kasih yang tersebar. Kita akan mampu menjadi kabar baik bagi kaum miskin dengan adanya cinta yang memahami ini untuk membawa perdamaian. Orang miskin di dalam keluarga kita dulu, lalu di negara kita dan setelah itu seluruh dunia"
Apa yang di lakukan oleh Bunda Taresa adalah cerminan seorang sosialis sejati. Sosialis yang berjuang dengan jiwa dan raganya bahkan hartanya demi membahagiakan orang lain. Sosialisnya bukan sosialis yang sempat memikirkan hanya untuk demontrasi lalu selesai. Demontrasi tanpa aksi membantu rakyat miskin di sekitarnya. Sosialis itu bukan perkara membela, bukan perkara bicara, tapi aksi nyata membantu, memberikan sumbangsih, ronda bersama, kerja bakti desa, membantu mengangkat pasir warga lain yang ingin membangun rumah.
Mari aktifis yang mengaku sosialis sejati, berjuanglah dari hal-hal kecil dulu. Tidak mungkin anda melakukan hal-hal yang besar jika anda tidak melakukan hal-hal kecil. Keinginan untuk langsung melakukan hal-hal besar hanyalah omong kosong, jika ingin berjuang, berjuanglah dari lingkup keluarga, teman rumah, RT bahkan RW saja dulu, baru anda memikirkan kota setelah itu terserahlah kemana kaki anda akan melangkah.
Suasana begitu tegang dan terlihat semakin sepi, pria itu ternyata memiliki hak di hormati oleh tentara-tentara yang berbaris di depanya. Ketika kondisi semakin kondusif, dia akhirnya mulai berbicara panjang membakar semangat. Dia katakan "Pahlawan sejati adalah orang yang bertempur sekalipun ia takut", kata-kata itu membuat wajah-wajah tentara di hadapanya semakin bersemangat.
Ya, pria tua itu tidak lain adalah Jendran Goerge S.Patton, Jr dan suasana itu terjadi ketika dia Berpidato di depan Pasukan Ketiga Amerika menjelang Hari Peperangan besar. Dengan kebulatan tekadnya untuk berperang diapun menambahkan "Lelaki sejati tidak akan membiarkan rasa takutnya terhadap kematian akan mengalahkan kehormatanya, kewajibanya kepada negara dan sesama manusia".
Pidato itu terkenal begitu fantastis dan bahkan diabadikan sebagai suatu pidato yang berpengaruh. Betapa tidak, kata-kata magis Patton ternyata mampu membuat pasukan Amerika berperang dengan gagah berani membantai musuh-musuhnya. Meski Jepang bahkan Hitlerpun takluk, tetapi kemangan itu ternyata haruslah di bayar mahal dengan kerusakan dan jutaan tangisan korban perang tak berdosa.
Hitler tewas dalam bunker yang terpojok dan tanpa sempat meninggal pesan penting. Sementara Kaisar Hirohito menyerah di Agustus 1945, dalam kesempatanya dia berkata bahwa "Musuh telah mulai menggunakan bom baru yang sangatlah kejam". Dia pun berpesan damai bahwasanya "jika perang di teruskan, maka tidak hanya bangsa Jepang yang hancur tetapi seluruh peradaban manusia akan musnah".
Fakta sejarah ini, cukuplah menjadi pelajaran jikalau peperangan tidak akan menimbulkan kebaikan melaikan hanyalah kerusakan-kerusakan baru. Apapun bentuknya baik dalam bentuk gencatan senjata ataupun tidak. Jika perjuangan itu di tunggani niat busuk dan perasaan benci, justru yang timbul adalah kerusakan. Tahrir Square di Mesir menjadi bukti, niatnya berperang demi revolusi justru menimbulkan kerusakan baru. Ribuan nyawa melayang percuma hanya demi perubahan yang semu.
Lebih parah lagi di Lapangan Benghazi Libya, lapangan yang seolah menjadi saksi bisu awal pergerakan kudeta Khadafi. Terlalu banyaknya aktifis yang 'sangtlah pintar' membuat akhirnya Libya menuju revolusi. Revolusi dari bangsa yang independen dan menghargai hak-haknya menjadi bangsa yang minyaknya di blok-blok oleh Amerika dan Prancis serta bangsa barat yang berkepentingan lainya. Aktifis yang 'sangatlah pintar' itu bahagiakah dengan perjuanganya yang katanya mencetak sejarah baru?
Kembali lagi kebelakang, anak dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu yang lahir pada tanggal 26 Agustus 1910 ternyata mampu memberikan solusi terbaik. Tak lain di adalah Bunda Taresa, seorang Kristen terkenal yang memberikan hatinya kepada rakyat miskin India. Perjuangannya demi kemanusian tidak di ragukan lagi, dia selalu berpandangan bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan manusia untuk berjuang sendirian.
Karena konsistensinya terhadap kemanusiaan, kesejahteraan dan perdamaian akhirnya dia di anugrahi Nobel Perdamain dunia di Oslo, Norwegia, 11 Desember 1979. Dalam kesempatan itu dia berpesan bahwa perubahan atau kasih di mulai dari hal kecil seperti rumah. Jika kita berniat melakukan perubahan, menurutnya adalah seperti apa yang di kutip dari pidatonya
"Dengan hadiah perdamaian yang baru saya terima ini, saya akan membuat rumah untuk orang yang tidak memiliki rumah. Karena saya percaya kasih itu di mulai dari rumah. Dan jika kita bisa membangun rumah untuk kaum miskin, saya rasa akan semakin banyak kasih yang tersebar. Kita akan mampu menjadi kabar baik bagi kaum miskin dengan adanya cinta yang memahami ini untuk membawa perdamaian. Orang miskin di dalam keluarga kita dulu, lalu di negara kita dan setelah itu seluruh dunia"
Apa yang di lakukan oleh Bunda Taresa adalah cerminan seorang sosialis sejati. Sosialis yang berjuang dengan jiwa dan raganya bahkan hartanya demi membahagiakan orang lain. Sosialisnya bukan sosialis yang sempat memikirkan hanya untuk demontrasi lalu selesai. Demontrasi tanpa aksi membantu rakyat miskin di sekitarnya. Sosialis itu bukan perkara membela, bukan perkara bicara, tapi aksi nyata membantu, memberikan sumbangsih, ronda bersama, kerja bakti desa, membantu mengangkat pasir warga lain yang ingin membangun rumah.
Mari aktifis yang mengaku sosialis sejati, berjuanglah dari hal-hal kecil dulu. Tidak mungkin anda melakukan hal-hal yang besar jika anda tidak melakukan hal-hal kecil. Keinginan untuk langsung melakukan hal-hal besar hanyalah omong kosong, jika ingin berjuang, berjuanglah dari lingkup keluarga, teman rumah, RT bahkan RW saja dulu, baru anda memikirkan kota setelah itu terserahlah kemana kaki anda akan melangkah.
Homo Sapiens
Itulah kita, itulah insan dan itulah manusia. Makhluk yang selalu
berfikir dan karena berpikirlah manusia dianggap sebagai makhluk yang
paling sempurna. Hampir tak ada satupun permasalahan yang luput dari
pikiranya. Dari hal-hal kecil tentang makanan kesukaan hingga mencoba
mencari tuhanpun di renununginya.
Jantung dalam proses berfikir adalah otak, tiap jam hingga detik nyaris otak tak pernah berhenti beroperasi. Beratnya yang tidak lebih dari satu kilogram ternyata mampu mencatat berbilyun-bilyun data yang berisikan rencana pribadi tuanya. Seni, sains, sosial, agama, kebiasaan, nama bahkan harumnya setangkai bungapun tersimpan di dalamnya.
Dalam perkembanganya, pemikiran ternyata terbukti mampu membuat nyata hal-hal yang dianggap menjadi imajinasi semata. Dengan air manusia mampu menyalakan sebuah lampu, tanah di pola menjadi sebuah patung yang indah dan emas menjadi barang yang mewah. Begitupun kekuatan motor, menjadikan mobil, pembangkit listrik dan sebagainya yang berkaitan.
Bila kita hendak melongok sedikit ke sejarah daratan eropa, tentunya kita akan takjub dengan Yunani. Sementara bangsa-bangsa lain termasuk Indonesi hanya berkutit pada ketuhanan dan 'sungkem saking raja', Yunani ternyata sedkit lebih maju. Yunani adalah bangsa yang percaya pada sugesti bahwa kemajuan serta bangkitnya peradaban manusia adalah dengan memperkaya khazanah pemikiran.
Cara yang di lakukanya dalam upaya memperkaya khazanah pemikiran adalah dengan tulisan. Penyair Yunani mengubah sajak, sementara ahli pemikiran dan kesejarah membuat buku serta ahli orasinya tampil dalam setiap kesempatan. Contoh sederhana adalah kekuatan sistem ideologi dunia yang kita sebut dengan 'demokrasi' di rumuskan pertama kali oleh orang Yunani.
Terlepas dari bangsa apapun rasanya kita sepakat bahwa ilmu adalah salah satu dari buah pemikiran manusia. Karena semua manusia pada dasarnya adalah pemikir. Maka kita harus mengharga 'Ilmu', dan untuk menghargai, kita tentu harus mengenal dulu hakekat ilmu. Dalam pribahasa Pancis di sebutkkan "mengerti berarti memaafkan segalanya", maka dari itu hakekat ilmu adalah menerima dengan segala kekuranganya.
Berfikir tentulah tidak lengkap tanpa sebuah logika. Seorang penulis Principia Mathematicha Bertrand Russel mengatakan bahwa "Logika adalah masa kecil dari matematikka dan matematika adalah masa dewasa dari logika". Matematika adalah sebuah metode yang semua operasinya bisa di reduksikan menjadi kaidah matematika. Sebagai contoh adalah dua buah penyataan menganai x dan y :
(1) 2x = 3y - 5
(2) 4x = 2y - 2
Kelihatanya memang sulit untuk mengetahui harga x dan y, tetapi dengan operasi matematika sederhana itu tentunya kita bisa tentukan jika harga x adalah 2 dan y itu 3. Contoh dari Bertrand Russel ini memang sederhana tetapi luar biasa karena segala rumus dalam ilmu di turunkan dari pengetahuan sebelumnya.
Bagaimanapun bentuknya tentulah ilmu adalah bagian dari pemikiran. Diatasa adalah sedikit contoh dan faktanya apa yang di artikan homo sapiens ternyata begitu benar, manusia selalu berpikir dan maju. Bahkan descrates mengatakan jika tidak berpikir manusia itu tidak ada (tidak bisa di anggap sebagai manusia). Jargonya yang cukup terkenal seolah menekankan eksistensi manusia adalah pemikir, dia bergata "cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada"
"Bakhrul Amal Ms"
Jantung dalam proses berfikir adalah otak, tiap jam hingga detik nyaris otak tak pernah berhenti beroperasi. Beratnya yang tidak lebih dari satu kilogram ternyata mampu mencatat berbilyun-bilyun data yang berisikan rencana pribadi tuanya. Seni, sains, sosial, agama, kebiasaan, nama bahkan harumnya setangkai bungapun tersimpan di dalamnya.
Dalam perkembanganya, pemikiran ternyata terbukti mampu membuat nyata hal-hal yang dianggap menjadi imajinasi semata. Dengan air manusia mampu menyalakan sebuah lampu, tanah di pola menjadi sebuah patung yang indah dan emas menjadi barang yang mewah. Begitupun kekuatan motor, menjadikan mobil, pembangkit listrik dan sebagainya yang berkaitan.
Bila kita hendak melongok sedikit ke sejarah daratan eropa, tentunya kita akan takjub dengan Yunani. Sementara bangsa-bangsa lain termasuk Indonesi hanya berkutit pada ketuhanan dan 'sungkem saking raja', Yunani ternyata sedkit lebih maju. Yunani adalah bangsa yang percaya pada sugesti bahwa kemajuan serta bangkitnya peradaban manusia adalah dengan memperkaya khazanah pemikiran.
Cara yang di lakukanya dalam upaya memperkaya khazanah pemikiran adalah dengan tulisan. Penyair Yunani mengubah sajak, sementara ahli pemikiran dan kesejarah membuat buku serta ahli orasinya tampil dalam setiap kesempatan. Contoh sederhana adalah kekuatan sistem ideologi dunia yang kita sebut dengan 'demokrasi' di rumuskan pertama kali oleh orang Yunani.
Terlepas dari bangsa apapun rasanya kita sepakat bahwa ilmu adalah salah satu dari buah pemikiran manusia. Karena semua manusia pada dasarnya adalah pemikir. Maka kita harus mengharga 'Ilmu', dan untuk menghargai, kita tentu harus mengenal dulu hakekat ilmu. Dalam pribahasa Pancis di sebutkkan "mengerti berarti memaafkan segalanya", maka dari itu hakekat ilmu adalah menerima dengan segala kekuranganya.
Berfikir tentulah tidak lengkap tanpa sebuah logika. Seorang penulis Principia Mathematicha Bertrand Russel mengatakan bahwa "Logika adalah masa kecil dari matematikka dan matematika adalah masa dewasa dari logika". Matematika adalah sebuah metode yang semua operasinya bisa di reduksikan menjadi kaidah matematika. Sebagai contoh adalah dua buah penyataan menganai x dan y :
(1) 2x = 3y - 5
(2) 4x = 2y - 2
Kelihatanya memang sulit untuk mengetahui harga x dan y, tetapi dengan operasi matematika sederhana itu tentunya kita bisa tentukan jika harga x adalah 2 dan y itu 3. Contoh dari Bertrand Russel ini memang sederhana tetapi luar biasa karena segala rumus dalam ilmu di turunkan dari pengetahuan sebelumnya.
Bagaimanapun bentuknya tentulah ilmu adalah bagian dari pemikiran. Diatasa adalah sedikit contoh dan faktanya apa yang di artikan homo sapiens ternyata begitu benar, manusia selalu berpikir dan maju. Bahkan descrates mengatakan jika tidak berpikir manusia itu tidak ada (tidak bisa di anggap sebagai manusia). Jargonya yang cukup terkenal seolah menekankan eksistensi manusia adalah pemikir, dia bergata "cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada"
"Bakhrul Amal Ms"
Keadilan
Kita bayangkan Indonesia dulu, dimana saat manusia masih menggunakan
batu untuk memasak dan mengerjakan segalanya bergantung batu. Ribuan
tahun lalu di Mojokerto sana tepatnya di desa Trinil. Hiduplah manusia
setengah kera yang kemudian di beri nama Pythecantropus Erectus.
Sebagaimana di daerah lain di seluruh belahan dunia 'manusia kera' inipun di temukan jua di negeri ramayana ini. Adalah Darwin, seorang profesor kenamaan Amerika yang mengabadikan fenomena ini. Darwin menganggap bahwa 'manusi kera' itu adalah wajah manusia ribuan tahun yang lalu.
Asumsi Darwin mengenai 'Pythecantropus Erectus' adalah manusia dalam masa zaman batu ternyata tidak mendogma begitu larut. Teori Darwin ini pada perjalananya menimbulkan banyak penolakan dan sejauh ini agama adalah garda terdepan dari seluruh penolakan-penolakan terhadap teori ini. Contohnya dalam Islam, disitu di jelaskan jikalau nenek moyang kita di mahkotakan kepada Adam, begitupun Kristen dan Yahudi.
Semakin cerah, Indonesia mulai menemukan jalanya. Muncul satu persatu kerajaan dari Majapahit, Sriwijaya hingga kerajaan Islam Mataram. Kehidupan manusia saat ini tentulah tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia sebelumnya. Satu tujuan yang bahkan menimbulkan peperangan itu pada dasarnya adalah keinginan menegakan keadilan. Dimana satu dengan yang lainya memiliki hak yang sama dan sesuai.
Kekuasaan serta wacana tentang perubahan bahkan agama semua terpusat pada keadilan yang merata. Dimana hukum dan ekonomi menjadi palang pintu pertama menuju keselarasan itu. Lalu apakah itu keadilan?. Diawali dari agama, dalam teori Kristen seperti apa yang di kemukakan Harvey, keadilan adalah suatu bentuk peraturan untuk alam bahkan tuhan, untuk hak manusia dapat hilang mengingat dosa yang manusia itu lakukan, dan pada hubungan social. Hampir sama dengan Kristen, Budhapun berpendapat jika keadilan haruslah di berlakukan kepada semua makhluk hidup, budha mengajarkan tentang kesabaran dan haram menyakiti makhluk lain.
Dalam Islam keadilan menjadi suatu pokok yang sangat di junjung tinggi. Seperti salah satunya yang terdapat dalam surat Q.S.al-Maidah:8. Di jelaskan jika keadilan adalah tentang menyampingkan kebencian, menyama ratakan hak dan mencintai sesama. Satu petikanya yaitu "janganlah karena kebencianmu terhadap suatu kaum sehingga kamu berbuat tidak adil". Hematnya dalam prespektif Islam keadilan adalah sesuatu yang membawa kedamaian dan ketenteraman dalam masyarakat.
Selain itu adapula beberapa tokoh, salah satunya yang paling giat mengoreksi keadilan adalah Plato. Plato mengungkapkan bahwa keadilan adalah salah satu dari empat pilar kebaikan pokok yang harus dimiliki oleh setiap individu yang bertujuan untuk negara ideal. Plato menolak jika keadilan itu di hubungkan dengan hukum. Plato tidak sependapat dengan Polemarchos yang mengatakan bahwa keadilan ialah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Plato pun tidak setuju dengan definisi Cephalos tentang keadilan ialah kejujuran, tidak menipu dan membayar hutang kepada dewa yang di sebut persembahan.
Plato sang juru bicara Socrates menganggap bahwa keadilan itu debadakan menjadi dua. Ada keadilan individual adapula keadilan dalam negara. Dalam memahami keadilan individual, Plato menganggap haruslah ditemukan dulu kesepakan keadilan menurut definisi negara. Karena negara dan manusia memiliki persamaan tetapi ukuran negara lebih besar dari manusia. Dalam ukuran yang besar itu segalanya lebih mudah terlihat dan dipahami.
Untuk menentukan keadilan negara Plato atau si lebar ini membahas terbentuknya negara terlebih dahulu. Dalam membahas ini Plato terlihat tidak menggunakan teori historis melainkan dengan analitikal ekonomis. Plato memulai itu dengan melihat keinginan serta kebutuhan masyrakat pada umumnya dengan kemampuan yang dimilikinya. Sehingga munculah teori kedilan Plato yang ber asumsi pada pembagian kerja yang sesuai dengan bekat, keahlian serta ketrampilan masing-masing.
Dalam konsep keIndonesian, corak menuju bangsa yang barupun tidak lepas dari keinginan keadilan. Dengan gagah Tan Malaka berpendapat jika keadilan sosial sejatinya dapat tercapai dengan cara membangkitkan kesadaran melalui ilmu pengetahuan dan membebaskan diri dari cara berpikir onservatif yang justru memupuk sikap mental yang kacau. Berbeda dengan Tan Malaka, Soekarno justru berpendapat cara tradisionalah yang seharusnya dipakai, karena segi historis sangatlah penting guna membentuk peradaban yang seimbang.
Tetapi memang keadilan adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat di aplikasikan melalui kesepakatan. Menurut saya keadilan adalah suatu teori mengenai kesepakatan, konsistensi serta kesadaran. Dimana semua setuju tentang haknya masing-masing dan saling menghargai. Sepakat dengan apa yang menjadi miliknya dan menerapkan keadilan itu dengan tulus. Dan kesadaran tentang dirinya guna menyadari kapasitasnya untuk dapat menghargai dan saling mencintai sesama manusia.
Pendapat saya mengenai keadilan bukanlah suatu hipotesis atau paham yang sementara dipakai dalam belum teruji kebenaranya. Tetapi pendapat mengenai suatu teori, Teori yang dalam bahasa Inggris di artikan satu hipotesis yang sudah di uji. Artinya kebenaran itu dilihat dari tinjuan filsafatis, historis dan sosiologis yang benar-benar terjadi di kehidupan. Kebenaran berdasarkan pengalaman, dimana ada kesepakatan di situ ada keadilan, kesepakatan adalah suatu bentuk yang mengharuskan konsistensi memulai suatu persetujuan.
Sebagaimana di daerah lain di seluruh belahan dunia 'manusia kera' inipun di temukan jua di negeri ramayana ini. Adalah Darwin, seorang profesor kenamaan Amerika yang mengabadikan fenomena ini. Darwin menganggap bahwa 'manusi kera' itu adalah wajah manusia ribuan tahun yang lalu.
Asumsi Darwin mengenai 'Pythecantropus Erectus' adalah manusia dalam masa zaman batu ternyata tidak mendogma begitu larut. Teori Darwin ini pada perjalananya menimbulkan banyak penolakan dan sejauh ini agama adalah garda terdepan dari seluruh penolakan-penolakan terhadap teori ini. Contohnya dalam Islam, disitu di jelaskan jikalau nenek moyang kita di mahkotakan kepada Adam, begitupun Kristen dan Yahudi.
Semakin cerah, Indonesia mulai menemukan jalanya. Muncul satu persatu kerajaan dari Majapahit, Sriwijaya hingga kerajaan Islam Mataram. Kehidupan manusia saat ini tentulah tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia sebelumnya. Satu tujuan yang bahkan menimbulkan peperangan itu pada dasarnya adalah keinginan menegakan keadilan. Dimana satu dengan yang lainya memiliki hak yang sama dan sesuai.
Kekuasaan serta wacana tentang perubahan bahkan agama semua terpusat pada keadilan yang merata. Dimana hukum dan ekonomi menjadi palang pintu pertama menuju keselarasan itu. Lalu apakah itu keadilan?. Diawali dari agama, dalam teori Kristen seperti apa yang di kemukakan Harvey, keadilan adalah suatu bentuk peraturan untuk alam bahkan tuhan, untuk hak manusia dapat hilang mengingat dosa yang manusia itu lakukan, dan pada hubungan social. Hampir sama dengan Kristen, Budhapun berpendapat jika keadilan haruslah di berlakukan kepada semua makhluk hidup, budha mengajarkan tentang kesabaran dan haram menyakiti makhluk lain.
Dalam Islam keadilan menjadi suatu pokok yang sangat di junjung tinggi. Seperti salah satunya yang terdapat dalam surat Q.S.al-Maidah:8. Di jelaskan jika keadilan adalah tentang menyampingkan kebencian, menyama ratakan hak dan mencintai sesama. Satu petikanya yaitu "janganlah karena kebencianmu terhadap suatu kaum sehingga kamu berbuat tidak adil". Hematnya dalam prespektif Islam keadilan adalah sesuatu yang membawa kedamaian dan ketenteraman dalam masyarakat.
Selain itu adapula beberapa tokoh, salah satunya yang paling giat mengoreksi keadilan adalah Plato. Plato mengungkapkan bahwa keadilan adalah salah satu dari empat pilar kebaikan pokok yang harus dimiliki oleh setiap individu yang bertujuan untuk negara ideal. Plato menolak jika keadilan itu di hubungkan dengan hukum. Plato tidak sependapat dengan Polemarchos yang mengatakan bahwa keadilan ialah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Plato pun tidak setuju dengan definisi Cephalos tentang keadilan ialah kejujuran, tidak menipu dan membayar hutang kepada dewa yang di sebut persembahan.
Plato sang juru bicara Socrates menganggap bahwa keadilan itu debadakan menjadi dua. Ada keadilan individual adapula keadilan dalam negara. Dalam memahami keadilan individual, Plato menganggap haruslah ditemukan dulu kesepakan keadilan menurut definisi negara. Karena negara dan manusia memiliki persamaan tetapi ukuran negara lebih besar dari manusia. Dalam ukuran yang besar itu segalanya lebih mudah terlihat dan dipahami.
Untuk menentukan keadilan negara Plato atau si lebar ini membahas terbentuknya negara terlebih dahulu. Dalam membahas ini Plato terlihat tidak menggunakan teori historis melainkan dengan analitikal ekonomis. Plato memulai itu dengan melihat keinginan serta kebutuhan masyrakat pada umumnya dengan kemampuan yang dimilikinya. Sehingga munculah teori kedilan Plato yang ber asumsi pada pembagian kerja yang sesuai dengan bekat, keahlian serta ketrampilan masing-masing.
Dalam konsep keIndonesian, corak menuju bangsa yang barupun tidak lepas dari keinginan keadilan. Dengan gagah Tan Malaka berpendapat jika keadilan sosial sejatinya dapat tercapai dengan cara membangkitkan kesadaran melalui ilmu pengetahuan dan membebaskan diri dari cara berpikir onservatif yang justru memupuk sikap mental yang kacau. Berbeda dengan Tan Malaka, Soekarno justru berpendapat cara tradisionalah yang seharusnya dipakai, karena segi historis sangatlah penting guna membentuk peradaban yang seimbang.
Tetapi memang keadilan adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat di aplikasikan melalui kesepakatan. Menurut saya keadilan adalah suatu teori mengenai kesepakatan, konsistensi serta kesadaran. Dimana semua setuju tentang haknya masing-masing dan saling menghargai. Sepakat dengan apa yang menjadi miliknya dan menerapkan keadilan itu dengan tulus. Dan kesadaran tentang dirinya guna menyadari kapasitasnya untuk dapat menghargai dan saling mencintai sesama manusia.
Pendapat saya mengenai keadilan bukanlah suatu hipotesis atau paham yang sementara dipakai dalam belum teruji kebenaranya. Tetapi pendapat mengenai suatu teori, Teori yang dalam bahasa Inggris di artikan satu hipotesis yang sudah di uji. Artinya kebenaran itu dilihat dari tinjuan filsafatis, historis dan sosiologis yang benar-benar terjadi di kehidupan. Kebenaran berdasarkan pengalaman, dimana ada kesepakatan di situ ada keadilan, kesepakatan adalah suatu bentuk yang mengharuskan konsistensi memulai suatu persetujuan.
Dimana Tuhan
Ghazali seorang pemikir,
Ghazali pria penyair, Ghazali seorang sufi. Abu Hamid al-Ghazali, nama
penjang yang memgemparkan dunia pemikiran Islam. Dia hidup diantara
tahun 1058-1111 M, tepat ketika dunia Islam sedang berkembang dan
memiliki keragaman. Dia menempuh perjalanan panjang, mempelajari hampir
seluruh sistem pemahaman keagamaan pada masanya, demi sebuah kebenaran
yang diyakininya.
Kecerdasanya dan kerendahatianya membuatnya begitu cerdas dan cemerlang dalam bersikap. Dia menyerang filsafat tetapi dia sangat mengenal dekat seluk-beluk filsafat. Bahkan dia menghasilkan buku pemahaman dalam filsafat yang diberi judul Maqashid al-Falasifat. Dalam buku itu dia berpendapat, untuk mengenal tuhan pada hakikatnya kita harus mengenal diri kita sendiri.
Jauh sebelum itu, Imam Ali pun pernah berkata "kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal tuhanmu". Diri adalah kita yang tidak hanya bernafas, meraba, merasa, mendengar dll. Tetapi kita yang berfikir dan merasakan, karena perkenalan berawal dari berpikir lalu merasakan. Pikiran dan perasaan inilah yang menjadikan kita pada kata yang kita sebut Tuhan.
Mengutip pernyataan Ghazali "Tidak mungkin membuat sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sudah ada". Ungkapan itu menunjukan kita pada penerimaan bahwa Tuhan adalah satu dan Tuhan maha besar. Qodrat dan Iradatnya adalah yang terbaik dari yang terbaik. Mungkin pikiran saja tidak akan cukup menangkapnya, maka dari itulah diciptakan perasaan.
Macam-macam cara di lakukan untuk mencari Tuhan tak terkecuali di Jawa. Jawa konon memiliki ilmu yang di sebut dengan kebatinan. Bahkan eksistensinya sampai berani menuntut Soekarno untuk mengakuinya sebagai agama resmi di tahun 1957, yang tentu saja di tolak.
Niels Munder menjelaskan bahwa penganut kebatinan sangat jarang mencari kekurangan agama lain. Tetapi mereka agak muak dengan tingkah laku religius tertentu. Bagi mereka, "Tuhan" ada di dalam hati manusia dan hidup manusia haruslah terus menjadi doa bagi Sang Khalik. Mereka tidak mengerti dengan ritual keagamaan lain, seperti sholat lima kali sehari, ataupun di dalam gereja. Mereka juga mempertanyakan mengapa doa-doa haruslah di teriakan dengan pengeras suara masjid.
Menurut kaum "abangan" jawa, Tuhan bukanlah sesuatu hakim yang jauh dan tidak dapat di dekati. Tuhan begitu dekat dari apapun juga, bahkan manusia sendiri pada dasarnya adalah bagian Hakikat Ilahi. Mereka mengakui ibadah timur tengah sebagai langkah pertama menuju Tuhan, namun mereka tidak dapat menerima Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir ataupun Jesus sebagai juru selamat. Kebatinan tidak banyak menjanjikan surga, melainkan tertuju pada penafsiran duniawi dalam prespektif kosmologis.
Mungkin bila dikata kritik, Al-Ghazali pernah menyampaikan statmentnya untuk sejenis kaum abangan yang belum jelas Tuhanya itu, "Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian." (Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ)
Sementara Al Ghazali memiliki pendapat bahwa Tuhan adalah hakikat. Tanpa mengetahui hakikat yang lainya selain hakikat diri, manusia tidak akan pernah tahu Tuhan. Menurutnya ada lima pengahalang bagi jiwa dalam menangkap hakikat, yaitu: karena belum sempurnanya jiwa, dikotori maksiat, menurutkan keinginan badan, adanya penutup yang menghalangi hakikat masuk ke jiwa (Taqlid) dan tidak dapat berpikir logis.
Dalam edisi tassawufnya Al-Ghazali menjelaskan hubungan jiwa dan badan adalah seperti hubangan kuda dan penunggangnya. Jiwa adalah manusia interistik, sumber pengetahuan dan gerak bagi Al-jism (badan). Yang bergerak menuju Tuhan adalah Jiwa (Al-Nafs), bukan badan.
Bagaimanapun caranya, nyatanya Tuhan tak dapat bertemu dan menyapa kita dalam keadaan. Ghazali mampu berteori, Ghazali mampu menuhankan hatinya, begitupun kebatinan mampu menuhankan pikiran.
Kecerdasanya dan kerendahatianya membuatnya begitu cerdas dan cemerlang dalam bersikap. Dia menyerang filsafat tetapi dia sangat mengenal dekat seluk-beluk filsafat. Bahkan dia menghasilkan buku pemahaman dalam filsafat yang diberi judul Maqashid al-Falasifat. Dalam buku itu dia berpendapat, untuk mengenal tuhan pada hakikatnya kita harus mengenal diri kita sendiri.
Jauh sebelum itu, Imam Ali pun pernah berkata "kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal tuhanmu". Diri adalah kita yang tidak hanya bernafas, meraba, merasa, mendengar dll. Tetapi kita yang berfikir dan merasakan, karena perkenalan berawal dari berpikir lalu merasakan. Pikiran dan perasaan inilah yang menjadikan kita pada kata yang kita sebut Tuhan.
Mengutip pernyataan Ghazali "Tidak mungkin membuat sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sudah ada". Ungkapan itu menunjukan kita pada penerimaan bahwa Tuhan adalah satu dan Tuhan maha besar. Qodrat dan Iradatnya adalah yang terbaik dari yang terbaik. Mungkin pikiran saja tidak akan cukup menangkapnya, maka dari itulah diciptakan perasaan.
Macam-macam cara di lakukan untuk mencari Tuhan tak terkecuali di Jawa. Jawa konon memiliki ilmu yang di sebut dengan kebatinan. Bahkan eksistensinya sampai berani menuntut Soekarno untuk mengakuinya sebagai agama resmi di tahun 1957, yang tentu saja di tolak.
Niels Munder menjelaskan bahwa penganut kebatinan sangat jarang mencari kekurangan agama lain. Tetapi mereka agak muak dengan tingkah laku religius tertentu. Bagi mereka, "Tuhan" ada di dalam hati manusia dan hidup manusia haruslah terus menjadi doa bagi Sang Khalik. Mereka tidak mengerti dengan ritual keagamaan lain, seperti sholat lima kali sehari, ataupun di dalam gereja. Mereka juga mempertanyakan mengapa doa-doa haruslah di teriakan dengan pengeras suara masjid.
Menurut kaum "abangan" jawa, Tuhan bukanlah sesuatu hakim yang jauh dan tidak dapat di dekati. Tuhan begitu dekat dari apapun juga, bahkan manusia sendiri pada dasarnya adalah bagian Hakikat Ilahi. Mereka mengakui ibadah timur tengah sebagai langkah pertama menuju Tuhan, namun mereka tidak dapat menerima Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir ataupun Jesus sebagai juru selamat. Kebatinan tidak banyak menjanjikan surga, melainkan tertuju pada penafsiran duniawi dalam prespektif kosmologis.
Mungkin bila dikata kritik, Al-Ghazali pernah menyampaikan statmentnya untuk sejenis kaum abangan yang belum jelas Tuhanya itu, "Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian." (Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ)
Sementara Al Ghazali memiliki pendapat bahwa Tuhan adalah hakikat. Tanpa mengetahui hakikat yang lainya selain hakikat diri, manusia tidak akan pernah tahu Tuhan. Menurutnya ada lima pengahalang bagi jiwa dalam menangkap hakikat, yaitu: karena belum sempurnanya jiwa, dikotori maksiat, menurutkan keinginan badan, adanya penutup yang menghalangi hakikat masuk ke jiwa (Taqlid) dan tidak dapat berpikir logis.
Dalam edisi tassawufnya Al-Ghazali menjelaskan hubungan jiwa dan badan adalah seperti hubangan kuda dan penunggangnya. Jiwa adalah manusia interistik, sumber pengetahuan dan gerak bagi Al-jism (badan). Yang bergerak menuju Tuhan adalah Jiwa (Al-Nafs), bukan badan.
Bagaimanapun caranya, nyatanya Tuhan tak dapat bertemu dan menyapa kita dalam keadaan. Ghazali mampu berteori, Ghazali mampu menuhankan hatinya, begitupun kebatinan mampu menuhankan pikiran.
Makna Hidup
Duhai mahkota surya
Ajarilah daku makna kehidupan
Rahasia fajar terharu
Dari isyiq kerinduan lama
Agar kusenandungkan cita....
Sebuah kutipan sajak dari seorang bernama Nurhayat Alhadar dalam bukunya Cita dan Impian Penyair. Makna kehidupan memang sulit dijelaskan karena hanya dapat dirasakan, tetapi khaidahnya sedikit-sedikit mulai bisa di pelajari.
Cerita ini mengenai Goerge W Burns yang saat itu sedang mengadakan konfrensi di kota tempat tinggalnya. Dia di selimuti ketegangan karena keinginan untuk memastikan semua berjalan dengan benar. Tentulah kegiatan seperti itu membuatnya merasa memikul beban yang berat dan melelahkan.
Sebelum saya melanjutkan kisah metafora karya Goerge W. Burns. Saya ingin kenalkan kalau Goerge W. Burns adalah seorang Psikolog klinis dan dikenal sebagai Direktur Milton H. Erickson Institute, Australia Barat. Dia juga seorang pelatih para ahli terapi dan penulis buku Nature-Guided Therapy: Brief, Intergrative Strategies for Health and Well-Being.
Sebagian temanya menganggap dia adalah petualang. Dia membaca buku tentang kota-kota yang menjadi rencana kedatanganya. Menyusuri jalan-jalan pedesaan dengan menggendong ransel, melewati bukit dan bahkan berenangpun dia kerjakan. Tetapi satu hal, dia selalu menjadwal dan mempersiapkan perjalananya dengan matang.
Begitupun dengan rencana konfrensinya, dia terlihat sibuk mempersiapkan idenya selama dua tahun. Dia mendekati dan memastikan pembicara untuk hadir. Bahkan berbulan-bulan sebelumnya dia telah di pusingkan untuk mempersiapkan lokasi selama berbulan-bulan.Mungkin acara itu adalah acara yang paling medongkolkan baginya.
Seminggu sebelum konfrensi dia diminta untuk menyiapkan proyektor audio visual. Derita itu di tambah dengan pemberitahuan dari pembicara utama yang tidak dapat hadir, sementara pembicara lainya memaksa Burns untuk mengganti kursi kaku dengan Sofa karena alasan kenyamanan.Dia merasa semua itu seharusnya tidak terjadi, karena selama satu tahun lalu dia telah berusaha untuk memastikan semuanya dengan rapi.
Burns hampir saja larut dalam kekacauan pikiranya. Dia hampir menyerah dan tidak habis pikir dengan apa yang di alaminya. Segala sesuatu yang sudah di persiapkanya dengan matang ternyata hancur oleh hal-hal kecil di luar kapasitasnya. Burns tidak mungkin lari dari kenyataan karena sesuatu yang di luar kehendaknya tetapi krikil-krikil itu telah menggoyahkan mentalnya.
Hingga akhirnya dia harus berjalan dari lokasi konfrensi untuk kembali ke ruanganya. Di salah satu ujung jalan dia melewati begitu banyak perkantoran dan pertokoan dengan tema dagangnya masing-masing. Ada salah satu toko alat kantor yang selalu memajang sebuah papan tulis di depan toko. Dan pada saat itu, tulisan itu berbunyi "Hidup bukanlah' seharusnya..... Hidup adalah kenyataan yang ada".
Persis seperti iklan sebuah produk makanan coklat di televisi. Dimana coklat yang terkenal mahal itu di ambil sedikit demi sedikit oleh seorang wanita dari seorang pria di kasir. Hingga akhirnya wanita itu pergi meninggalkan toko dengan hanya menyisakan satu potongan kecil coklat. Kehidupan itu "gede sih, tapi rela di bagi-bagi"
Ajarilah daku makna kehidupan
Rahasia fajar terharu
Dari isyiq kerinduan lama
Agar kusenandungkan cita....
Sebuah kutipan sajak dari seorang bernama Nurhayat Alhadar dalam bukunya Cita dan Impian Penyair. Makna kehidupan memang sulit dijelaskan karena hanya dapat dirasakan, tetapi khaidahnya sedikit-sedikit mulai bisa di pelajari.
Cerita ini mengenai Goerge W Burns yang saat itu sedang mengadakan konfrensi di kota tempat tinggalnya. Dia di selimuti ketegangan karena keinginan untuk memastikan semua berjalan dengan benar. Tentulah kegiatan seperti itu membuatnya merasa memikul beban yang berat dan melelahkan.
Sebelum saya melanjutkan kisah metafora karya Goerge W. Burns. Saya ingin kenalkan kalau Goerge W. Burns adalah seorang Psikolog klinis dan dikenal sebagai Direktur Milton H. Erickson Institute, Australia Barat. Dia juga seorang pelatih para ahli terapi dan penulis buku Nature-Guided Therapy: Brief, Intergrative Strategies for Health and Well-Being.
Sebagian temanya menganggap dia adalah petualang. Dia membaca buku tentang kota-kota yang menjadi rencana kedatanganya. Menyusuri jalan-jalan pedesaan dengan menggendong ransel, melewati bukit dan bahkan berenangpun dia kerjakan. Tetapi satu hal, dia selalu menjadwal dan mempersiapkan perjalananya dengan matang.
Begitupun dengan rencana konfrensinya, dia terlihat sibuk mempersiapkan idenya selama dua tahun. Dia mendekati dan memastikan pembicara untuk hadir. Bahkan berbulan-bulan sebelumnya dia telah di pusingkan untuk mempersiapkan lokasi selama berbulan-bulan.Mungkin acara itu adalah acara yang paling medongkolkan baginya.
Seminggu sebelum konfrensi dia diminta untuk menyiapkan proyektor audio visual. Derita itu di tambah dengan pemberitahuan dari pembicara utama yang tidak dapat hadir, sementara pembicara lainya memaksa Burns untuk mengganti kursi kaku dengan Sofa karena alasan kenyamanan.Dia merasa semua itu seharusnya tidak terjadi, karena selama satu tahun lalu dia telah berusaha untuk memastikan semuanya dengan rapi.
Burns hampir saja larut dalam kekacauan pikiranya. Dia hampir menyerah dan tidak habis pikir dengan apa yang di alaminya. Segala sesuatu yang sudah di persiapkanya dengan matang ternyata hancur oleh hal-hal kecil di luar kapasitasnya. Burns tidak mungkin lari dari kenyataan karena sesuatu yang di luar kehendaknya tetapi krikil-krikil itu telah menggoyahkan mentalnya.
Hingga akhirnya dia harus berjalan dari lokasi konfrensi untuk kembali ke ruanganya. Di salah satu ujung jalan dia melewati begitu banyak perkantoran dan pertokoan dengan tema dagangnya masing-masing. Ada salah satu toko alat kantor yang selalu memajang sebuah papan tulis di depan toko. Dan pada saat itu, tulisan itu berbunyi "Hidup bukanlah' seharusnya..... Hidup adalah kenyataan yang ada".
Persis seperti iklan sebuah produk makanan coklat di televisi. Dimana coklat yang terkenal mahal itu di ambil sedikit demi sedikit oleh seorang wanita dari seorang pria di kasir. Hingga akhirnya wanita itu pergi meninggalkan toko dengan hanya menyisakan satu potongan kecil coklat. Kehidupan itu "gede sih, tapi rela di bagi-bagi"
Langganan:
Postingan (Atom)